Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 10


__ADS_3

Siska kaget bukan main saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Ellena. Dia seolah merasa salah dengar dengan apa yang dikatakan oleh putrinya tadi.


“Papa Nathan? Maksud kamu Nathan anak kamu?” tanya Siska lagi untuk memperjelas pernyataan sang putri tadi.


“Iya, Bu. Papa Nathan muncul lagi.”


“Mau ngapain dia? Ngapain dia nyari kamu? Memangnya kamu masih punya urusan sama dia lagi kah, kok dia masih nyari kamu? Dia ngenalin kamu ga?” berondongan pertanyaan keluar dari mulut Siska.


“Iya ... dia ngenalin Ell. Dia ... dia salah satu atasan Ellena di kantor, orang yang sangat tidak bisa Ell jangkau dan lihat sembarangan karena tempatnya yang terlalu tinggi,” jawab Ellena dengan pandangan kosong.


“Atasan kamu juga? Tapi dia ga nyari masalah sama kamu kan? Kamu minta tolong sama Pak Devan aja kalo dia bikin masalah sama kamu di kantor.”


“Ga akan bisa, Bu. Lagian Ellena ga mau bikin orang lain terlibat di antara kami. Lagi pula kan ini sudah 7 tahun lalu. Semoga ini ga akan berlanjut terlalu lama. Dia juga harus memikirkan posisinya di kantor.”


“Kamu bener juga, Ell. Yang penting kamu ga berbuat salah dan kerja dengan baik di kantor sesuai prosedur, pasti perusahaan bakalan bela kamu. Kan masih ada bos tertinggi nanti di sana.”


‘Bos tertinggi gimana ... ya dia itu bos tertingginya. Tapi biar aja, Ibu ga usah tau. Aku ga mau buat ibu makin khawatir,’ ucap Ellena dalam hati.


Ellena yang sudah sangat lelah akhirnya tertidur sendiri saat ibunya masih mengajaknya berbincang. Dia tidak kuat lagi menahan rasa kantuk yang menderanya setelah seharian bekerja dan juga mengajak main putranya tadi.


Siska hanya tersenyum saja melihat putrinya tertidur pulas di samping cucunya yang sudah tidur lebih dulu. Siska menaikkan selimut ke atas tubuh Ellena dan Nathan kemudian memberikan kecupan selamat malam sebelum dia meninggalkan kamar putrinya.


Keesokan harinya, Ellena sudah terbangun dan segera mengecek ponselnya. Dia melihat ada banyak sekali pesan yang dikirim di sebuah grup chat kantor. Semua sedang membicarakan kejadian di kantin kemarin siang.


Ellena tidak ingin memedulikan apa yang sedang mereka semua bicarakan. Dia akhirnya bersiap untuk pergi ke kantor saja dan membiarkan gosip panas yang sedang terjadi di ponselnya itu.


“Gantengnya jagoan, Mama,” sapa Ellena saat sedang melihat Nathan sudah siap berangkat sekolah.


“Mama ... nanti hari minggu jangan lupa ke sekolah. Kita pergi main,” ucap Nathan lucu dengan mulut yang terisi makanan.


“Kalo makan ga boleh sambil ngomong. Nanti batuk lho. Acara parenting ya ... nanti kita pergi bareng sama Anma juga ya,” ucap Ellena memberi jaminan sebelum dia mandi.


“Asiik ... pergi sama Mama dan Anma,” ucap Nathan sambil bersorak.

__ADS_1


Ellena mengacak rambut putranya dengan gemas. Nathan adalah semangat hidupnya sampai saat ini. Dia dulu pernah ingin membunuh Nathan saat masih ada di dalam kandungannya, tapi kini dia sangat bangga dengan putranya itu.


Seperti biasa, Ellena akan menunggu mobil jemputan kantor di halte dekat rumahnya. Dia pagi ini datang terlalu pagi karena masih ada beberapa orang saja di sana. Bahkan Arina saja belum datang. Ellena segera duduk di kursi panjang yang ada di sana.


“Eeh ... ini ya orang yang dibilang di grup semalam?”


“Kayanya sih iya. Kan dia orang pemasaran ya, kalo Ellena yang lain kayanya ga mungkin dilirik Bos.”


“Iya ... yang satu udah tua. Pake ilmu apa ya dia bisa bikin Bos terpesona.”


“Itu dia. Kalo cuma ngandelin cantik sih, kayanya ga mungkin banget deh. Di kantor banyak banget yang lebih cantik dari dia.”


“Nah ini nih! Setuju banget aku.”


