Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 159


__ADS_3

Aditya pergi menuju gedung bagian keamanan. Di sana dia mencari Dani ke beberapa ruangan namun tidak kunjung ketemu. Dia kemudian bertanya kepada beberapa pegawai yang ada di sana. Mereka bilang kalau Dani sedang pergi keluar untuk mengawal orang. Tak lama kemudian Dani datang kembali setelah selesai melakukan tugasnya.


“Kamu lama amat Dan,” ujar Aditya.


“Tadi aku habis ngawal ketua bagian keuangan ke bank, mana di sana lama banget lagi bos,” jawab Dani sambil duduk di samping Aditya.


“Cape banget kelihatannya, memangnya ada penjahat yang menghadang kalian tadi?” tanya Aditya sambil tertawa kecil saat melihat Dani terlihat begitu lelah.


“Lebih tepatnya lelah sma bosen nunggu doang bos.”


“Padahal aku ingin minta bantuanmu loh,” ujar Aditya. tiba-tiba saja Dani terlihat antusias. Dia terlihat sangat senang ketika Aditya membutuhkan bantuannya. Mungkin itu karena dia ingin membalas hutang budi Aditya selama ini.


“Bantuan apa bos? Bilang saja pasti aku bantu,” tanya Dani.


“Aku ingin kamu mempersiapkan mental dan tenagamu nanti.”


“Untuk apa bos?”


“Nanti sore aku ingin kamu mengantar Mbak Frita pulang ke rumahnya. Sekalian kamu harus bertanggung jawab dengan keamanannya.”


“Memangnya banyak yang suka mengganggu ya dijalan?”


“Ya namanya juga wanita cantik pasti ada lah Dan. Pokoknya kamu harus kerahin tenaga dan kemampuan maksimalmu untuk mengantar Mbak Frita nanti.”


“Beres bos, walau nyawa taruhannya pasti akan kuantar Mbak Frita dengan selamat,” jawab Dani dengan mantap.


“Ini kuncinya, ingat nanti kamu kalau mau pulang dari rumah Mbak Frita. jangan sampai lupa memberikan kunci mobil ini kepadanya,” kata Aditya sambil menyerahkan kunci mobil.


“Tenang saja bos masa aku bawa mobilnya ke rumah. BTW bos nanti mau kemana memangnya?”


“Aku ada janji mau menjenguk kakek temanku.”


“Wih perhatian banget sampai kakek teman saja di jenguk.”


“Soalnya dia juga selalu baik kepadaku selama ini, masa sakit saja nggak aku tengok.”


“Iya juga ya,” ucap Dani sambil tertawa. Tak lama kemudian Frita tiba-tiba datang ke gedung bagian keamanan. Semua orang di sana terlihat kaget. Kebanyakan dari mereka segera pergi untuk mencari kesibukan. Di ruangan itu hanya ada Dani dan Aditya saja.

__ADS_1


“Kebiasaan nih kalau aku datang ke bagian manapun pasti langsung pada sembunyi,” gerutu Frita sambil menghampiri Aditya, tanpa ragu dia duduk di sampingnya. Hal itu jelas membuat Dani kaget.


“Ada apa Mbak?” tanya Aditya.


“Kamu ini suka ngilang nggak jelas, aku kira tadi masih ada di ruangan itu bareng pak Arya eh ternyata sudah pada pergi.”


“Oh iya maaf. Tadi soalnya pak Arya pulang jadi saya langsung ke sini deh.”


“Aku penasaran, sebenarnya apa sih maksud Arya datang ke sini?”


“Tadi sih dia bilang ingin meminta informasi tambahan terkait kejadian kemarin.”


“Informasi apaan?” tanya Frita dengan antusias. Sementara Dani hanya garuk-garuk kepala karena dia serasa menjadi orang asing di sana.


“Dia nanyain kira-kira ada sesuatu yang mencurigakan atau nggak saat aku, eh saat saya datang ke hutan pinus, gitu doang Mbak,” jawab Aditya hampir keceplosan.


“Oh, aku kira apaan. Aku pergi lagi ya, mau nanya itu doang kok,” kata Frita sambil pergi lagi. Setelah Frita pergi perlahan ruangan itu kembali dipenuhi oleh para pegawai yang sedang tidak ada kerjaan.


“Hubungan bos sama Mbak Frita saudara apa bagaimana nih?” bisik Dani penasaran. Dia perhatikan mereka berdua terlihat sangat akrab bahkan dia rasa Frita terlihat senang saat berbicara dengan Aditya tadi.


“Apa jangan-jangan kalian pacaran?”


“Kamu ini ada-ada saja deh Dan. Terlalu banyak nonton film nih jadinya halu.”


“Ya kali saja bos, lagian kalau dilihat-lihat kalian itu cocok loh.”


