Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 213


__ADS_3

Aditya pikir itu hanyalah sebuah jamuan pesta biasa, seperti yang dibisikkan oleh Pandu berikutnya. Skuad Malam dan Komandan Malik juga akan diundang ke situ.


“Sebuah pesta dadakan atas keberhasilan kalian menyelamatkan putri kami,” begitu Pandu Saputra berkata kepada Aditya. “Semua diatur oleh kerabat Gina di Jakarta sini. Aku sendiri juga baru tahu saat perjalanan kemari.”


“Aku senang hadir di pesta itu, Pak Pandu,” kata Aditya.


Mereka menumpang beberapa mobil dari bandara yang sudah menunggu. Anggota Skuad Malam ada di mobil terpisah dengan Aditya dan Frita. Aditya mendapatkan kursi di sisi gadis itu, bersama Gina yang duduk di depan, di samping sopirnya. Sementara Pandu menumpang mobil lain.


Sepanjang perjalanan itu mereka tak banyak bicara.


Gina bilang, “Malam ini kalian harus tidur yang nyenyak. Besok para tamu undangan akan datang ke hotel untuk pesta syukuran ini.”


“Kuharap ini tidak berlebihan,” kata Frita terdengar cemas.


“Oh, tidak. Hanya para kerabat dan tidak ada kolega. Orang luar hanya Aditya dan rekan-rekannya di pasukan khusus itu. Jangan khawatir, Frita,” kata ibunya.


***


Hari sudah larut saat mereka tiba di rumah kerabat Gina itu, tapi tampaknya rumah itu masih ramai, terlihat belasan mobil terparkir di luar jalanan. Seperti menunggu Gina Lisnia datang.


“Nah, ini dia orangnya. Semua ini salahmu! Kamu terlalu egois. Dan sekarang apa bisa Frita diselamatkan?!” Terdengar suara seorang perempuan dari dalam rumah.


Saat itu Gina turun terlebih dulu dari mobilnya. Aditya dan Frita berjalan agak jauh di belakangnya. Sepertinya kerabat Gina atau entah siapa itu belum tahu Frita sudah ada di sini alias sudah berhasil diselamatkan.


“Kamu ngomong apa sih?! Frita sudah selamat dan aku sudah mencoba sebisaku untuk itu!” kata Gina membalas kata-kata kerabatnya tadi.


Ternyata itu suara salah satu saudara kandung Gina Lisnia, yang oleh Frita dipanggil Tante Meilisa. Dia memiliki bisnis yang jauh lebih sukses ketimbang Pandu maupun Gina. Dan kerap kali menyepelekan saudaranya sendiri.


Penculikan Frita, entah mengapa, jadi menajamkan watak angkuh Tante Meilisa, terutama pada Gina Lisnia. Kesannya dia seperti puas Frita diculik dan menertawakan saudaranya sendiri.


Hanya saja, dia keliru.


Tante Meilisa terlihat canggung begitu menatap Frita sudah ada di ambang pintu.


“Halo, semua. Aku datang!” kata Frita.


“Sudahlah. Jangan begitu, Meilisa. Hargai saudaramu sendiri!” kata seseorang yang terlihat lebih tua.

__ADS_1


“Nah, ini dia Frita sudah pulang! Ayo, kamu jangan bikin ribut!” kata yang lain.


Tante Meilisa benar-benar tak berkutik dan segera angkat kaki dari situ. Sekilas dia melihat ke arah Aditya dan terlihat agak takut.


Aditya tentu tak tahu siapa saja yang ada di situ, dan merasa tak enak saja. Namun, Frita membuatnya nyaman dan memperlakukannya selayaknya tamu terhormat. Aditya diminta duduk di ruang tamu selagi para kerabat Gina berpindah ke teras untuk pamitan pulang.


“Oh, jadi itu tadi penolongnya?” bisik-bisik suara di teras sana.


“Cakep juga, ya.”


“Oh, yang waktu itu?”


Entah apa lagi yang mereka bicarakan. Aditya merasa aneh berada di sini. Frita pun juga terlihat tidak enak padanya. Itulah saudara-saudara dan kerabat dari mamanya, yang selama ini belum dikenal oleh Aditya.


Setelah para kerabat itu pulang, tidak ada pembicaraan lagi selain masuk ke kamar. Kerabat yang memiliki rumah itu mengantar Aditya ke kamarnya dan berkata, “Kalau kamu butuh sesuatu, seperti minum atau makanan ringan, ambil saja di dapur. Anggap saja ini rumah sendiri, Dit.”


