
Hari ini Aditya sedang berkumpul bersama beberapa sopir lainnya di bagian keamanan. Sejak dia berhasil mengatasi hacker yang menyerang perusahaan semua orang semakin menghormatinya. Wira dan Jana yang selalu mengejeknya juga terlihat begitu ramah hari ini. Ketika istirahat Dani menghampirinya.
“Kelihatannya bos semakin di hormati setelah kejadian hacker kemarin,” ucap Dani.
“Mungkin saja mereka sudah bosan saja menjadikanku bahan ejekan terus,” jawab Aditya, sambil bangkit meninggalkan Dani.
“Mau pergi kemana bos?”
“Aku mau makan di café.”
Aditya pergi menuju café perusahaan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Aditya heran karena itu adalah nomor perusahaan Glow & Shine Co. setelah dia mengangkatnya ternyata itu panggilan dari bagian penerima tamu kantor utama. Aditya segera datang ke sana. Ternyata di sana Ratna Riani sedang duduk menunggunya.
“Ada apa Rat kamu datang kemari?” tanya Aditya.
“Aku hanya ingin bilang jika masalah kemarin malam membuat Viktor begitu kesal kepadamu,” jawab Ratna.
“Sebaiknya kita cari tempat untuk membahas hal itu.”
“Kalau begitu bagaimana jika di depan sana? Sebelum kesini tadi aku lihat ada restoran kecil di seberang.”
“Bukan restoran itumah, warung makan doang,” jawab Aditya sambil tertawa kecil.
Aditya dan Ratna pergi ke rumah makan di seberang jalan. Rani yang melihat mereka berdua sangat heran karena dia belum pernah melihat wanita tadi sebelumnya. entah kenapa raut wajahnya menunjukan jika dia tidak senang melihat Aditya jalan bersama wanita cantik.
“Wanita yang sama Aditya barusan itu siapa ya?” tanya Rani kepada resepsionis.
“Oh, itu katanya Mbak Ratna. Dia bilang sengaja datang ke sini untuk bertemu pak Aditya.”
“Untuk keperluan apa ya?”
“Maaf Mbak saya juga tidak tahu. Dia cuma bilang ada keperluan sama pak Aditya.”
“Apa pacarnya ya? Ah tapi aku belum pernah denger dia punya pacar,” gumam Rani.
Aditya dan Ratna sudah duduk di kursi yang agak jauh dari pelanggan lainnya. Beberapa menu makanan sudah tersedia di meja mereka.
“Ini sih terlalu berlebihan Rat,” ucap Aditya ketika melihat makanan yang ada di meja cukup banyak.
“Nggak apa-apa kok aku juga lapar,” jawab Ratna sambil tertawa kecil.
“Lalu apa yang ingin kamu bahas tadi?”
“Begini Dit, Viktor begitu kesal kepadamu. Dia bahkan tadi malam meminta izin kepada Ketua untuk menghabisimu.”
“Oh, aku kira apaan.”
“Kok malah santai begitu sih?”
“Ya kalau dia memang ingin menghabisiku nggak masalah asal jangan ngelibatin yang lain saja.”
__ADS_1
“Aku serius loh Dit.”
Aditya awalnya memang khawatir kalau Viktor akan melibatkan Sherly dalam masalah mereka, tapi setelah mengetahui kalau dialah yang menjadi targetnya hatinya sedikit lega. Setidaknya dia yakin bisa menyelesaikan masalah itu dengan cara yang aman. Ratna terlihat kesal karena sikap Aditya tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. padahal dia ingin sekali menawarkan bantuannya.
“Oh iya, jujur aku tidak menyangka jika wanita secantik dirimu mau bergabung dengan geng. Malah aku kaget karena kamu bisa diterima di geng Merak,” kata Aditya.
“Aku punya alasan tersendiri kenapa bergabung. Intinya aku merasa nyaman berada di lingkungan seperti itu.”
“Aku heran, padahal aku yakin mau berkarir seperti apapun kamu pasti akan dengan mudah sukses. Jadi model, presenter, aktris bahkan pembalap professional.”
“Aku tidak mau jadi orang yang terkenal.”
“Lah sekarang saja kan kamu sudah terkenal sebagai Mentarinya kota Bandung.”
“Yang tahu kan cum beberapa berandalan doang, orang biasamah nggak akan tahu. Lagian belum tentu yang tahu julukanku juga mengetahui diriku.”
“Begitu ya,” gumam Aditya.
Ponsel Aditya kemudian berdering. Ternyata Rani meneleponnya, dia bilang jika setelah istirahat nanti dia harus mengantar Rani ke sebuah sekolah. setelah selesai makan Ratna kembali membahas masalah itu dengan harapan Aditya meminta bantuannya. Namun Aditya malah bersikap santai dan meninggalkannya hingga merasa kesal.
