Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 134


__ADS_3

Sore harinya Frita pulang lebih awal sebelum waktunya. Aditya terus menunggu Frita keluar dari dalam kantor. Namun sekian lama dia tidak kunjung muncul. Rani keluar sendirian dari dalam kantor.


“Kamu belum pulang Dit?”


“Belum, Mbak Frita sedang apa ya di dalam?”


“Loh, sejak tadi dia sudah pulang duluan,” jawab Rani. Hal itu membuat Aditya terkejut dan kesal.


“Begitu ya, bagaimana kalau hari ini aku nganter kamu pulang saja. Tanggung aku sudah menunggu lama di sini,” kata Aditya. Rani hanya mengangguk senang. Rani hendak duduk di kursi belakang namun Aditya menyuruhnya untuk duduk di kursi depan saja.


“Kamu sudah dengar kabar tentang Mbak Frita?” tanya Rani.


“Kabar kalau dia akan segera menikah?”


“Jadi kamu juga sudah dengar ya.”


“Aku bahkan sudah bertemu dengan calon suaminya.”


“Terus apa yang akan kamu lakukan jika sudah begini?”


“Aku.. hmmmh, selagi masih ada kesempatan aku akan mencobanya. Aku rasa semua itu bukan murni keinginan Frita. Aku tahu dia punya alasan tersendiri melakukan hal seperti itu. Yang perlu aku lakukan sekarang hanyalah mencari tahu alasannya.”


“Aku jadi iri,” gumam Rani pelan.


Mereka sudah sampai di apartemen yang ditinggali oleh Rani. Aditya segera pulang dan menolak ajakan Rani untuk makan bersamanya. Saat ini dia harus segera pulang dan bertemu Frita untuk mengetahui kebenaran di balik pernikahannya dengan Diaz.


Sejak sore hingga malam hari, Frita terus berada di kamar seolah sengaja tidak memberikan sedikitpun kesempatan kepada Aditya untuk berbicara dengannya. Tapi Aditya tidak menyerah, dia kemudian menunjukan keahliannya memanjat dinding dan naik ke balkon kamar Frita. Dari luar dia mengetuk jendela kamar.


Frita yang sedang merenung terkejut, perlahan dia mendekati jendela kamar lalu membuka tirai jendela. Aditya sambil tersenyum melambaikan tangannya dari luar. Frita segera menutup kembali tirai jendelanya.


“Fri aku ingin bicara denganmu sebentar,” ucap Aditya sambil mengetuk jendela lagi.


“Kamu jangan buat aku bingung kayak begitu dong, kalau aku punya kesalahan tolong ceritakan agar aku bisa minta maaf langsung.”


“Kamu nggak salah apa-apa kok,” jawab Frita dengan menahan tangis.


“Kalau emang aku nggak salah tolong dong buka jendelanya aku ingin bicara sebentar.”


Frita tidak menjawab. Dia kembali merebahkan tubuhnya di kasur dengan perasaan yang semakin kacau. Selama ini dia terus berusaha menjauhi Aditya dan memilih untuk mengabulkan keinginan ibunya yang mau dia menikah dengan Diaz. Tapi dia tidak menyangka kini Aditya yang biasa berbuat dingin dan kejam kepadanya malah berusaha untuk terus mendekatinya.


Hatinya menjadi sangat kacau.saat ini, di lain sisi dia memang tidak menyukai Diaz. Tapi di lain sisi dia takut kalau ibunya malah akan mencoba untuk menyakiti Aditya. Ponselnya tiba-tiba berdering karena di telepon oleh Aditya, namun dia tidak menerimanya, ponselnya kemudian dia matikan dan mencoba untuk terus memejamkan matanya.

__ADS_1


Besok paginya Frita bangun menuju jendela untuk menghirup segarnya udara pagi. Tapi dia sangat terkejut ketika membuka jendela. Ternyata Aditya masih berada di balkon, dia tidur bersandar ke tembok balkon. Airmata Frita tak terasa mengalir di pipinya. Tangannya coba untuk menyentuh wajah Aditya namun tangan Aditya dengan cepat meraih tangannya.


“Kamu jangan mencoba untuk menghindariku lagi,” ucap Aditya sambil bangkit.


“Apa maksudmu?” tanya Frita sambil membuang wajahnya untuk menyembunyikan tangisnya.


“Aku tidak tahu apa maksudmu menghindariku terus beberapa hari ini, asal kamu tahu aku sangat khawatir kepadamu. Aku takut melakukan kesalahan yang membuatmu sakit hati.”


“Memangnya kamu peduli apa sama diriku? Bukankah selama ini kamu sendiri yang berusaha menjauhiku? Bukankah selama ini kamu ingin aku menjauhi kehidupanmu?” tanya Frita sambil terisak. Kata-kata Frita membuat Aditya sadar dan melepaskan genggaman tangannya.


“Lalu kenapa sekarang saat aku ingin menjauh kamu malah mencoba untuk mendekatiku? Kenapa?!”


