Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 14


__ADS_3

“Kamu ... apa yang kamu lakukan di sini?”


Pemuda yang ada di depan rumah Ellena itu segera berbalik dan tidak bicara apa pun. Dia hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam celana kain mahalnya itu dan menatap tajam ke arah Ellena. Sepertinya ada yang salah dengan wanita yang sedang ada di hadapannya ini.


“Dari mana saja kamu?” tanya Sean masih dengan nada yang lembut.


“Dari pesta kamu kan. Tadi juga kita ketemu di sana.”


“Dari mana saja kamu!” suara Sean mulai meninggi.


“Aku ga ngerti sama kamu. Aku ga dari mana-mana. Udah jelas kita ketemu di pesta dan sekarang kamu ke sini nanya aku dari mana. Kamu ga amnesia kan?” tanya Ellena balik dengan nada kesal.


Ellena sebenarnya takut pada tatapan Sean yang mengintimidasinya. Tapi dia tidak merasa bersalah, jadi dia harus membela dirinya. Lagi pula ini sudah malam, Ellena tidak ingin banyak tetangganya mendengar.


“Dari pesta? Jarak dari hotel ke rumah ini hanya sekitar 20 menit. Jalanan sangat sepi dan kamu bisa mencapainya dalam waktu 15 menit. Tapi kenapa kamu baru kembali setelah satu jam kamu meninggalkan hotel!” papar Sean dengan nada kesal.


“1 jam? Benarkah?”Ellena kaget dengan apa yang dikatakan Sean.


“Kalo ga mampir ke mana-mana, kenapa lebih dulu aku yang sampe sini!” suara Sean semakin meninggi.


Ellena makin bingung dengan sikap Sean. Tadi saat dia bersama Luna, dia seolah sudah melupakan dirinya. Tapi kini, Sean tiba-tiba muncul dan marah-marah kepadanya. Hobi Sean yang baru, marah-marah pada Ellena tanpa sebab yang jelas.


Sean sedang mencoba untuk menahan segala amarahnya pada Ellena. Dia kesal karena Ellena sudah membuat dia menunggu begitu lama di depan rumahnya. Apa lagi, Ellena baru saja pulang bersama dengan Devan. Pria yang paling dia benci saat ini.


Sean memajukan tubuhnya sampai hampir mendekati Ellena. Nafas hangat di tengah udara yang cukup dingin dari hidung Sean mulai menyapu wajah cantik Ellena yang terpaku melihat sosok tampan Sean. Namun sorot mata Sean yang tajam itu membuat Ellena sedikit takut kalau nanti pemuda itu akan menyakitinya. Tapi sorot mata itu selalu bisa membuat Ellena terpaku tidak berpaling.


“Dari mana kamu dengan Devan?” tanya Sean lagi.


“Aku ga dari mana-mana. Aku cuma duduk dan dia jalankan mobilnya nganter aku ke sini. Kami ngobrol aja enggak,” jawab Ellena sedikit bergetar.

__ADS_1


“Kamu ga bohong?”


“Aku ga bohong. Aku berani bersumpah tentang ini.”


Sean masih tetap ada di posisinya. Tapi kini wajah itu kian mendekat ke arah wajah Ellena. Ellena yang teringat dengan kejadian di kantin beberapa waktu lalu pun memberanikan diri untuk tidak menutup matanya.


Ellena tidak ingin ditertawakan lagi oleh Sean karena menganggap pemuda itu akan melakukan hal yang lebih padanya. Ellena tetap menatap netra Sean sambil merasakan aroma wine yang keluar dari mulut dan nafas Sean.


Cup.


Satu kecupan lembut mendarat di kening Ellena secara tiba-tiba. Ellena serasa membeku saat ini. Dia sangat kaget dengan apa yang berani di lakukan oleh pemuda tampan itu.


“Aku percaya padamu. Tapi jangan coba lagi jalan sama Devan sekali lagi. Aku ga suka! Masuk sana, udah malam,” ucap Sean dengan sangat santai.


Sean meninggalkan Ellena yang masih diam tak bergerak setelah kecupan mautnya tadi. Dia segera melangkah meninggalkan rumah Ellena tanpa peduli dengan apa yang terjadi pada wanita yang tadi bersama dia.


