
Aditya pulang menumpang taksi, menuju area parkir di pusat kota, di dekat sebuah studio musik. Ia ke tempat seorang teman yang membantunya menyamar. Kali ini dia mengambil mobil pinjaman yang belum sempat digunakannya. Mobil yang sudah disediakan untuk penyamarannya.
“Mau ke mana lagi sekarang?” tanya temannya itu.
“Tempat yang rahasia. Yang hanya Tuhan dan setan saja yang tahu,” jawab Aditya sambil tertawa.
Dia meluncur membelah jalanan Bandung yang sudah larut malam. Tidak terlalu ramai kendaraan lalu-lalang. Aditya sengaja berputar-putar sebentar, berkeliling ke bagian-bagian Bandung yang selama ini belum pernah ia jelajahi. Ia merasa ia butuh menikmati sebentar hidupnya.
“Sebelum aku sibuk dengan keluarga penjahat itu,” batinnya menenangkan diri.
Aditya merasa sedikit tenang setelah satu jam berputar-putar tanpa tujuan, lalu ia pun memutuskan untuk segera tidur malam ini. Ia menuju alamat rahasia yang sudah Pandu siapkan. Di sana ada sebuah rumah sederhana yang Pandu beli sengaja untuk tempat menginap sementara bagi Aditya.
Aditya tidak sadar, di belakangnya, sebuah mobil sedan tua membuntutinya. Jarak mereka terlalu jauh. Dan pula, lampu depan sedan itu terlalu redup. Membuat Aditya tak menyadari ia sudah diintai seseorang.
Aditya malah sibuk mengutak-atik radio dan TV mini di dekat dash board mobil itu. Ia menyalakan sebuah berita. Dikatakan ayah Rama sedang tersandung kasus. Ia disinyalir terlibat korupsi dana pembangunan tempat ibadah senilai beberapa miliar.
“Benar-benar keluarga tak tahu diri,” batin Aditya terkekeh. “Tapi paling sebentar lagi juga ayah Rama itu bebas. Siapa tak tahu betapa berkuasanya Setiawan Budi? Semua bisa dia beli dengan uang.”
Aditya merasa ia sangat membenci Setiawan Budi. Bukan karena perbuatan dan otaknya yang sudah membuat hidup mereka susah, tapi juga kelakuannya di luar sana yang kerap membeli hukum.
Aditya mematikan TV itu karena kesal, dan mencoba mencari lagu-lagu kesukaan di radio. Tak ada. Yang tersiar justru salah satu lagu Shelly D yang sedang hits. Dia tak hafal lagu itu, tapi cukup bisa menikmati. Lagu-lagu lain yang terputar berikutnya membuat Aditya hanyut, tak terasa melalui perjalanan sejam hingga ke tepi kota.
Ia berhenti di sebuah gang kecil. Gang itu berhadapan dengan kompleks kuburan tua yang terlihat gelap.
“Hmm, tempat yang sempurna untuk menyamar,” gumamnya pendek. Lalu dia pun berbelok masuk ke gang itu.
Di gang tersebut tak banyak rumah berdiri. Malah ada beberapa rumah yang nyaris roboh, seperti sudah lama ditinggalkan. Aditya tak tahu tempat macam apa ini, tapi di sinilah dia harus tidur untuk sementara. Sampai situasi dengan keluarga Setiawan Budi selesai.
Aditya memasuki sebuah rumah di ujung gang, persis di ujung. Rumah yang juga tak jauh dari sebuah sungai. Aliran sungai yang agak deras membuat beberapa suara terdengar samar. Apalagi suara dari jalan raya sana.
__ADS_1
“Kurasa aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini,” batinnya senang.
Aditya suka tidur bertemankan suara alam begini. Sebuah ‘kemewahan’ yang lama tidak dia rasakan. Entah kapan kali terakhir dia tidur bertemankan suara aliran sungai dan desir alam yang tenang.
***
Sedan tua itu berhenti di depan gang.
