
Esok harinya Frita pulang kerumahnya lalu kembali lagi ke rumah sakit. Frita sengaja tidak berangkat ke kantor hari ini, dia mempercayakan perusahaan kepada William. Clarissa juga tidak mau berangkat ke sekolah. dia ingin tetap berada di rumah sakit. Saat Clarissa sedang makan di luar, Frita duduk di dekat Aditya sambil memegang tangannya.
“Maafkan aku jika selama ini selalu bersikap buruk kepadamu, padahal selama ini kamu sudah bertaruh nyawa untuk melindungi keluargaku.”
“Aku harap kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi,” ujar Frita.
“Kakak sudah makan belum?” pertanyaan Clarissa mengagetkan Frita.
“Kamu ini bikin orang kaget saja!” gerutu Frita.
“Aku sebenarnya nggak ada niatan mengganggu. Cuma kasian saja kalau kakak belum makan,” jawab Clarissa sambil tertawa.
“Kakak suka ya sama kak Aditya?”
“Ih ikut campur masalah orang dewasa saja,” ucap Frita sambil pergi keluar untuk makan.
Siang harinya Aditya akhirnya Siuman, orang pertama yang menyadarinya adalah Clarissa, dengan segera dia memanggil perawat. Setelah dipastikan jika Aditya baik-baik saja Clarissa terlihat begitu senang. Namun Aditya meminta keadaannya dirahasiakan dulu karena dia masih malas untuk berbicara dengan orang-orang. Clarissa menyetujuinya.
Rani, Sherly dan beberapa orang lainnya dari kantor datang untuk menjenguk Aditya. Rani dan Sherly terlihat begitu sedih melihat Aditya tak berdaya. Malam harinya keadaan kamar semakin sepi setelah siang hari banyak orang yang menjenguk. Clarissa dengan tenang sudah tidur. Hanya Frita yang masih duduk di dekat Aditya.
“Hari ini banyak teman temanmu datang ke sini, aku yakin mereka juga merasakan kesedihan ketika melihatmu seperti ini. Aditya, kapan kamu akan bisa menatapku lagi?”
“Tadi siang Rani dan teman lamamu, Sherly bahkan menangis melihat kondisimu saat ini. Sebenarnya sih aku nggak suka melihat dia terlalu dekat denganmu, apalagi kemarin kamu malah menemuinya dengan sangat rapi seperti itu,” ujar Frita. Aditya mulai kesulitan untuk menahan tawanya.
“Kenapa sih kamu begitu peduli sama dia, padahal kamu belum pernah sekalipun makan berdua di restoran mewah denganku. Aku juga cuma beberapa kali saja lihat kamu berpakaian rapi, itu juga sebentar. Hemh, sebenarnya segitu bencinya ya kamu kepadaku,” gumam Frita murung, Aditya ingin rasanya tertawa saat ini.
“Yah kamu memang seperti itu, mungkin kamu memang tidak peduli kepada perasaan seseorang, mungkin juga setiap melihat wanita cantik kamu akan jatuh cinta kepadanya. Walau begitu, aku mengagumimu yang penuh rasa tanggung jawab. Mungkin kamu akan tertawa jika mendengarnya langsung, tapi jujur sejak kita bertatap muka di restoran Hotel Universal aku mulai menyukaimu. Aku tidak peduli siapa dirimu sebenarnya.”
Rasa ingin tertawanya lenyap seketika. Aditya kini benar-benar merenungkan kalimat Frita barusan. Sebenarnya dia sudah tahu jauh-jauh hari jika Frita mulai tertarik kepadanya. Karena itu juga dia berusaha menjauh, tapi jika mendengar langsung darinya ternyata rasanya benar-benar mengejutkan. Hatinya berdebar. Rasa senang bercampur khawatir muncul.
Aditya membuka matanya untuk melihat Frita, namun ternyata dia malah sudah tidur. Aditya hanya tersenyum sambil menghela nafas. Aditya merasa beruntung masih pura-pura belum sadar karena jujur dia bingung harus menjawab apa ketika mendengar kata-kata Frita barusan.
“Tapi jika dia tahu kalau aku sudah sadar mungkin saja tidak akan mengatakannya langsung seperti itu,” gumam Aditya menghibur dirinya sendiri.
__ADS_1
Pagi harinya Frita terbangun karena suasana di ruangan itu gaduh. Ketika membuka matanya dia melihat Aditya sedang tersenyum sambil melihat Clarissa yang merajuk kepada Pandu karena lupa hari ulang tahunnya. Airmata Frita mulai berlinang, dia tidak merasa senang bisa melihat Aditya tersenyum kembali.
“Oh kamu sudah bangun ya,” sapa Aditya.
“Kamu pulas banget Fri,” ucap Pandu. Frita tidak menjawab tapi malah buru-buru pergi ke toilet.
