Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 257


__ADS_3

Aditya berpikir misinya kali ini sangat singkat. Bahkan sangat mudah diselesaikan. Tapi, ia tak tahu dampaknya pada Clarissa.


Saat Aditya membelai rambut gadis itu, degupan di dada Clarissa semakin kencang saja. Dan pada saatnya, setelah Rako berada hanya beberapa jengkal saja dari mereka, gadis itu merasakan ada getaran tertentu. Ia sadar apa yang ia rasakan ini lebih dari rasa sayang seorang adik kepada kakak.


Tentu saja Aditya tak menyadari itu.


Aditya terlalu fokus dan terbiasa mengendalikan perasaan dalam berbagai misinya selama ini.


Kini Aditya menatap mata Rako dengan tajam. “Siapa loe? Bisa tolong minggir?”


“Loe yang siapa! Dasar pincang! Berani-beraninya gangguin cewek kesukaan gue!” sembur Rako.


Aditya tampak melotot. “Dia cewek gue, Goblok! Loe sadar diri dong. Naksir itu ada batasnya!”


Rako tak terima dan mencoba meninju Aditya.


Aditya jelas lebih tangkas. Mudah menghindar begitu saja, hingga membuat tubuh Rako yang telanjur condong ke depan, malah terperosok ke selokan kotor di depannya. Tubuh Rako belepotan lumpur hitam.


“Hahaha! Lihat tuh! Ada yang berantem!” teriak seseorang dari kejauhan.


Segera saja terjadi kerumunan orang di sekitar. Kebanyakan mereka menertawakan si Rako karena gagal memukul si pincang Aditya, lalu malah masuk ke selokan.


“Anjing loe!” teriak Rako tak terima, lalu mencoba menyerang Aditya lagi. Namun kali ini lebih gesit Aditya menghindar, hingga pemuda itu justru meninju wajah salah satu penonton yang berbadan kekar.


Mahasiswa berbadan kekar itu tak terima. Selain wajahnya sakit kena tonjok, jaket barunya juga kotor kena air comberan.


“Nih, makan bogeman gue!” kata mahasiswa kekar itu.


Rako berguling di lantai lorong. Membuat para penonton semakin ramai dan Rako semakin terbakar emosi.


Kali ini Aditya tak berniat menghindar. Ia biarkan Rako menyerangnya langsung ke arah kaki, dengan tendangan yang terlihat terlatih. Maklum saja, sebenarnya Rako jago bela diri. Hanya mungkin beda level saja dengan Aditya.


Namun, dengan sigap, Aditya justru menyerang balik kaki Rako dengan tongkat di tangannya.


Brak!


Tongkat itu patah.


Rako menjerit kesakitan, “Aduh! Bangsat loe ya!”


Pemandangan itu membuat para penonton tertawa girang. Seorang pincang versus lelaki sok jagoan yang selama ini mereka takuti? Mereka jelas membela Aditya, apalagi setelah tahu Aditya bukan orang pincang sembarangan.

__ADS_1


Aditya tak ingin penyamarannya terbongkar, jadi ia tetap berdiri di tempatnya tanpa tongkat, coba menjaga keseimbangan seolah dia benaran pincang dan butuh tongkat. Si Rako tak peduli itu. Ia menerjang Aditya sampai keduanya jatuh berguling di lantai, lalu berguling terus ke tanah lapang.


Di situ Rako duduk di atas tubuh Aditya, mencoba menghajarnya dengan kepalan tangannya yang keras. Tapi, Aditya dengan tersenyum bilang, “Kalau payah jangan ajak orang berantem gini, Bro!”


Setelah mengucap itu, Aditya meninju hidung Rako dua kali. Lalu menghajar pipi dan rahangnya tiga kali, sampai Rako ambruk ke tanah.


Rako merasa pusing, tapi tak mau kalah. Ia adalah adik Rama Subandi. Adik lelaki yang paling disegani sekaligus ditakuti di Bandung dan Jakarta untuk saat ini. Kakaknya bahkan bisa mengontrol kehidupan orang-orang hanya dengan menelepon entah siapa.


Dan kini, dia diperlakukan dengan cara memalukan oleh seorang pemuda pincang?


“Anjing loe, ya! Belum tahu siapa gue?!” bentak Rako.


“Siapa loe? Enggak penting kali,” jawab Aditya santai sambil masih berbaring.


Rako menindih Aditya sekali lagi dan merenggut kedua tangannya, mencoba untuk menggigit hidung Aditya.


Sayangnya, lagi-lagi Rako kalah. Serangan terakhirnya pada Aditya ditangkis oleh serangan yang lebih jitu. Aditya menyerang dengan jidatnya, tepat kena hidung Rako sekali lagi, membuatnya jatuh ke tanah.


Rako tak sadarkan diri.


“Wah, hebat!”


Itulah yang terdengar dari para mahasiswa dan mahasiswi yang menonton. Clarissa membantu Aditya berdiri. Seorang penonton memberikan sapu ijuk untuk membantu Aditya berjalan. Ia mendapat sorakan dan dukungan dari entah berapa orang.