Aditya kemudian menemui Rani sesuai permintaannya. Dia bilang jika Aditya harus mengantarnya ke sebuah sekolah untuk memberikan santunan rutin dari perusahaan kepada siswa yang kurang mampau.
“Yang tadi bersamamu itu pacarmu ya?” tanya Rani. Aditya merasakan keragu-raguan dari Rani saat bertanya.
“Yang mana?”
“Itu wanita cantik yang jalan bareng sama kamu keluar dari kantor,” jawab Rani ketus.
“Temanmu?”
“Ya, dia temanku. Dia menemuiku cuma buat makan bareng saja.”
“Oh, kelihatannya kamu tidak sia-sia beberapakali membantu perusahaan.”
“Memangnya kenapa?”
“Ya sekarang kamu kan jadi punya banyak teman.”
“Oh, yah aku juga sebenarnya senang sih sekarang aku tidak perlu repot repot adu argument gak penting sama orang yang nggak penting juga,” ujar Aditya.
Rani hanya tertawa mendengarnya. Dia benar-benar merasa nyaman ketika berbincang dengan Aditya. Tapi dia merasa jika sikap Aditya hanya biasa-biasa saja kepadanya. Mereka berdua akhirnya sampai di sekolah yang di tuju.
“Nanti temenin aku ketemu kepala sekolah ya Dit,” pinta Rani.
“Oke, memangnya ada berapa orang anak yang akan menerima santunannya?”
“Aku nggak tahu sih. Nanti kita tanyain saja sama kepala sekolah.”
“Loh terus kalau amplopnya kurang bagaimana?”
__ADS_1
“Aku bawa beberapa amplop kosong kok buat cadangan.”
Mereka berdua kemudian menuju ruang kepala sekolah. tiba-tiba saja dari belakangnya ada seseorang yang menutup matanya. Aditya kaget, Rani yang hendak berbicara juga mengurungkan niatnya.
“Emm Clarissa?” tebak Aditya.
“Eh kok tahu sih kak?” tanya Clarissa sambil melepaskan tangannya. Rani hanya tersenyum melihat tingkah saudara Frita itu.
“Aku cuma nebak doang kok, kamu emang sekolah di sini ya?”
“Iya, asal tebak kok bener?”
“Aku cuma nebak dari wangi parfumnya doang Riss.”
“Oh pantesan. Kakak mau ngapain ke sini?”
“Kami ke sini karena ada keperluan sedikit sama kepala sekolah,” jawab Rani.
“Kelihatannya kamu seneng banget hari ini Riss?” tanya Aditya.
“Nggak, kebetulan mood aku lagi bagus hari ini.”
Aditya dan Rani pamit pergi ke ruang kepala sekolah. Clarissa hanya melambaikan tangannya kepada mereka. Di ruang kepala sekolah mereka bertemu dengan wakil kepala sekolah. karena hari ini kebetulan kepala sekolahnya sedang ada rapat penting.
“Ini data seluruh siswa yang ada di sekolah ini. Kami sudah menandai beberapa siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. namun kami mohon maaf karena belum sempat mengelompokannya,” ucap wakil kepala sekolah sambil memberikan beberapa lembar data siswa.
“Nggak apa-apa kok biar kami yang mengelompokannya,” jawab Rani. Mereka berdua kemudian duduk sambil memeriksa nama-nama siswa yang ditandai sebagai tidak mampu.
“Serasa jadi staff TU ya Dit,” ujar Rani sambil tertawa kecil.
“Mau gimana lagi, mungkin hari ini semua guru di sekolah sedang sibuk jadi belum sempat mengurus hal seperti ini.”
“Btw kamu kelihatannya akrab banget ya sama Clarissa?”
“Iya sih, mungkin aku lebih akrab dengan Clarissa daripada Frita.”
“Jangan-jangan kamu naksir lagi sama Clarissa,” goda Rani.
“Haha, mana mungkin Ran aku juga tahu umurku berapa kok. Tapi dia memang benar-benar adiknya Frita ya, mungkin kalau sudah besar nanti dia akan lebih cantik dari kakaknya.”
“Ya iyalah Dit masa Adiknya pak Pandu. Kalau masalah kecantikan sih menurutku Frita nggak akan bisa dikalahin sama adiknya.”
“Begitu ya, aku jadi penasaran kira-kira tebakan siapa yang akan benar ya.”
“Ya kita tunggu saja beberapa tahun lagi,” ujar Rani sambil tertawa disambung oleh Aditya.
Mereka terus sibuk memilah beberapa nama siswa yang sudah ditandai di data siswa sekolah. Aditya mendadak diam ketika melihat data siswa kelas Clarissa. Kemudian dia termenung sambil menatap data yang ada di tangannya.
“Kamu kenapa Dit?” tanya Rani ketika melihat Aditya terkejut.
__ADS_1
BERSAMBUNG…