
Aditya bangun pagi itu dengan perasaan segar. Ia merasa sudah bertahun-tahun saja hidup damai, padahal baru dua malam berlalu bersama Frita.
“Inilah hidup yang kuinginkan. Inilah yang kucari selama ini. Dan bukan terlibat terus-menerus dengan kematian dan marabahaya!” batinnya lega.
Aditya tak dibangunkan Frita pagi itu, sebab istrinya sibuk mempersiapkan koper mereka untuk pergi ke Bali besok.
Aditya bilang, “Mau dibantu nih?”
“Hmm, boleh kalau kamu mau,” jawab Frita sambil tersenyum.
“Kalau aku mau? Jelas maulah. Siapa yang enggak mau membantu istrinya yang baik dan cantik?” tukas Aditya lalu berjalan ke belakang Frita dan memeluknya begitu saja.
“Ih, Mas. Bau gini. Mandi dulu gih!” balas Frita sambil pura-pura marah.
Aditya yang tak berbaju, membaui ketiaknya sendiri dan meringis. Ia pun pergi ke kamar mandi. Kamar mandi letaknya ada di paling belakang. Ia berjalan ke sana harus melewati kamar dulu. Ponsel Aditya mendadak berdering.
“Siapa ini? Saat lagi tenang-tenangnya ada saja yang telepon,” batin Aditya kesal, lalu masuk ke dalam kamar dan memeriksa ponselnya. Tak ada nama. Nomor yang tak dikenal.
Aditya merasakan firasat tak enak.
“Ya, halo?” jawab Aditya.
Tak ada suara di telepon itu.
“Ini siapa?” kata Aditya lagi.
Beberapa detik berlalu, tetap tak ada suara. Aditya menjauhkan ponsel itu dari telinganya, dan melihat layarnya. Detik waktu masih berjalan di situ, artinya telepon itu masih tersambung.
“Hei, loe siapa? Jangan coba-coba, ya!” bentak Aditya yang sudah tak sabaran.
Frita kaget dan memeriksa suaminya di kamar.
“Ada apa, Mas?”
“Ini, ada telepon. Enggak tahu juga aku dari siapa. Dijawab enggak ada suaranya. Orang iseng mungkin,” jawab Aditya lalu melempar ponsel pintar itu ke atas kasur.
Frita mengangkat bahu tanda tak masalah. Aditya pun juga mengabaikan siapa yang baru saja telepon. Mungkin benar memang orang iseng saja. Aditya membayangkan bisa jadi itu Teo atau Charlie yang sengaja usil padanya. Bukankah mereka anggota Skuad Malam yang paling kocak?
__ADS_1
Atau, mungkin itu dari seseorang yang entah siapa, yang sekadar ingin menggoda Aditya saja. Ia pun tak peduli dan masuk ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya persis di bawah pancuran air hangat.
***
Sarapan pagi itu lagi-lagi terasa lezat. Pernikahan ini, bagi Aditya, ternyata tidak seburuk yang ia pikirkan sebelumnya. Ia merasa ada di surga. Ia merasa kehidupannya terselamatkan.
Maka, ia mengucap terima kasih pada Frita yang kebingungan.
“Kenapa terima kasih segala, Mas? Masakanku enak enggak sih?” tanya Frita yang terheran-heran.
“Enak kok. Ya, pokoknya aku mau terima kasih saja sama kamu, Sayang,” jawab Aditya sambil tak henti memandangi Frita.
Pagi ini Frita memasak mie goreng, sebuah menu sederhana yang sengaja diminta Aditya tadi pagi begitu ia selesai mandi. Rencananya usai sarapan mereka melanjutkan berkemas untuk persiapan ke Bali besok.
Tiba-tiba Frita tampak teringat pada sesuatu. “Oh, ya, Sayang. Kakek Darma kan sudah ngobrol banyak dengan Paman Salim dan juga dengan kamu?”
“Iya. Kenapa memangnya?” ujar Aditya yang kemudian tampak serius menikmati mie gorengnya.
“Entah kenapa Kakekku itu telepon kemarin sore. Yah, saat kamu lagi di toilet dan aku kebetulan lagi duduk sendiri di kamar,” kata Frita.
Aditya ingat, itu adalah saat ia dan Frita sepakat akan memiliki anak, sehingga dia dan Frita pun juga tentunya akan dengan senang hati lebih sering bergumul sebagai sepasang suami istri.
“Enggak juga sih. Kakek Darma baik-baik saja. Beliau malah cuma telepon singkat saja. Enggak sampai semenit juga, Mas,” jawab Frita.
