
Aditya dan kelima anggota Skuad Malam terpaksa melempar senjata mereka semua ke lantai, menuruti perintah anak buah Garry Lee agar pemicu bom tidak ditarik hingga Frita tetap aman.
“Bagaimanapun, waktu terus berjalan,” pikir Aditya, sambil memindai segala sudut bangunan gudang ini dengan kedua matanya yang tajam.
Seperti dugaannya, anak buah Garry kabur semua usai mengambil senjata mereka dan sempat menghajar Skuad Malam dengan tanpa perlawanan. Charlie dan Teo sempat ditembak, tapi hanya terluka di lengan dan betis. Aditya terkena tinjuan di wajah sampai mulutnya berdarah, tapi saat ini tak ada waktu untuk berkelahi.
Orang-orang itu segera menyingkir.
“Ayo, cepat! Jangan kelamaan bego!” kata salah satu dari mereka melambai dari luar gudang pada rekan-rekannya.
“Tampaknya mereka ketakutan untuk sekadar membunuh kita,” gerutu Charlie yang cuma bisa menatap sedih orang-orang itu dari dalam sini.
“Aneh. Mereka bisa membunuh kita padahal,” kata Teo.
“Mereka kira kita pasukan pembuka. Mereka yakin bakalan ada pasukan lain yang datang setelah kita,” kata Aditya, lalu berlari ke arah Frita dan meminta bantuan rekan setimnya untuk mematikan bom itu.
Tak ada yang mengerti, kecuali mungkin Baskara. Ia biasa mengotak-atik komputer dan kini semua mata tertuju padanya.
“Aku benaran belum pernah mencoba ini, Teman-teman!” jeritnya ketakutan. Baru kali itu Baskara yang biasa pendiam dan lumayan tenang itu, terlihat histeris.
“Sudahlah! Kami yakin kamu bisa!” kata Linda menyemangati.
Baskara segera bekerja. Kurang dari dua menit waktu tersisa. Dia menyambungkan kabel centang perentang di perangkat bom itu dengan laptop yang sejak awal masih ada dalam ranselnya. Ia mulai mengetikkan kode-kode tertentu yang terlihat bagai jutaan semut di mata teman-temannya.
Kemudian muncul sebaris angka digital penanda waktu di sana.
“Oke, tinggal sedikit lagi, semoga bisa! Sedikit lagi!” gerutu Baskara yang sudah tak bisa menahan kegelisahannya sampai ngompol di celana. Kalau situasinya normal, ia pasti jadi bahan tertawaan teman-temannya. Tapi, mereka sedang tak ingin bercanda.
Beruntunglah Baskara mampu melakukannya. Waktu yang tersisa 14 detik. Layar laptop tetap menayangkan angka 14 itu selama beberapa menit berikutnya, tanda usaha Baskara sukses. Tak sedramatis yang biasa ada di film-film, tapi cukup membuat semua lemas.
Frita segera dilepaskan dari ikatannya dan memeluk Aditya dengan erat. “Makasih, Dit! Aku pikir aku bakalan mati di sini.”
“Seenggaknya kita bisa mati sama-sama,” kata Aditya sambil tertawa pelan.
Kelima anggota Skuad Malam tersenyum satu sama lain, tapi Charlie dan Teo harus segera diobati. Linda dan Nancy bertindak sebagai tim medis dadakan.
__ADS_1
Hanya saja, sebelum mereka bisa berpuas diri, terdengar deru mobil berhenti tepat di depan gudang itu. Terdengar suara seorang lelaki tua mengoceh dan Aditya tahu siapa yang datang.
“Gunawan Mahdi. Kalian cepat sembunyi!” serunya.
Charlie dan Teo yang terluka diseret oleh Linda dan Baskara ke balik peti kemas yang bertebaran di bagian utara gudang. Frita ikut bersama mereka berempat. Aditya dan Nancy bersembunyi di bagian lain agar bisa mengintip Gunawan yang masuk dari pintu barat.
“Jadi, sepertinya mereka tidak mati. Bom itu tidak meledak. Bukan begitu?” tanya Gunawan Mahdi dengan sinis pada Garry Lee yang kini berdiri di dekatnya.
“Anak buahku yang enggak becus, Uncle Gun! Mereka harus diberi pelajaran!” kata Garry Lee kesal.
“Lain kali cari orang yang tepat buat kerja. Jangan tiru paman loe yang bodoh itu. Gara-gara kebodohan Leo, bisnis kita jadi kacau!” kata Gunawan Mahdi.
