
“Hadiah ap—” belum selesai Erik bertanya, Aditya sudah menamparnya hingga tergeletak di lantai.
“Itu hadiahnya,” ujar Aditya.
Aditya kemudian memeriksa kondisi Sherly. Ternyata dia hanya pingsan. Aditya kemudian memanaskan suhu AC di kamar itu, lalu pergi keluar untuk mencari air dan wewangian. Sherly bergerak siuman. Dia kaget ketika bajunya sudah terbuka sedikit. Wajahnya terlihat panik.
“Apa yang terjadi,” gumamnya dengan airmata mulai meleleh ke pipinya.
“Ini bohong kan, ini cuma mimpi kan,” batin Sherly sambil merapikan bajunya. Jantungnya berdetak begitu kencang ketika melihat Erik yang telanjang tergeletak di lantai.
Sherly semakin panik, dia menyangka kalau Erik sudah memperkosanya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Dengan cepat dia berlari keluar tangisnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ketika berjumpa dengan Aditya tanpa ragu Sherly langsung memeluknya dan menangis tersedu sedu.
“Adiit...” Sherly terus menangis, Aditya bingung harus berbuat apa. Dia hanya diam membiarkan Sherly memeluknya erat.
“Sudah Sher, kita sebaiknya segera kembali ke perusahaan,” hibur Aditya sembari membelai lembut rambut Sherly.
“Iya,” jawab Sherly dengan suara yang parau.
“Kita sudah aman kok,” hibur Aditya sambil menyeka airmata Sherly, dia melihat tubuh Sherly gemetaran. Aditya lalu menggandengnya ke dalam mobil di mana Dani masih pingsan.
“Dani kenapa Dit?”
“Dia hanya pingsan, di jalan sebaiknya kita mampir dulu ke klinik untuk mengobati luka Dani. Kamu sendiri baik-baik saja kan?”
Sherly hanya terdiam tidak menjawab. Dia tidak mau Aditya tahu kalau Erik memperkosanya. Matanya nanar, airmatanya kembali keluar. Aditya hanya diam lalu memberikan tisu kepada Sherly. Aditya memarkirkan mobil di dekat klinik, Dani yang selesai di obati akhirnya siuman.
“Aku ke toilet dulu,” ucap Sherly pelan.
“Iya, jangan lama-lama. Sebaiknya naanti kamu juga diperiksa sekalian,” jawab Aditya.
“Mbak Sherly baik-baik saja kan bos?” tanya Dani.
“Dia baik-baik saja, mungkin dia hanya ketakutan, aku rasa Erik telah melakukan sesuatu yang buruk kepadanya.”
“Pada akhirnya kita gagal melindunginya,” gumam Dani sambil menghela nafas dalam.
Sherly kembali dari toilet dengan wajah yang sedikit cerah. Dia di toilet sudah memastikan kalau Erik tidak memperkosanya, dia yakin Aditya telah menyelamatkan dirinya sesaat sebelum Erik memperkosanya.
“Sebelum pulang sebaiknya ksmu diperiksa dulu sama dokter,” saran Aditya.
__ADS_1
“Tidak usah, aku baik-baik saja kok,” jawab Sherly sambil tersenyum manis.
“Baiklah kalau begitu, kita sebaiknya segera kembali ke perusahaan. Kamu bisa berjalan kan Dan?”
“Tenang saja bos. Luka seperti inimah bukan apa-apa, Cuma leher doang yang sedikit sakit.”
Mereka masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang ke kantor Glow & Shine Co. Di perjalanan Aditya mengingatkan Dani agar jangan memanggilnya bos, namun Dani menolaknya dia bilang akan selalu memanggil Aditya seperti itu karena sudah menyelamatkannya.
“Pada akhirnya tugas dari perusahaan gagal aku selesaikan,” gumam Sherly sambil menghela nafas. Aditya hanya tersenyum mendengarnya.
“”Sialan juga si brengsek itu! sudah menyerang kita dengan anjing liar eh kita malah dikeroyok lagi!” gerutu Dani.
“Sejak awal memang kita sudah terjebak olehnya,” jawab Aditya.
“Memang benar. Aku bahkan dibius ketika keluar dari toilet,” ucap Sherly.
“Sebenarnya sejak awal dia memang sengaja membuat agar kamu pergi ke toilet,” ujar Aditya. Dani dan Sherly kaget mendengarnya. Mereka tidak menyangka jika Erik bisa melakukan hal seperti itu.
“Sejak kita masuk ke dalam ruang tamu, suhu di ruangan tersebut sengaja diturunkan agar terasa dingin. Semua minuman yang ada di sana juga minuman dingin. Itu semua sengaja dilakukan Erika agar kita mengalami ‘Cold Diuresis’ karena di suhu yang dingin biasanya manusia akan lebih sering buang air kecil,” jelas Aditya.
“Memang benar, aku juga sering mengalaminya,” ujar Dani.
