
“Rai, kau di mana?!” tanya Aditya yang sudah dua menit memasuki area rumah itu, tapi tak melihat siapa pun dari ruang satu ke ruang lainnya.
Rai Siluman sama sekali tak menyahut.
Nancy, Linda, Charlie, dan Teo berpencar menjadi dua regu, ke sisi kiri dan kanan. Ada dua lorong di masing-masing bagian itu, dan mereka tak menemukan siapa pun di sana. Dalam pintu-pintunya juga tak ada siapa pun.
“Ini tidak bagus!” gerutu Nancy.
“Baskara, apa yang loe dapatkan?” tanya Teo lewat alat komunikasi.
Baskara yang memantau dengan alatnya di puncak bukit juga mengabarkan tak ada tanda pergerakan manusia di situ, kecuali Skuad Malam.
“Titik-titik merah ini hanya berjumlah lima. Hanya ada kalian di situ! Aneh sekali! Rumah ini terlihat benar-benar kosong!” kata Baskara kebingungan.
“Cari cara untuk merusak sistem mereka. Aku yakin ini pasti perbuatan para ahli IT sang mafia,” kata Aditya.
“Sedang kuusahakan, Bang!” sahut Baskara.
Aditya yakin setiap sudut yang asing bagi mereka di rumah ini bisa jadi senjata yang mematikan bagi pihak lawan. Maka ia meminta Skuad Malam untuk tak henti waspada.
Dan, benar saja, setelah Baskara bersusah payah membobol sistem mereka, kini di layar laptopnya tertera begitu banyak titik-titik merah yang berada di sekeliling Skuad Malam. Saat itu Skuad Malam sudah tiba di tengah aula dansa yang berbentuk lingkaran jika dilihat dari langit. Ada kubah kaca tebal yang bisa membuat mereka memandang ke langit malam.
Nah, di celah-celah kubah itulah, bersembunyi para penembak jitu!
“Kalian dikepung penembak jitu! Tepat di kubah di atas kalian!” teriak Baskara.
Hanya saja, terlambat sudah. Teo terkena tembakan, tapi ia sempat menghindar dan yang terluka hanya bagian betisnya. Charlie terkena tembak, tapi tubuhnya mengenakan rompi anti peluru.
Skuad Malam segera mencari tempat bersembunyi di dasar aula itu, memasang mata baik-baik. Kacamata Night Vision sungguh membantu, ditambah informasi dari Baskara tadi. Kini mereka bisa membaca posisi para sniper itu.
Dan, tentunya, para sniper tak mau kalah. Mereka kini menyerbu Aditya dan Skuad Malam dengan tembakan beruntun. Peluru-peluru berdaya tinggi yang dalam satu kali tembak bisa menembus dua tengkorak manusia sekaligus.
Skuad Malam bisa dibilang beruntung, meski rencana mereka agak kacau setelah radar Baskara dikacaukan para ahli IT sang mafia tadi. Namun, kini mereka belum tahu nasib Rai dan kawan-kawannya.
Entah berapa menit pertempuran dalam kegelapan itu berlangsung. Teo tak dapat melanjutkan misi dan harus dibopong ke bukit oleh Linda setelah mendapat tembakan lain yang mengenai telapak tangannya.
Teo menjerit-jerit kesakitan.
__ADS_1
Kini hanya tersisa Aditya, Nancy, dan Charlie. Beruntung penembak jitu di kubah aula dansa yang tersisa tak cukup pintar. Aditya memutuskan mencari cara naik ke kubah itu dan membunuh mereka langsung dengan pisau di tangannya.
Semenit berlalu. Tiga penembak jitu yang tersisa roboh, jatuh ke lantai dansa itu dengan leher terkoyak.
“Baiklah. Sekarang bagaimana, Baskara?” tanya Aditya yang sudah siap bertempur lagi bersama Nancy dan Charlie.
“Ruang rekreasi, sekitar seratus meter dari tempat kalian sekarang. Di situ ada tiga belas orang,” jawab Baskara.
“Apa lagi?”
“Di sampingnya, ada ruangan kontrol, persis di depan balkon berbentuk setengah lingkaran. Kalian harus hati-hati. Tempat itu penuh dengan manusia.”
Ternyata tempat yang penuh dengan manusia itu bukan berisi pasukan, melainkan para ahli komputer yang tak berdaya. Mereka berjumlah delapan orang. Tapi menyerah begitu Charlie menodongkan senjata. Kini orang-orang berkacamata itu terikat erat di bilik toilet, tak bisa melarikan diri.
Hanya saja, keluar dari toilet di samping ruang IT, mereka menemui sejumlah orang, yang tak bersenjata, kecuali dengan kapak dan pisau. Jumlah mereka mungkin lebih dari empat puluh orang!
