
Aditya, Pandu dan Frita sampai di rumahnya. Semua lampu tampak sudah padam. Hingga suasana di sana gelap gulita. Aditya memasukan semua mobil ke dalam garasi. Frita dan Pandu melangkah masuk ke dalam rumah.
“Ris! Bu!” panggil Frita namun tidak ada yang menyahut.
“Kok lampu luarnya juga padam semua yah?” tanya Frita heran.
“Sengaja mungkin, tapi kuncinya tidak di kunci kok.”
“Eh iya. apa mereka sudah tidur ya?” ucap Frita sambil perlahan masuk ke dalam rumah.
Perlahan dia berjalan sambil mencari tombol lampu. Tiba-tiba saja ketika lampu menyala Frita dikagetkan karena di hadapannya Clarissa, Gina dan beberapa asisten rumah tangganya menitup terompet. Tampak suasana rumah juga sudah di dekorasi sangat indah. Sontak Frita kembali menangis sambil memeluk ibunya.
Aditya dan Pandu hanya tersenyum melihat sikap Frita. Mereka kemudian menuntun Frita ke ruang makan. Di sana tampak sudah tersedia makanan dan minuman kesukaan Frita. Ada kue ulang tahun yang sengaja di pesan oleh Gina.
Frita terlihat sangat bahagia. Setelah selesai menikmati makanan barulah Pandu menceritakan kejadian yang dialami Frita. Tampak semua orang di sana bersyukur karena Frita masih selamat. Walau begitu tempaknya pesta kejutan yang direncanakan keluarganya bisa menutupi kesedihan yang dialaminya malam ini.
“Mama malam ini nginep di sini kan?” tanya Clarissa.
“Maaf Ris, malam ini mama mau langsung pulang. Soalnya besok ada keperluan penting,” jawab Gina.
“Yah mama. Besok saja dong pulangnya,” rengek Clarissa.
“Nanti kapan-kapan lagi ya,” jawab Gina sambil membelai rambut putrinya.
“Terimakasih ya bu. Aku bener-bener seneng malam ini,” ujar Frita sambil memeluk Gina.
“Sama-sama Fri. lain kali kamu nggak usah pergi malam-malam ya, ibu nggak mau kejadian seperti itu terulang kembali.”
Setelah puas berbincang dengan kedua putrinya Gina pamit pulang bersama sopir pribadinya. Pandu dan yang lainnya kembali beristirahat. Aditya masih belum mengantuk, dia hanya terbaring saja di tempat tidur sambil menerawang kejadian yang akan datang. Andai saja dia tahu siapa dalang kejadian ini, pasti masalah Frita akan cepat selesai.
Frita juga masih belum tidur, dia sedang asyik melamun. Ada beberapa hal yang mengganjal di benaknya tentang kejadian malam ini. Dia kemudian teringat dengan Jimmy, dia mencoba untuk meneleponnya.
“Halo Fri? ini Frita kan?” sapa Arya yang menerima panggilan di ponsel Jimmy.
“Iya Ar ini aku. Jimmy di mana? Apa dia baik-baik saja?”
“Kamu baik-baik saja Fri? penculiknya di mana?”
“Aku baik-baik saja Ar. Aku sekarang sudah di rumah. Jimmy bagaimana?”
__ADS_1
“Syukurlah. Dia sekarang sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit.”
“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”
“Dia tidak terluka parah kok. Dia masih sadar dan masih bisa berbicara seperti biasa.”
“Begitu ya, Duh. Maaf aku paling besok baru bisa menjenguk.”
“Tidak apa-apa. Aku yakin Jimmy sudah senang ketika mendengarmu baik-baik saja juga. Eh iya bagaimana bisa kamu lolos dari penculik?”
Frita tidak kunjung menjawab. Kata-kata Arya barusan malah menegaskan bahwa bukan dirinya pria misterius yang selalu menyelamatkannya. Tapi hal itu malah membuat Frita penasaran dengan alasan Jimmy dan Arya yang mencoba membohonginya.
“Aku juga tidak ingat Ar. Tiba-tiba aku sudah di klinik bersama ayah.”
“Oh begitu. Syukurlah setidaknya Jimmy tidak sia-sia melindungimu.”
“Iya Ar, sampaikan ucapan terimakasih dariku ya untuknya. Aku juga minta maaf gara-gara aku mereka harus berurusan dengan penjahat.”
“Tidak masalah, lagipula itu memang salah satu tugas kami.”