Ellena mencoba menggerakkan badannya yang membeku. Sungguh sesuatu yang sama sekali tidak dia harapkan dari perlakuan seorang Sean. Menyadari Sean tidak lagi di depannya, Ellena segera berbalik dan melihat punggung Sean semakin menjauh meninggalkan dirinya.


“Akan aku patahkan kakimu!” jawab Sean tanpa menoleh.


“Patahkan kakiku?” gumam Ellena pelan.


Ellena cemberut dalam saat mendengar apa yang dikatakan Sean. Tapi entah mengapa di dalam hatinya seperti ada kupu-kupu sedang terbang. Ada senyum tipis dalam bibirnya yang sedang manyun sambil melihat Sean yang perlahan mulai menjauh.


Punggung itu kian menjauh, tapi mata Ellena masih belum bisa meninggalkan pesona punggung yang seolah memiliki magnet untuk terus dia lihat. Punggung yang selalu membuat Ellena terpesona sejak pertemuan mereka pertama kali.


“Dia beneran player ternyata. Seenaknya aja dia marah-marah, baik-baik ama aku. Dan ini tadi ... apa ini tadi pake kecup segala, nyebelin!! Sean nyebeliiinnn!!” ucap Ellina sambil menghentak-hentakkan kakinya dan mengusap jejak bibir Sean di keningnya.


Ellena masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan kesal yang mendominasi. Dia merasa benar-benar dipermainkan oleh Sean. Pemuda itu seolah ingin menunjukkan kekuasaannya yang dia miliki. Baik di kantor ataupun di hidup Ellana.

__ADS_1


Sean mengintip dari ujung gang. Dia tersenyum sendiri melihat tingkah lucu Ellena di depan rumahnya. Dia sangat tahu saat ini Ellena pasti kesal pada dirinya, tapi Sean puas dengan apa yang terjadi sekarang.


“Rasakan itu, ga akan aku biarin kamu seenaknya sama orang lain. Kamu milikku, penipu,” ucap Sean sambil tersenyum tipis menunjukkan sisi arogannya.


Triing


Ponsel Sean berdering. Dia merogoh saku celananya yang masih saja tampak rapi dan membentuk lekuk tubuhnya menjadi sangat luar biasa di mata Ellena.


“Ngapain lagi sih dia telpon,” keluh Sean saat dia melihat sebuah nama di layar ponselnya.


“Ya ... ada apa?” tanya Sean sedikit malas.


“Sean, kamu di mana? Kamu masih sakit ga? Aku ke apartemen kamu ya?” tanya Luna di seberang.


“Ga usah. Aku udah mau tidur ini. Udah ya, aku udah ngantuk banget,” Sean segera memutus sambungan telepon itu.


Sean menautkan alisnya tanda dia kesal saat menerima telepon dari Luna. Dia sampai mencengkeram ponsel yang masih ada di tangannya itu.


“Ga penting banget! Bikin males aja kalo dia dateng. Ini semua gara-gara Mama!” gerutu Sean makin kesal sambil segera melangkah ke mobilnya.


Sean memang sengaja meninggalkan pesta lebih cepat dari yang semestinya. Dia sengaja meninggalkan pesta yang dia buat karena melihat Ellena pergi dari pestanya bersama Devan.


Tentu saja hal itu yang membuat Sean sangat marah dan segera mencari alasan untuk segera menyusul Ellena. Dia bahkan tidak peduli dengan adanya Luna yang ada di sampingnya.


Sean segera masuk kembali ke dalam mobilnya. Dia menyuruh Mathias untuk segera membawanya kembali ke apartemen mewahnya. Dia harus segera menyiapkan strategi untuk esok. Strategi untuk mengganggu Ellena, mainan barunya yang cantik itu.


Tanpa di sangka, di seberang jalan dekat mobil Sean parkir ada sebuah mobil lain yang parkir di sana. Orang yang ada di dalam mobil itu terus melihat ke arah mobil Sean.


“Jadi kamu sakit perut terus berobat di sini ya? Tempat siapa ini, apa dia wanitamu, Sean? Jangan harap kamu akan bisa bebas dari aku!” gumam Luna sambil mencengkeram kuat setir mobilnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2