
“Kok sudah keluar lagi?” tanya Aditya.
“Tolong bantuin aku milih baju dong Dit. Aku nggak tahu baju yang kayak gimana yang disukai Arya,” ucap Frita.
“Lah aku kan bukan Arya, mana mungkin aku tahu.”
“Ya setidaknya kalian kan sama-sama laki-laki Dit.”
Aditya pasrah. Dia akhirnya ikut dengan Frita ke dalam butik. Pada akhirnya perannya tidak terlalu dibutuhkan karena kebanyakan Frita menolak semua usulan darinya. Aditya hanya geleng-geleng kepala saja. dia tidak bisa mengerti kelakuan bosnya itu. mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Hotel Florida.
Petang hari mereka baru sampai di hotel. Frita mempersilahkan Aditya untuk pulang. Dia sendirian masuk ke dalam hotel sambil membawa beberapa barangnya. Tentunya Aditya tidak bisa meninggalkan Frita begitu saja. dia juga berniat akan menginap di hotel itu sambil mengawasi Frita.
Malam harinya Frita menunggu di restoran hotel yang direkomendasikan Arya. Tempat itu ternyata benar-benar bagus. Atapnya yang terbuat dari kaca bening sangat indah laiknya restoran outdoor. Semua tamu bisa menikmati keindahan malam sambil menikmati makanan di sana.
“Maaf Fri kami terlambat,” ucap Jimmy yang baru datang bersama Arya.
“Eh iya nggak apa-apa,” jawab Frita. Dia kaget karena awalnya mengira hanya Arya yang akan datang ke hotel itu.
“Kamu kelihatan cantik Fri, cocok banget sama bajunya,” puji Arya.
“Biasa saja kok,” ucap Frita tersipu malu.
Jimmy menatap tajam Arya seolah mengingatkan bahwa Frita adalah miliknya. Aditya yang sejak tadi mencari Frita masuk ke restoran hotel. Dia memilih meja yang jauh dari Frita namun bisa dengan leluasa melihat gerak gerik mereka bertiga. Mereka bertiga terlihat memesan makanan.
“Anda mau pesan apa pak?” tanya pelayan yang menghampiri Aditya.
“Eh, yang paling murah saja pak,” jawab Aditya sambil terus memperhatikan mereka bertiga. Tak lama kemudian pelayan itu datang kembali.
“Ini pak,” ujar pelayan itu.
“Kok air putih doang pak?”
“Ini yang paling murah di sini pak.”
“Ya ampun. Yasudah saya pesan yang ini,” ucap Aditya sambil menunjuk makanan paling murah yang ada di menu.
“Nah begitu dong pak biar jelas,” jawab pelayan itu sambil pergi meninggalkan Aditya yang malah geleng-geleng kepala.
“Gimana Fri, baguskan tempatnya?” tanya Jimmy.
“Iya bagus banget. Tapi ini kalo siang apa nggak panas ya?”
__ADS_1
“Nggak kok, kalo siang biasanya atap kaca itu akan ditutup oleh lapisan tebal yang secara otomatis bisa disembunyikan,” jawab Arya.
“Oh, bagus juga idenya. Katanya ada yang perlu disampaikan ya?”
“Eh iya aku hampir lupa,” jawab Jimmy.
“Jadi begini Fri. selama ini pihak kepolisian terus menyelidiki dalang dari penculikanmu. Kami juga masih mengejar satu orang yang kami duga adalah rekan penjahat yang tewas dihabisi Arya. Hanya saja kami sampai saat ini masih belum menemukan titik terang,” jelas Jimmy.
“Selain itu, kami bermaksud menawarkan perlindungan kepadamu. Kami rasa dalang kejadian waktu itu pasti akan bergerak kembali, karena itu kami bisa menyediakan seorang pengawal yang akan menjagamu,” tambah Arya.
“Tapi kami berjanji, kami pasti akan terus melanjutkan penyelidikan ini hingga dalangnya ditangkap,” sela Jimmy.
“Nggak usah. Aku nggak mau ngerepotin, lagipula sekarang aku juga selalu waspada kok. Aku nggak butuh pengawalan atau bodyguard segala,” jawab Frita spontan.
“Ya kalau masalah kasusmah terserah pihak polisi saja, kalau aku sih cuma bisa meminta tolong doang,” tambah Frita.
Dia pikir punya pengawal satu saja sudah repot apalagi dua. Aditya saja nggak bisa berkontribusi apapun saat dia di sandera waktu itu. Frita menghela nafas. Dia merasa semakin ingin melepaskan diri dari Aditya. Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah membuat Aditya tidak betah berada di dekatnya.