“Serius? Dia orangnya?” gumam si penguntit.
Lalu dia bicara sendiri lagi setelah diam beberapa detik, “Lagian siapa juga yang punya nama Aditya sekaligus dekat dengan Shelly D selain dia!”
Tak ada pilihan.
Si penguntit memarkir mobilnya persis di depan pagar kuburan tadi. Ia sengaja menaruh mobilnya di tempat yang agak gelap oleh rimbun pepohonan, di bagian yang pagarnya setengah hancur oleh usia.
Lalu tanpa sadar dia merasa geli sendiri. “Siapa juga yang mau nyolong mobilku yang busuk ini?!”
Namun, tampaknya Aditya sangat ceroboh. Ia bisa melihat Aditya memarkir mobil dengan santai, lalu membuka pintu rumah tersebut tanpa menoleh ke kanan-kiri. Kini pemuda itu sudah masuk ke rumah tersebut.
“Nah, ternyata memang mudah,” kata si penguntit. Tapi sesungguhnya kali ini dia merasa mulai tak yakin. “Sebenarnya aku sedikit suka dengan pemuda ini. Dan juga, aku malah merasa simpati kepadanya. Sialan!”
Meski begitu, dia tetap maju.
“Kalau bukan karena butuh uang, job ini pastilah jatuh ke tangan orang lain. Hah, anjing kurap! Mereka kan belum bayar utang mereka terakhir kepadaku, dan kini aku disuruh membunuh lagi!” gerutunya dalam hati, membayangkan wajah tua Setiawan Budi yang memuakkan.
Ya, ia memang orang suruhan Setiawan Budi.
Hanya saja, Setiawan Budi tak tahu sosok yang disewanya kali ini siapa.
__ADS_1
“Dia pikir aku ini apaan?! Mesin pembunuh juga butuh makan kali!” gerutunya kesal.
***
Aditya memutuskan langsung tidur setelah mandi. Rumah itu memang sangatlah sederhana, tapi Pandu sudah melengkapi dengan berbagai kebutuhan dasar (dia suruh anak buahnya di kantor menyiapkan semua). Kulkas di dapur penuh oleh makanan. TV baru juga ada di ruang tengah, meski tak berlayar besar.
“Ini terlalu mewah untuk orang yang sedang menyamar,” kata Aditya melongok ke dalam kulkas. Ia mengambil botol susu segar dan menenggaknya.
Saat itulah Aditya menangkap sebuah suara. Suara yang samar terdengar, tapi dia tahu itu suara langkah seseorang.
Aditya sengaja mematikan TV yang tadi sempat dia nyalakan sebelum mandi dan cepat-cepat sembunyi di balik tembok toilet. Di tangan kanannya, ia bersiap dengan sepucuk pistol.
“Siapa lagi kali ini?” batinnya kesal.
Aditya tak juga mendengar suara lagi. Dan tak juga ada seseorang yang muncul untuk menyerangnya.
Ia pun dengan jengkel keluar, memeriksa halaman belakang yang gelap sebab lampunya sengaja tidak ia nyalakan sejak awal.
Di sana, di bawah sebatang pohon jambu, Aditya bisa melihat sosok hitam. Berdiri, dengan rambut panjang dan mulut menyeringai.
Aditya tak mengira itu kuntilanak, karena memang bukan hantu. Itu manusia, yang jelas-jelas dikirim untuk membunuhnya.
“Lempar senjatamu!” perintah Aditya sambil menodongkan pistolnya. “Lempar ke sini dan maju dengan tangan terangkat!”
Sosok penguntit berambut panjang yang, secara aneh, menyeringai itu, maju usai membuang sebilah pisau ke tanah.
“Aku sungguh-sungguh nggak bermaksud. Semua ini kulakukan demi bayar utang, Nak,” kata sosok itu dengan tersenyum malu.
“Tante Brenda?!”
__ADS_1
Aditya sungguh tak menyangka. Ibu Shelly D yang barusan membuntutinya!
Bersambung....