
Aditya sudah berlari cukup jauh ketika akhirnya ia mendengar suara itu. Sebuah suara yang ia pikir tak akan pernah lagi ia dengar.
“Hei, aku masih hidup, Nak!”
Aditya segera berbalik dan merogoh ponsel pintar di dalam saku celananya. Segera ia menyalakan senter.
“Ya, Tuhan! Syukurlah Anda masih selamat, Tante!” kata Aditya nyaris berteriak.
Ia segera membopong tubuh Brenda Sukma yang terluka parah di bagian perut dan dada. Ya, lukanya memang cukup parah kalau dilihat sekilas, tapi wanita itu masih hidup.
“Di mana anakku?” tanya Brenda.
“Ada di luar bersama yang lain.”
Mereka berjalan tergesa-gesa kembali ke mobil. Brenda mengerti Hestu yang tadi ke sini untuk membunuhnya (tapi gagal), pastilah kini sedang mengincar orang-orang yang Aditya sayangi. Itulah kenapa pemuda ini buru-buru.
Brenda Sukma justru masih merasa shock atas perlawanannya beberapa saat lalu pada Hestu.
“Bagaimana Hestu bisa kabur? Apa dia benaran kabur?” tanya Aditya.
Mobil sudah berjarak beberapa puluh meter di depan mereka. Kini keduanya tampak setengah berlari melintasi taman depan rumah mewah mendiang Setiawan Budi.
“Sepertinya memang kabur. Soalnya Hestu juga terluka,” kata Brenda. “Kamu tahu aku melukainya di bagian mana?”
“Di mana itu?” tanya Aditya penasaran.
Brenda malah seketika tertawa. Pada saat ini mereka sudah sampai di mobil. Shelly D terlihat sangat cemas mendapati tubuh sang ibu berlumuran darah.
“Aku baik-baik saja, Desi! Jangan menangis berlebihan begitu!” kata Brenda yang terlihat agak geli mendengar tangisan sang putri.
Rinda segera mengambil kotak P3K dan mengobati luka Brenda sesegera mungkin. “Kau yang nyetir!” kata gadis itu pada Rako yang sejak tadi duduk diam di kursi depan dekat bangku sopir.
“Biar aku saja yang nyetir,” sela Aditya masih tak bisa sepenuhnya percaya kepada Rako.
“Baiklah.”
Mobil pun meluncur menuju ke rumah Frita.
Aditya melanjutkan pertanyaannya yang belum terjawab tadi, “Hestu terluka di bagian mana, Tante?”
Brenda Sukma menjawab dengan bangga, “Aku menusuk alat reproduksinya! Coba bayangkan itu. Seorang lelaki angkuh dan arogan. Terluka di bagian yang sangat vital. Ya, ampun, sulit kubayangkan dia bakal memaafkanku setelah ini.”
Mereka yang mendengar itu cuma bisa melongo.
__ADS_1
Itulah kenapa Hestu segera melarikan diri. Ia jelas tak sanggup menghabisi Brenda setelah terluka parah. Ia tahu itu. Brenda juga dengan cerdas mematikan seluruh aliran listrik dalam rumah dan bersembunyi sebisanya saat mereka bergelut tadi. Sampai sosok Aditya datang dan menemukannya di dapur.
“Ke mana semua penjaganya?” tanya Shelly D.
“Hestu bunuh mereka semua. Kalau kamu tadi lihat di ruang tengah, Dit, kamu tahu mereka semua bergeletakan di situ,” jawab Brenda sambil melirik pada Aditya.
“Tidak, Tante. Saya tadi tak melihat apa-apa di ruang tengah. Terlalu gelap,” tukas Aditya.
“Hestu menembaki mereka semua karena kesal. Aku enggak tahu dia kesal karena apa. Tapi kurasa kalian berhasil mengerjainya di acara ulang tahun Rako, ya? Hihihi,” ujar Brenda tampak senang.
“Ya, memang.”
Aditya tak bisa tertawa sebelum Frita dan keluarganya dipastikan selamat. Clarissa tak banyak bicara. Ia jelas tahu juga betapa kakak dan orang tuanya kini mungkin saja berada dalam bahaya.
Namun, mengingat Hestu terluka parah dan ia kini tidak memiliki anak buah lagi, Clarissa masih bisa sedikit bernapas lega. “Semoga saja tak ada lagi kejadian buruk!” Begitu dia berharap.
***
Namun, harapan itu tak terkabul.
Aditya tak bisa menemukan Frita di apartemennya. Pandu ataupun Gina juga bilang Frita tak pergi ke tempat mereka sejak kemarin. Kedua mantan suami istri itu pun lantas datang ke apartemen tersebut. Gina menyalahkan Aditya karena terlalu ceroboh.
“Kamu juga ngapain masih ribut sama mereka? Sudah bilang mau hidupmu tenang, kan? Kenapa masih saja begini!” kata Gina.