“Maafkan aku. Aku sadar jika selama ini selalu berbuat hal yang membuatmu sakit hati. Selama ini sikapku juga dingin kepadamu. Tapi sekarang aku sudah sadar dan menyesali semua itu.”


“Penyesalanmu saat ini sudah tidak berguna lagi! Minggu depan aku akan dilamar oleh Diaz, setelah itu kami akan menikah. Tolong jangan ganggu aku lagi!”


Frita segera menutup jendela kamarnya. Aditya hanya menghela nafas dalam sambil turun dari balkon dengan perasaan yang tidak karuan. Hatinya benar-benar hancur, tapi apa mau dikata, ini semua karena ulahnya sendiri selama ini. Kata-kata yang dikatakan Frita memang benar, dia sendiri mengakuinya.


Sejak saat itu hingga hari jum’at Aditya dan Frita terus terlihat murung. Clarissa juga ikut bingung melihat sikap mereka berdua, namun ayahnya melarang dia untuk ikut campur. Di perusahaan mereka berdua juga tidak banyak bicara. Sikap Aditya yang murung itu tidak luput dari perhatian Sherly.


Saat istirahat Sherly sengaja menemui Aditya. dia berharap ini adalah momen yang pas untuk menarik perhatian Aditya, siapa tahu nanti ada kesempatan mengungkapkan perasaan cintanya yang sudah lama dia pendam.


“Makan di mana Sher?” tanya Aditya pelan.


“Aku dapat info restoran yang bagus loh, anter aku yuk kalo sendirian nggak bakalan seru.”


“Memangnya teman-temanmu kemana?”


“Mereka nggak bisa ikut karena punya janji. Jadi kamu temenin aku ya, di sini kamu juga cuma melamun doang.”


“Oke,” jawab Aditya sambil tersenyum.


Mereka kemudian pergi menggunakan mobil Sherly menuju sebuah restoran. Selagi menunggu pesanan makanan mereka berbincang tentang kabar pernikahan Frita. Aditya juga menanggapinya namun Sherly sadar jika Aditya sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya.


“Aku perhatikan selama beberapa hari ini kamu murung terus Dit, kamu sedang punya masalah ya?”


“Nggak kok, aku cuma sedang kurang semangat saja.”


“Jangan bohong deh, kita kan sudah lama berteman, aku tahu loh kalau kamu itu sedang berbohong apa nggak,” kata Sherly sambil tertawa kecil.


“Kamu ini ada-ada saja Sher.”

__ADS_1


“Dit aku mau bilang sesuatu sama kamu,” ucap Sherly, wajahnya tiba-tiba berubah serius bercampur malu.


“Mau bilang apa?”


“Aku.. sebenarnya aku..”


“Kamu hamil?” tanya Aditya sambil tertawa.


“Ih kamu! Masa tiba-tiba aku hamil, nikah aja belum,” kata Sherly sambil cemberut.


“Hahaha iya maaf. Soalnya wajah kamu kelihatan jadi serius banget. Kirain mau bilang kalau kamu sedang hamil.”


“Ih masa tiba-tiba hamil. Emangnya kalau aku tiba-tiba hamil kamu mau jadi ayah bayinya?”


“Mau lah,” jawab Aditya sambil tertawa. Sherly mendadak terkejut mendengar jawaban Aditya.


“Asalkan itu memang anakku. Kalau anak orang lain mah masa tiba-tiba aku jadi ayahnya, nanti kamu punya dua suami dong,” tambah Aditya sambil tertawa.


“Ih, aku kira kamu serius!” gerutu Sherly.


“Memangnya kamu serius hamil?” tanya Aditya dengan wajah serius.


“Ya nggak lah! Dasar kamu tuh ya,” kata Sherly kesal. Pembicaraan mereka terhenti saat pesanan mereka datang. Mereka mulai menyantap makanan yang tersedia di meja sambil terkadang bercanda satu sama lain.


“Terimakasih ya Sher, aku bisa gembira saat ini,” ucap Aditya setelah selesai makan.


“Sama-sama,” jawab Sherly sambil tersipu.


“Oh iya, maaf nih sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu sama kamu.”


“Nanya apa sih? Pake minta maaf segala.”


“Aku agak ragu soalnya mau nanyain masalah ini kepada yang lain, tapi jika sama kamu entah kenapa aku serasa bisa menanyakannya.”


“Jangan bikin aku dag dig dug gitu deh Dit. Tanya aja langsung.”


“Kamu pernah nggak suka sama seseorang yang mungkin nggak menyukaimu? Apa yang akan kamu lakuin kalau begitu?” tanya Aditya. tubuh Sherly serasa bergetar, entah kenapa perasaannya tiba-tiba terasa begitu perih. Dari tatapan Aditya saja dia bisa tahu alasan dia menanyakannya.


“Kelihatannya hal itu bahkan sedang aku alami sekarang, Aditya,” batin Sherly.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2