Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 283


__ADS_3

Aditya segera menyuruh Frita untuk berbelok masuk ke sebuah tanah kosong di sisi jalan. Frita tak bertanya-tanya.


“Cepat, terus masuk!” kata Aditya tak berkedip.


“Tapi di sini gelap, Mas!” tukas Frita panik.


Aditya menyuruh Frita berhenti, dan meminta menggantikannya menyetir. Wanita itu tak membantah.


Aditya membawa masuk mobil mereka terus ke kegelapan. Melintasi tanah kosong terbengkalai dekat sebuah padang ilalang. Ia mencoba menjauh dari sudut tembakan si sniper barusan.


“Brengsek, siapa coba membunuh kita!” Aditya geram, tapi jelas ia tahu itu pastilah ulah keluarga Setiawan Budi.


Segera setelah berhenti di tempat aman, Aditya meminta Frita dan Clarissa untuk sembunyi di sebuah gudang kosong tak jauh dari situ.


Aditya tiarap di dekat gudang, mengamati dengan mata tajamnya, dan dari cahaya rembulan, ia bisa melihat bayangan tiga orang sedang bergerak menuju kemari.


Bayangan tiga orang yang sama sekali tak ia kenal!


***


Aditya bersiap menghadapi serangan tiga pembunuh bayaran itu. Apakah benar tiga orang itu pembunuh bayaran? Tampaknya begitu. Aditya agak cemas jika saja masih ada orang keempat yang bersembunyi, mengintai sebagai penembak jitu di kejauhan.


Maka, ia meledek, “Kalian hanya bertiga, kan? Tidak bisa lebih banyak lagi?”


“Ya, kami cuma bertiga! Kau mau cara halus atau kasar?” tanya salah seorang dari mereka. Mereka semua bertopeng.


“Tumben ada orang yang datang untuk membunuhku, pakai bertanya segala mau cara macam apa! Oke, cara halus bagaimana?” kata Aditya penasaran.


“Cara halus berarti kau harus berlutut dan kami menembakmu mati sesegera mungkin. Tak ada rasa sakit. Kau mati seketika,” jawab si pembunuh itu.


“Bangsat! Kalian pikir aku secemen itu? Baiklah, kita pakai cara kasar saja!” tukas Aditya lalu menyerang para pembunuh itu.


***


Tentunya mereka bukan orang sembarangan. Setiawan Budi tak pernah menyewa pembunuh tanpa mempelajari profil mereka terlebih dahulu.


Diam-diam tanpa banyak orang tahu, Setiawan Budi telah sukses melacak identitas asli The Green Devil yang telah mati di tangan Aditya tempo hari. Nah, ternyata ia pun tahu betapa Iblis Hijau itu memiliki saudara kandung yang juga pembunuh profesional.


Suatu kali, Setiawan Budi mengundang saudara The Green Devil ke markasnya.


“Kalian tahu saudara kalian mati?” tanya Setiawan Budi dengan lagak seorang bos mafia.


“Ya, kami sudah dengar!” jawab salah satu dari ketiga saudara Iblis Hijau.


“Tahu siapa pelakunya?”


“Kami belum tahu siapa yang menyewa saudara kami. Kami jadi belum tahu juga siapa target yang justru menggorok kakak kami sampai mati!” jawab salah satu dari mereka yang bertubuh atletis.


“Aditya, mantan pasukan khusus. Seorang yang memiliki banyak musuh. Terkenal tangguh dengan pertarungan tanpa senjata. Kalian tahu?”


Ketiga saudara The Green Devil hanya saling berpandangan. Lalu mereka berkata, “Kami akan membunuhnya tanpa Anda bayar, kalau memang Anda mau dia mati.”

__ADS_1


“Baiklah, kita sudah punya kesepakatan,” tukas Setiawan Budi dengan tenang.


***


Maka, Aditya justru diserang balik oleh ketiga pembunuh sadis itu.


Aditya tidak menyangka hampir seluruh gerakannya bisa terbaca oleh ketiga sosok misterius itu.


“Brengsek. Kalian boleh juga ternyata!” kata Aditya setelah salah satu dari mereka sukses menghantam rahang Aditya sampai mulutnya berdarah.


“Dan kau tak sehebat apa yang orang katakan!” balas salah satu yang bertubuh paling atletis, sambil menendang perut Aditya sampai jatuh terkapar.


Namun Aditya masih bisa bangkit. Kekuatan dan energinya masih terlalu besar saat ini.


Sementara itu, di gudang, Frita dan Clarissa mencoba menghubungi seseorang. Di pikiran mereka cuma muncul nama Malik. Namun nomor yang bersangkutan sedang tidak aktif.


“Siapa lagi yang bisa kita mintai bantuan?” kata Frita cemas.


“Coba Bang Jimmy!” sahut Clarissa.


Frita pun segera menghubungi Jimmy Wijaya, tapi polisi itu juga tak bisa dihubungi.


***


Aditya mencoba memakai cara baru. Melawan mereka dengan ledekan.


“Jadi, berapa Setiawan Budi membayar kalian, ha?” katanya sambil bangkit dan memasang kuda-kuda lagi.


“Wah, pasti ada sesuatu yang besar selain uang, ya?” balas Aditya dengan tak henti bergerak-gerak agar musuhnya tak bisa melumpuhkannya.


“Ya, kau sudah membunuh saudara tertua kami!” kata mereka.


