Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 147


__ADS_3

Aditya mengemudikan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Sopir kendaraan lain yang kebetulan melihat Aditya terlihat sangat kaget, karena mobil Aditya meliuk liuk dalam kecepatan tinggi. Tak lama kemudian Aditya sampai di hutan pinus tempat pertukaran Frita. Dia sengaja berhenti agak jauh dari lokasi. Dia kemudian memanjat sebuah pohon untuk mengawasi keadaan.


“Mereka lumayan banyak juga,” gumam Aditya sambil menatap sebuah bangunan dari kejauhan. Terlihat beberapa orang mondar mandir di sekeliling bangunan itu.


“Bahkan mereka juga membawa senjata api, kali ini mereka kelihatannya lebih siap bertarung daripada sebelumnya,” gerutu Aditya ketika melihat beberapa orang tampak membawa pistol.


“Kelihatannya aku harus merebut senjata mereka,” batin Aditya sambil turun dari pohon.


Dia kemudian perlahan mengendap-endap mendekati seorang penjaga yang agak jauh dari teman-temannya. Dengan cepat Aditya membungkam mulutnya dari belakang dan mematahkan lehernya. Dia kemudian menarik penjaga itu ke semak-semak sambil membawa senjatanya.


Perlahan dia kembali mengincar seorang penjaga. Lagi-lagi seorang penjaga berhasil dia tumbangkan dengan begitu kini dia sudah memiliki dua senjata api. Baginya itu sudah cukup untuk berhadapan dengan semua penjahat yang ada di hutan pinus ini. Dia kemudian berlari sambil menembakan pistolnya.


“Penyusup!” teriak seorang penjaga yang melihat Aditya.


“Habisi!”


“Jangan sampai dia lolos!”


“Cepat laporkan keadaannya kepada bos Javier!”


Keadaan di sana menjadi rusuh karena ulah Aditya yang terus melayani baku tembak dengan para penjahat. Dengan menenteng dua pistol di tangannya Aditya terus maju tanpa takut apapun. Wibawa dan kharismanya sebagai mantan tentara terasa sangat jelas berkat pakaian militer yang dia kenakan.


Sambil memainkan pistolnya Aditya terus menyerang lawan-lawannya. Semua tembakannya selalu akurat mengenai tubuh lawan. Sedangkan serangan lawan sia-sia saja karena Aditya terus bergerak ketika menyerang hingga membuat mereka kebingungan. Bahkan tak jarang tembakan mereka malah mengenai temannya sendiri.


Terlihat seorang penjahat membawa senapan mesin untuk memberondong Aditya. tapi dengan cepat Aditya bersembunyi di balik pohon. Penjahat itu segera membombardir pohon pinus dengan tembakan hingga roboh, namun Aditya tidak ditemukan di sana. Dalam sekejap penjahat yang membawa senapan mesin itu tumbang karena lehernya terkena timah panas Aditya.


“Mana orangnya?” teriak Javier saat keluar dari dalam bangunan.


“Kami tidak tahu bos.”


“Hah? Lu waras nggak sih! Kalau nggak tahu orangnya terus lu baku tembak dengan siapa?!” bentak Javier.


“Maksudnya orang itu bersembunyi bos, tapi nggak tahu di mana.”

__ADS_1


“Cih. Kalian itu tidak berguna!” bentak Javier sambil mengeluarkan pistol miliknya.


Aditya mengernyitkan keningnya ketika melihat Javier. Dari tingkah lakunya saja dia sudah tahu kalau orang itu adalah pimpinan penjahat yang menculik Frita. Perlahan Aditya bergerak dan menodongkan pistolnya dari lubang kayu. Dia sengaja mengincar Javier, tapi tepat ketika tembakannya meleset Javier segera bersembunyi di balik sebuah tiang bangunan.


“Orangnya ada di sana!” teriak Javier sambil menembak tempat persembunyian Aditya.


“Cepat kalian sergap dia!” perintah Javier.


“Baik,” jawab empat orang anak buahnya sambil berlari.


Namun baru beberapa langkah mereka maju tiba-tiba saja empat pisau melayang ke leher mereka. Empat orang itu menjerit dan roboh bersimbah darah. Javier mulai merasa takut melihat kemampuan melempar pisau Aditya yang sangat akurat. Aditya dengan cepat berlari ke belakang bangunan. Tembakan dari Javier dan anak buahnya mengikutinya.


“Cih, periksa bagian belakang!” perintah Javier. Enam orang anak buahnya segera pergi ke belakang bangunan untuk mengejar Aditya.


“Sial! Mereka benar-benar tidak berguna! Padahal Ketua sudah repot-repot menyediakan senjata api untuk memperkuat mereka,” gerutu Javier ketika melihat belasan anak buahnya sudah tumbang.


