
Perempuan muda itu sedang bermain ponsel pintarnya, sambil duduk menunggu di salah satu meja yang sudah direservasi, di sebuah tempat makan di di Jakarta. Sudah lima belas menit ia duduk di sini, tapi berasa seperti bertahun-tahun saja.
“Lama sekali dia,” gerutu seorang pemuda yang bersamanya sejak tadi.
Gadis itu menatap dingin si pemuda, “Kamu pikir aku enggak bosan?”
Si pemuda diam dan menatap dengan sinis perempuan itu, “Kamu yakin semua itu benar? Informasi soal cewek yang akan menemui kita itu?”
“Ya, benar. Jangan ragukan uang dan kepintaranku!” ketus si perempuan muda tadi.
Lalu sebuah telepon masuk ke ponsel perempuan itu.
“Ya, halo? Kamu di mana? Kami sudah duduk di sini dari jaman batu!” bentaknya dengan ketus.
Cewek yang menelepon itu terdengar tergesa-gesa dan meminta maaf. Ia bilang ia sudah sampai di tempat parkir.
“Nah, itu dia,” celetuk si pemuda.
Terlihat seorang gadis berjalan cepat-cepat ke arah mereka dari pintu masuk rumah makan.
Pemuda itu berdiri. Perawakannya kekar, hampir setara Aditya, tapi wajahnya jauh lebih tampan. Dia segera memperkenalkan diri pada cewek yang baru saja datang itu.
“Perkenalkan. Gue Hendy Prakoso,” ucapnya dengan senyum ramah.
“Sherly Embunsari,” jawab cewek itu sambil membalas jabat tangannya.
“Sudah berapa bulan?” tanya si perempuan ketus yang kini meletakkan ponselnya ke dalam tas, tanpa sedikit pun berniat basa-basi sejenak.
“Tiga bulan,” jawab Sherly dengan pelan.
“Kamu yakin itu anaknya?” tanya Hendy.
Sherly cuma mengangguk.
Si perempuan ketus menyuruh Sherly untuk duduk lewat isyarat matanya, tapi dia kemudian merogoh ponselnya lagi di dalam tas, mengetikkan pesan yang entah apa ke seseorang yang juga entah siapa.
Lalu, Ovie, nama perempuan ketus itu, menatap Sherly dalam-dalam. “Kalau kamu yakin mau melakukan ini, kita akan lakukan. Kalau tidak, akan kupakai caraku sendiri.”
“Aku tidak tahu harus gimana. Sebenarnya aku bisa membesarkan anak ini sendiri,” jawab Sherly.
__ADS_1
Ovie terlihat geram dan berkata, “Lalu kamu biarkan Aditya dan Frita bahagia, ya? Jangan jadi perempuan bodoh! Frita harus tahu semuanya.”
“Kamu mau melukai saudara sepupumu sendiri?” tanya Sherly.
Ovie tak menjawab. Ia terlihat ogah-ogahan saat salah satu pelayan datang ke meja mereka untuk memberikan buku menu. Ia pun memutuskan pergi dan menyuruh Hendy menemani Sherly makan.
“Kalian makan berdua saja. Aku ada urusan. Ulang tahunku yang digelar dua hari lagi harus benar-benar perfect,” katanya.
“Kamu enggak lapar?” tanya Hendy Prakoso.
“Enggak.”
Ovie berlalu pergi.
Kini Sherly bersama si lelaki asing ini, yang entah siapa. Hendy juga tidak berniat memperkenalkan diri lebih jauh. Lagi pula, Hendy juga tak terlalu terkenal seperti ayah dan beberapa sepupunya yang mencolok.
Hendy Prakoso adalah putra bungsu dari Deddy Prakoso, sosok pebisnis yang tak terlalu menonjol.
Deddy adalah kerabat Setiawan Budi yang sejauh itu masih melenggang bebas di luar sana, meski Rama dan Rako, serta Herman Kusuma, masih mendekam di penjara karena kasus peredaran narkoba.
Hendy pikir, “Sherly cantik juga.”
***
“Tidak. Oh, tidak. Aku tidak ingin mereka mati, Bodoh! Aku cuma mau sepupuku termanis itu terluka hatinya. Itu saja,” kata Ovie sambil menelepon seseorang yang tak tahu siapa.
Lalu telepon itu ditutup.
