Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 189


__ADS_3

Perkelahian mereka berhenti begitu sesosok pria tua (tapi terlihat agak kekar dan jangkung) tiba-tiba muncul dari pojok ruangan olah raga. Pria tua itu bertepuk tangan memuji kehebatan Aditya yang mengalahkan tujuh napi lain yang mengeroyoknya.


Aditya segera tahu dialah Si Tua Leo. Dengan senyumnya yang memuakkan, si Tua Leo melangkah maju. Ia melirik para napi yang masih bernafsu mengeroyok Aditya. Tapi mereka tampak sungkan dan memberinya jalan.


“Hebat juga loe, ya! Belum pernah gue lihat para tahanan sini dihajar separah ini. Asal loe tahu, ini bukan penjara biasa, Nak,” kata si Tua Leo, membuat Aditya hanya tersenyum sinis.


“Ini penjara tempat orang-orang paling keji berada! Dan loe dengan sesuka perut loe mengacak-acak tempat ini?” sambung lelaki tua kekar itu.


Aditya tidak menjawab kata-katanya. Masih membandingkan foto-foto yang waktu itu ditunjukkan Malik di tablet-nya. Di foto itu si Tua Leo terlihat tidak seseram aslinya. Tato naga dan entah apa berderet di lengan kanannya. Tindik berkilauan di kupingnya. Benar-benar cocok untuk memimpin segerombolan mafia kejam.


“Beri kami jalan, Bos, biar kami hajar!” kata seorang napi pada Si Tua Leo.


“Sudah, sudah. Kalian jangan ribut dong!” bentak lelaki tua itu pada si napi yang masih terlihat kesal pada Aditya. Napi yang tangannya patah tadi mengumpat ke arah pemuda itu.


“Kalian jangan bikin ribut di sini!” kata si Tua Leo, lalu diam-diam mempersiapkan sebilah pisau di balik punggungnya.


“Memangnya Anda siapa?” tanya Aditya dengan ekspresi menantang.


“Oh, gue bukan siapa-siapa. Cuma orang yang menjaga ketertiban di sini saja. Nah, loe sendiri siapa berani bikin rusuh, he?!”


“Aku cuma orang yang mau berkuasa di sini,” tukas Aditya dengan tegas.


Para napi yang belum sempat kena hajar olehnya langsung tertawa. Tapi si Tua Leo terlihat tidak senang. Ia dengan sigap menyerang Aditya dengan pisau belati yang tadi disiapkan di balik punggungnya.


Beruntung Aditya dengan sigap juga menangkis itu. Si Tua Leo malah kena akibat dari pisaunya sendiri. Lengan kirinya tersayat dan ia menjerit kesakitan. Lalu menyuruh para napi untuk mengeroyok Aditya.


Tentu saja kini para napi mulai berani, sebab mereka tidak sesedikit tadi. Mereka kini berjumlah setidaknya empat belas orang dan enam di antaranya membawa pisau di tangan masing-masing. Tapi pada dasarnya Aditya sungguh bukan tandingan mereka.


“Bangsat! Tangan gue patah!” teriak seorang napi setelah tangannya dipelintir oleh Aditya.


“Sial!” teriak napi lain yang mencoba menendang. Ia justru kena serangan balik, tendangan seratus delapan puluh derajat dari Aditya, membuatnya telontar menabrak tembok dan pingsan.


Para napi yang menyerang dengan pisau mengalami nasib yang juga sial. Seperti si Tua Leo, mereka tak bisa berbuat banyak, sementara di ruang monitor, Nancy malah terlihat menikmati adegan perkelahian itu.


“Bu, apa tidak sebaiknya kita laporkan pada komandan?!” tanya si penjaga di depan belasan layar pantau di ruang CCTV.


“Belum,” jawab Nancy pendek.


“Tapi, Bu ...”


“Kalau dibilang belum, ya belum!”

__ADS_1


Nancy memperhatikan pergerakan dan kuda-kuda Aditya. Lelaki itu dengan lihai menangkis serangan demi serangan dari para lawan. Nancy juga mengamati bagaimana Aditya bisa menggunakan senjata atau serangan para lawan untuk melukai diri mereka sendiri.


Sumpah, Nancy tak bisa menolak pesona seorang Aditya hanya dengan menonton adegan yang menurutnya seksi itu!


Kini, wanita yang juga primadona di kemiliteran itu pun merasa sangat penasaran pada sosok Aditya yang sempat diremehkannya. Di tempat yang tak terlalu jauh dari sini, Malik mungkin juga tertawa senang untuknya. Ia merekrut Aditya untuk misi tingkat S ini karena mereka berdua akan cocok.


“Yah, siapa tahu?” batin Nancy girang, selagi di balik monitor sana, Aditya tampak tak lelah merobohkan satu per satu napi yang main keroyok itu.


Butuh waktu setengah jam lebih untuk melumpuhkan napi di seisi ruangan olah raga itu. Para penjaga memang mengetahui itu, tapi belum ada perintah dari atas untuk ikut turun tangan. Lagi pula mereka pikir para penjahat itu lebih baik saling bunuh saja ketimbang mereka yang justru dilukai.


Kini, terlihat seluruh napi tergeletak tak berdaya di lantai ruangan. Termasuk para napi yang juga anak buah dari Si Tua Leo. Mereka hanya menggeliat di lantai sambil terus mengerang kesakitan.


