Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 45


__ADS_3

“Kak Aditya ada di posisi berapa sekarang?” tanya Clarissa.


“Kalau sesuai perhitunganku sejak start tadi, kelihatannya aku ada di posisi kedua belas,” jawab Aditya sambil terus menyetir.


“Aduh si wanita itu sudah sampai di posisi kelima kak, gimana ini.”


“Sudah kubilang kan kemungkinan menang melawan wanita itu cukup kecil.”


“Ih Kakak jangan nakut-nakutin kayak begitu. Aku nggak mau kalau harus minta maaf sama dia.”


Aditya tidak menjawab lagi karena pembalap di belakangnya mencoba untuk menabrak mobilnya dengan kecepatan tinggi, tampaknya mobil di belakangnya itu sudah mengaktifkan NOS miliknya. Terlihat bemper depan mobil itu memiliki rangkaian besi. Aditya heran kenapa penyelenggara memperbolehkan mobil seperti tiu balapan. Dengan cepat dia membanting kemudinya kesamping untuk menghindari tabrakan.


Mobil itu melaju ke depannya. Namun tak lama mobil itu oleng dan berputar di jalanan. Aditya dengan cepat menghindari tabrakan dengan mobil itu. Namun mobil di belakang Aditya yang memang tidak melihat mobil yang oleng menabraknya hingga benturan dahsyat terjadi. Aditya merasa ngeri sekaligus heran, sebenarnya apa yang salah dengan mobil tadi.


“Kak suara apa barusan?” tanya Clarissa cemas.


“Ada dua mobil yang tabrakan Ris.”


“Mobil Arnold nggak kenapa napa kan?” tanya Clarissa sambil tertawa.


“Malah nanyain mobil. Btw mobil Ratna sudah ada di posisi berapa?”


“Ratna?”


“Duh dasar, itu wanita yang tadi nantangin balap di restoran.”


“Oh. Aku nggak suka nginget-nginget nama orang kayak gitu soalnya. Dia sudah ada di posisi empat ya Ar?” Clarissa malah bertanya kepada Arnold.


“Iya posisi keempat,” terdengar Arnold menjawab.


“Hebat juga tuh orang,” gumam Aditya sambil tersenyum.


Dengan segera dia menambah kecepatan mobilnya, tampak di depannya ada lima mobil yang sedang bersaing. Aditya tersenyum senang, dia sudah lama tidak merasakan sensasi balapan menegangkan seperti ini. Dia sudah punya rencana untuk melewati lima pembalap itu. Mobilnya dengan cepat merangsek masuk diantara celah dua mobil.


Melihat mobil Aditya masuk ke dalam celah, kedua pembalap terlihat serentak hendak menjepitnya namun Aditya tersenyum karena itu memang rencananya, dia memperlambat laju mobilnya hinnga kedua mobil tadi benbenturan hingga celah terbuka lebar. Aditya memanfaatkan itu untuk melaju ke posisi kesepuluh.

__ADS_1


Salah satu mobil dibelakangnya mengaktifkan NOS namun tiba-tiba mobilnya oleng dan melesat kesamping jalan hingga membentur pohon. Aditya kembali heran. Kenapa pembalap professional sepertinya bisa melakukan kesalahan kecil seperti dalam pengaktifkan NOS. satu mobil di depannya tiba-tiba saja mendadak berhenti setelah mengaktifkan NOS. Aditya berhasil menghindar dan melaju di posisi sembilan.


“Wih mobil kakak tampil di proyektor. Tapi kok banyak yang kecelakaan ya?” ucap Clarissa.


“Entahlah Ris. Tapi yang jelas mereka kebanyakan mengalami kecelakaan ketika mengaktifkan NOS atau sesudahnya,” jawab Aditya.


“Kok bisa ya. Padahal kudengar mereka adalah pembalap unggulan. Pasti pengetahuan dan kemampuannya dalam sistem itu sudah hebat.”


“Makanya aku juga bingung. Saat ini ada berapa orang yang kecelakaan Ris?”


“Ada empat mobil dan tiga diantaranya adalah pembalap unggulan.”


“Begitu ya.”


Aditya kembali fokus ke jalanan. Dia sudah bisa sedikit memahami apa yang tengah terjadi dalam balapan itu. Hanya delapan mobil lagi agar dia bisa mencapai posisi pertama. Di depannya kini sudah terlihat tiga mobil lagi. Saat ini dia harus berhati-hati ketika pembalap lain mengaktifkan NOS dalam mobilnya, karena kemungkinan kecelakaan bisa terjadi lagi.


Katika melihat tiga mobil itu tengah salip menyalip Aditya berusaha memanfaatkan sedikit celah untuk merangsek masuk, namun satu mobil terus membenturkan mobilnya ke mobil Aditya. dengan segera Aditya membalas membentur ban depan mobil itu hingga oleng dan berada di belakangnya. Aditya dengan mudah melewati dua mobil sisanya hingga berhasil menempati posisi keenam.


