
“Luna? Kamu tanya soal Luna?” tanya Sean dengan menatap Ellena yang ada di sampingnya.
“Iya ... boleh kan?” tanya Luna balik ingin segera mendapat jawaban.
“Boleh banget, tapi ga sekarang.”
“Ga sekarang? Kenapa? Apa ada sesuatu yang ga boleh aku tau tentang dia?”
“Iya.”
“Apa itu? Apa ini tentang hubungan kalian berdua?”
“Enggak! Bukan tentang itu. Percaya padaku.”
“Trus kalo bukan soal itu, kenapa aku ga boleh tau soal Luna?” tanya Ellena semakin curiga.
Sean sedikit menggeser posisi duduknya agar dia bisa lebih miring menghadap ke Ellena. Tangan Sean segera menggenggam tangan Ellena erat, ingin menyalurkan rasa cinta dengan harapan Ellena akan percaya pada apa yang akan dia ucapkan.
Ellena melihat semua yang dilakukan oleh Sean. Dia ingin menatap Sean agar dia bisa tahu apa yang akan dikatakan Sean sebentar lagi tentang Luna ini sebuah kebohongan atau bukan. Ellena berharap Sean tidak menyembunyikan sebuah hubungan pribadi dengan Luna di belakangnya.
“Ell ... aku minta maaf belum bisa menceritakan tentang aku dan Luna. Tapi aku janji suatu saat aku akan mengatakan semuanya,” ucap Sean.
“Alasannya kenapa? Apa kalian lagi menjalani suatu hubungan yang rumit?” tanya Ellena.
“Iya ... kayanya gitu. Hubungan yang rumit. Tapi percayalah sama aku ya, percaya sama aku kalo ga ada cinta di antara kami.”
“Ga ada cinta di antara kalian? Benarkah? Tapi kayanya ga kaya gitu deh yang aku liat di pesta kemaren.”
“Aduh, gimana ya ... gini deh, pokoknya kalo sama dia itu ga ada perasaan apa-apa. Aku cuma bantu dia aja. Ga ada cinta sama sekali, udah itu aja buat sekarang ini. Jadi kalo kamu cemburu sama dia itu percuma.”
Ellena melihat ke arah Sean, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Sean. Pria tampan yang sedang bersamanya itu melarangnya untuk banyak bertanya tentang Luna. Padahal sosok Luna saat ini sedang ada di antara mereka berdua.
Tapi Ellena mencoba untuk percaya saja dulu pada Sean. Dia akan memberi Sean waktu untuk mengatakan semua yang terjadi antara pria itu dan Luna.
__ADS_1
Sean masih belum bisa menceritakan tentang Luna. Bukan dia tidak ingin jujur pada Ellena, tapi ini menyangkut pribadi Luna. Karena nanti pasti akan menyangkut pada masalah kesehatan mental Luna. Sean masih berpikir kalau kesehatan mental seseorang itu adalah rahasia pribadi yang tidak boleh sembarangan diumbar pada orang lain.
“Bos, sebentar lagi kita sampai di kantor,” ucap Mathias dari balik kemudi.
“Saya turun di sini aja,” ucap Ellena cepat.
“Turun depan lobi semua,” ucap Sean memberi perintah.
“Sean,” panggil Ellena lirih sambil melihat ke arah Sean.
“Bakalan lebih aneh kalo kamu turun di sini. Udah, turun aja di sana.”
Ellena akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh Sean. Dia hanya berharap agar tidak akan ada lagi suara nyinyiran yang akan mengiringi langkahnya masuk ke kantor. Dia ingin bekerja seperti dulu, tanpa ada suara tidak jelas yang mengiringinya.
Ellena melihat ke tangan Sean yang ada di sebelah tangannya. Ada keinginan memegang tangan itu sejenak untuk mendapatkan kekuatan sebelum dia turun dari mobil, tapi sayangnya meskipun mereka sudah sangat akrab, Ellena masih tidak berani untuk memulainya terlebih dahulu.
Sean yang tahu apa yang sedang dilihat oleh Ellena saat ini pun segera menggenggam tangan Ellena erat. Dia seperti akan menyalurkan energi tambahan untuk Elleana agar dia tetap bisa berdiri dengan kuat.
“Kalo ada apa-apa, jangan ragu buat bilang sama aku. Kalo kamu lelah dan ga kuat lagi, jangan dipendam sendirian. Bergantung padaku, Ell. Aku akan siap menopang kamu,” ucap Sean yang seperti siraman air hangat di telinga Ellena.
