Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 314


__ADS_3

Lelaki kurus itu berjalan tertatih-tatih sambil memegang bagian bawah tubuhnya. Ia tak bisa melukai siapa pun kecuali sudi mati saat itu juga.


“Oh, belum! Belum saatnya kekalahan datang. Tidak untukku, tidak juga untukmu, Aditya!” batinnya dengan angkuh.


Hestu bersumpah akan menghabisi Brenda nanti kalau kesempatan itu datang lagi. Kini dia harus pergi.


Dia bisa melihat mobil Rinda baru saja berhenti di halaman depan. Hestu, meski terluka parah di bagian alat vitalnya, masih bisa bergerak cukup cepat ke mobilnya yang terparkir di sisi samping rumah mewah itu. Diam-diam ia menyalakan mesin mobilnya yang halus dan pergi tanpa disadari, bahkan oleh telinga Rinda yang terlatih.


Jelas saja, karena Rinda saat itu sedang telepon para informannya dan di dekatnya, Shelly D tak henti menangis.


Hestu meluncur ke tempat yang sama sekali tak orang duga: rumah Deddy Prakoso.


Setelah kematian Hendy, anaknya, Deddy memang tak lagi banyak bertingkah. Dia tahu keadilan untuk anaknya mungkin tak akan pernah ada. Apalagi Setiawan Budi pun akhirnya mati.


Maka, Deddy hanya bisa menutup diri, memilih membisu. Hestu sendiri tak peduli padanya dan tak mengundangnya datang untuk perjanjian ‘perlindungan’ tempo hari di tempat rahasia itu. Deddy Prakoso merasa tersisihkan.


Ketika Hestu datang, Deddy seolah seperti mendapatkan angin segar. Pria berperut buncit itu menyambut Hestu dengan senang. Tapi mereka tak bisa berdiam lama.


“Bantu aku. Nanti kita bangun kembali kerajaan itu untuk kita berdua,” kata Hestu.


Tak ia sangka, Deddy yang payah mudah saja percaya.


Deddy, sekalipun tak dianggap, tentu masih memiliki uang. Hestu tak bisa pergi ke tempat para politikus atau pengusaha terkenal yang berada di dalam cengkeramannya begitu saja tanpa membuat curiga malam ini. Untuk saat ini ia bisa memanfaatkan si Deddy saja untuk membantunya kabur.


“Kita pergi ke mana?” tanya Deddy yang sudah siap dengan salah satu mobilnya.


“Ke tempat Frita. Kau pasti tahu, kan?”


“Ya, dulu Hendy pernah pergi ke sana untuk melamarnya, meski aku tak ikut.”


“Oke, kita ke sana,” tukas Hestu dengan dingin.


Mobil pun meluncur.


***


Frita sedang sendirian di apartemennya. Bel pintu berdering. Ia bangkit dengan semangat, mengira yang datang Aditya.


Namun, Frita mendapati seorang lelaki buncit sedang menangis ketakutan.


“Tolong saya! Anak saya barusan mati!” katanya.


Frita tak mengenal Deddy Prakoso, dan tak pernah ketemu juga. Jadi ia tak tahu itu tangisan sandiwara.

__ADS_1


Ketika Frita lengah, mendadak Hestu muncul dari sisi samping pintu yang tertutupi tiang tembok, dan membekap Frita dengan kain berlumurkan obat bius. Frita seketika tak sadarkan diri.


“Nah, seret dia ke mobil!” kata Hestu.


Deddy patuh saja, seperti anjing suruhan. Lagi pula ia pikir Hestu tak bisa bekerja yang berat-berat untuk saat ini, sebab bagian selangkangnya terluka. Hestu berkali-kali merintih dan mengumpat atas lukanya itu.


Mereka tiba di mobil lima belas menit kemudian, beberapa saat sebelum Aditya dan Rinda tiba di tempat itu.


Frita dibawa kabur dengan tangan terikat, mulut terlakban, dalam kondisi tak sadar. Betapa lelah Deddy atas pekerjaan berat ini.


“Tapi aku senang akhirnya bisa mendapat peran penting di ‘kerajaan’ keluargaku,” kata Deddy bahagia, meski napasnya ngos-ngosan.


Hestu cuma terkekeh pelan.


***


Ya, mereka memang pergi ke Jakarta. Ke tempat yang disebutkan Rako pada Adit tadi. Sebuah tempat yang harusnya hanya diketahui keluarga Setiawan Budi saja. Suatu hari Hestu diajak pergi ke sana, berkeliling ke setiap bagiannya, membuat beberapa keluarga Setiawan Budi tak suka.