Beberapa penonton mulai bersorak melihat kemahiran Aditya dalam mengemudikan mobil. Clarissa dan Arnold tampak ikut senang. Bagaimanapun tidak ada yang menyangka jika orang seprti Aditya ternyata memiliki kemampuan menyetir yang luar biasa.


“Mr. K. bagaimana ini?” tanya Mr. Bark dengan wajah cemas.


“Tenang saja, dia itu pembalap amatiran aku yakin pembalap titipan kita bisa mengatasinya,” jawab Mr. K.


“Aku juga berharap begitu.”


“Tenang saja, di posisi lima besar masih ada dua target kita. Aku yakin nomor 63 itu akan segera tumbang.”


Mr. K kemudian memanggil seorang anak buahnya. Dia kemudian menanyakan tentang rencana mereka. Tampak raut wajah Mr. K memerah karena menahan emosi. Ternyata anak buahnya tidak memasangkan alat untuk mengacaukan kompresi NOS di mobil yang Aditya kemudikan.


“Kenapa Mr. K?” tanya Mr. Bark.


“Sial! Sebelum balapan dimulai aku sudah memerintahkan anak buahku agar memasang alat yang bisa mengacaukan fungsi NOS di setiap mobil pembalap unggulan. Tapi ternyata mereka tidak memasangnya di mobil nomor 63 itu.”


“Kenapa bisa seperti itu?”

__ADS_1


“Mereka beralasan nomor 63 itu bukanlah pembalap unggulan. Mereka bahkan tidak tahu siapa namanya.”


“Benar-benar sial, apa mungkin Dewa Judinya Bandung yang merencanakan semua ini?”


“Entahlah Mr. Bark. Jika benar pun tetap saja pihak kita yang salah karena tidak mengantisipasinya. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa aku harus menghubungi sniper untuk menghabisi nomor 63?”


“Jangan! Jika itu yang terjadi, bukan hanya para pejudi yang akan menuntut, tapi penonton juga akan protes kepada kita, karena mereka menonton sebuah pertandingan yang sudah diatur kemenangannya,” cegah Mr. Bark.


“Aku akan menghubungi pembalap titipan yang ada di arena agar berusaha menyingkirkan nomor 63 itu,” tambah Mr. Bark sambil menelepon beberapa pembalap.


Sementara itu Aditya dengan waspada mengejar lima pembalap yang ada di depannya. Aditya pikir kemungkinan besar penyelenggara ikut terlibat dengan beberapa kecelakaan yang dialami oleh para pembalap.


Itu semakin masuk akal karena para pembalap yang mengalami kecelakaan adalah pembalap yang cukup terkenal karena kehebatannya. Sedangkan pembalap biasa lainnya aman-aman saja. dia pikir mungkin saja ada beberapa pembalap yang ingin namanya terkenal dengan cara menyuap penyelenggara balapan agar menyingkirkan para pembalap terkenal.


Dia kemudian mengingat ingat saat penyelenggara memeriksa mobilnya, dia merasa orang itu tidaklah mencurigakan. Kemungkinan karena namanya belum terkenal maka penyelenggara tidak memperhitungkannya sebagai ancaman untuk para pembalap yang sudah menyuap mereka. Aditya terlihat tersenyum karena kemungkinan besar dugaannya itu benar.


“Ris, Ratna sudah di posisi berapa?” tanya Aditya.


“Emm. Dia sudah di posisi pertama kak. Duh mati aku jika dia menang,” jawab Clarissa.


“Tenang saja, masih cukup jauh ke garis finish juga.”


“Kakak sih nggak masalah. Nah aku nanti harus minta maaf sama dia kalau dia menang.”


“Ya itu kan resiko kamu sendiri Ris.”


“Ih nggak asik lah.”


Tiba-tiba satu mobil di depannya oleng kembali ketika mengaktifkan NOS. Aditya kembali berhasil menghindar. Namun dengan cepat dua mobil di depannya menyudutkannya ke tepi kanan jalan. Aditya memperlambat mobilnya dan merangsek masuk ke posisi keempat balapan. Satu mobil tampak kembali menyudutkannya ke tepi jalan.


Dengan susah payah Aditya berhasil kembali ke tengah jalan. Namun dua mobil itu terus membayanginya. Aditya merasa kalau mereka berdua sengaja ingin mencelakakannya. Dia berusaha menghindari kedua mobil itu ke arah kanan. Namun mobil di depannya memperlambat lajunya hingga Aditya juga tidak bisa melaju lebih cepat karena terhadang. Dia kembali ke posisi kelima.


Dua mobil di depannya terus berusaha menjegalnya. Namun Aditya tidak menyerah. Dia kembali melaju, namun lagi-lagi kedua mobil hendak menyudutkannya ke tepi jalan. Kali ini dia tidak bisa menghindar. Ban belakangnya sudah menyentuh tepi jalanan yang berumput membuat mobil Aditya oleng karena tidak seimbang.


“Kak Aditya!” teriak Clarissa.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2