Mobil sudah tiba di depan lobi kantor. Jam kerja sudah dimulai saat ini, jadi Ellena sedikit terlambat untuk kembali ke kantor. Dua orang itu segera turun dan masuk ke dalam kantor bersama-sama. Ada beberapa pasang mata yang melihat Ellena keluar dari mobil Sean. Tentu saja tatapan itu tidak enak dilihat oleh Ellena.
“Ell, jangan lupa laporannya. Klien kita sangat puas dengan presentasi kamu tadi,” ucap Sean sedikit keras, mencoba untuk menenangkan suasana.
“Iya, Pak. Akan saya siapkan segera. Nanti akan segera saya kirimkan juga pada beliau.”
Bersandiwara. Ya ... ini yang sedang mereka lakukan sekarang. Ellena belum siap kalau orang satu kantor tahu tentang kedekatannya dengan Sean. Dia masih merasa mentalnya belum terlalu kuat untuk itu.
Tapi hal berbeda terjadi pada Sean. Dia sebenarnya sudah ingin mengumumkan pada semua orang kalau Ellena adalah miliknya. Dia ingin semua orang di kantor ini tidak ada yang berani pada Ellena apa lagi mengganggunya, karena dia ada di belakang wanita itu. Namun, Sean masih ingin menghargai apa yang diinginkan Ellena dulu. Tapi pastinya, dia tetap akan mengawasi kekasihnya itu.
Ellena dan Sean berpisah di depan pintu lift. Ellena yang hanya pegawai biasa harus menaiki lift yang disediakan untuk pegawai. Sean yang ada di lift sebelah Ellena, ingin sekali rasanya menarik Ellena lagi masuk ke dalam lift khusus yang ada di depannya. Dia ingin memeluk dan menikmati bibir Ellena seperti tadi.
“Ell, kamu dari mana?” tanya Arina saat dia melihat Ellena masuk ke dalam ruangan kantor.
__ADS_1
“Kamu dari mana?” tanya Ellena balik.
“Foto kopi. Kamu dari mana sih? Bu Silvia nyari kamu tadi,” ucap Arina sambil berjalan bersama sahabatnya.
“Masa? Aku ke sana dulu deh.”
“Eeh ... kamu dari mana?” tanya Arina lagi sambil mengikuti Ellena yang mempercepat langkahnya.
Ellena tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Arina. Dia malah segera meletakkan tasnya lalu segera pergi ke ruangan atasannya itu. Ellena meninggalkan Arina dengan segala rasa penasarannya.
***
“Ell, kamu kenapa?” tanya Siska saat dia melihat perubahan pada putrinya yang kini semakin sering tersenyum.
“Ga papa kok, emang ga boleh ya kalo Ellena banyak senyum?” jawab Ellena santai.
“Ya bukan gitu juga maksudnya. Tapi dari pagi tadi tuh udah senyum-senyum aja. Ada apa sih sebenernya?”
Ellena melihat ke arah ibunya yang duduk di karpet bawah sambil mengadoni bahan kue untuk di jual besok. Dia ingin menceritakan semuanya tapi masih ada keraguan. Dia ragu apa ibunya akan setuju dengan apa yang dilakukannya sekarang.
Tapi melihat Nathan yang ada di sampingnya saat ini, dia juga merasa kasihan. Seharusnya Nathan juga bisa merasakan hangatnya dekapan seorang papa yang sudah lama dia tanyakan.
“Bu ... kalo Ellena deket sama cowok, boleh ga?” tanya Ellena pelan.
“Deket sama cowok? Siapa?” tanya Siska balik tanpa melihat ke Ellena.
“Ya itulah. Deket sama dia. Cowok 7 tahun lalu,” jawab Ellena.
Siska yang sedang mengadoni kue, sontak menghentikan gerakan tangannya. Dia diam sesaat tanpa ekspresi atau jawaban apa pun untuk kabar yang disampaikan Ellena tadi. Dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu saat ini.
Ellena yang melihat ibunya terdiam jadi merasa sedikit khawatir. Dia takut ibunya akan memberikan respon yang buruk pada apa yang baru saja dia sampaikan tadi.
“Kok diem, Bu? Ga boleh ya?” tanya Ellena mencoba memancing respon ibunya.
__ADS_1
Siska menoleh ke Ellena, “Emang ga ada pilihan cowok lain apa, Ell?”
Bersambung....