Ada banyak suara nyinyiran dari arah belakang yang sengaja bergunjing tentang Ellena pelan-pelan. Ellena tidak ingin mengambil pusing dengan apa yang mereka bicarakan itu. Ellena memilih untuk memasang earphone yang dia sambungkan ke ponselnya. Mendengar perkataan buruk saat pagi hari akan membuat dia makin bad mood dan tidak fokus bekerja.


Di seberang jalan depan halte tempat Ellena menunggu mobil jemputan, ada sebuah mobil sedan mewah yang sedang berhenti. Orang yang ada di dalamnya sedang memerhatikan Ellena yang duduk sendirian sambil mendengarkan musik namun sesaat kemudian dia sudah bersama dengan sahabatnya.


“Siapa orang yang di sebelahnya itu?” tanya Sean dari dalam mobil.


“Tiap hari dia kerja antar jemput ya?”


“Iya, Bos.”


“Oh ya ... trus gimana sama rencana pestaku, apa semuanya sudah disiapkan?”


“Sudah, Bos. Ada beberapa klien dan para manajemen kantor sudah saya undang. Acara akan di laksanakan di Hotel Mercury.”


“Bagus. Undang dia!” perintah Sean.


Mathias kaget, dia melihat Bosnya dari spion tengah, “Maksudnya mengundang Ellena?” tanya Mathias memperjelas perintah Sean tadi.


“Iya ... undang dia. Aku mau dia datang ke pestaku.”

__ADS_1


“Baik, Bos.”


Sean memang berencana untuk mengadakan sebuah pesta untuk sedikit menjamu klien dan para staf manajemen di perusahaan yang dia pimpin saat ini. Sebuah pesta yang ingin memperkuat kerja sama dan kekompakan dalam bekerja.


Tapi Sean yang sudah tidak bisa melupakan Ellena sejak pertama mereka bertemu, ingin Ellena hadir di pestanya tersebut. Dia ingin wanita cantik itu bisa ada di pandangannya dengan gaun yang indah.


**


Berita kalau akan ada pesta mewah khusus penyambutan Sean di perusahaan ini sudah terdengar di setiap ruang kerja yang ada di tiap lantai gedung perkantoran sampai pabrik yang ada di belakang kantor. Mereka semua sangat antusias siapa orang yang akan di gandeng oleh Sean, pimpinan tampan mereka saat ini.


Semakin santer terdengar kalau Sean akan datang dengan seorang Cinderella yang dia pilih. Sosok Cinderella yang membuat semua orang sangat penasaran dengan sosoknya. Sepertinya mereka akan bergosip lagi saat pesta Sean berlangsung.


“Ell, denger kabar baru lagi ga?” tanya Mila sambil sedikit berbisik saat mereka sedang makan siang.


“Kabar apa lagi? Bisa ga sih kalo sehari aja kalian tuh ga bergosip. Mana tadi pagi gosipnya juga tentang aku. Ga jelas banget kalian,” jawab Ellena sambil menikmati makan siangnya.


“Ya siapa yang ga bakalan gosipin kabar itu. Depan mata semua orang Pak Sean bisa lakukan itu ke kamu, manis banget. Deg-degan ga kamu?”


“Ga usah di bahas! Ga minat banget!” jawab Ellena ketus.


“Iya deh iya ... eh tapi kamu tau ga sih sosok Cinderella yang disebut-sebut bakal digandeng Pak Sean di pestanya?”


“Kok nanya ke aku. Emang aku asistennya. Kalo kamu mau tau siapa yang bakalan digandeng Pak Sean, ya kamu nanyanya ke Pak Mathias. Bukan ke aku.”


“Ya kan kali aja kamu tau, secara kan Pak Sean keliatan deket banget ama kamu.”


“Ngawur aja! Dia siapa ... aku siapa. Aku masih sadar diri kali.”


Ellena kemudian meneruskan makan siangnya. Dia tidak ingin terganggu dengan gosip murahan yang dikabarkan oleh Arina kepadanya saat ini. Mereka berdua kemudian segera menikmati makanan yang ada di depan mata mereka.


Tiba-tiba di depan piring Ellena ada sebuah kotak berwarna merah marun yang di sodorkan seseorang yang berdiri di depannya. Mata Ellena yang tertuju ke kotak kemudian naik ke atas melihat orang yang membawanya.


“Pak Mathias,” ucap Ellena pelan.

__ADS_1


“Ini dari Pak Sean. Pakai ini dan gunakan undangan di dalamnya untuk masuk ke ruang pesta,” ucap Mathias sambil melihat ke arah Ellena.


Bersambung....


__ADS_2