Panggilan diakhiri. Frita termenung sambil menatap tangan kirinya. Dia masih ingat kalau dia sudah mengerahkan tenaganya yang tersisa saat itu untuk mencoba memegang si pria misterius. Dia tersenyum sendiri mengingatnya. Dia memutuskan jika besok akan menjenguk Jimmy sekaligus kembali ke klinik untuk mencari petunjuk tentang penyelamatnya.
Pagi harinya, Aditya baru bersiap hendak mencuci mobil bosnya seperti biasa. Namun dia kemudian mengurungkan niatnya setelah Frita menghampiri dan mengajaknya untuk pergi menjenguk Jimmy. Tersirat sedikit kekesalan di wajah Aditya. Dia terpaksa menuruti keinginan Frita.
“Emangnya rumah sakit kayak pasar ya. Aku sengaja pagi-pagi berangkat soalnya nanti siang aku mau istirahat sepuasnya. Eh Dit nanti kalo ada toko buah-buahan mampir dulu ya.”
“Tuh di depan ada.”
“Mampir dulu.”
Frita kemudian membeli beberapa buah-buahan untuk Jimmy. Setelah sampai di rumah sakit Frita langsung pergi menuju tempat Jimmy dirawat. Di dalam ruangan itu hanya ada Arya, Jimmy dan seorang perwira polisi yang kebetulan langsung pamit ketika Frita datang.
“Gimana keadaanmu sekarang Jim?” tanya Frita dengan nada cemas.
“Aku sekarang sudah agak baikan. Kamu seharusnya nggak usah repot-repot segala bawa begituan,” jawab Jimmy ketika Frita menaruh keranjang buah di meja.
“Nggak apa-apa. Bagaimana keadaan teman-temanmu yang lainnya?”
“Mereka sekarang masih di rawat. Ada satu orang yang masih kritis.”
__ADS_1
“Ya ampun.”
“Aku senang kamu baik-baik saja Fri.”
“Terimakasih ya Jim karena sudah berusaha melindungiku. Jika saja aku tidak ikut denganmu mungkin saja hal ini tidak akan terjadi.”
“Kamu ada-ada saja Fri, itu memang sudah tugasku sebagai polisi. Oh iya, Arya bilang jika polisi juga berhasil menangkap delapan orang. Aku yakin jika kami bisa menggali informasi dari mereka terkait dalang penculikmu.”
“Sudahlah, kita bicarakan hal itu nanti saja Jim jika kamu sudah pulih sepenuhnya.”
Aditya sebenarnya sedikit kesal karena Jimmy terlihat mencoba menarik perhatian dari Frita. Arya sendiri malah terus memandangnya dengan tatapan tajam. Dia sedikit khawatir jika Arya mengetahui identitasnya.
“Aku sebenarnya risih pak kalau ada laki-laki yang menatapku seperti itu,” ucap Aditya.
“Begitu ya. Aku hanya sedang berpikir kenapa sebagai sopir pribadi seorang direktur penampilanmu begitu buruk,” sindir Arya.
“Aku tidak pernah memperhatikan penampilanku.”
“Menarik. Padahal menurut penilaianku dari caramu berdiri saja, gayamu sudah cocok menjadi seorang tentara,” jawab Arya sambil tersenyum.
“Terimakasih, tapi aku tidak suka hal yang berbahaya seperti itu.”
“Oh, sayang sekali.”
Setelah selesai berbincang, Frita pamit kepada Arya dan Jimmy. Dia kemudian meminta Aditya untuk mengantarnya ke klinik tempat dia di rawat tadi malam. Aditya merasa jika Frita bermaksud untuk mencari tahu perihal orang yang menyelamatkannya. Tapi dia tidak punya alasan untuk menolak perintah bosnya itu.
Frita masuk ke dalam klinik untuk mencari perawat dan dokter yang mengobatinya semalam. Namun mereka ternyata belum datang. Aditya lega, dia mengajak Frita untuk segera pulang dengan alasan karena hari minggu mungkin mereka sedang liburan. Namun Frita bersikeras untuk menunggu mereka. Dia malah menyuruh Aditya pulang duluan. Tak lama kemudian dokter dan perawat itu datang.
“Mbak yang semalam kan?” tanya perawat.
“Iya bu.”
“Ada keperluan apa ya menemui saya? Apa mau diperiksa lagi?”
“Nggak kok bu, saya sudah baik-baik saja. saya cuma ingin bertanya siapa orang yang semalam mengantarkan saya kemari?”
“Oh orang itu ya.”
“Iya bu, ibu masih ingat wajah atau paling nggak ciri-cirinya?” tanya Frita dengan antusias.
__ADS_1
Perawat itu terlihat termenung mengingat kembali kejadian semalam. Perlahan tatapannya tertuju kepada Aditya.
BERSAMBUNG…