Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 287


__ADS_3

Aditya terkejut ketika Dewa menarik jaketnya dari arah belakang terlalu keras, hingga dia terjatuh menabrak tembok.


Shelly D ikutan jatuh, membuat Rama segera memberi perintah, “Tangkap cewek itu!”


Entah bagaimana tiba-tiba dari luar ruangan karaoke itu melesat masuk tiga orang lelaki berbadan kekar. Mereka anak buah Dewa, yang menyeret Shelly D kembali ke dalam ruangan.


Penyanyi itu berteriak-teriak marah, tapi ia tak berdaya.


“Aku nggak sudi ikutan pesta kalian! Kalian gila, ya!” jeritnya kesal.


“Kalau gue gila, ngapain juga bawa artis seseksi kamu kemari? Hahahaha!” balas Rama tanpa perasaan.


Aditya sendiri tak bisa menerjang Rama, karena Dewa sudah mengunci kedua kaki dan tangannya, selayaknya seorang pegulat profesional.


Dewa meledeknya, “Body guard macam apa loe ini, he?!”


Aditya tak menyahut, dan mencoba melepaskan diri. Begitu ia bisa lolos, tiga pria kekar tadi segera menerjangnya, dan memborgol tangan Aditya dengan cepat ke tiang besi yang ada di pojok ruangan.


Aneh. Sepertinya mereka bertiga sudah sangat terlatih. Entah dari mana saja Dewa merekrut anak buahnya ini. Dan entah bagaimana bisa Rama mengenal Dewa. Tetapi Aditya sudah tak peduli. Ia sangat ingin menghajar Dewa.


“Bangsat kalian!” geram Aditya.


Shelly D hanya bisa menangis.


Tidak berapa lama muncullah wanita-wanita cantik lainnya. Tiga orang wanita malam yang biasa melayani Rama atau Reza, atau terkadang Setiawan Budi. Ya, pria tua bajingan itu memang sering menyewa para pelacur untuk memuaskan nafsunya. Ia tak jarang mengajak serta beberapa kerabat atau keponakannya untuk ikut serta. Dari dialah, kebiasaan pesta Rama dimulai.


Tak buang waktu, Rama segera mendekati Shelly D. “Sekali lagi, kalau bukan dari keluarga kami, siapa yang bisa memberimu ketenaran, Sayang?” katanya lalu tanpa sungkan meludah ke tubuh Shelly D.


“Lucuti pakaiannya,” katanya pada Dewa.


Dewa tentu saja tak menolak. Ia bahkan terlebih dulu melepas kaosnya.


Aditya mengumpat, “Hei, mau apa body guard sialan itu?!”


“Ikut pesta lah!” jawab Rama terang-terangan. “Loe pikir gue mampu memuaskan enam cewek sekaligus?! Hahaha!”


Rama juga memberi isyarat agar ketiga anak buah Dewa ikutan berpartisipasi di pesta ini. Mereka tertawa girang setelah memblokir pintu ruangan agar tak ada yang mendadak masuk dan mengusik pesta ini.


Aditya benar-benar marah, tapi borgol itu menjeratnya. Ia mencoba melepasnya, sampai pergelangan tangannya berdarah, tapi tak kunjung berhasil.

__ADS_1


Dengan segera, Shelly D kini hanya mengenakan pakaian dalam. Rama menyuruh Dewa berhenti.


Sementara itu empat wanita panggilan beserta Vanessa Yan, tanpa disuruh, sudah menelanjangi diri mereka sendiri. Mereka tertawa cekikikan melihat Aditya yang tak berdaya.


Vanessa bilang, “Ayo, Sayang, kemarilah! Bersenang-senanglah sama aku!”


Seorang anak buah Dewa dengan buas segera mencumbunya. Vanessa sama sekali tak menolak. Mereka bercumbu dengan liar. Si anak buah melepas kaosnya dan juga celananya. Kini mereka berdua telanjang bulat dan memulai foreplay tanpa malu di depan yang lain yang bahkan belum berbuat apa-apa.


“Loe silakan saja duluan,” kata Rama pada Dewa. “Cari mana yang loe suka. Dia bagian gue.” Rama melirik tubuh sang penyanyi itu dengan liar, dan merobek pakaian dalamnya tanpa ampun.


Kini Shelly D hanya mengenakan ****** *****, mencoba merangkak melarikan diri dengan sia-sia. Aditya masih berusaha melepas borgolnya. Aditya bisa menatap mata Shelly D yang menangis.


Namun, meski pincang, Rama dengan ganas berhasil menaklukkan Shelly D. Dia dengan kuat menyeret Shelly D kembali ke arahnya dengan hanya satu tangan.


“Loe mau ke mana sih?! Dasar artis kampungan nggak tahu diuntung!” katanya lalu menampar pipi Shelly D.