“Goblok semua loe pada!” bentak Si Tua Leo dengan kesal. Ia masih menggenggam pisau belati yang tadi akan dipakai untuk melukai Aditya.


Tanpa ragu, ia mencoba mendekati Aditya. Satu lawan satu, tapi jelas ia bukanlah tandingan Aditya. Dengan mudah lelaki berumur 65 tahun itu dirobohkan oleh Aditya dan dihajar habis-habisan.


Si Tua Leo pastinya bukan tidak berdaya. Ia bisa melawan tinjuan Aditya dengan kepalan tangannya yang masih terlihat kuat. Aditya sempat merasakan tinjuan dari sang lawan dan tertawa girang.


“Sumpah, saya nggak percaya yang barusan itu bisa dilakukan seorang kakek-kakek macam Anda!” katanya.


“Bangsat loe!”


Baru pada saat itulah Malik datang di lokasi. Ia memanggil Nancy di ruang CCTV untuk memerintahnya menjemput Aditya di ruang olah raga.


“Apa-apaan ini? Sejak kapan mereka ribut?!” tanya Komandan Malik dengan gusar.


“Sejak aku datang kemari,” jawab Nancy pendek.


“Lihat sekarang si Tua Leo itu hampir mati.”


“Tenang, Komandan, dia masih hidup kok!” sahut Nancy.


“Jangan sampai si Tua Leo mati gara-gara digebukin Aditya!” ucap Malik dengan jengkel, lalu meninggalkan ruang CCTV sambil memakai jaket taktis dan helm khusus pasukan anti huru-hara.


“Saya pikir si tua berbadan kekar itu pantas mendapatkannya. Lagian Aditya juga tahu ia nggak harus membunuhnya, bukan?” balas Nancy selagi mereka jalan beriringan ke ruang olah raga bersama sepasukan penjaga penjara.


“Ah, kamu ini!”


Aditya kemudian dijemput, dipisahkan dari ruang olah raga, bahkan dari selnya sendiri yang belum juga dia tempati sejak kedatangannya kemari.


Di ruangan tersembunyi, Aditya mendapat ocehan dari Komandan Malik tentang ia yang sudah menghajar si Tua Leo sampai babak belur.

__ADS_1


“Sekarang Si Tua Leo itu pasti dendam padaku,” kata Aditya dengan senyum yang membuat Nancy diam-diam kagum padanya.


Namun Malik terlihat diam dan berpikir. Dia pikir mungkin memang beginilah cara yang tepat agar misi mereka berhasil. Si Tua Leo setidaknya sudah menaruh perhatian pada Aditya, walau caranya membuatnya lengan dan wajahnya terluka.


“Tak ada cara lain, Komandan,” kata Aditya kemudian.


“Maksudmu?”


“Tak ada cara lain selain mengirim saya dan si Tua Leo ke tempat eksekusi bersama minggu depan.”


“Jadi, maksudmu...?” sahut Nancy tak percaya.


“Ya, agar misi kita berhasil, aku harus dikirim bersamanya minggu depan. Kalian bisa mengusahakan itu?”


“Tentu saja bisa,” jawab Malik pendek, tidak membantah usulan Aditya yang boleh jadi sangat berisiko, tapi termasuk jenius.


“Dan kamu Nancy, bisa menungguku di Thailand.”


“Biar kamu berangkat dengan Rudi,” kata Komandan Malik pada Nancy.


Rudi adalah anggota terbaik Malik lainnya yang juga terlibat di misi ini.


“Baiklah. Kupersiapkan semua. Kurasa idemu barusan boleh juga, Dit,” kata Malik.


Mereka lalu berpisah. Aditya dikembalikan ke sel khusus di kompleks dalam sayap seberang, agar untuk sementara ia tak bertemu dengan si Tua Leo sampai hari eksekusi tiba.


Misi tingkat-S kali ini sebenarnya bukan untuk menghancurkan Si Tua Leo. Adalah seorang ilmuwan bernama Profesor Joe yang harus mereka temukan. Ia hilang diculik oleh kelompok organisasi gelap yang melibatkan Si Tua Leo.


Profesor Joe adalah harta karun nasional di bidang Biologi. Mereka tak akan sudi membiarkan para penjahat kelas kakap meraup keuntungan dari kemampuannya. Hanya saja, untuk menyelamatkan sang profesor, harus ada harga yang dibayar.


“Apa yang dilakukan untuk memasukkanku ke organisasi milik Leo, Komandan?” tanya Aditya saat Malik mendatanginya di Jogja.


“Skenario pembajakan mobil telah kurancang. Leo pasti sudah merencanakan itu, dan kami ingin mendahului orang-orang suruhannnya di luar sana.”


“Jadi, maksud Anda...?”


“Ya, nanti Leo Kurniawan dan kamu akan bebas sebagai buronan, tapi masih dalam pengawasan kami. Karena Leo akan kami tahan dan kami ancam untuk memberikan informasi apa pun soal sang profesor.”


Bagi Aditya, itu terdengar berbahaya juga. Jika sedikit saja penyamarannya terkuak, bukan hanya nyawa dia yang jadi taruhan, sang profesor juga bisa saja tewas terbunuh di luar sana. Ia tak boleh gagal seperti kejadian di masa lalu yang merenggut nyawa teman-temannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2