
Aditya menginap di hotel yang sama selama beberapa hari ke depan. Ia ingin tahu secara pasti kabar penangkapan Rama tak berimbas pada Clarissa, karena Rako dikenal sangat menyukai Clarissa dan beberapa kali mengaku-ngaku sebagai pacar dari gadis itu.
Pagi hari keempat, Aditya menyalakan TV dan menonton tayangan penangkapan anak salah seorang politikus ternama, bersama gengnya, yang terlibat dengan bandar narkoba besar di Asia dan Eropa. Berita itu cukup membuat gaduh. Banyak orang demo, menuntut salah seorang anggota dewan yang juga ayah kandung Rama Subandi untuk diusut tuntas.
“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya! Kami mau seluruh harta dan aset anggota DPR Bagas Subandi diselidiki!” begitu kata salah seorang orator demo dalam salah satu tayangan berita.
Aditya terlihat puas. Ia tidak melihat Clarissa mendapat kesulitan di sini. Ia juga tak mendengar penyanyi Shelly D dikait-kaitan dengan kasus ini. Maka, ia pun akhirnya bisa pulang.
Ia menemui Clarissa di rumah Shelly D. Saat itu Shelly D sedang tidak ada jadwal manggung. Aditya menelepon, meminta bertemu. Aditya menceritakan semuanya pada Shelly D dan itu membuat sang penyanyi bersedia membantunya.
“Aku tak bisa mengajak Frita bertemu begitu saja. Kamu tahu kami harusnya sudah nikah beberapa bulan lalu,” kata Aditya.
Shelly D memaklumi. Ya, bisa jadi Frita marah besar ketika bertemu Aditya nanti. Jadi wajar saja lelaki itu meminta saran atau mungkin meminta ditemani ketika bertemu Frita nanti.
“Kak Aditya! Kamu ke mana saja sih? Katamu ada misi di kampusku?” kata Clarissa.
“Sudah beres, tahu,” jawab Aditya sambil tersenyum nyengir.
“Ah, ya. Rako terlibat ya? Dia ikut ditangkap karena membantu kakaknya,” tukas Clarissa tampak sedih.
“Ya, jadi sekarang enggak ada lagi yang mengganggumu, kan?”
“Semua berkat kamu, Kak,” kata Clarissa sambil memeluk Aditya erat. Demi Tuhan, kini Clarissa sudah benar-benar melihat Aditya dengan cara yang lain. Mungkin dulu ia pernah beberapa kali merasa tertarik pada ketampanan, aura, dan keahlian bela diri dari Aditya. Mungkin dulu sekadar mengagumi saja. Tapi, kini Clarissa justru mencintainya.
Clarissa tahu ini tidak benar. Aditya calon kakak iparnya, tapi ia sungguh tidak bisa membendung perasaan cintanya.
Clarissa tidak bisa melupakan momen saat ia menggandeng Aditya, lalu gandengan itu dibalas dengan pelukan erat di bahu, dan belaian di rambutnya yang lembut. Aroma tubuh Aditya yang khas mengganggu mimpi-mimpinya beberapa hari terakhir.
Namun, Clarissa masih bisa mengendalikan diri.
Ia melepas pelukan sesegera mungkin agar Shelly D dan Aditya tak curiga.
__ADS_1
Mereka lalu membuat janji temu dengan Frita. Seolah Shelly D dan Clarissa sedang menganggur dan ingin mengajaknya nonton bersama.
“Aku masih ada jadwal nih,” jawab Frita di telepon. “Tunggu sejam lagi, ya?”
“Wah, benar juga. Baiklah, Kak. Kami tunggu di Cafe Delima, ya?” jawab Clarissa.
“Ayo kita cabut,” kata Clarissa setelah menutup telepon.
Shelly D mengambil kunci mobilnya. Aditya meminta kunci itu. Ia ingin menyetir mobil. Namun kali ini dengan santai. Tidak ngebut seperti ketika menjalani misi-misi itu.
“Frita sibuk kerja terus ya?” tanya Aditya ketika mereka masuk mobil.