Frita pun menjelaskan kalau saat itu Kakek Darma bilang begini: “Aku masih saja penasaran siapa Aditya sebenarnya, Frita? Paman Salim-nya yang baik itu seperti orang yang aku kenal di masa lalu.”
Aditya bingung mendengar itu. Tapi, mungkin saja Kakek Darma memang belum sadar saat pesta pernikahan berlangsung, bahwa beliau dan Paman Salim sudah saling kenal sejak lama. Dan itu sangat mungkin terjadi. Beliau akhirnya ingat begitu pulang ke rumahnya.
“Mungkin mereka memang berteman atau kenal sejak muda. Paman Salim pernah bilang kalau semasa muda sempat bekerja di Jakarta. Entah tahun berapa itu. Apakah kakekmu juga pernah di Jakarta,” kata Aditya.
“Pernah juga sih.”
“Nah, itu dia.”
Frita bilang, “Iya. Mungkin saja. Tapi suara kakekku itu terdengar aneh, Mas. Dia tak seperti biasanya saja. Apa aku yang terlalu berlebihan, ya?”
“Sudah jangan terlalu dipikirkan. Kita ke Bali jangan terlalu lama, ya? Dua hari saja kurasa cukup. Setelah itu kita langsung meluncur ke rumah Kakek Darma di Bogor. Itu ide yang bagus, kan?” tawar Aditya sambil mencoba membuat senyum Frita yang manis kembali.
__ADS_1
“Aku setuju, Sayangku. Kita pergi ke rumah Kakek Darma saja setelah dari Bali. Mungkin bisa sekalian menginap di sana. Kakekku tinggal bersama salah satu saudara Papa. Lagi pula aku juga belum ada kegiatan sampai minggu depan,” tukas Frita yang akhirnya tersenyum kembali.
Mereka pun mengemasi barang-barang ke dalam koper seperlunya saja. Lalu Frita telepon pihak hotel, mengatakan mereka batal memesan kamar selama tujuh hari penuh, melainkan hanya dua hari dua malam saja.
Sore itu, karena jenuh di rumah terus, Aditya mengajak Frita makan di luar rumah. Istrinya pun sangat setuju.
“Ke mana enaknya ya?” tanya Frita.
“Entahlah, kamu saja yang putuskan. Kita makan, lalu nonton film. Seru pastinya,” kata Aditya.
Mereka bermobil ke sebuah pusat perbelanjaan sambil tak henti membicarakan hal- hal sederhana, sesuatu yang sangat jarang Aditya perhatikan bertahun-tahun belakangan ini, sebab terlalu sibuk dengan misi dan misi saja.
Mereka memarkir mobil di basement pusat perbelanjaan itu. Waktu itu Frita secara mendadak mendapat telepon dari kantornya, untuk keperluan tanda tangan singkat yang bisa dia lakukan via online.
Jadi, Frita berjalan agak di depan sambil mencoba mencatat sesuatu di buku notes miliknya.
Aditya mengunci mobil dan berjalan beberapa meter di belakangnya.
Saat itulah Aditya dikagetkan oleh sosok perempuan cantik yang sepertinya sudah lama tak ia temui, padahal belum lama ini tidur bersamanya.
Ya, ialah Sherly Embunsari. Sesosok wanita yang menolongnya setelah waktu itu sempat nyaris saja mati di tangan The Green Devil dan para anak buahnya. Sosok yang membantu dirinya kabur dan mengobatinya. Sosok yang entah bagaimana membuatnya terbius dan mematuhi saja hasrat seksualnya.
“Sherly? Kamu di sini?” kata Aditya spontan.
“Ya, kita perlu bicara,” jawab Sherly dingin.
“Aku lagi jalan bareng istriku,” jawab Aditya, menunjuk ke depan.
Sherly tampak kaget, tapi sebentar saja kekagetan itu. Ia malah terlihat sangat tak peduli pada siapa pun, kecuali Aditya yang kini berdiri di depannya.
Kemudian Aditya sadar Sherly tampak jauh berbeda. Ia terlihat agak ... ah, bukan. Itu bukan gemuk. Perutnya besar, tapi bukan gemuk.
Sherly tampak mengandung seorang bayi! Aditya mendadak merasa tak enak badan entah kenapa.
Frita sudah terlalu lama berjalan di depan, hendak masuk ke pintu lift di sana. Dan, kini ia justru dicegat oleh Sherly.
“Ini anakmu, Dit,” bisik wanita itu, masih dengan ekspresi dingin.
__ADS_1
Bersambung...