“Aku nggak mau tahu, pokoknya nanti kalau pulang lagi dari luar negeri aku mau kado yang bagus,” rengek Clarissa.
“Iya, iya nanti ayah belikan kado yang bagus.”
“Memangnya ayah mau berangkat lagi?” tanya Frita yang datang kembali.
“Iya, rencananya besok ayah akan berangkat lagi.”
Sikap Frita semakin lembut kepada Aditya, pagi ini bahkan dia bergantian dengan Clarissa menyuapinya bubur. Aditya semakin bingung harus bersikap apa kepada Frita setelah mendengar kata-katanya tadi malam, sampai saat ini dia masih merasa tidak pantas karena dia sudah berbuat banyak kejahatan, tangannya sudah terlalu kotor berlumuran darah.
Selama empat hari selanjutnya Aditya masih berada di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya. Hari ini Frita bahkan tidak pergi ke kantor hanya untuk merawatnya. Besok dia sudah diperbolehkan untuk pulang. Sekarang hanya Clarissa dan Frita yang sering menemaninya di rumah sakit.
“Aku mau pulang dulu ya Dit,” ucap Frita.
“Ada apa? Apa ada yang harus aku bawa dari rumah?”
“Terimakasih, selama di sini aku sudah merepotkan kalian sekeluarga.”
“Kamu ini aneh Dit. Yang harusnya berterimakasih itu aku loh karena kamu sudah menyelamatkan Clarissa,” jawab Frita sambil tertawa.
Mungkin ini pertamakalinya mereka saling bertatap muka, saling melempar senyum dengan penuh ketulusan. Frita kemudian pergi meninggalkannya sendirian. Aditya menggerakan semua bagian tubuhnya terutama bahu kirinya yang masih di perban. Sebenarnya ketika tadi pagi diperiksa lukanya sudah sembuh dan normal lagi, tapi selama di rumah sakit bahunya harus diperban.
“Viktor, jika ini memang perbuatanmu akan aku balas semuanya malam ini!” kata Aditya sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat dengan tatapan penuh emosi.
Aditya kemudian bergegas mengenakan jaketnya lalu menyelinap keluar dari rumah sakit. Tujuannya sudah jelas untuk mencari Viktor. Dia menaiki taksi online sambil mengingat kembali wilayah-wilayah milik geng Merak dulu. Dia turun tak jauh dari kerumunan orang yang mengenakan baju geng Merak.
“Permisi, di sini ada yang tahu di mana markas geng Merak?”
__ADS_1
“Hahaha lu nggak liat apa kami lagi ngumpul di sini, ya di sini lah markasnya,” jawab seseorang diantara mereka sambil tertawa. Aditya malah kesal, mereka kelihatannya hanya anggota rendahan yang belum pernah ke markas pusat mereka sendiri.
“Maksud saya markas pusat geng Merak.”
“Eh lu ada urusan apa huh?”
“Ngomong-ngomong kelihatannya dia punya duit nih.”
“Hahaha lumayan buat kita minum malamini.” Suasana di sana malah gaduh. Kelihatannya mereka malah berniat untuk memeras uang Aditya.
“Cih, ternyata cuma kroco kroco rendahan doang,” ucap Aditya sambil berlalu pergi.
“Apa lu bilang?!” teriak seorang pria. Kelihatannya dia adalah bos mereka.
“Kalian cuma kroco rendahan yang bahkan tidak tahu markas pusat kalian sendiri!” tegas Aditya.
“Kurang ajar!”
Beberapa orang mulai maju mengelilinginya, Aditya hanya menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Padahal dia baru saja sembuh, kehidupannya memang tidak pernah tenang. Seorang pria maju sambil berteriak penuh gaya, diikuti beberapa pria lain yang menerjang Aditya. Namun semuanya bisa dihindari dengan mudah oleh Aditya.
Seorang pria maju namun dalam sekejap sudah terkapar. Melihat lawan yang tangguh, mereka maju serentak namun dengan cepat Aditya berputar sambil menghajar semua lawannya, satu persatu orang-orang itu mulai tumbang tak berdaya. Bahkan bos mereka saja dalam satu kali pukul sudah tumbang meminta ampun.
“Ampun bang ampun,” rengek bos mereka. Anak buahnya yang masih sanggup lari segera pergi meninggalkan tempat itu karena ketakutan meninggalkan motor miliknya.
“Gue ampuni tapi antar gue ke markas besar lu!”
“Oke bang oke.
“Coba kalo daritadi gitu, lu nggak akan babak belur!” bentak Aditya.
“Iya bang maaf. Maaf banget bang.”
Aditya dibonceng preman itu di motornya, mereka segera pergi menuju markas besar geng Merak. Darah Aditya semakin berdesir panas. Dia sudah tidak tahan lagi ingin menghabisi dalang dibalik penculikan Clarissa.
__ADS_1
BERSAMBUNG…