Baskara tak bisa melacak mereka karena ahli IT mafia sengaja menyembunyikan itu sebagai senjata terakhir.
Mau tak mau Linda turun kembali dari bukit demi membantu perkelahian yang tak seimbang ini.
“Serang mereka!” pekik salah satu anggota mafia itu.
“Anjing! Tembak saja sebisamu!” teriak Nancy pada Charlie yang juga terkejut ada serangan mendadak.
Aditya mungkin bisa sesekali meladeni perkelahian seperti ini, dan hanya terluka sedikit saja. Tapi Nancy dan Charlie tak sanggup. Mereka hanya bisa menembak sebisa mungkin, mencegah serangan kapak dan pedang. Kedatangan Linda sangat membantu. Ia melempar granat khusus yang bisa membutakan dan membuat tuli musuh untuk satu menit.
“Rasakan ini! Seharusnya kalian memakai kacamata seperti kami dan penutup telinga yang bagus!” pekik Linda puas.
Tembakan demi tembakan segera melayang, menyasar tubuh para anggota mafia itu. Saat itu ruangan tersebut mungkin saja sudah banjir oleh darah, tapi keadaan tetap gelap gulita dan Aditya tak ingin melihat darah itu.
Entah kenapa, kali ini Aditya tak ingin melihat kematian orang sebanyak itu dalam satu waktu.
Maka, perkelahian tak seimbang dimenangkan oleh Skuad Malam.
Hanya saja, Linda terluka setelah terkena sabetan pedang. Charlie harus membawa Linda ke bukit.
Kini Skuad Malam hanya tersisa Nancy dan Aditya saja.
__ADS_1
Pada saat itu, sejumlah gadis yang terlihat kacau, dekil, dan setengah telanjang berlarian ke arah belakang, menuju bukit, seolah mengerti jika Skuad Malam mungkin datang untuk menolong mereka.
“Mafia ini benar-benar sinting! Lihat berapa banyak gadis yang sepertinya masih di bawah umur!” kata Nancy pada Aditya.
“Kita habisi dia saat ini juga,” sahut Aditya pendek.
***
Kelompok Harimau Gunung jelas tak sesedikit itu. Ada sebagian besar dari mereka masih berada di luar sana, menyelesaikan urusan ‘bisnis’ kotor tentu saja. Sang Harimau menelepon seluruh anak buah dan kaki tangannya yang belum pulang untuk kembali ke rumahnya.
“Markas diserbu! Kalian harus bantai orang-orang bangsat ini!” katanya.
Saat berbicara itu, Harimau Gunung sudah menyekap Rai, Burhan, Vivian, Larry, dan Toro. Ia juga menyekap anak Rai yang kini terlihat seperti orang kehilangan akal sehat. Entah apa yang dilakukan Harimau Gunung pada gadis muda itu.
“Kau akan menerima akibatnya!” kata Rai tak berdaya.
Larry dan Toro mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua centeng Harimau Gunung. Mereka mencoba menerjang sang ketua mafia, tapi terdengar bunyi tembakan. Dua buah tembakan yang berakhir sunyi.
Rai dan Burhan hanya bisa menunduk dan menutup mata pasrah.
“Hahaha! Kau mau main-main denganku! Dokumen itu sudah hampir laku dan itu tak akan bisa dicegah oleh siapa pun, termasuk maling macam kalian!”
Pada titik ini, Aditya sudah berhasil meringkus para ahli IT. Dalam lima belas menit ke depan, Aditya dan Skuad Malam juga sudah berhasil mengalahkan pasukan kapak dan pedang.
Ruang rekreasi itu kedap udara. Tak ada suara-suara perkelahian dan ribut dari luar sana yang terdengar oleh sang mafia. Maka Harimau Gunung mengira Skuad Malam sudah musnah.
Ia kaget ketika melihat Aditya dan Nancy menerobos pintu ruang rekreasi itu, dan tanpa ba-bi-bu, memberondong seluruh anak buahnya dengan tembakan mematikan. Ada satu yang lolos dari tembakan, tapi Nancy berhasil membunuhnya dengan lemparan pisau ke jidat.
Dalam waktu singkat, kemenangan yang hampir mafia itu capai, kini direbut oleh Aditya.
Harimau Gunung marah.
“Bangsat! Siapa kau berani mengacak-acak tempatku!” teriaknya penuh emosi.
“Aku hanya sedang menepati janji!” jawab Aditya datar, lalu mengarahkan senjata itu persis di antara kedua mata sang mafia.
Dor!
__ADS_1
Suara tembakan membuat seisi ruangan terdiam.
Bersambung...