
Pagi-pagi, Aditya mencuci mobil bosnya. Sedangkan Frita tengah membaca buku di tepi kolam renang. Hari ini tadinya dia berniat ingin pergi jalan-jalan namun dia mengurungkan niatnya karena Rani sedang ada keperluan sehingga tidak bisa menemaninya.
Ketika Asyik membaca buku, tiba-tiba ponselnya berdering.
“Pagi Frita,” sapa Jimmy.
“Pagi Jim. ada apa ya pagi-pagi begini telepon?”
“Ini Fri. malam minggu nanti kamu ada acara nggak?”
“Nggak ada. Emangnya ada apa ya?”
“Gimana kalau kita ketemuan di hotel Florida?”
“Ketemuan?”
“Ya, aku mau bahas perkembangan kasus penculikanmu. Sekalian makan malam bareng, katanya restoran di hotel itu bagus banget.”
Frita diam tidak menjawab, sebenarnya dia malas untuk keluar malam ini. Terlebih hotel Florida terbilang jauh dari rumahnya. Kalau untuk membicarakan perkembangan kasus kenapa harus ketemuan di luar, datang langsung ke rumahnya kan bisa.
“Sebenarnya ini juga ide Arya sih. Cuma dia bilang nggak berani ngajak kamu langsung. Karena itu dia menyuruhku untuk mengajakmu. Sebenarnya aku sarankan datang langsung saja ke rumahmu tidak perlu ketemuan di luar. Tapi dia nggak mau,” bujuk Jimmy setelah Frita lama tidak menjawab.
“Emm boleh deh Jim. nanti sore aku berangkat dari sini,” jawab Frita. Pikirannya berubah setelah Jimmy membujuknya dengan menggunakan nama orang yang dianggap penyelamatnya.
“Eh iya Jim. apa Arya itu suka karya sastra seperti puisi misalnya?”
“Nggak tuh, dia malah kelihatan nggak terlalu suka hal-hal seperti itu.”
“Oh begitu.”
Frita sedikit kecewa mendengarnya. Jika bukan Arya lalu siapa yang chattingan dengannya dan mengaku sebagai penggemar rahasianya. Tapi dia tidak putus harapan, mungkin saja Jimmy memang tidak tahu atau Arya yang memang sengaja menyembunyikan hobinya itu.
“Kamu sekarang lagi ngapain?” tanya Jimmy.
“Aku sedang membaca buku,” jawab Frita.
“Oh, novel atau apa nih?”
“Novel Jim.”
“Wih, aku juga suka baca novel. Sudah dulu ya Fri, sampai ketemu.”
__ADS_1
“Iya Jim.”
Panggilan berakhir. Frita kembali melanjutkan aktivitasnya membaca novel. Setelah puas dia kemudian pergi ke halaman depan untuk melihat Aditya yang sedang memcuci mobilnya. Dia melihat Aditya sudah selesai mencuci mobilnya, saat ini hanya tinggal bagian bawahnya saja yang sedang dibersihkan. Frita tersenyum lalu masuk ke dalam rumah.
Aditya sedang asik mencuci ban mobil sambil bersiul. Setelah selesai dia berdiri sambil tersenyum memandangi mobil yang sudah bersih. Dia merasa bangga dengan kemampuannya mencuci mobil.
“Awas Dit!” teriak Frita dari lantai dua.
“Ap—” belum selesai Aditya bertanya, sebuah gelas plastik berisi kopi melayang di atasnya. Dengan kecepatan refleks yang luar biasa dia berhasil menangkap gelas itu dengan isi yang utuh.
“Ups maaf Dit, aku nggak sengaja,” ucap Frita, sebenarnya dia sedikit kesal karena rencananya gagal.
“Kamu ini niat bener mau ngerjain,” jawab Aditya.
“Nggak kok, tanganku tergelincir tadi,” bantah Frita.
“Masa tumben-tumbennya kamu minum jus di gelas plastik.”
“Ya tereserah aku dong.”
“Yang paling aneh itu isinya kopi, kamu kan nggak suka kopi. Kalo bukan mau ngerjain terus mau apa?”
“Kalau mau bikini aku kopi bilang saja nggak usah malu-malu begitu dong. Kita kan sudah tunangan,” goda Aditya sambil tersenyum.
“Ih Ge er!” ucap Frita sambil masuk ke dalam rumah.
