
Shelly D tak tahu di mana keluarga Frita kini berada. Ia tentu saja cemas dan tak tahu harus menghubungi siapa. Ia tahu Setiawan Budi alias paman dari Rama Subandi, yang dulu membantu mengorbitkannya menjadi artis, berada di balik semua ini. Itulah kenapa ia tak berani bahkan untuk menelepon polisi.
“Aku tak tahu siapa saja penegak hukum yang masih bisa dipercaya,” batin Shelly D resah.
Maka, ia pun tak berbuat apa-apa, meski cemas memikirkan Frita dan keluarganya.
Untunglah Aditya bertemu dengannya dan memberinya informasi itu. Bahwa Frita dan keluarga kabur ke Belanda tanpa memberi kabar.
“Cuma itu jalan terbaik untuk saat ini,” kata Aditya sambil merapikan tata rambut barunya. Ia mengecat rambut dengan warna merah dan memotongnya dengan gaya lain.
“Ya, tapi bagaimana dengan kamu sendiri?” tanya Shelly D.
“Sejauh ini aku hanya bisa cari informasi dari sana-sini, dengan cara begini tentu,” ucap Aditya sambil menyentuh wajahnya.
“Hebat juga kamu. Bisa menyamar begini. Coba tadi tidak kamu sapa, pastilah aku tidak tahu!” Shelly D mengamati tampang Aditya yang terlihat baru, karena ‘topeng’ samaran itu.
Mereka bertemu tak sengaja di sebuah tempat gym, di mana Aditya sengaja untuk beraktivitas normal, sebagai pelengkap penyamarannya. Tak mungkin seseorang yang diincar keluarga Setiawan Budi pergi dengan santai ke tempat gym, bukan?
“Jadi mereka pergi ke sini juga?” tanya Aditya.
“Biasanya sih begitu. Hendy dan terutama Herman, sering kemari. Kalau Rama sih, lebih sering ada di klub The King. Kadang aku juga tak tahu mereka ada di mana, dan tak mau tahu juga,” jawab Shelly D.
“Baiklah.”
Tanpa diminta, Shelly D bilang, “Kalau ada informasi baru, nanti kukabari kamu.”
“Terima kasih, ya.”
Mereka pun saling menjauh agar tak menimbulkan kecurigaan. Shelly D jelaslah biasa menyamar dan dia sangat kagum pada penyamaran Aditya tadi. Nyaris tak terlihat seperti Aditya.
***
Aditya mendapat telepon dari Shelly D malam itu juga. Shelly D terpaksa tak bisa pergi sendiri ke karaoke tempatnya biasa pergi bersama sang manager.
“Aku biasa latihan di sana sih, tetapi malam ini jadwalku kacau. Manager-ku sakit perut mendadak!” kata Shelly D.
“Kamu minta kutemani?” tanya Aditya.
__ADS_1
Shelly D terdengar agak ragu. Ia terpaksa mengatakan kalau di tempat karaoke itu, Rama juga akan datang.
“Dia memaksaku menemaninya!” kata Shelly D panik. “Kamu tahu sendiri aku tak bisa melawan kalau sendirian.”
“Ya sudah. Kita berangkat berdua saja. Bilang saja namaku Rio dan aku bodyguard barumu,” kata Aditya.
Mereka memutus sambungan telepon setelah sepakat bertemu di mana.
***
Setelah kematian Herman Kusuma tempo hari yang terlihat konyol (mati keracunan minuman yang disukainya), Rama sering pergi ke The King seorang diri, bahkan tanpa pengawal atau anak buah. Meski dia kini pincang, banyak yang tak berani macam- macam pada dirinya.
Karena jenuh, Rama sering mengundang para wanita penghibur untuk datang ke tempat-tempat karaoke atau diskotik atau kadang hotel berbintang sekadar untuk tidur bersamanya, di sembarang tempat.
“Aku bisa membayar kalian berapa pun, dan kalian harus mau kutiduri di mana pun kumau!” Begitu katanya selalu pada para wanita penghibur itu. Rama selalu saja kasar memperlakukan para wanita.
Entah berapa kali Shelly D diperlakukan begitu juga. Gadis itu selalu tak berdaya. Malam ini Rama merasa rindu pada wangi tubuh sang penyanyi itu. Rama ingin segera menidurinya, menyetubuhinya sampai lemas, dan bahkan ia bertekad menghamili sang penyanyi.
