Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 215


__ADS_3

Sejam sebelum pesta itu berakhir.


Frita pergi ke toilet wanita untuk merapikan makeup ketika ia tak sengaja menatap Ratna yang juga berbelok menuju ke lorong toilet. Mereka hanya saling mengangguk, tidak bicara satu sama lain, sampai keduanya berdiri tepat di depan cermin toilet wanita yang lebar itu.


“Jadi, kalian sudah ketemu? Sejak kapan?” tanya Ratna tiba-tiba.


“Kamu belum dengar?” kata Frita sambil mengambil lipstik dari tas mungilnya dan memoleskan ke bibirnya.


“Dengar apa?” balas Ratna masih diam di depan cermin dengan hanya memegang tisu, bekas membersihkan tangannya dari hidangan sate kambing tadi di ruang resepsi si saudara sepupu.


Ratna membuang tisu itu dan menoleh pada Frita. Frita juga kini menoleh padanya, dan berkata, “Aditya menolongku dari penculik jahat. Organisasi gelap dari luar negeri.”


“Oh.” Jawaban Ratna terdengar biasa saja mungkin di telinga Frita, tetapi sungguh Ratna sama sekali terkejut mendengar kabar itu. Menyelamatkan Frita dari organisasi gelap di luar negeri? Setahu dia, Aditya ke Thailand untuk menolong seorang profesor.


“Ini soal profesor ahli biologi dan kimia itu, bukan?”


“Oh, tidak. Sebenarnya, iya, masih ada kaitannya, tapi profesor itu sudah ditolong oleh Aditya. Lalu para penjahat itu enggak terima dan gantian aku yang mereka culik,” kata Frita yang kini selesai memoles bibirnya dan mencoba merapikan polesan itu dengan tisu.


Ratna terdiam untuk beberapa detik, mengambil bedak dari dalam tasnya, supaya agar Frita tak melihat kegelisahannya, juga kecemburuannya. Bagaimana mungkin dia bisa tidak tahu tentang ini? Ah, dia akhir-akhir ini merasa sangat terpuruk. Masih belum bisa beranjak dari luka atas kematian sang kakek.


“Kalian terlihat bahagia tadi,” kata Ratna.


Frita hanya tersenyum. Kali ini Frita merasa puas dan mungkin inilah momen tepat untuknya menegaskan bahwa Aditya telah memilih seseorang di antara mereka. Ini jelas jauh di luar dugaan Ratna, jadi mungkin saja dia akan shock dan Frita justru senang jika itu terjadi.


“Ya, kami bahagia karena kami akan menikah,” kata Frita tanpa menatap pada mata Ratna.


Perkataan itu kali ini membuat Ratna berasa dadanya ditusuk belati. Yang benar saja, begitulah hatinya berkata secara spontan, tapi bukan tidak mungkin memang Frita dan Aditya akan menikah. Hanya saja, kok secepat itu?


“Kamu serius?”


“Ya, serius dong. Kami akan menikah. Pembicaraan dengan orang tuaku terjadi tepat sebelum kamu datang,” jawab Frita, yang kemudian selesai merapikan gaunnya, lalu berbalik badan hendak keluar dari ruangan tersebut.


“Selamat, ya.” Itu saja yang bisa Ratna Riani katakan. Ia tak bisa marah atau apa. Sungguh, ia justru merasa sangat lemah saat ini. Berdiri saja berasa ingin jatuh.


Kenapa Frita tidak juga pergi sih? batinnya meronta. Pergi sana! Pergi biar aku bisa jatuh di sini tanpa menanggung malu!


“Makasih, ya,” jawab Frita sambil tersenyum. Jujur saja, ucapan tadi mungkin telah berdampak pada Ratna dan Frita senang. Ia berharap tak ada pengganggu yang mungkin saja bisa merebut Aditya dari sisinya.


Setelah itu, Ratna berdiam cukup lama di toilet. Ia tak jadi memakai bedak atau juga menambah polesan lipstiknya. Ia justru masuk ke bilik toilet dan berdiam di sana untuk menangis.


Setengah jam kemudian, setelah seorang sepupu lain meneleponnya, barulah Ratna keluar. Matanya terlihat sembap. Orang-orang bertanya apa sebabnya, ia cuma berkata, “Aku tidak enak badan. Sebaiknya aku pulang dulu.”


Namun Ratna justru tidak pulang. Ia pergi ke bar yang terletak di lantai berbeda di hotel itu, dan memesan minum yang cukup keras. Bartender di situ berkata, “Tidakkah ini masih terlalu siang?”

__ADS_1


“Terserah saya mau minum kapan. Ini hidup saya!” katanya kesal.


Akhirnya, Ratna menghabiskan waktu beberapa lama di sana. Sampai ia setengah mabuk dan teringat pada rekan-rekan Aditya tadi. Ia mencarinya ke tempat yang cukup mudah: ruang pesta Frita. Sudah pulang para tamunya.


Di dekat pintu ruangan pesta itu, Teo menelepon seseorang entah siapa dan Ratna menghampirinya.


“Mana Aditya, Teo?”


“Barusan pergi ke kamarnya. Kenapa, Ratna?”


“Bisa antar aku ke sana?”


“Ada apa memang?” tanya Teo penasaran.


“Antar saja ke sana. Ayo!”


Teo agak tidak nyaman melihat penampilan Ratna kini. Gaunnya masih rapi, tetapi wajahnya terlihat tidak seanggun tadi. Jelas wanita itu sudah mabuk. Dan Teo tentunya sulit menolak untuk mengantar Ratna sembari memapahnya ke lantai 11, di mana kamar Aditya berada.