“Ini wanitanya bos,” ucap seorang anak buahnya yang membawa Frita keluar.


“Biarkan dia duduk di sana,” kata Javier sambil menunjuk kursi.


Dengan cepat Aditya memainkan pisau belati legendarisnya untuk menghabisi lima orang itu. Beberapa tembakan yang mereka lakukan juga sia-sia saja karena Aditya bisa membaca arah serangan mereka dan menghindarinya. Jeritan lima orang anak buahnya terdengar sampai telinga Javier. Tampak raut wajah kesal terpampang di wajah Javier.


Frita hanya memperhatikan sekelilingnya untuk mencari penyebab kerusuhan yang terjadi. Aditya segera memanjat ke atap bangunan untuk memastikan situasi di sana dari ketinggian. Terlihat beberapa orang anak buah Javier sedang mengelilingi bangunan untuk mencarinya.


“Cih, kurang lebih mereka masih ada tiga puluh orang. Darimana mereka mengumpulkan orang sebanyak ini,” gerutu Aditya.


“Aku setidaknya harus mengurangi jumlah mereka jika ingin lebih leluasa bergerak mencari Frita,” tambah Aditya sambil mengeluarkan semua senjata yang berhasil dia rebut dari para penjahat.


“Hanya tersisa enam pistol dengan sisa amunisi yang sedikit dan enam pisau saja, ini masih belum cukup untuk mengurangi jumlah mereka,” gumam Aditya sambil berpikir keras untuk menyusun rencana.


“Kami tidak menemukannya bos,” lapor seorang anak buah Javier.


“Bodoh! Cari teruslah sampai ketemu!” bentak Javier. Anak buahnya kembali pergi dengan ketakutan.

__ADS_1


“Kelihatannya sekarang waktu yang tepat,” ucap Aditya sambil tersenyum setelah mendapatkan rencana yang paling efektif.


Aditya kemudian melempar puing bangunan dari atap. Semua anak buah Javier terkejut dan segera menuju ke belakang bangunan. Aditya tersenyum. Dengan cepat dia menggenggam empat pistol secara bersamaan di tangannya dengan lincah Aditya melompat ke bawah sambil menembakan peluru, kakinya berhasil menghujam seorang anak buah Javier.


“Lima,” gumam Aditya menghitung jumlah orang yang sudah tumbang.


“Tujuh.”


“Sebelas.”


“Dua belas.”


Aditya dengan lincah memainkan pistolnya, tangannya dengan cekatan meraih beberapa pistol milik lawannya dan menggunakannya untuk menyerang. Dia dengan lihati melompat lompat untuk membuat lawannya bingung sambil menembakan pistolnya.


Dia terus bergerak menghindari tembakan lawan sambil balas menembak. Dia sengaja bergerak menuju ke depan bangunan karena di sana lebih banyak tempat untuk bersembunyi. Hanya dalam beberapa menit saja delapan belas anak buah Javier sudah tumbang ke tanah. Javier dan anak buahnya yang tersisa bersembunyi di balik tiang-tiang untuk menghindari tembakan Aditya.


“Apa mereka akan menggunakan Frita sebagai sandera?” gumam Aditya sambil melihat Frita yang sedang duduk di kursi dalam keadaan terikat.


“Sebenarnya siapa orang itu?” gumam Javier sambil terus melihat ke arah persembunyian Aditya.


“Apa mungkin dia adalah orang yang selalu menggagalkan rencana Ketua selama ini?”


“Bos, apa kita perlu mendekatinya?” tanya seorang anak buah Javier.


“Jangan gegabah!” bentak Javier.


Tiba-tiba Aditya melompat dari balik persembunyiannya sambil melemparkan dua pistol ke atas. Empat orang anak buah Javier muncul untuk menembaknya. Namun secepat kilat Aditya melemparkan dua pisau yang ada di pinggangnya sambil melompat untuk menghindari tembakan musuhnya.


Di udara Aditya menggenggam dua pistolnya sambil menembak. Dua orang musuhnya jatuh karena terkena pisau sedangkan dua orang lagi tumbang dengan luka tembak di tubuhnya. Javier bersama tujuh anak buahnya yang tersisa segera muncul untuk menembak. Tapi empat pisau sudah melesat ke arah mereka.


“Cih! Apa dia sudah menebak pergerakan kami?” gumam Javier.


Tiga anak buahnya kembali terkapar. Airmata Frita mengalir tanpa sadar ketika tahu sosok gagah berani yang ada di hadapannya adalah Aditya. musuhnya hanya tersisa lima orang lagi. Dengan santai Aditya berjalan mendekat dengan penuh kharisma seorang tentara.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2