Aditya tak tahu siapa yang dimaksud.


“Siapa yang sudah kubunuh, ha?” tanyanya penasaran.


“Iblis Hijau, Bangsat! Kau membunuhnya dan membuangnya seperti dia orang tak berguna!” jawab saudara sang iblis itu, lalu mengeluarkan sebilah pedang. Dia tak tahan juga akhirnya, menolak bertarung dengan tangan kosong, melainkan ingin segera Aditya mati.


“Tapi dia yang coba membunuhku, Bajingan! Ternyata dia punya saudara, ya!” kata Aditya sambil melompat mundur.


Mereka tak menjawab.


“Asal kalian tahu saja, saudara kalian itu memang tak berguna kali!” ledek Aditya.


Ledekan itu membuat mereka geram.


Ia kini terkepung dari segala penjuru oleh tiga pembunuh sadis itu. Aditya tak tahu The Green Devil memiliki tiga saudara yang juga sama-sama pembunuh sadis, karena mereka bekerja di luar negeri selama ini. Tampaknya kepulangan mereka ke sini hanya untuk membalas dendam pada Aditya.


Saat itulah sebuah desing tembakan terdengar dari kejauhan. Salah satu dari ketiga pembunuh itu roboh. Keduanya tampak kaget. Desing tembakan terdengar sekali lagi, dan satu lagi pembunuh itu roboh.


Satu-satunya saudara The Green Devil yang tersisa tentunya mengamuk parah. Ia menyerang Aditya tanpa peduli lagi pada penembak jitu yang entah di mana dan entah suruhan siapa itu.

__ADS_1


Hanya saja, sebelum Aditya membalas serangan sang lawan, tembakan terakhir pun membunuh saudara ketiga The Green Devil.


Aditya sangat heran.


“Siapa yang datang begitu tiba-tiba untuk menolongku?” gumamnya pelan.


Tak disangka, sosok yang datang tak lama kemudian justru orang yang Aditya pikir tak akan lagi ditemuinya setelah beberapa waktu lalu mereka berpisah.


Guru Tanpa Nama datang, melambaikan tangan sambil memikul senjata tembak jarak jauh. Di sampingnya berjalan sosok Amy Aurora.


“Kalian datang? Aku tak menyangka bantuan sehebat ini yang bakal datang,” sapa Aditya.


Amy memeluk Aditya dan bertanya apa kabar. Aditya membalas pertanyaan itu dan bertanya balik, “Kabarmu sendiri?”


“Sedikit kurang enak badan, tapi barusan berhasil membunuh orang yang ingin kamu mati,” jawab Amy yang juga memikul senjata tembak jarak jauh.


Frita dan Clarissa pun keluar dari tempat persembunyian.


Mereka kemudian masuk ke mobil, untuk kembali ke jalan raya.


“Antarkan kami ke mobil kami, Dit,” kata Guru Tanpa Nama.


“Di mana?”


“Sebuah motel busuk tak jauh dari jalan raya,” jawab lelaki separuh abad itu.


Mereka diam beberapa lama. Mobil itu pelan melintasi kegelapan tanah kosong tak bertuan, melalui gundukan tanah yang cukup tinggi, membelok menghindari pepohonan mangga dan kebun pisang.


Lalu Guru Tanpa Nama berkata, “Hendy dan Herman sudah mati.”


“Apa?” tanya Aditya yang tak terlalu fokus karena menyetir.


“Hendy dan Herman sudah mati. Tapi, ini kesalahanku juga. Harusnya Rama yang mati, bukan?” kata Guru Tanpa Nama.


Aditya berhenti seketika, menoleh pada sang guru. “Aku tidak meminta Anda untuk membunuh mereka, Pak Gandi! Aku cuma meminta perlindungan dan solusi bagaimana bisa lolos dari jeratan Setiawan Budi!”


“Kurasa cuma itu cara satu-satunya. Membunuh mereka tanpa sisa. Mungkin tidak perlu semua dibunuh. Hanya orang-orang jahatnya saja, tapi sayang aku salah sasaran soal Herman,” jelas Guru Tanpa Nama.


Aditya cuma menepuk jidat, dan sadar kini dirinya malah makin jatuh ke dalam bahaya.


Kata Guru Tanpa Nama, Herman bertindak sok dan mentang-mentang di salah satu klub di Bandung kemarin. Ia pikir Herman itulah Rama. Jadi ia memberinya racun yang segera membuat Herman mati malam itu.


“Ya, aku datang langsung untuk membantu murid terbaikku, Dit. Yaitu kamu,” lanjut Guru Tanpa Nama. “Tapi tenang saja. Selama ada kami, kamu akan tetap aman. Sebisa mungkin kami akan terus membantu.”


“Bagaimana Hendy mati?”


“Oh, dia enggak sengaja kutabrak saat aku kabur dari klub itu,” jawab Guru Tanpa Nama sambil terkekeh.


“Ya, Tuhan! Anda sudah membuat saya semakin terperosok, Pak Gandi! Semoga saja ini tak membuat bahaya mereka semua!” kata Aditya melirik Frita dan Clarissa.


Guru Tanpa Nama hanya mengangkat bahu. Amy Aurora cuma tersenyum tipis. Ini seperti sebuah rutinitas saja bagi mereka. Namun tentu Amy dan Pak Gandi tak bakal tinggal diam demi membantu Aditya, apa pun nanti yang terjadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2