
Sean meneruskan langkahnya untuk turun dari lantai dua rumah Luna tanpa memedulikan suara teriakan Luna yang terus saja memanggil namanya. Sean benar-benar tidak ingin peduli lagi dengan apa yang dilakukan Luna. Saat ini hanya Ellena yang ada di pikirannya.
Maya melihat Sean turun dari lantai dua dengan pandangan yang bingung apa yang harus dia lakukan. Mendengar teriakan histeris Luna di atas, membuat hatinya sangat teriris. Tapi dia juga tidak bisa egois pada pemuda yang sedang turun dari lantai dua rumahnya itu.
“Sean,” panggil Maya pelan sambil memegang lengan Sean.
“Maaf, Tante. Kali ini Sean ga bisa. Sean ada urusan penting yang harus Sean kerjakan sekarang. Maafin Sean, Tante,” jawab Sean kasihan pada tatapan sayu wanita di depannya itu.
“Ga papa. Biar Tante yang selesaikan. Makasih udah mau bertahan sama Luna selama ini. Makasih ya Sean.”
“Ga papa, Tante. Sean pamit dulu ya,” ucap Sean sambil segera berlalu keluar dari rumah itu.
Sean segera melangkah keluar dari rumah itu tanpa memedulikan lagi suara teriakan Luna yang kian kencang. Dia tidak ingin lagi untuk melihat ke belakang dan ingin meneruskan langkah menuju ke mobilnya yang akan membawanya ke rumah Ellena.
“Sean!! Kembali!! Atau aku melompat dari tempat ini!!” suara teriakan Luna terdengar sangat kencang.
Langkah Sean terhenti. Dia kaget dengan apa yang dikatakan Luna ketika kaki Sean hendak melangkah keluar dari rumah mewah itu. Sean bingung apakah dia harus tetap melangkah ke depan atau berbalik arah untuk melihat Luna.
Teriakan ancaman Luna terus terdengar saat Sean menghentikan langkahnya. Tapi pria itu sama sekali tidak bergeming dan tetap berdiri di posisinya. Akhirnya dengan menarik nafas dalam dan memejamkan mata sesaat, Sean melangkahkan kakinya dengan mantap ke luar dari rumah Luna.
“SEAAANNN!!!” teriak Luna penuh histeris dan tangisan.
PYAARR!!
KLONTAANG!!
Terdengar banyak benda pecah dan berjatuhan dari dalam rumah, tapi Sean yang sudah memantapkan niatnya untuk pergi dari rumah itu segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah milik Luna. Dia tidak ingin lagi berurusan dengan Luna saat ini.
__ADS_1
“Maaf, Lun. Kamu harus bisa kendalikan diri kamu sendiri. Pemilik hati dan hidupku sudah kembali. Aku harus mendapatkannya dan tidak ingin meninggalkannya lagi. Maafkan aku,” ucap Sean sambil menyetir melajukan mobilnya menuju ke rumah Ellena.
Sementara itu di rumah Ellena, wanita itu sedang merapikan barang-barang yang tadi dia bawa ke sekolah Nathan. Putranya itu sudah langsung tertidur saat mereka tiba di rumah, sepertinya Nathan benar-benar kelelahan setelah beraktivitas sejak tadi pagi.
Ellena sedang di kamar mandi untuk merendam baju yang tadi dia kenakan saat masuk ke dalam kolam ikan. Dia tidak ingin meninggalkan noda lumpur pada bajunya tersebut. Ellena sedang menginjak-injak baju itu di dalam bak yang sudah diberi air sabun agar kotorannya lepas.
“Anak itu siapa sih? Apa dia anak Sean?” gumam Ellena sambil menginjak-injakkan kakinya ke dalam bak cuci.
“Kalo emang itu anak dia sama Luna, ya udah dong ga usah lagi ganggu hidup aku. Ngapain dia masih mau tau soal Nathan. Daddy ... udah di panggil Daddy masih aja mau cari anak orang lain. Dasar nyebelin!!” gerutu Ellena lagi.
Ellena makin kuat menghentak-hentakkan kakinya di dalam bak cuci. Dia kesal dengan apa yang dilakukan oleh Sean kepadanya. Tapi ada rasa kecewa juga yang Ellena rasakan saat dia mendengar Aura memanggil Sean dengan sebutan Daddy. Rasanya ada yang perih di dalam hatinya yang ingin dia sembunyikan dan tidak ingin dia akui.