“Terima kasih, Tante.” Aditya tak tahu nama kerabat itu, tapi dia cukup ramah dan terlihat paling pendiam di antara kerabat dan saudara Gina lainnya tadi.


Hanya saja, Aditya tak bisa tidur begitu pintu kamar ditutupnya.


“Bagaimana kabar di desa? Moga semua baik-baik saja.” Itu isi pesan singkat dari Aditya.


Deri tak mungkin membalas selarut itu. Dia jelas sudah tidur saat ini.


Jadi Aditya kembali melamun. Lalu pergi ke kamar mandi dan menghangatkan diri di pancuran. Ia tak mencoba memikirkan apa-apa. Ia benar-benar lelah dengan dunia di mana ia telah terlibat dengan banyak kekerasan ini. Semoga semua kepenatan ini cepat berlalu, batin Aditya.


***


Tapi, itu tidak berlalu begitu saja.


Pesta syukuran di hotel mulanya terasa biasa. Hanya obrolan formal antara orang- orang penting, sekalipun mereka sebenarnya ada ikatan keluarga. Keluarga dari pihak Pandu Saputra juga datang di sana.


Aditya lebih memilih menyendiri di sudut ruangan. Frita duduk menemaninya dan mereka mengobrol hal sehari-hari saja.


Aditya mencoba menceritakan keadaan di desanya yang kini berubah. Ia juga cerita tentang keputusannya berhenti dari militer lantaran ingin menebus dosanya pada sang paman.


“Aku harus merawatnya karena selama ini sudah mengabaikan beliau. Entah apa lagi yang bisa kulakukan agar hidupku tidak sia-sia,” katanya.

__ADS_1


“Aku mengerti perasaanmu, Mas,” sahut Frita dengan suara lembut.


Saat itulah, Gina Lisnia mendadak datang, bersama Pandu Saputra yang berjalan di belakangnya. Jadi mereka saat itu hanya berempat. Para tamu maupun anggota Skuad Malam tak akan mendengar pembicaraan ini.


“Kami sudah membicarakan ini sejak lama, Dit. Ya, belum setahun memang, tapi itu sudah cukup lama buatku,” kata Gina yang segera mengambil kursi untuk duduk di dekat mereka berdua.


Pandu juga mengambil kursi kosong dan duduk di samping Aditya.


“Tentang apa ini?” tanya Aditya penasaran.


“Kami pikir kalian mungkin sebaiknya menikah, Dit,” kata Pandu pada Aditya.


Kini, entah bagaimana, Pandu dan Gina terlihat seperti bukan pasangan suami istri yang sudah bercerai saja. Mereka bahkan terlihat sangat rukun. Tidak seperti kesan di pemikiran Aditya sejauh ini tentang mereka. Kelihatannya ada suatu hal di balik rencana baik ini.


Aditya kaget mendengar itu, tapi tak sekaget itu juga. Sejujurnya, setelah semalam ia berpikir, ia memang mencintai Frita seperti yang seharusnya terjadi sejak awal. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal.


“Saya masih harus menyelesaikan urusan di desa. Paman saya butuh ditemani.” Tak ada kata-kata lain yang bisa Aditya keluarkan selain itu.


Gina Lisnia terlihat senang. “Itu artinya kamu bersedia menikahi putri kami?”


“Ya, Tante. Saya bersedia,” jawab Aditya. “Tapi tidak bisa dalam waktu dekat ini.”


“Tentu, Dit. Kapan pun itu bisa kita rayakan. Pernikahan kalian akan jadi hari yang paling bahagia buat kita berempat. Dan, terutama buat pamanmu, yang ceritanya sudah kudengar sedikit dari Komandan Malik,” kata Pandu Saputra.


“Ya, Pak Pandu.”


“Dan, sebaiknya memang rencana yang seperti itu haruslah matang. Tidak terburu- buru agar semua berlangsung lancar,” kata Gina.


Frita tak bicara sepatah kata pun, tapi ialah yang paling bahagia saat itu.


Nah, ketika mereka lanjut mengobrol topik lain, mendadak saja Aditya melihat di kejauhan sana, Teo dan Charlie yang tengil mengajak bicara seorang gadis yang wajah dan perawakannya tak begitu asing bagi Aditya.


Gadis itu entah kenapa bisa berada di tempat ini juga. Tapi, bukankah ini hotel dan bisa jadi ia tersesat ke ruangan khusus yang dipesan untuk pesta syukuran Frita?


Gadis itu tak lain tak bukan adalah Ratna Riani.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2