
Aditya menyusuri semua tempat yang ada di hotel. Dia juga bertanya kepada beberapa orang di sana termasuk pelayan dan resepsionis namun usahanya tetap nihil. Dia pikir kemungkinan besar orang itu sedang bersembunyi di kamarnya menunggu berita tentang Frita. Aditya duduk sambil menghela nafas karena memikirkan kejadian barusan.
“Jika saja aku tadi langsung tahu kalau orang itu berniat jahat, mungkin dia sudah tertangkap sekarang,” gumam Aditya.
“Entah darimana dia mengetahui kalau Frita ada di hotel ini. Apa mungkin mereka punya mata-mata di perusahaan? Akh! Terlalu memakan waktu jika aku memeriksa setiap orang di perusahaan.”
“Kelihatannya saat ini mereka mencoba lebih berhati-hati lagi dalam bertindak. Mungkin saat ini mereka tidak ingin menculik Frita dengan paksa seperti sebelumnya. Atau mereka masih berhati-hati karena masih belum tahu siapa orang yang waktu itu menggagalkan rencana mereka.”
Aditya kemudian mengambil kesimpulan bahwa saat ini orang yang berniat jahat.itu hanya memberikan ancaman kepada Frita dan kepada dirinya saja. orang itu bahkan tidak terlihat ingin menghabisi Frita. Karena itu untuk saat ini kelihatannya Frita masih aman berada di hotel.
Di lantai lima. Jimmy dan Arya sedang sibuk mencari petunjuk tentang orang yang melumpuhkan enam anak buah Jimmy yang sedang dalam lift menuju atap hotel. Mereka sudah mencoba untuk mencari sidik jari pelaku namun nihil. Wajah pelaku pun tidak tertangkap oleh kamera CCTV karena memakai topi.
“Menurutmu bagaimana Ar?” tanya Jimmy.
“Aku benar-benar bingung dengan masalah ini. Tapi setidaknya orang itu tidak berniat menghabisi mereka. Kemungkinan dia hanya mencoba untuk menebar ancaman kepada pihak kepolisian saja,” jawab Arya.
“Sial! Kenapa semakin hari semakin bertambah banyak saja orang aneh yang bisa lolos dari pengejaranku!” gerutu Jimmy.
“Sebaiknya kita tanyakan langsung ciri-ciri orang itu kepada mereka,” usul Arya.
“Ya. Walau aku yakin mereka sendiri tidak mengingat sosok wajahnya.”
Jimmy dan Arya menuju ruangan staff hotel dimana keenam orang anak buah Jimmy berada. Di ruangan itu terlihat mereka sudah sadar kembali. namun ketika Jimmy menanyakan beberapa hal terkait dengan orang yang menyerang mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang melihat wajah orang itu.
“Aku tidak bisa melihat wajah orang itu karena tertutup topi dan selalu menunduk,” jawab seorang anak buah Jimmy.
“Lalu apa kamu ingat seperti apa ciri-ciri orang itu?” tanya Arya. Anak buah Jimmy kemudian menjelaskan ciri-ciri orang itu sesuai yang dia ingat.
“Terlalu susah jika tidak ada petunjuk yang lebih spesifik lagi mah,” ujar Jimmy.
“Kamu benar. Kita bahkan tidak bisa seenaknya saja memeriksa semua tamu hotel di sini. Terlebih kita tidak punya bukti sedikitpun.”
“Kalian bisa pulang sekarang. Hati-hati di jalan, besok aku akan menanyakan beberapa hal lagi,” perintah Jimmy.
Keenam anak buahnya segera pergi dari hotel. Sedangkan Jimmy menghela nafas dalam sambil duduk. Dia benar-benar tidak menyangka jika rencananya malam ini bisa gagal. Padahal dia sudah merencanakan ini dengan matang.
“Sudahlah jangan dipikirkan terus, lagipula mereka baik-baik saja,” ucap Arya.
“Sial! Padahal aku sudah yakin jika Frita akan senang mendapat kejutan seperti itu. aku bahkan sudah susah payah mencari informasi tentang makanan, minuman dan beberapa hal kesukaannya,” gerutu Jimmy.
“Usahamu itu tidak sia-sia bro. aku melihat Frita cukup senang tadi ketika mengetahui rencana detailnya dariku.”
__ADS_1
“Kamu ini, jangan malu-maluin dong. Kalau gagal begitu setidaknya jangan di kasih tahu lah.”
“Nggak apa-apa lah Jim. lagipula aku merasa jika Frita itu suka dengan tipe orang yang jujur apa adanya.”
Jimmy hanya mengangguk saja. dia memang tidak akan menyerah selama dia belum mendapatkan Frita. Hanya saja saat ini dia merasa Frita itu wanita yang sangat susah dia taklukan. Modal wajah dan harta saja tidak akan cukup untuk meluluhkan hatinya.