“Itu karena kamu meminum banyak air dingin yang disediakan, entah karena gugup atau bagaimana. Padahal semakin banyak minum air di kondisi seperti itu maka kemungkinan untuk ingin buang air kecil menjadi semakin tinggi. Sedangkan aku dan Dani tadi hanya minum sedikit,” jelas Aditya.
“Oh begitu, aku memang sedikit gugup tadi untuk menyusun kata-kata yang tepat, agar tidak ada kesalahpahaman dari bajingan itu.”
“Lalu kenapa kamu tidak segera mencegah Mbak Sherly pergi ke toilet?” tanya Dani.
“Aku sudah menawarkan diri untuk mengantarnya tapi ditolak. Aku juga berpikir selagi Erik ada di hadapanku maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun semua itu berubah ketika kamu teriak meminta tolong.”
“Kenapa?”
“Ya karena aku harus memilih siapa yang ingin aku selamatkan dulu, tapi aku yakin Erik tidak akan langsung menghabisi Mbak Sherly, sedangkan kita berdua pasti akan langsung dihabisi olehnya, karena itu aku memutuskan untuk membantumu dahulu,” jawab Aditya.
Dani hanya diam, dia merasa malu karena akibat kecerobohannya tugas dari perusahaan harus mengalami kegagalan. Namun Aditya bilang jika dalam hal ini dia juga salah karena tidak langsung membeberkan kecurigaan dan rencana Erik kepada mereka berdua.
“Kita semua ikut bertanggung jawab dalam masalah ini,” ucap Sherly.
“Tapi jujur aku kagum dengan kemampuanmu, ternyata kamu semakin pintar ya,” puji Sherly.
__ADS_1
“Aku hanya mengetahui apa yang kuketahui saja, pengetahuanku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semua pengetahuan yang ada di dunia ini,” jawab Aditya.
“Aku tidak menyangka selain jago berkelahi tapi pemikiranmu sudah seperti detektif saja,” puji Dani, Aditya hanya tertawa menanggapinya. Dia juga meminta mereka berdua untuk merahasiakan kejadian tadi karena jika bocor maka urusannya akan panjang.
“Eh iya kenapa kita tidak melaporkan kejadian ini ke polisi saja?” usul Dani.
“Tidak perlu, jika kita melaporkan hal ini, malah kita yang akan kesusahan. Erik adalah putra Presdir Unesia Corp. uang mereka banyak, kita pasti akan kalah telak,” jawab Aditya.
“Tapi bagaimana jika malah mereka yang melaporkan kita?”
“Tidak mungkin. Mereka juga pasti tidak ingin menghamburkan uang untuk hal yang sia-sia itu, kecuali jika kita sendiri yang menantang mereka. lagipula Erik masih hidup. Karena itu jangan sampai kejadian ini bocor apalagi sampai ke pihak polisi. Itu sama saja dengan kita menantang Unesia.”
Sherly dan Dani paham, lagi-lagi mereka kagum dengan pemikiran Aditya yang teliti seperti itu. Sherly terus menatap wajah Aditya, dia benar-benar bersyukur bisa kembali bertemu dengan cinta lamanya. Mobil mereka sudah sampai di kantor utama Glow & Shine Co. Sherly masuk untuk memberi laporan kepada Frita.
Aditya dan Dani pergi menuju gedung bagian keamanan. Heni kaget ketika melihat Dani babak belur, semua orang di sana juga terlihat kaget, mereka bisa menebak jika tugas Dani dan Aditya mengalami kegagalan. Itu tersirat jelas di wajah Dani.
“Kamu kenapa Dan?” tanya Heni cemas.
“Maaf bu, saya tidak bisa menjalankan tugas dengan baik,” jawab Dani sambil tertunduk.
“Lalu kenapa kamu bisa babak belur begini?”
“Saya sedikit bentrok dengan para preman yang mencoba menyergap Mbak Sherly.”
“Preman itu suruhan Unesia Corp?”
“Saya tidak tahu. yang jelas saya tidak ingin mempermasalahkannya lagi yang penting kami sudah selamat.”
Heni menatap tajam sekujur tubuh Aditya yang tidak terlihat ada bekas luka sedikitpun. Dia pikir mungkin saat Dani di keroyok Aditya malah kabur. Semua orang di sana juga terlihat berpikir demikian.
“Setidaknya itu lebih baik daripada orang yang kabur,” sindir Wira sambil mendekati Aditya.
“Benar juga, untung bukan gue yang harus ikut bersama sopir tak berguna itu. bukannya bantuin temen eh malah kabur,” timpal Jana.
“Lu emang nggak tahu diuntung ya! Selama ini bagian keamanan sudah ngelatih lu! Dasar payah!” teriak teman Dani.
“Kalau gue jadi dia, malu gue datang ke sini lagi. Dasar nggak tahu malu!” sahut yang lain. Emosi Dani meluap. Dia menatap semua orang yang ada di sana. Kakinya melangkah mendekati Wira yang sedang memaki Aditya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1