Ellena terus berbicara sendiri mengeluarkan semua rasa kecewanya kepada Sean. Dia menggerutu bahkan sesekali mengutuki Sean yang selalu mempermainkan dia. Padahal selama ini dia tidak pernah berharap untuk bertemu lagi dengan pria itu. Hidupnya kini semakin susah saat Sean hadir kembali.
Triing
Suara dering telepon menghentikan ocehan kekesalan Ellena untuk Sean. Ellena yang menyadari itu adalah dering ponselnya segera keluar dari bak cuci dan membasuh kakinya sebelum dia keluar dari kamar mandi. Ellena melangkahkan kakinya menuju ke meja makan tempat di mana tadi dia meletakkan ponselnya.
Ellena masih terpaku pada layar ponselnya. Dia belum berniat untuk menerima penggilan telepon itu. Apa lagi yabg ada di sana hanya dertan nomor yang dia tidak kenal.
“Angkat saja lah, siapa tau penting,” ucap Ellena yang segera menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya itu.
“Halo,” sapa Ellena ramah.
“Keluar ke depan atau aku yang ke rumah kamu,” ucap Sean di seberang sana.
“Haah?? Siapa sih ini?” tanya Ellena yang masih tidak mengenali suara Sean.
__ADS_1
“Sean. Aku tunggu 5 menit atau aku yang akan masuk ke sana!”
“Mau apa lagi? Urusi anak kamu sana,” ucap Ellena malas.
“Aku ga suka di bantah Ellena!! Waktu kamu tinggal 4 menit. Cepat!!” ucap Sean tegas yang segera memutus sambungan teleponnya.
“Tapi nga ... ah siaal!! Di putusin gitu aja,” gerutu Ellena saat dia mendengar suara tut tut dari ponselnya.
“Bodo ah! Seenaknya aja main perintah orang. Ga tau ada orang lagi sibuk nyuci apa ya.”
Ellena segera meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Dia berjalan dengan santai menuju ke arah kamar mandi, dia tidak ingin memedulikan ancaman Sean yang dianggapnya sepele. Ellena lebih memilih untuk meneruskan kegiatan mencuci bajunya tadi.
Tapi baru saja Ellena hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi, ucapan terakhir Sean seolah terngiang kembali ditelinganya. Ucapan ancaman itu seolah benar-benar akan berlaku kalau dia tidak menuruti apa yang diinginkan oleh Sean.
“Brengsek!! Senengannya ngancam mulu!” gerutu Ellena yang segera berbalik arah untuk masuk kembali ke dalam rumahnya.
Ellena segera menyambar ponselnya yang ada di atas meja lalu segera ke dalam kamar untuk mengambil sebuah cardigan untuk dia kenakan. Ellena segera berlari dengan cepat keluar dari rumah tanpa memedulikan pertanyaan dan panggilan dari Siska. Yang dipikirkan saat ini adalah bagaimana caranya dia segera sampai di ujung gang untuk menemui Sean.
Nafas Ellena tersengal bahkan dia memegangi dadanya saat dia sampai di ujung gang. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari di mana Sean berada. Setelah mendengar suara klakson dari seberang jalan, Ellena mulai mengenali mobil yang ada di depannya itu.
“Ternyata kamu masih patuh,” gumam Sean saat dia melihat Ellena mulai menyeberang menuju ke arah mobilnya.
Sean menurunkan kaca mobil saat Ellena sudah mulai terlihat. Ellena pun segera sedikit menundukkan badannya untuk melihat Sean yang ada di dalam mobil. Pria di dalam mobil itu memberi kode agar Ellena segera masuk ke dalam mobil. Sambil mempoutkan bibirnya dan sedikit mendengus, akhirnya Ellena masuk juga ke dalam mobil Sean.
“Minum ini dan pasang sabuk pengaman yang benar,” ucap Sean sambil memberikan air mineral botolan pada wanita di sampingnya yang masih mengatur nafasnya.
“Emang mau ke mana sih?” tanya Ellena sambil memasang sabuk pengaman lalu meminum air yang di berikan Sean.
__ADS_1
“Ga usah banyak nanya!” ucap Sean sambil segera melajukan mobilnya.
Bersambung....