Di dalam kamar hotel, Frita sedang termenung sambil menatap langit dari jendela kamarnya. Hatinya serasa tidak karuan, padahal dia sangat menantikan hari ini sampai membeli baju baru segala. Tapi setiap bertemu Arya entah kenapa perasaan yang muncul tidak sesuai dengan ekspektasi awal dirinya.
“Sebenarnya siapa orang yang waktu itu menyelamatkanku,” gumam Frita.
“Kenapa aku malah serasa menjadi tokoh utama dari novel detektif begini ya,” ujarnya pelan sambil menhantamkan tubuhnya ke kasur yang empuk. Tiba-tiba ponselnya bersuara karena ada notifikasi chat.
“Selamat malam,” tulis orang yang mengaku sebagai penggemar rahasianya.
“malam,” balas Frita.
“Rembulanku kelihatannya sedang galau malam ini.”
“Sotoy.”
“Aku sedang bahagia loh.”
“Duh dinginnya. Awalnya aku pikir kamu beneran mau blok akunku. Eh ternyata sampai sekarang malah aman-aman saja.”
“Aku blok sekarang ya!”
“Eh jangan. Nanti puisi-puisi yang kubuat jadi percuma dong kalau nggak bisa kusampaikan kepadamu.”
“Lebay deh!”
“Eh btw katanya tempat paling indah di bumi buat menikmati keindahan Rembulan itu ada di Francis loh.”
“Ngarang nih. Aku belum pernah denger tuh.”
“Seriusan, aku pernah datang kesana karena penasaran. Tapi aku nyesel.”
“Kok nyesel?”
“Ternyata keindahannya tak sebanding saat melihatmu dari kejauhan.”
“Sudah kuduga. Dasar lebay!”
__ADS_1
“Hahaha, selamat malam Rembulanku have a nice dream.”
Frita tersenyum setelah chattingan dengan penggemar rahasianya itu. meskipun dia tidak tahu siapa, namun entah kenapa hatinya selalu kembali tenang setelah chattingan dengan orang misterius itu. dia terbaring sambil merenungkan kejadian yang baru dialaminya di atap.
Ketika meminum jus yang dibawakan pelayan tadi, dia sengaja menjatuhkan dirinya ke pangkuan Arya hanya untuk memastikan apakah dia memang penyelamatnya. Namun perasaan yang dia rasakan sangatlah berbeda dengan saat dia diselamatkan oleh pria dari para penculik waktu itu.
“Tapi jika bukan Arya, lalu kenapa dia mengaku sebagai penyelamatku? Apa tujuannya?” gumam Frita pelan. Karena hatinya kembali resah, Frita memutuskan untuk segera tidur.
Pagi harinya, Frita sudah bersiap untuk pulang. Ketika membuka pintu kamarnya dia begitu kaget karena Aditya sudah ada di sana menunggunya.
“Pulang sekarang Mbak?” tanya Aditya sambil tersenyum.
“Kamu ini buatku kaget saja Dit,” gerutu Frita sambil melangkah pergi diikuti oleh Aditya.
“Selamat pagi Fri,” sapa Jimmy ketika mereka sudah keluar dari gedung hotel.
“Lo. Kamu ada di sini?” tanya Jimmy heran ketika melihat Aditya.
“Dia memang sopir pribadiku Jim,” jawab Frita. Sontak jawaban itu membuat Jimmy dan Arya terkejut.
“Jadi tadi malam kamu menginap di sini?” tanya Arya.
“Ya. Memangnya kenapa pak?”
“Nggak, aku Cuma memastikan saja.”
Aditya dan Frita pulang meninggalkan Jimmy dan Arya yang masih berdiri di dekat mobilnya. Jimmy tidak menyangka jika orang yang selalu membuatnya kesal ternyata sopir pribadinya Frita.
“Kamu kok kayak orang bingung begitu Ar?”
“Aku cuma penasaran dengan pria itu. bagiku sorot matanya terlalu tajam untuk seorang sopir biasa.”
“Kamu ini aneh-aneh saja. kalau dibilang ngeselin baru aku setuju. Eh iya. btw beberapa minggu lagi aku sudah menyiapkan rencana lain untuk menarik perhatian Frita.”
“Rencana apa lagi Jim?” tanya Arya. Jimmy dengan antusias kemudian menjelaskan rencananya sambil tersenyum puas karena menurutnya rencana ini begitu bagus.
Jimmy dan Arya kemudian pergi meninggalkan hotel. Tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi seorang pria tampak sedang berdiri menguping setiap pembicaraan mereka. Pria itu kemudian menelepon seseorang.
“Bos, kelihatannya kesempatan emas akan segera tiba,” ucap pria itu.
BERSAMBUNG…
__ADS_1