“Cocok dari mananya?”


“Nih Mbak Frita kan cantik, kaya, pinter cocok sama bos yang kaya juga, pinter, jago berantem, ganteng juga.”


“Kamu ini ngawur Dan.”


“Serius loh, bos itu jelas kan jago berantem, uang bos juga banyak waktu aku cek di kartu debit, bos juga pinter contohnya waktu kasus sama Erik yang jebak kita. Bos juga ganteng, cuma yang bikin aku heran itu kok bos nggak pernah peduli sih sama penampilan? Padahal nih menurutku kalau bos rapi wuih! Pasti cewe-cewe ngantri.”


“Kamu ini terlalu berlebihan Dan,” jawab Aditya sambil bangkit hendak mencari kesibukan. Dani terus mengikutinya sembari mencoba meyakinkan Aditya kalau dia benar-benar tampan kalau merapikan penampilannya.


***

__ADS_1


Di sebuah ruangan yang sangat mewah terdapat empat orang dengan pakaian serba hitam duduk di kursi mengelilingi meja besar dengan logo Black Mafia di tengahnya. Mereka terlihat sedang membahas beberapa hal serius di sana.


“Kita sekarang sudah kehilangan satu lagi rekan yang berharga,” ucap seorang pria bertopi hitam sambil menikmati cerutunya.


“Sudah aku bilang kalau menjalankan rencana pertama juga sangat sulit,” kata ayah Fred.


“Kalau tahu begini aku culik saja Rembulan kota Bandung itu saat ada di kapalku,” gerutu ibu Fred.


“Sudahlah lagipula kita tidak pernah menyangka kalau ternyata orang yang selama ini melindungi target utama kita adalah si Belati Maut,” timpal seorang pria sambil memegang ponselnya.


“Kalian benar, entah ini kebetulan atau bukan tapi kedua masalah kita malah bersatu menjadi masalah besar.”


“Mau tidak mau kita harus menyingkirkan Belati Maut terlebih dahulu,” ucap ayah Fred.


“Tapi hal itu tidak akan mudah, kita harus menggunakan cara yang lebih hebat lagi kalau ingin mengalahkannya,” jawab pria yang sedang memegang cerutu. Tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti ketika monitor di depan mereka berempat tiba-tiba menyala. Hal itu menjadi pertanda kalau Ketua Black Mafia sudah terhubung.


“Aku yakin kalian saat ini sedang resah karena satu rekan kita sudah tewas di tangan si Belati Maut. Santai saja itu semua memang diluar rencana kita. Kalau tahu orang yang melindungi target kita adalah dia maka aku tidak akan buang-buang tenaga dan uang untuk meminta bantuan Ketua geng Serigala untuk mengumpulkan orang,” ucap Ketua Black Mafia dengan suara disamarkan.


“Sekarang apa yang harus kita lakukan Ketua?” tanya pria yang memegang ponsel.


“Albert, apa kamu sudah berhasil menyingkirkan dua orang pembawa sial itu?”


“Sudah, Ketua. Aku sudah menghabisi Javier serta anak buahnya, lalu membuatnya seolah-olah seperti kecelakaan,” jawab ayah Fred.


“Baguslah. Kita lupakan saja dulu masalah si Belati Maut karena aku juga sudah punya rencana untuk mengalahkannya. Walaupun pasti untuk melakukannya kita harus menunggu cukup lama sampai rencananya benar-benar siap. Sekarang aku ingin memperkenalkan rekan baru kita untuk mengisi kekosongan di organisasi ini,” jelas si Ketua. Di monitor terlihat profil lengkap seorang pria yang lumayan muda.


“Apa Anda yakin ingin menerimanya bergabung Ketua?” tanya pria bertopi hitam.


“Benar, dia masih sangat muda,” ujar Ibu Fred.


“Kalian tenang saja. Walaupun masih muda tapi kelicikan dan uangnya bisa kita manfaatkan dengan baik. Aku harap kalian bisa akur, sebentar lagi dia akan masuk ke dalam ruangan,” jawab si Ketua sambil tertawa. Tak lama kemudian seorang pria yang profilnya ada di monitor masuk ke dalam ruangan sambil tersenyum, empat orang itu terus menatapnya tajam.


“Perkenalkan tuan-tuan yang terhormat semuanya. Aku anggota baru Black Mafia, mungkin pengalamanku tidak sehebat kalian tapi aku cukup percaya diri dengan kelicikanku. Namaku Daniel,” ucap pria itu memperkenalkan diri sambil tersenyum licik. Dia kemudian membungkuk hormat lalu duduk di kursi yang kosong.


“Dia orangnya, sekarang mari kita mulai membahas rencana besar untuk mengalahkan si Belati Maut,” kata si Ketua sambil tertawa puas.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2