Rama tanpa buang waktu segera mencopot celananya, mengeluarkan batang ***** yang sudah mengeras, lalu menusukkan itu ke bagian bawah Shelly D.


Artis itu menjerit sakit dan mengutuk, “Gue sumpahin loe impoten setelah ini!”


“Hahahah! Sumpah macam itu nggak guna, Goblok!” balas salah satu anak buah Dewa yang kini menggagahi salah seorang wanita malam.


Di situ, Aditya melihat tubuh-tubuh telanjang bertebaran di segala sudut ruangan. Ia sudah hampir bisa melepas borgolnya. Tak peduli lagi tangannya meski terluka. Ia sudah hampir berhasil membukanya.


Dewa yang melihat itu, segera melepaskan diri dari salah satu wanita penghibur, lalu mendekat ke arah Aditya dengan keadaan telanjang bulat. Dewa memegang pisau di tangan kanannya.


“Mau apa loe, he?” tanyanya dengan angkuh.


Aditya tak peduli.


“Ayo, maju sini! Loe bisa lepasin borgol loe itu?” sambung Dewa meledek.


Aditya tetap tak menyahutnya.


Sekarang Aditya benar-benar bisa lolos dari borgol. Dewa menyerangnya dengan pisau, namun Aditya ternyata lebih cepat. Ia bisa melawan balik Dewa, merebut pisau itu, lalu menusukkannya ke perut sang pengawal, sampai Dewa ambruk dengan perut berlumuran darah.


“Brengsek!” jerit Rama yang memandang itu dengan mata merah, tapi masih tak henti menyetubuhi Shelly D dengan ganas.


Ketiga anak buah Dewa juga tampak enggan melepaskan tubuh pasangan mereka masing-masing. Malahan ada satu dari mereka yang menjajal tubuh dua wanita nakal tersebut sekaligus.

__ADS_1


“Hei, habisi dia!” kata Rama pada mereka.


“Kepalang tanggung, Bos!” kata mereka yang sudah kenikmatan memasuki tubuh para wanita itu.


“Anjing! Loe pada mau mati, ya!” bentak Rama.


Tapi tiga anak buah Dewa tampak tak peduli dan tetap asyik dengan **** mereka yang luar biasa itu.


“Hentikan ini, atau loe juga mati seperti dia!” ancam Aditya pada Rama yang tak juga mau henti menggenjot tubuh Shelly D. Penyanyi idola anak muda itu kini hanya pasrah dan merintih, tak lagi berteriak seperti tadi.


“Hei, gue belum mati, Tolol!” bentak Dewa yang kini merangkak menarik celana Aditya.


Kini Aditya tak lagi perlu menutupi diri.


“Loe dulu sosok panutan gue. Kenapa sampai rela jadi anjing bagi orang busuk ini!” katanya.


Dewa tak mengerti maksudnya.


Aditya melanjutkan, “Sorry, Bang Dewa. Kali ini loe bukan lagi sosok panutan gue!”


Aditya menendang wajah Dewa hingga lelaki itu tak sadarkan diri. Tendangan yang jitu mengenai rahang.


Rama tak mengerti sosok asli Rio, jadi tak tahu maksud kalimat Aditya barusan. Ia hanya bisa bangkit berdiri, berjalan terpincang ke arah Aditya, sambil menodongkan pistol ke wajahnya.


“Body guard lancang macam loe mestinya mati!” geram Rama. “Masalahnya pesta ini belum kelar dan loe sudah bikin Dewa pingsan!”


“Apa yang loe mau? Ayo, Shelly, kita pergi!” kata Aditya.


“Loe pergi, loe mati!” sahut Rama. “Copot pakaian loe! Shelly boleh cabut, tetapi loe tetap di sini. Loe temani cewek-cewek ini, Bangsat! Jangan rusak pesta gue yang seru ini!”


Aditya tak tahu lagi ada cara yang lebih baik selain itu. Jadi ia meminta Shelly D berpakaian dan segera pulang. Sementara Aditya sendiri tetap di ruangan itu, secara terpaksa menggantikan ‘peran’ Dewa sebagai anggota pesta.


Entah apa yang ada di pikiran Rama. Ia memang mabuk berat. Aditya sendiri tahu ia tak mungkin menyentuh wanita-wanita malam itu. Ia hanya ingin Shelly D segera pergi.


Setelah Shelly D menyingkir, Rama membentak Aditya, “Ayo, cepat! Gue pengen rekam loe! Segimana hebat loe di ranjang!”


Rama menendang pantat Aditya yang telanjang, dan mengarahkannya ke Vanessa yang terlihat tergoda dengan tubuh kekar Aditya.


Pada saat itulah Rama mulai menyadari sesuatu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2