“Sekarang, cari mereka. Kalau belum lima menit, kalian masih bisa memburunya dengan mobil!” kata Gunawan pada para anak buahnya.
Di situ Aditya dan Nancy saling berpandangan. Ya, memang Gunawan Mahdi-lah yang berada di balik Serigala Hitam maupun Aliansi Ular Kobra. Dan terlihat jelas dia sangat marah pada Garry karena tidak ada Profesor Joe yang ikut serta.
“Lain kali loe harus belajar banyak ke gue,” kata Gunawan, yang tiba-tiba saja tak disadari Garry sudah mengambil senjata dari balik jasnya.
Dor!
Garry Lee tertembak tepat di perutnya.
“Aduh...! Kenapa Uncle menembakku sih?!” pekik Garry Lee.
“Ya, karena loe goblok, kalian semua goblok! Bisa-bisanya gue serahkan tugas ini kepada loe! Mendingan loe mati saja,” kata Gunawan dengan dingin, lalu melangkah ke luar gudang sambil menggerutu.
Sebenarnya Aditya sudah menduga sejak awal lelaki tua itu pasti akan menghabisi Garry Lee yang tak bisa dimanfaatkannya untuk membawa balik sang profesor padanya. Hanya saja, Aditya tak tahu kapan waktunya.
Ternyata waktunya sangat tepat.
Suara Gunawan terdengar dari luar gudang, “Dalam waktu sepuluh menit saja loe mati. Rumah sakit terdekat jaraknya tiga puluh menit. Coba saja selamatkan diri loe.”
Garry cuma bisa menangis kesakitan dan berbaring di lantai gudang.
Aditya berpikir cepat dan menatap mata Nancy tajam.
__ADS_1
Nancy mengerti makna tatapan itu. Artinya mereka harus mengambil kesempatan untuk bisa kabur sesegera mungkin dari tempat terkutuk ini.
Dengan langkah yang tak terdengar, Aditya dan Nancy menyelinap keluar dari balik persembunyian.
Garry Lee terlihat geram pada Gunawan dan seperti bernafsu membunuhnya saja. Hanya saja, tembakan di perutnya itu sangat fatal. Ia bahkan tak dapat merasakan jemari tangannya saat ini.
Nancy mengambil posisi itu, berjongkok di depan Garry Lee sebagai mantan musuh yang menjadi malaikat penolong. Gadis itu berbisik, “Jangan dengar bualan si tua jelek itu. Loe masih bisa hidup asal loe diam. Kami akan membiarkan loe selamat.”
“Luka ini? Nggak mungkin,” bisik Garry Lee yang terkaget-kaget melihat gadis itu tahu-tahu terlihat peduli padanya.
Kini Garry melihat Aditya berjalan melewatinya, keluar untuk menyekap Gunawan dari belakang. Tapi ia tak peduli. Biar saja si tua itu mampus di tangan Aditya, pikirnya sedikit senang.
“Ah, begini ini masih mungkin,” kata Nancy sambil memeriksa luka Garry. “Hanya perlu perban dan berkendara ke rumah sakit secepatnya.”
Sementara Nancy membantu membalut luka Garry dengan perban, Aditya telah ada di belakang Gunawan persis tanpa mafia itu sadari. Ia terkejut saat menoleh ke belakang dan melihat sosok yang diburunya selama ini.
“Brengsek! Di sini loe rupanya!” teriak Gunawan.
Tapi, terlambat, Aditya sudah lebih dulu merebut senjatanya, mengunci lengan dan kakinya, membuat Gunawan Mahdi menjerit kesakitan. Kalau saja dia lebih muda tiga puluh tahun dari sekarang, ia bisa saja lolos dari kuncian ala pegulat dari Aditya itu.
Hanya saja, dua orang anak buah Gunawan sudah kembali dari pencarian. Begitu tahu bos mereka ditahan, mereka mencoba menembak Aditya.
Dor!
Dor!
Dor!
Bunyi tembakan tiga kali terdengar dari dalam gudang.
Nancy dan Garry spontan menoleh. Frita menjerit ketakutan. Linda-lah yang berlari keluar untuk memastikan siapa yang tertembak.
“Aditya?! Kamu gak apa-apa?!” jerit Linda.
Tampak Gunawan Mahdi tersungkur di tanah dengan kepala berlubang. Tertembak oleh anak buahnya sendiri!
__ADS_1
Bersambung...