Pada saat ini Ovie sudah berada di rumah sewaan. Ia pulang dari pekerjaannya di Inggris, pulang secara sengaja untuk tujuan membalas dendam pada Frita dan Aditya. Padahal ia telah tahu Christian Santoso dan Meilisa dipenjara karena ulah mereka yang mencoba membunuh Pandu sekeluarga.
Waktu itu Julio, adik kandungnya, sudah berpesan pada Ovie, “Jangan lakukan apa pun pada mereka, Kak. Mereka enggak bersalah.”
Julio, meski tak berkomunikasi dengan Frita dan Clarissa, masih memiliki hati yang baik. Jauh beda dengan kakaknya yang satu ini. Sementara beberapa saudara lainnya malah tampak tak peduli lagi pada mereka.
“Keluarga kita sudah hancur. Please jangan dibikin lebih hancur lagi,” pinta Julio waktu itu, yang menghubunginya melalui video call.
Ovie tak peduli dan mengabaikan seluruh permohonan adiknya.
“Buat apa kamu sekolah tinggi-tinggi kalau harus kalah dengan mereka? Buat apa kamu pintar, kalau membiarkan dirimu diinjak-injak?” kata perempuan muda itu.
__ADS_1
Ovie, dengan pekerjaan dan kecerdasannya, memiliki banyak kenalan. Jaringannya begitu luas. Dan, karena ambisinya yang begitu besar, kadang ia melakukan cara-cara yang lumayan curang untuk mencapai tujuannya.
Karena itulah Ovie mengenal beberapa orang yang bisa menyelidiki hal-hal yang tak akan diketahui orang dengan mudah.
Seorang detektif datang padanya suatu sore, memberikan informasi akurat setelah ia menyadap pembicaraan Aditya.
“Seorang gadis hamil di luar nikah dengan Aditya,” kata sang detektif itu.
“Informasi yang bagus. Di mana gadis itu tinggal?”
“Ini alamatnya,” tukas sang detektif, menyodorkan selembar kertas bertulis alamat rumah Sherly Embunsari.
“Ini hebat. Siapa saja musuh bebuyutannya?” kata Ovie semakin antusias.
Lalu sang detektif swasta itu menyodorkan sebuah foto. Foto keluarga utuh yang mana terlihat sosok Setiawan Budi, mafia Bandung yang terkenal kalem di luar, tetapi sadis di belakang.
Setiawan Budi tak tampak bergerak di dunia bawah tanah selama beberapa belas tahun terakhir, padahal ia tak henti terlibat dalam banyak kejahatan, demi uang tentu saja.
Ovie mulanya tak terlalu yakin.
“Apa benar mereka yang harus kuajak kerjasama?” tanyanya pada sang detektif.
“Kalau kamu pikir Christian Santoso, papa tirimu itu, sosok yang culas, Setiawan Budi jauh di atasnya. Aku bisa menunjukkan bukti-bukti lain keterlibatan Setiawan Budi itu atas kematian beberapa orang penting di negeri ini,” tukas si detektif begitu yakin.
Ovie berikutnya percaya sepenuhnya pada informasi itu setelah tahu betapa sang detektif itu dulunya pernah bekerja di kepolisian. Karena satu dan lain hal, ia dipecat, dan mendapat banyak ‘pekerjaan haram’ dari orang-orang macam Christian Santoso.
“Aku mau membantu siapa pun bukan hanya demi uang,” kata detektif swasta itu. “Tapi karena memang aku ingin.”
Maka, begitulah.
Ovie menyusun rencana untuk merusak pernikahan Aditya dan Frita.
Ia dengan tenang menulis huruf-huruf itu: Frita Larasati, di salah satu undangan ulang tahunnya besok lusa.
Entah mereka sudah berapa lama tak berkomunikasi. Dan mungkin saja Frita pikir Ovie tak akan sudi menghubunginya setelah Christian Santoso dan Meilisa mendapat ganjaran atas perbuatan mereka.
“Sekarang kamu mungkin mengira aku datang untuk mengajak berdamai, sepupuku tersayang,” batin Ovie.
Ia membayangkan bagaimana seharusnya pesta ulang tahun itu berlangsung. Pasti akan sangat menyenangkan baginya, namun menyakitkan bagi Frita. Itu jelas. Frita tak boleh bahagia. Sampai kapan pun, ia tak boleh bahagia.
__ADS_1
Bersambung....