Aditya memilih diam, karena percuma saja menjelaskan segala tentang Hestu pada Gina maupun Pandu. Penjahat bermata bagai serigala jahat itu tak akan berhenti sampai mereka mati. Maka Aditya memang harus mengalahkannya agar semua ini selesai.
“Loe jangan main-main, ya?! Dia kakakku!” sembur Clarissa yang mendadak saja menonjok dada Rako.
Lelaki sial itu hanya menunduk diam. Antara malu dan merasa menyesal karena dulu pernah begitu jahat. Kini kehadiran Hestu yang merebut ‘kerajaan’ keluarganya, membuat Rako berada di titik terendah. Dan ia hanya ingin Hestu mati, meski nanti dia tak akan mendapat apa-apa.
“Ke mana memang?” tanya Rinda.
“Ke ruang bawah tanah di sebuah bangunan bekas pabrik sepatu,” jawab Rako yang nyaris tanpa ragu. “Tapi itu jauh. Di pinggiran Jakarta.”
“Apa mungkin Hestu membawa Frita ke sana?” tanya Aditya terlihat cemas.
“Ya, jelas mungkin. Tak ada lagi tempat yang aman untuknya selain di situ. Hanya keluarga kami yang tahu tempat itu. Harusnya paman tak membawa Hestu ke sana saat itu,” kata Rako dengan agak kesal.
“Baiklah, kita ke sana,” kata Aditya tanpa pikir panjang.
Mereka pun segera bersiap. Aditya, Rinda, dan Rako saja yang pergi. Clarissa tak diizinkan ikut oleh Pandu. Sebelum berangkat, Aditya sempat mendapat perawatan lagi yang lebih baik oleh seorang perawat tetangga apartemen Frita. Selagi dirawat, Aditya menelepon seseorang.
“Halo, Bang? Apa kabar?” sapa seseorang di seberang telepon.
__ADS_1
“Halo, Baskara. Apa kabar? Kabarku baik-baik saja. Kau sibuk?”
“Kabar saya juga baik. Enggak terlalu sibuk setelah Skuad Malam dibubarkan. Ada apa, Bang?”
“Aku butuh bantuanmu,” jawab Aditya mantap.
***
Aditya, Rinda, dan Rako pergi sekitar setengah jam kemudian.
Rinda bilang, “Kalau saja kita salah tujuan? Apa yang mesti kamu perbuat?”
“Tenang. Aku sudah membuat rencana cadangan,” kata Aditya.
“Coba jelaskan apa rencanamu?”
Aditya menceritakan sedikit tentang Baskara dan Skuad Malam. Mereka pastilah akan sudi membantu. Aditya meminta mereka memeriksa seluruh markas Setiawan Budi di Bandung. Untuk berjaga-jaga siapa tahu Hestu justru pergi ke salah satu lokasi itu.
“Oh, itu aku sudah tahu. Aku juga punya banyak informan, Bang,” kata Rinda.
“Ya? Kenapa tidak bilang dari tadi?” sahut Aditya sebal.
“Kamu enggak nanya sih.”
Rinda menjelaskan kalau markas-markas Setiawan Budi di Bandung, seperti markas di mana tadi mereka menemukan Brenda Sukma, sudah kosong melompong.
“Aku bekerja cepat tanpa disuruh tahu,” kata Rinda, bangga pada dirinya sendiri. “Saat tadi kita jemput Tante Brenda, aku sudah telepon seseorang. Kusuruh mereka cari tahu markas-markas rahasia Setiawan Budi lainnya. Enggak ada orang sama sekali.”
“Ya, dan saat itu Hestu masih dalam perjalanan,” balas Aditya merasa tak mau kalah.
“Mereka tetap berjaga di sana kok. Asal kamu tahu, Bang. Mereka bekerja juga untuk Pak Gandi. Mereka bukan pemalas yang pergi begitu saja dari tugas semudah itu,” kata Rinda sambil tertawa ringan.
Akhirnya Aditya terpaksa menelepon Baskara lagi. Selain memastikan apakah para mantan Skuad Malam bersedia membantu, ia juga mengatakan misi beralih ke Jakarta.
“Semoga kalian bisa datang. Aku tak tahu lagi harus minta bantuan pada siapa,” kata Aditya.
“Wah, baguslah kalau kita harus ke Jakarta, Bang,” kata Baskara. “Soalnya Charlie, Teo, dan saya juga lagi ada di Jakarta. Linda lagi di Tangerang. Dia akan berangkat ke Jakarta secepatnya.”
“Nancy tidak ikut?” tanya Aditya.
“Kami belum tahu kabar Nancy, Bang. Saya bahkan tak bisa melacaknya dengan alat dan teknologi apa pun. Seolah teman kita yang satu itu sudah meninggal. Entahlah,” kata Baskara terdengar cemas.
“Baiklah, sampai ketemu nanti, ya.”
__ADS_1
“Siap, Bang.”
Bersambung....