
Frita sedang bersenandung sendirian di rumahnya malam ini. Clarissa sejak tadi sudah tidur di kamarnya. Dia merasakan kegelisahan di hatinya hingga tidak bisa tidur, karena itu dia bermaksud mengusirnya dengan mendengarkan musik. Wajah Aditya selalu terbayang di lamunannya. Entah sudah beberapa kali dia pindah tempat duduk.
Tiba-tiba suara mobil terdengar berhenti di luar. Frita terlihat senang, dengan cepat dia membuka pintu untuk melihat orang di lamunannya pulang. Tapi wajahnya tiba-tiba muram ketika melihat yang datang ternyata hanyalah Jimmy dan Arya. Dia mempersilahkan mereka berdua masuk.
“Maaf Fri kalau kedatangan kami ke sini mengganggu waktu istirahatmu,” sapa Jimmy
“Tidak apa-apa kok Jim, mau minum apa nih?” tanya Frita dengan ramah.
“Nggak usah repot-repot, kami cuma sebentar doang kok di sini. Sopir pribadi kamu tinggal di sini kan?”
“Iya, memangnya kenapa?”
“Kami ada perlu dengan dia sebentar terkait kasus penculikan adikmu waktu itu,” jawab Arya.
“Oh, Aditya sedang keluar sejak tadi, katanya lagi ada keperluan.”
“Kamu tahu kemana dia pergi?”
“Nggak, tapi dia nanti juga pulang kok.”
“Duh kami juga masih ada keperluan lagi setelah dari sini.”
“Bagaimana Jim?” tanya Arya.
“Sebaiknya kita besok kembali lagi ke sini,” jawab Jimmy sambil melihat jam tangannya.
“Kalau boleh tahu, bagaimana hasil perkembangan kasusnya?” tanya Frita sambil menyodorkan air putih.
“Duh padahal nggak usah Fri, jadi ngerepotin,” ucap Jimmy.
“Nggak kok lagian cuma air putih doang.”
“Kasus itu sudah kami anggap selesai karena para pelaku juga ditemukan sudah tewas. Kami hanya ingin menanyakan tentang kronologisnya saja kepada sopirmu itu. Kami khawatir jika ada penjahat lain yang terlibat dalam kejadian waktu itu,” jelas Jimmy.
“Kalau begitu terimakasih Fri, maaf kalau kami mengganggu,” ucap Arya. Mereka berdua pamit setelah meminum air yang disediakan Frita. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil untuk pulang.
“Kamu kehausan ya Jim? Air putih segelas besar itu kamu teguk habis,” tanya Arya.
“Tentulah kan Frita yang ngasih mana mungkin disia siakan. Lagipula airnya serasa ada manis-manisnya gitu,” jawab Jimmy sambil tertawa.
__ADS_1
“Hahaha dasar maniak Frita,” ledek Arya sambil tertawa.
***
Aditya berdiri dengan sikap waspada. Edgard terlihat mulai mengambil ancang-ancang menyerang. Benar saja tak lama kemudian Edgard melayangkan beberapa tinjunya, nmaun Aditya dengan cepat mengelak. Edgard terus menyerang tanpa henti. Namun Aditya dengan lincah berhasil menghindari semua serangan itu.
“Siapa sih dia? Kok bisa-bisanya dia maju mewakili geng Gagak?”
“Ya, kok Ketua diam saja sih. Padahal harusnya kan bos Adrian yang maju.”
“Kalau begini bisa-bisa geng Gagak kehilangan ketiga wilayahnya.”
“Lihat saja dia cuma bisa menghindar doang. Mana mungkin menang kalau seperti itu.”
Terdengar orang-orang di sana meremehkan Aditya. Kebanyakan orang-orang di sana memang tidak tahu siapa Aditya, hanya beberapa orang saja yang terlihat santai karena tahu siapa Aditya sebenarnya. Aditya terus menghindari semua serangan Edgard tanpa menangkisnya sedikitpun. Hal itu jelas-jelas membuat Edgard geram.
Dia kemudian bersiap untuk melakukan kecurangan seperti tadi. Namun Aditya menyadarinya. Dia segera memejamkan mata dan menahan nafas ketika Edgard terus menyerang sambil berusaha menangkapnya. Beberapa orang mulai bersorak ketika melihat Aditya menghadapi Edgard sambil menutup matanya.
Edgard semakin geram, dia berniat menubruk tubuh Aditya namun dengan cepat Aditya berhasil menendang tubuhnya hingga rubuh, Aditya juga menendang kedua tangan Edgard sampai menyentuh wajahnya sendiri. Terlihat dia tiba-tiba panik karena menghirup serbuk kimia yang sengaja dia siapkan.
“Hamh, Lang obat penawarnya cepat!” teriak Edgard. Gilang kemudian melemparkan bungkusan kecil ke arena. Namun Aditya berhasil menangkapnya.