Makanan pesanan mereka datang, sambil berbincang mereka menikmati makanan yang ada di meja. Sehabis makan Arya mengajak Frita untuk pergi kea tap. Dia bilang jika tidak hujan biasanya di atap begitu ramai oleh orang yang ingin menikmati keindahan malam.
“Jimmy juga ikut?” tanya Frita.
“Nggak, aku ada urusan sebentar.”
“Mau kok, lagian lumayan kan buat refresh pikiran.”
“Baiklah, kamu bisa pergi duluan. Aku mau memesan beberapa makanan ringan dan minuman untuk diatap nanti.”
Mereka bertiga berpisah. Frita langsung pergi menuju atap, Aditya pergi mengikuti Arya dan Jimmy, entah kenapa firasatnya menuntun dirinya untuk mengikuti mereka. di lorong hotel Aditya sedikit menguping pembicaraan mereka berdua.
“Lu yakin Jim?!” tanya Arya dengan wajah kaget.
“Yakinlah! Gue sudah merencanakan semuanya, tenang saja, lagian ini kan nggak merugikan banyak orang,” jawab Jimmy.
“Dasar, kelihatannya pikiranmu mulai kacau Jim.”
“Hahaha nggak masalah, yang penting aku bisa mendapatkan Frita.”
“Lalu dimana mereka saat ini?”
“Mungkin masih di bawah. Kamu hanya perlu menyuruh pelayan untuk membawa makanan dan minuman yang sudah aku titipkan kepada restoran tadi. Jika Frita sudah memakannya kamu hanya perlu melakukan rencana selanjutnya,” jelas Jimmy.
__ADS_1
“Baiklah, kini aku percaya kalau wanita memang bisa merusak akal sehatmu,” ledek Arya.
“Aku malah percaya kata-kata itu duluan setelah melihat kelakuanmu dulu sebelum menikah.”
Arya hanya tertawa kecil. Mereka kemudian berpisah. Dengan cepat Aditya pergi ke kamarnya. Dia kemudian mengambil topi, masker dan mengganti pakaiannya. Dengan ceepat dia menggunakan lift untuk turun ke lantai bawah. Sambil pura-pura mondar mandir Aditya terus memperhatikan keadaan di sekitarnya.
“Mereka?” gumam Aditya ketika melihat enam orang dengan memakai topi dan jas. Di punggungnya terlihat tas gitar. Tas pianika dan tas alat musik lainnya. Mereka semua berjalan menuju lift. Aditya mengikuti mereka masuk ke dalam. Terlihat tujuan mereka adalah atap hotel. Sedangkan Aditya memilih untuk berhenti di lantai lima.
“Inget kita harus melakukan semuanya sesuai rencana,” bisik orang yang membawa tas gitar.
“Tenang saja. dalam masalah seperti inimah aku sudah terlatih,” bisik yang lain.
“Gimana kalau gagal?” tanya orang yang membawa tas pianika.
“Jangan dong, bisa-bisa bos Jimmy marah-marah lagi.”
Perlahan lift naik. Aditya semakin yakin kalau mereka adalah orang suruhan jimmy. Ketika lift melewati lantai empat dengan cepat Aditya melumpuhkan mereka berenam dengan menotok urat saraf di leher mereka hingga tergeletak. Di lantai lima dia kemudian cepat keluar dari lift. Lalu kembali lagi ke kamarnya menggunakan tangga darurat.
“Frita, jangan lengah!” gumam Aditya sambil berlari menuju atap menggunakan tangga darurat. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian semula yang dia pakai ke Hotel Florida.
Frita terlihat sedang bersandar di pagar atap sambil menikmati pemandangan yang tersaji di depan matanya.
“Maaf Fri, lagi-lagi aku terlambat,” ucap Arya.
“Nggak kok, aku malah sedang asik menikmati pemandangan dari sini,” jawab Frita sambil tersenyum.
“Syukurlah, emang bagus banget pemandangan di sinimah. cuma ya kalau hujan emang nggak bisa apa-apa.”
“Oh iya, kamu suka sama karya sastra nggak Ar?”
“Nggak tuh. Kebetulan sejak dulu nilaiku memang jelek kalau di bidang sastra. Memangnya kenapa Fri?”
“Nggak kok. Aku hanya nanya doang.”
Frita terlihat sedikit kecewa karena ternyata orang yang mengaku sebagai penggemar rahasianya itu bukanlah Arya. Tak lama kemudian datang seorang pelayan membawakan makanan dan minuman, lalu dia menaruhnya di meja dekat mereka berdua.
Arya menyajikan minuman di gelas. Mereka lalu bersulang.
Frita meminum air yang disajikan Arya.
Aditya dengan napas tersengal-sengal berhasil sampai di atap hotel. Matanya terbelalak ketika melihat Frita memegang kepalanya lalu jatuh di pangkuan Arya.
__ADS_1
BERSAMBUNG…