Aditya hanya tersenyum, dia rasa Frita sudah tidak ada alasan lagi untuk mengelak. Dia kemudian meminum kopi itu hingga habis. Beruntung kopinya tidak tumpah ke mobil sesuai yang direncanakan Frita.
Menjelang sore, Aditya sedang main catur di teras bersama Pandu. Clarissa sedang makan cemilan sembari melihat pertandingan catur mereka berdua. Pandu kelihatan sedang berpikir keras menghadapi Aditya.
“Selama ini aku belum pernah kesulitan loh melawan siapapun dalam permainan catur,” ucap Pandu.
“Iya kak, bahkan dulu waktu aku SMP ayah pernah menang saat ada lomba catur di kelurahan,” timpal Clarissa.
“Kebetulan sejak dulu saya memang suka main catur pak,” jawab Aditya.
“Aku jadi ingat masa lalu, waktu SMA aku pernah sampai di kejuaraan tingkat provinsi loh. Cuma waktu itu ada seorang pria yang dengan mudahnya mengalahkanku.”
“Eh benarkah? Kok ayah belum pernah cerita itu ke aku?” tanya Clarissa penasaran.
“Orang ayah baru ingetnya juga sekarang. Sebenarnya jika bertemu orangnya pasti aku masih mengenalinya, karena aku nggak akan pernah melupakannya,” kenang Pandu.
__ADS_1
“Tapi aku dengar dia gagal saat kejuaraan nasional. Aku benar-benar tidak percaya, soalnya menurutku orang seperti dia mustahil dikalahkan,” tambah Pandu.
“Memangnya kenapa pak?” tanya Aditya ikut penasaran.
“Orang itu seakan tidak pernah berpikir ketika menjalankan bidaknya, setelah aku melangkah dia langsung cepat melangkahkan bidaknya seketika itu juga.”
“Luar biasa,” puji Clarissa.
Aditya semakin penasaran sebenarnya seperti apa orang yang dimaksud Pandu. Selama ini dia belum pernah kalah dalam permainan catur walaupun dia belum pernah ikut kejuaraan apapun. Namun kepercayaan dirinya dalam bermain catur sangatlah tinggi.
“Dit, nanti sore antar aku ke hotel Florida ya,” kata Frita yang tiba-tiba datang.
“Mau ngapain Fri?” tanya Pandu.
“Aku ada janji yah sama Arya di sana,” jawab Frita dengan wajah senang.
“Kok jauh amat?”
“Iya dia bilang restoran di hotel itu bagus banget, aku jadi penasaran deh,” jawab Frita sambil kembali ke dalam rumah.
Ketika sore tiba, Aditya dan Frita berangkat menuju hotel Florida.
“Mampir dulu ke butik ya,” kata Frita.
Gadis itu mau membeli baju untuk dikenakan nanti ketika bertemu dengan Arya.
Entah kenapa hatinya begitu senang mendengar Arya ingin bertemu dengannya, padahal dia sendiri tahu dari Jimmy kalau Arya itu sudah menikah. Mungkin itu semua gara-gara rasa penasarannya dengan si penggemar rahasia yang dia kira Arya.
“Berangkat sesore ini memangnya kita mau menginap di sana Mbak?” tanya Aditya.
“Iyalah, kemalaman kalau pulang mah. Kalua kamu mau pulang ya pulang saja, tapi besok pagi jemput lagi.”
“Iya gimana ntar saja. lagian saya bisa tidur di mobil kok. Mbak kelihatannya seneng banget mau ketemu orang itu?”
“Jelas lah.”
Aditya terdiam, sementara Frita sedang sibuk dengan ponselnya. Di lain sisi dia memang ingin Frita bersikap dingin dan terus membencinya. Tapi entah kenapa jika melihat hal seperti ini dia merasa tidak rela jika Frita sampai didapatkan pria lain, terutama oleh orang yang mengaku sebagai penyelamatnya. Aditya menghela nafas dalam untuk menenangkan diri.
Mobil mereka berhenti di sebuah butik. Frita turun sendirian dari mobil, Frita kemudian masuk ke dalam butik. Namun tidak lama kemudian dia kembali ke mobil dan menghampiri Aditya. Hal itu sontak membuat Aditya heran.
BERSAMBUNG…
__ADS_1