“Jadi ini obat penawar serbuk kimia yang lu gunakan?” tanya Aditya sambil tersenyum.
“Hahaha, nih!” Aditya melempar bungkusan itu ke Edgard namun ketika dia hendak mengambilnya Aditya segera menendangnya hingga roboh.”
“Sorry gue nggak sengaja,” ujar Aditya sambil duduk di punggung Edgard yang berusaha berontak.
“Dia sudah meminumnya, simpan lagi nanti hancur,” ujar Aditya sambil melemparkan bungkusan kepada Gilang.
Gilang menerima bungkusan itu, namun tak lama kemudian tubuhnya lemas dan ambruk di luar arena tangannya tidak sanggup digerakan. Semua orang yang ada di sana sangat terkejut dengan kejadian itu. Gerald segera memeriksa keadaan Gilang lalu menatap tajam kepada Aditya yang sedang menghindari semua serangan Edgard. Ketika melihat Gilang terkulai lemas Edgard memalingkan pandangannya.
“Apa yang terjadi?” gumam Edgard.
“Dia menghirup serbuk kimia yang lu gunakan,” jawab Aditya dengan santai.
“Apa? Bagaimana bisa?”
“Nah, akhirnya lu mengaku juga jika berbuat curang,” jawab Aditya sambil tertawa, Edgard pucat karena terjebak kata-kata Aditya.
__ADS_1
“Maksud gu-“
“Terserah lu mau beralasan apa, tapi semua orang di sini sudah tahu kecurangan lu! Lu sengaja nyembunyiin serbuk itu di saku celana lu, karena itu tadi gue masukin bungkusan obat penawarnya ke tempat serbuk itu. Lalu temen lu sendiri yang menghirupnya,” jelas Aditya dengan tenang.
Semua orang di sana semakin kagum kepada Aditya. Ratna dan Sherly hanya tersenyum mendengar semua orang di sana mulai memuji Aditya. Edgard terlihat begitu marah. Dia kemudian menyerang Aditya dengan membabi buta.
“Gue nggak peduli orang tahu apa nggak! Yang jelas lu bakalan mati di sini!” teriak Edgard sambil melayangkan tinjunya.
“Sayang sekali, gue bukan orang yang bisa membiarkan orang habisin gue dengan mudah,” jawab Aditya sambil menghindar lalu menangkap lengan Edgard.
“Lu bakalan terima balasan karena kecurangan lu sendiri!” tegas Aditya sambil menghujam perut Edgard dengan lututnya hingga muntah darah.
Dalam lima detik saja Aditya menghajar Edgard dengan lima serangan beruntun hingga babak belur. Serangan terakhirnya membanting Edgard ke lantai hingga terkapar tidak sadarkan diri. Semua orang bersorak atas kemenangan Aditya.
Jaja menatap tajam Gerald yang mulai membuka jaketnya. Dengan mata menyala oleh rasa dendam Gerald maju ke arena. Aditya hanya tersenyum saja, dia sudah menduga jika Gerald yang akan turun sebagai orang terakhir dari geng Serigala.
“Lama tidak berjumpa,” sapa Gerald.
“Kelihatannya lu masih tetap jadi tangan kanan pria busuk itu,” ledek Aditya.
“Hahaha, gue sebenarnya bingung kenapa lu keluar dari geng sampah itu. Tapi gue harap kemampuan lu nggak tumpul sekarang.”
“Lu bakalan tahu sendiri nanti. Yang jelas trik kotor seperti apapun nggak berguna bagi gue.”
“Sayang sekali, gue nggak perlu pakai cara kotor buat ngabisin lu di sini! Pakai ini saja cukup,” jawab Gerald sambil menunjukan kepalan tangannya. Orang-orang di sana mula berisik karena Gerald sendiri yang akan menghadapi Aditya saat ini.
“Kalau begini sudah pasti siapa yang bakalan menang.”
“Iyalah gue dengar Gerald itu belum pernah kalah dalam pertarungan sama siapapun.”
“Mungkin dia sebanding dengan bos Arfa. Gue sebenarnya dari tadi berharap melihat pertarungan mereka berdua.”
“Bener gue juga setuju,” ujar beberapa orang yang ada di sana. Sherly mulai khawatir mendengar pembicaraan orang-orang yang lebih mengunggulkan Gerald. Ratna menyadarinya, sebenarnya dia juga khawatir tapi dia rasa masih ada harapan, karena Aditya bahkan bisa unggul ketika melawan Viktor dan Brian sekaligus.
“Kelihatannya duel ini adalah yang paling menarik,” ujar Jaja.
“Tentu saja, kita akan lihat anak buah siapa yang paling kuat!” tegas Goni dengan bangga.
“Anak buahmu ya,” gumam Bima sambil tertawa kecil, sementara Jaja hanya tersenyum sinis kepada Goni.
__ADS_1
“Tunjukan kalau sekarang lu sudah semakin kuat, Gerald,” gumam Jaja pelan.
BERSAMBUNG…