“Kamarku juga ada di lantai ini, kalau kamu mau mampir,” kata Teo saat mereka sedang berada di dalam lift.


“Enggak usah, terima kasih,” jawab Ratna. Kata-kata itu membuat Teo kecewa, tapi ia tetap mengantar Ratna sampai di depan pintu Aditya.


“Kamu yakin? Mungkin Bang Aditya sudah tidur sekarang. Boleh kamu mampir ke kamarku dan kita ngobrol saja. Nggak akan macam-macam deh aku,” bujuk Teo terlihat cemas.


Akhirnya Teo membiarkan gadis itu berdiri di sana, sementara ia segera masuk ke kamarnya sendiri.


***


Aditya memegang koper di tangan kirinya. Ponsel diapit oleh lehernya serta pundak kekarnya. Ia sudah akan menelepon Deri, ketika pintu yang ditariknya dengan tangan kanannya mendadak menampilkan sesosok Ratna.


Aditya tak siap menerima ‘serangan’ seperti itu. Ratna mendesak masuk ke kamar tanpa menyempatkan Aditya untuk melepaskan kopernya dan mencegah Ratna. Ponsel lelaki itu jatuh ke lantai, casing-nya terpisah, dan baterainya lepas. Aditya cuma bisa bertanya-tanya, “Kamu ini kenapa sih?”


“Miliki aku, Aditya! Miliki aku selamanya!”


Ratna dengan sigap menarik lepas tali gaunnya hingga kini ia hanya mengenakan pakaian dalam saja.


“Tolong, ini bukan waktu yang tepat!” kata Aditya setengah gelisah.


Pintu kamar masih terbuka lebar. Seorang petugas room service melintas dengan membawa kereta dorong, menoleh pada mereka, dan melanjutkan perjalanan tanpa ada suara.


Aditya segera menutup pintu setelah sebelumnya memeriksa keadaan di lorong depan kamarnya itu.


“Kamu kenapa, Ratna? Tolong jangan begini!” Aditya tahu Ratna sedang mabuk dan ia sendiri harus segera cabut dari sini untuk menolong sang paman.

__ADS_1


Hanya saja Ratna enggan menjawab dan terus menyerbu Aditya dengan ciuman di pipi, di mulut, di leher, bahkan hingga ke kepala karena Aditya terus berontak tanpa bisa melepaskan diri. Aditya tak bisa berbuat kasar pada Ratna atau wanita mana pun.


Maka, Aditya mencoba bisa mungkin memasang kembali casing dan baterai ponsel miliknya, lalu menyalakannya. Sementara itu Ratna sudah akan mencopot pakaian dalamnya.


Aditya kini tak tahan lagi. “Berhenti, Ratna! Tolong berhenti! Aku sedang tidak main-main!”


Ratna menatap wajah Aditya dengan sedih. Ia lalu terduduk di lantai dan menangis. Aditya memperhatikan layar ponselnya mulai menyala, tapi jaringan belum stabil. Dia duduk di sisi Ratna, memeluknya, dan bertanya apa yang membuatnya begini.


“Aku nggak tahu kenapa kita nggak bisa bersama,” kata gadis itu. “Ya, aku dengar dari Frita kalian akan menikah.”


Aditya tak bisa berkata-kata. Ia cuma diam dan merasa bersalah, tapi ia juga tidak lagi punya perasaan pada Ratna. Entah apa yang mesti dilakukan agar perasaan gadis ini tak terlalu sakit.


“Ratna, tolong jangan begini.” Itu saja yang Aditya bisa katakan.


Akhirnya Ratna berhenti menangis, meski matanya masih basah. Ia mengenakan lagi gaunnya dan berdiri tegap, seperti baru saja tidak terjadi apa-apa.


“Maafkan aku, Dit. Aku terlalu... terlalu... entah apa menyebutnya. Aku hanya tak tahu kenapa harus begini. Setelah kakekku tiada, aku merasa sangat kesepian dan hilang arah.”


Aditya hanya bisa memeluknya. Sebuah pelukan yang tulus dari sahabat untuk seorang sahabat.


“Aku harus pulang secepatnya, Ratna. Maafkan aku. Kita bisa bicarakan ini nanti kalau memang perlu. Tapi, aku harus pulang.”


“Ke mana?”


“Desa asalku. Pamanku sedang ada masalah,” jawab Aditya.


“Biarkan aku ikut!” kata Ratna.


“Tidak bisa. Aku tak mau melibatkanmu pada urusan ini.”


Aditya masih memeluk Ratna yang terdiam sambil terus meneteskan air mata. Dan kini sambungan telepon ke Deri mulai terdengar di telinganya.


“Dit, kamu ke mana saja! Saya sudah telepon puluhan kali!” jawab Deri di seberang sana.


“Sorry, ya. Urusan di sini lumayan membuatku capek. Jelaskan ada apa dengan si Dirga itu.”


Aditya tampak mendengarkan dengan saksama. Ratna melepas pelukan Aditya dan menatap wajah lelaki itu yang terlihat geram. Begitu Aditya menutup telepon, gadis itu segera berkata, “Aku tetap akan pergi ke desamu, dengan atau tanpa seizinmu.”


Aditya hanya bisa menunduk diam.


“Oke, sebaiknya kamu pergi, Dit. Maafkan sikapku yang aneh ini. Aku sungguh tak tahu harus apa,” kata Ratna.


Mereka berpelukan lagi beberapa lama sebelum akhirnya Aditya meninggalkan kota itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2