Semua itu demi pelampiasan amarah karena Setiawan Budi mendadak mengubah rencana.
“Kenapa tak kita habisi dan rebut seluruh harta keluarga Pandu?” tanya Rama pada sang paman tak mengerti.
Rama sama sekali tak mengerti dan marah, tapi tak bisa melawan. Dengan meniduri Shelly D sepuasnya, membuatnya hamil kalau bisa, mungkin ia bisa merasa sedikit menang dan puas. Ya, itulah rencananya malam ini.
Namun sang penyanyi justru tak datang seorang diri.
Shelly D tampak ditemani seorang lelaki aneh berambut merah, yang terlihat lebih seperti seorang lelaki penyuka sesama jenis.
“Heh, banci mana yang kamu bawa ini?” tanya Rama pada Shelly D begitu masuk ke ruang karaoke yang sudah dia pesan.
“Ini Rio, body guard-ku! Dan dia bukan banci! Kalian kenapa bisa masuk kemari? Ruangan ini sudah kupesan dan kalian bisa pakai ruangan lain!” sembur Shelly D pada Rama.
Rama tampak duduk bersama seorang perempuan nakal. Di dekatnya berdiri body guard yang tak pernah Aditya temui sebelumnya.
Rama pun mencoba menyapa Aditya dengan senyum meremehkan, karena rambut merah itu sangat tak pantas bagi wajah ‘baru’ Aditya.
“Rio? Orang mana, Bro?” tanya Rama.
__ADS_1
“Bekasi,” jawab Aditya pendek.
Rama tertawa, tapi segera saja tidak peduli. Ia sudah telanjur mabuk sejak tadi dan kini menatap buah dada Shelly D yang tampak menggiurkan. Shelly D sengaja tadi tak memakai pakaian yang terlalu terbuka, namun tetap saja Rama berusaha untuk memaksa Shelly D duduk dekat dengannya.
“Aku duduk di mana pun yang kumau!” kata Shelly D ketus.
Aditya sengaja tak banyak bicara.
Aditya justru tak henti mengamati body guard-nya Rama Subandi ini. Dia seperti sosok yang tak asing.
Mendadak Aditya teringat seorang kawan saat dia berlatih di kemiliteran beberapa tahun lalu. Ya, seorang kawan yang bernama Dewa Darmawan. Akrab dia panggil Bang Dewa karena setahun lebih tua. Entah bagaimana perjalanan karier Dewa ini, dan kini dia terjebak menjadi body guard Rama.
Namun Aditya mencoba tak mencolok. Tentu Dewa tak mengenalinya karena kini Aditya menjadi sosok Rio, yang bertampang aneh seperti banci, kata Rama.
Tak berapa lama, setelah beberapa lagu dinyanyikan oleh Shelly D dengan sangat terpaksa atas permintaan Rama, seseorang lain mendadak masuk.
Vanessa Yan, pacar mendiang Reza. Dia melangkah masuk dengan sangat arogan. Dan tentu saja dia juga mabuk berat.
“Wah, di sini semua rupanya? Ayo, kapan kita mulai?” tanya Vanessa sambil tiada henti tertawa-tawa.
Suara tawanya membuat Aditya muak dan ingin mengajak Shelly D pergi saja.
“Ada tiga orang lagi. Tunggu saja,” jawab Rama santai.
“Apanya yang dimulai?” tanya Shelly D kesal.
“Pesta ****-lah! Rama bilang akan ada pesta **** yang hebat di ruangan ini!” kata Vanessa tanpa beban. Ia sejak kehilangan Reza, memang menjadi sedikit tak waras. Ia sudah beberapa kali tidur bersama Rama sejak Reza mati tertebas pedang.
“Kalian gila, ya?!” sahut Shelly D segera mengambil tasnya.
Dewa menghalangi penyanyi itu, merebut tasnya dan melemparnya ke lantai.
Aditya geram. Ia segera mendorong tubuh Dewa hingga tersungkur. Lalu menarik tangan Shelly D dan mengajaknya pergi.
“Hei! Ke mana kalian?!” bentak Rama terbakar amarah.
Dewa segera bangkit dan mengambil pisau lipatnya. Memburu Aditya yang sudah setengah jalan menuju pintu.
__ADS_1
Bersambung....