Tapi tentu saja mereka tak melawan.


Setiawan Budi terlalu percaya pada Hestu yang akhirnya mengkhianatinya.


Sebelum mencapai tempat itu, Hestu bertanya pada Deddy, “Ada telepon? Mana kupinjam!”


Hestu tampak sibuk megingat-ingat nomor seseorang, lalu akhirnya menghubungi entah siapa itu.


Suara di seberang telepon tampak marah.


“Ya, maafkan aku sudah bawa saudaramu dalam masalah. Tapi bukan aku yang menguburnya, Bung,” tukas Hestu menanggapi orang marah itu.


“Sekarang kalian di mana?”


“Nanti ku-SMS alamatnya. Aku cuma mau pastikan apakah kalian mau membunuh orang yang membunuh Nino?” kata Hestu.


“Siapa pun yang membunuh saudaraku, akan habis di tanganku!” sahut seseorang yang marah itu.


Hestu menutup telepon dengan tersenyum, meski sakit di bagian bawah tubuhnya kini makin parah, dan perlahan berubah menjadi mati rasa. Ia tak tahu harus meminta tolong pada siapa untuk mengobati lukanya.


Deddy bilang, “Aku bisa meminta bantuan perawat langgananku.”


“Apa maksudmu, Ded?” tanya Hestu tak mengerti, sambil sibuk mengetik alamat tujuan mereka untuk orang yang dia telepon barusan.


“Ya. Untuk obati lukamu itu. Tenang saja. Dia perawat benaran. Hanya sesekali saja pergi cari uang tambahan dengan menjual diri. Hahahaha!” kata Deddy terlihat senang.

__ADS_1


“Boleh saja asal dia tinggal tak jauh dari sini,” sahut Hestu.


“Ya, memang tak jauh. Sekitar 7 atau 8 kilo lagi kita sampai. Semoga Frita tidak bangun sampai saat itu,” ujar Deddy.


“Tak bakal bangun. Kalaupun bangun, ada kau di sini yang menjaga. Itulah kenapa aku butuh bantuanmu, Ded.”


Deddy terlihat semakin senang karena kini benar-benar dilibatkan. Apalagi dia juga tak sabar ingin melihat Aditya mati. Ia sangat ingin melihat Aditya mati dengan cara yang sangat buruk seperti halnya kematian anaknya, Hendy.


***


Rumah perawat itu tampak mewah. Namun ia tinggal seorang diri. Kata Deddy, dia sudah lama cerai dengan suaminya dan sering merasa kesepian.


Hestu menyebut nama Teddy saat memperkenalkan diri pada si perawat. Ia bilang, “Kamu harus kerja cepat!”


“Kucoba sebisaku.”


Perawat yang bernama Tiana itu dengan telaten menjahit luka di selangkang Hestu. Ternyata luka itu tak mengenai bagian vital. Hanya menggoresnya beberapa senti saja. Justru yang parah kulit di sekitarnya yang terkoyak.


“Kita harus jahit ini dulu, Teddy. Jangan banyak bergerak,” kata si perawat tersebut dengan suara yang dibuat agak menggoda.


Jujur saja, di mata Hestu, perawat ini boleh juga. Entah dari mana Deddy mengenal Tiana. Tak disangka, tanpa diminta, wanita itu menjelaskannya sendiri.


“Deddy itu orangnya hebat, lho. Kelihatannya saja dia payah, tapi asal kamu tahu, dia hebat lho,” katanya.


“Oh, begitu,” tukas Hestu merasa jijik.


“Ya, kami kenalnya dari aplikasi kencan jodoh, lho.”


Hestu kini merasa ingin tertawa, tapi rasa ngilu dan linu menguasainya. Jadi dia berusaha tetap tenang.


Entah berapa lama yang dibutuhkan. Yang jelas luka itu kini terawat dengan baik. Ia bisa melanjutkan perjalanan setelah membayar perawat itu.


“Kapan kalian mampir kemari?” tanya Tiana dengan suara genit.


“Entah,” jawab Hestu yang saat ini sama sekali tak bernafsu kecuali menghabisi Aditya.


Mereka melanjutkan perjalanan tanpa bicara. Deddy sesekali mencemaskan apakah Frita baik-baik saja, karena sejak tadi tak juga bangun.


Hestu bilang dengan jengkel, “Dia gak akan mati, kecuali nanti setelah kucekik dia.”


Deddy memutuskan tak lagi berkata-kata.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2