Namun perlahan dan pasti suara sorakan itu mereda, berganti wajah marah seorang pria tua.


“Kamu, ikut saya ke kantor!” kata pria tua itu pada Aditya.


***


“Pak, dia cuma membela diri,” kata seorang saksi.


“Ya, Rako dulu yang menyerangnya,” sahut seorang lainnya.


“Lagian Aditya pincang, mana mungkin menyerang Rako duluan!” kata saksi yang lain lagi.


Clarissa juga membantu Aditya, bilang bahwa Aditya cuma membelanya dari Rako yang senang mengganggu selama ini.


Banyak yang membela Aditya di ruang rektorat itu. Dia sendiri tahu siapa Aditya. Dialah yang membantu Aditya menyamar di sini. Pria tua itu bahkan teman dekat Guru Tanpa Nama.


Setelah bersandiwara beberapa menit dengan debat tak penting, sang rektor itu pun akhirnya berkata, “Baiklah. Kamu dimaafkan. Kalian semua bubar!”

__ADS_1


Para saksi segera pergi dari sana, termasuk Clarissa yang juga pergi setelah Aditya memberinya isyarat mata pertanda ‘semua baik-baik saja’.


“Nah, setelah ini akan saya atur pertemuanmu dengan Rako di rumahnya. Kau akan datang meminta maaf dan berdamai dengannya. Tak ada yang curiga. Rama Subandi tak pernah tinggal di rumah itu,” kata pria tua tersebut.


Aditya tak perlu repot-repot tanya siapa nama rektor tersebut. Ia hanya mengucap terima kasih karena sudah membantu tugasnya agar cepat selesai.


***


Sekitar sehari kemudian, Rako berbaring di rumahnya. Dia mendapat perawatan sederhana karena lukanya tak parah. Aditya datang diantar oleh sopir pribadi sang rektor. Rako memang sengaja tak pergi ke rumah sakit dan menolak ide itu. Sebab ia tak mau sang kakak, Rama, marah atas kejadian memalukan yang menimpanya.


Jadi sejauh itu Rama Subandi bahkan tak tahu Aditya yang mengacau di The Kings dulu membuat masalah dengan sang adik.


Rako terlihat kesal begitu mendapati Aditya masuk ke kamarnya. “Mau apa loe ke sini, Anjing!” katanya.


“Hei, gue datang baik-baik. Mau minta maaf! Loe sendiri yang mulai menyerang gue, kan?” sahut Aditya dengan suara santai.


Rako terlihat sangat emosi.


Seorang pembantu masuk membawa nampan berisi minuman. Rako merasa tidak perlu mempersilakan tamunya duduk atau minum. Ia hanya berbaring diam. Malah ia siap mengambil sebilah pisau.


Namun Aditya dengan lembut berkata, “Sebenarnya Clarissa enggak semenawan yang orang pikirkan. Kalau belum tahu, orang mungkin pikir dia cewek oke. Tapi, yah, gue sudah pacaran cukup lama sih.”


“Maksud loe apa?” tanya Rako penasaran.


“Yah, Clarissa nggak seindah yang loe bayangin pokoknya. Gue sudah rencana mau putus sama dia sih,” kata Aditya santai.


Lalu dia meminta maaf pada Rako atas kejadian kemarin. Rako yang mendengar soal Clarissa hanya mengangguk pendek. Ia tidak tahu apa yang kurang menarik dari gadis itu?


Aditya berbisik, “Coba saja loe pacarin dia. Entar loe juga bakalan nyesel.” Itu dia katakan sambil nyengir, terlihat sangat meyakinkan di mata Rako.


Setelah pamit itulah, Aditya berhasil menyelinap masuk ke ruang CCTV rumah itu. Lalu menyelinap ke beberapa kamar lainnya. Ia sudah memperkirakan tidak akan ada pengganggu, karena Rako hanya ditemani dua orang pembantu.


“Aku hanya perlu mewaspadai Rako yang bisa jadi keluar dari kamarnya secara tiba-tiba,” batin Aditya.


Dengan cepat Aditya memperoleh beberapa barang bukti keterlibatan Rama, Rako, dan kawan-kawan mereka terkait peredaran narkoba. Barang-barang itu berupa kaset rekaman, foto-foto dalam ponsel, serta beberapa struk belanja berisi catatan transaksi di sebuah buku tabungan. Transaksi narkoba dengan sejumlah koneksi di luar negeri.


“Kupikir semua ini cukup untuk menyudahi misi terakhirku,” kata Aditya pada diri sendiri dengan lega.


Ia pun pulang, dan untuk kali pertama, tanpa disadarinya, ia bernyanyi pelan, selagi sopir sang rektor mengantarnya ke sebuah hotel di pusat kota Bandung. Entah kapan ia terakhir kali bisa bernyanyi sebahagia ini. Mungkin karena Aditya sadar setelah ini tak akan ada lagi misi berbahaya yang perlu ia lakukan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2