Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 28


__ADS_3

Ellena melihat ke arah Sean, dia sedikit memanyunkan bibirnya. Ellena tahu kalau kalimat terakhir yang di ucapkan Sean tadi pasti untuk dia.


‘Udah tua tapi kelakuan kaya bocah. Ga dibales aja udah kaya gitu ngambeknya,’ gumam Ellena sambil mencebikkan bibirnya.


Rapat pun berakhir. Ellena segera kembali ke ruangan kerjanya. Sambil berjalan keluar dia membalas pesan Sean. Dia berjalan pelan sambil mengetik pesan untuk pencuri hatinya itu.


“Love u, cantik,” ucap Sean saat dia berjalan melewati Ellena.


Ellena yang kaget dengan suara pelan di telinganya itu segera mengangkat wajahnya lalu tersenyum melihat punggung Sean yang menjauh.


“Kok dia bisa di belakang aku sih?” gumam Ellena sendirian.


Waktu makan siang tiba. Ellena masih sibuk dengan laptopnya saat ini. Dia sampai tidak tahu kalau Arina sudah ada di sampingnya.


“Ell, ke kantin yuk?” ajak Arina.


“Duh, maaf banget. Kerjaan aku ditunggu ini. Kamu aja deh ya, hactic neeh. Lagian masih ada roti tadi kan, aku makan itu aja,” jawab Ellena penuh sesal.


“Makan di kantin aja. Temenin aku ya,” bujuk Arina.


Ellena mengangkat wajahnya melihat ke arah sahabatnya, “Maaf banget, tapi kerjaan aku banyak ini. Pak Sean tadi kasih PR aku banyak banget. Aku juga harus bikin proposal yang harus jadi besok, hari ini kamu ga papa ya pergi makan sendirian?”


“Naik jabatan aja segitu beratnya ya Ell kerjaannya. Aduuh kamu bakalan sibuk banget ntar.”


“Jangan gitu donk. Ga selalu gitu kali ah, kebetukan aja aku lagi sibuk. Udah buruan makan sana, trus nanti ke sini lagi.”


“Ok deh. Kerja yang baik ya, Ell. Biar kamu cepet naik jabatan.”


“Beres, udah sana pergi,” ucap Ellena sambil mengibaskan tangannya.


Ellena kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia ingin malam ini dia tidak lembur. Akan ada banyak pekerjaan esok hari yang harus dia kerjakan di luar kantor. Jadi malam ini Ellena ingin beristirahat yang cukup.


Ellena mulai mengeluarkan kotak makan dari Sean yang tadi dia simpan di laci. Ellena tersenyum saat melihat kotak makan pemberian orang yang mulai menempati hatinya itu. Ellena menikmati roti lapis itu sambil terus bekerja.


“Kok kamu makan siang di sini?” tanya Devan yang datang mengunjungi Ellena.


“Eh Pak Devan. Ini Pak, lagi ada kerjaan rada banyak, jadi makan di sini aja,” ucap Ellena sambil melihat ke arah Devan.


Devan menyeret kursi yang ada di samping Ellena. Dia kemudian duduk di sana sambil menatap cantiknya Ellena. Devan senyum sendiri saat dia melihat kecantikan sang bidadari dari samping.


“Pak, kok liatin saya terus kenapa?” tanya Ellena sedikit risih saat dia merasa Devan melibatnya terus.


“Eh ... siapa yang liat kamu. Kebetulan aja aku duduk ngadep ke kamu,” elak Devan.

__ADS_1


“Oh gitu, maaf Pak kalo saya salah,” jawab Ellena pelan lalu meneruskan pekerjaannya lagi.


‘Kamu ga salah kok, Ell. Emang aku lagi liatin kamu,’ ucap batin Devan.


Ellena kembali larut dalam pekerjaannya. Dia tidak memedulikan kehadiran Devan di sana. Dia kembali fokus untuk mengerjakan apa yang diminta Sean tadi pagi.


“Ell, weekend ini aku boleh main ke rumah kamu ga?” tanya Devan memberanikan diri.


Ellena kaget dengan pertanyaan Devan. Dia sampai langsung menoleh dan memasang wajah kaget. Dia sangat ingat apa yang dikatakan oleh Sean kalau dia tidak suka kalau Devan mendekatinya. Tapi ini malah Devan ingin main ke rumahnya.


“Main ke rumah?” tanya Ellena mencoba mengulangi pertanyaan Devan.


“Iya ... aku kok kangen sama Nathan ya. Aku nyesel kemaren waktu kita ketemu di minimarket kok ga ngajak main Nathan yang lama. Jadi weekend nanti aku pengen ngajak Nathan jalan-jalan,” ucap Devan dengan nada penuh harapan.


“Tapi Nathan ga biasa pergi sama orang lain, Pak. Dia ga gampang deket sama orang,” ucap Ellena berusaha menolak permintaan Devan.


“Ya kalo emang dia ga biasa pergi sama orang lain, kenapa kamu sama Ibu kamu ga ikutan aja. Kan kita bisa pergi bareng-bareng,” jawab Devan masih berusaha merayu Ellena.