“Oh, enggak juga,” kata Clarissa pendek.
“Kamu belum tahu ya, Dit?” tanya Shelly D.
“Belum tahu soal apa?”
Aditya melongo tak percaya melihat itu.
Bukan. Frita bukan menjadi seorang youtuber. Frita tetap seorang pemimpin di satu perusahaan besar yang ia miliki saat ini. Ia berada di program salah satu TV swasta usai kasus percobaan pembunuhan oleh Christian Santoso waktu itu.
Kasus itu begitu meledak, membuat heboh pemberitaan nasional. Dan hanya kasus pembantaian warga desa oleh samurai misterius itu sajalah yang bisa menyaingi tingkat kehebohannya.
Betapa tidak? Seorang keluarga sendiri mencoba menghabisi mereka bertiga? Frita, Pandu, dan Gina mendapat banyak wawancara, tetapi hanya Frita yang sering diundang ke TV untuk mengisahkan pengalamannya.
Setelah beberapa kali muncul di TV, beberapa produser malah tertarik pada wajah dan cara bicara Frita yang renyah. Ia mendapat tawaran menjadi host di sebuah acara talk show baru yang bertema kemanusiaan.
“Tapi Kak Frita seperti tidak menikmati kegiatan barunya itu. Padahal dia sudah jadi artis. Bisa dibilang begitu, kan?” kata Clarissa sambil menoleh ke Shelly D.
“Ya, betul,” jawab penyanyi itu.
__ADS_1
“Daaan... jadi artis itu enggak mudah. Banyak orang menginginkan posisinya Kak Frita itu,” tambah Clarissa dengan kesal.
“Ya, kalau memang dia merasa nyaman dengan dia yang dulu, apa boleh buat?” kata Aditya.
Perkataan itu membuat Clarissa agak jengkel, karena Aditya malah membela Frita. Ia pun berkata, “Pokoknya Kak Aditya harus membujuk kakakku agar terus jadi host di acara itu. Semua orang menyukainya, Kak. Aku nggak tahu gimana perasaan mereka jika nanti Kak Frita berhenti!”
Shelly D dan Aditya saling tatap mendengar ucapan Clarissa yang mendadak agak emosional ini. Tapi mereka diam dan kemudian cuma tertawa singkat.
Aditya segera bertanya pada Clarissa kabar Julio.
Clarissa terlihat sedih.
“Nah, Julio sudah pergi ke Prancis. Tapi kasus itu membuat mama dan papa tirinya dipenjara. Entah aku belum bisa bicara dengan dia sampai saat ini. Dia katanya enggak mau ditelepon Kak Frita. Tiap kali kakakku telepon, langsung dia putus.”
Aditya bilang turut prihatin atas semua itu.
Clarissa menyahut, “Yah, Julio sebenarnya tahu mama dan papa tirinya memanglah jahat. Siapa coba yang tega menyuruh orang buat membunuh keluarga sendiri? Kakekku sangat marah mendengar itu.”
Yang dimaksud Clarissa itu adalah Kakek Darma. Kakek dari pihak Pandu yang belum pernah Aditya temui sejauh ini. Kata Clarissa, nanti saat ia menikah dengan Frita, Aditya bisa berkenalan dengan kakeknya yang satu itu.
“Lalu, kabar saudara-saudara Julio?” tanya Aditya.
“Yang lain entah gimana. Setahuku cuma ada Kak Ovie yang akhir-akhir ini pulang ke Indonesia. Dia juga marah sama kami,” jawab Clarissa.
Ovie adalah kakak kandung Julio. Ovie seumuran dengan Frita dan sudah lama dia hidup di luar negeri.
Mereka tak bicara lagi.
Mobil terus melaju, membelah jalan raya yang tak terlalu macet. Mereka tiba tepat setengah jam kemudian di Cafe Delima, sebuah tempat nongkrong yang lokasinya tidak terlalu jauh dari studio TV swasta di mana kini Frita sedang syuting program talk show itu.
Bersambung
__ADS_1