“Waah ... saya ga tau kalo kaya gitu, Pak. Saya biasanya kalo libur itu saya manfaatin buat quality time sih. Jadi dari pada pergi jalan, lebih baik kami di rumah.”


“Oh ... iya juga tuh. Apa lagi kamu kerja pergi pagi pulang malam. Pasti anak kamu pengen waktu yang lebih banyak lagi ya?”


“Iya ... itu sih biasanya yang kami lakukan di rumah.”


“Berarti boleh donk aku nanti main ke rumah kamu?”


Terdengar suara keras dari arah belakang dua orang yang sedang berbincang itu. Mereka berdua sampai menoleh, ingin tahu siapa yang menyahut itu.


Ternyata ada Sean yang datang dengan langkah sedikit cepat menuju ke arah Ellena dan Devan duduk. Sean segera berdiri di dekat Ellena dan menatap tajam ke arah wanita itu.


“Ikut aku segera! Pak Ivan tunggu kita,” ucap Sean dengan nada tegas.


“Pak Ivan? Tapi ini proposalnya ...,” ucap Ellena sambil menunjuk ke arah laptopnya.


“Lupakan proposal! Sekarang juga ikut aku!” ucap Sean memotong ucapan Ellena sambil menutup layar laptop Ellena.


“Kalian mau ketemu Pak Ivan dari Mega Harapan itu ya?” tanya Devan.


“Iya ... emang kenapa?” tanya Sean balik.


“Ga papa sih. Keren aja kalo Ellena bisa tembus ke sana. Dia klien bagus Ell, harus kamu kejar,” ucap Devan sambil melihat ke arah Ellena.


“Benarkah? Wah beruntungnya saya, makasih Pak Sean,” ucap Ellena sambil tersenyum ke arah Sean.

__ADS_1


“Buruan!! Kita ga boleh bikin klien nunggu terlalu lama,” ucap Sean sambil melangkah lebih dulu dengan harapan Ellena akan segera mengikutinya.


Tapi sampai Sean sudah di dekat pintu keluar ruang kerja Ellena, dia masih mendengar kalau Ellena berbincang bersama dengan Devan. Sean menoleh dan masih melihat Ellena membersihkan mejanya dengan Devan ada di sampingnya.


“Ellena!” panggil Sean dengan nada kesal.


“Iya ... udah beres ini, Pak,” jawab Ellena yang segera mengambil tasnya lalu pergi ke arah Sean.


“Ketemu sama Pak Ivan? Orangnya aja masih di Amerika kok mau ketemu Pak Ivan. Bilang aja kalo cemburu. Kali ini kamu bisa ambil Ellena, Sean. Tapi lain kali ga akan aku biarkan!” gerutu Devan sambil mengepalkan tangannya.


Ellena berjalan di belakang Sean. Pria yang ada di depannya itu berjalan sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Punggung indah yang selalu menjadi kesukaan Ellena itu kini terlihat jelas di matanya. Ellena memuaskan dirinya untuk melihat punggung itu berlama-lama.


Dua orang itu segera masuk ke lift untuk atasan. Ellena sedikit canggung saat di dalam lift itu hanya ada dia dan Sean saja. Ellena memilih berdiri di sudut belakang tepat di sebelah Sean yang masih dingin kepadanya.


“Ngapain Devan ingin ke rumah kamu?” tanya Sean dingin.


“Tadi sih bilangnya mau ketemu Nathan,” jawab Ellena datar.


Mendengar nama Nathan di sebut Ellena dan menjadi alasan Devan ingin datang ke rumah Ellena tentu saja membuat Sean kaget. Dia tidak akan membiarkan siapa pun bermain dengan putranya itu, terutama Devan.


“Main sama Nathan? Gimana Devan tau kamu punya anak?” tanya Sean pada Ellena.


“Kami ga sengaja ketemu di Minimarket. Jadi ya aku bilang aja kalo Nathan anak aku.”


“Dia tau kalo Nathan anak aku?”


“Belum.”


“Kenapa belum? Harusnya kamu kasih tau dia kalo Nathan anak aku dan kamu juga punya aku,” ucap Sean kembali dengan tatapan mendominasi.


“Sean ... belum ada yang tahu tentang kita. Jadi aku ga mungkin bongkar gitu aja ke semua orang.”


“Ga perlu semua orang. Kasih tau aja ke Devan, aku paling ga suka dia deketin kamu.”


“Sean! Dia cuma rekan kerja, cuma atasan aku. Yang profesional donk,” jawab Ellena yang membela diri.


“Jangan pancing kecemburuan aku, Ellena. Ikuti saja apa yang aku mau.”


“Tapi Sean, ....”


Ucapan Ellena berhenti tiba-tiba saat tubuh Sean sudah membuatnya terjepit di dinding lift. Sean kita ada tepat di depan Ellena. Satu tangan Sean menempel di dinding lift untuk mengurung Ellena.


Tatapan dua insan itu bertemu. Ellena yang kini mulai bisa menghirup aroma segar nafas Sean sedang berusaha menenangkan degup jantungnya.

__ADS_1


“Jangan membuat aku cemburu Ellena. Jangan membuat aku menggila karena kamu.”


Bersambung....


__ADS_2