Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 232


__ADS_3

Gedung Luxury, pukul 6 malam itu.


Aditya menelepon Shelly D sekali lagi seperti sore tadi. Saat itu Shelly D sengaja meneleponnya untuk mengucapkan kata-kata yang sama seperti yang sudah si penyanyi itu katakan pada Frita: “Kalian pantas bersama. Jangan sampai peristiwa ini membuat hubungan kalian hancur.”


Tentu saja Aditya membuat lega Shelly D, apalagi ketika mengatakan bahwa Frita sebenarnya tak pernah diperkosa.


“Kok bisa?” tanya Shelly D terdengar heran, meski ia juga sangat senang.


“Itu dia yang belum kami tahu. Aku curiga ini semua kemungkinan besar ulah sang om tiri,” jawab Aditya sambil membayangkan bagaimana kira-kira tampang si Christian Santoso itu? Ia memang belum pernah menemui ayah tiri Julio tersebut.


Shelly D terdengar sangat bahagia atas kabar terbaru tentang Frita itu, dan di luar dugaan Aditya, ia bilang, “Aku bisa membantu kalau kalian mau.”


Aditya terlihat berpikir sejenak, lalu teringat betapa muda Lucky dan Gagas. Boleh jadi salah satu di antara mereka tertarik pada Shelly D yang juga muda dan cantik serta berbakat menyanyi, sehingga dengan begitu salah satu dari mereka bisa diajak kerja sama nanti.


Maka, Aditya mengatur janji tersendiri dengan Shelly D di Gedung Luxury, di luar sepengetahuan Frita.


Pukul 6 malam itu Aditya sudah tiba di Luxury, dan mencoba menghubungi Shelly D. Penyanyi itu ternyata sudah sampai dan bersembunyi di salah satu kamar milik seorang petugas kebersihan, yang kebetulan adalah mantan pembantunya dulu.


“Tenang saja, aku aman di sini,” kata Shelly D.


Maka, yang berikutnya dilakukan Aditya adalah menunggu rombongan PT Vision Putra Semesta dan klien mereka yang datang dari Indonezies Co. Entah kerja sama apa yang akan mereka lakukan. Aditya tidak peduli. Yang jelas ia ingin merusak kesan baik dari perusahaan Christian Santoso agar kesepakatan antar dua perusahaan besar itu batal.


Rencana itu mengharuskan Aditya menyamar sebagai seorang chef di dapur mewah gedung hotel sekaligus pusat bisnis tersebut. Ia menyelinap ke dapur dan membungkam para pekerja di sana dengan obat bius.


Aditya suatu ketika berpikir, “Aku sungguh penasaran bagaimana rasanya saat aku dibius dengan obat macam ini? Bagaimana saat seseorang mendadak datang dari arah belakangku dan membungkamku dengan kain yang sudah mengandung obat bius?”


Aditya hanya bisa membayangkan tentu saja. Ia melihat sejumlah pekerja dapur di Gedung Luxury tak berdaya, terlelap tanpa tahu apa yang benar-benar terjadi. Tentu itu tak bisa sembarang dilakukan. Aditya harus menunggu dulu sejumlah masakan pesanan Christian Santoso sudah matang.

__ADS_1


“Nah, ini dia pesanan mereka,” batin Aditya senang saat melihat kereta besi untuk mengantar makanan ke ruang meeting nomor 13 di lantai 25.


Aditya segera menaburi obat pencuci perut di makanan tersebut, dan memberikan sedikit obat bubuk yang bisa membuat mabuk di minuman mereka. Berkat bantuan sang detektif swasta, ia tahu makanan apa saja yang diperuntukkan Christian Santoso, Gagas, serta Lucky. Hanya makanan itulah yang diracuninya.


Ketika itu Aditya tak sengaja menjumpai Sherly. Namanya memang hampir mirip dengan nama Shelly D, dan jika berbicara dengan si penyanyi itu, sesekali Aditya pasti teringat pada Sherly.


Betapa kagetnya Sherly saat itu. Ia bertanya, “Apa kabarmu, Mas?”


“Baik-baik saja.”


Sherly sudah tahu siapa sosok Aditya. Ia menyadari pakaian chef yang dikenakan si Aditya ini pastilah terkait misi barunya yang entah apa. Sherly sama sekali belum tahu soal hubungan Aditya dengan Frita yang berkembang jauh.


Maka, ia bertanya kepada Aditya, “Bisa kita ketemu dan bicara dalam keadaan yang lebih tenang, Mas? Mungkin besok atau mungkin lusa? Ada kafe baru yang bagus di dekat sini, lho.”


“Maaf, aku sedang bekerja. Tak ada waktu, Sherly.”


Tak Aditya sangka kata-kata itu bisa meluncur dari bibir Sherly. Tapi kini pikiran dan fokusnya tertuju pada rencananya sendiri. Jadi ia meminta Sherly untuk tidak lagi mengganggunya. Tindakan itu membuat Sherly merasa kecewa. Ia pergi tanpa berucap apa pun.


“Maafkan aku, Sherly. Aku tak bisa memberikanmu apa-apa,” batin Aditya sambil menatap punggung gadis itu menjauh.


***


Waktu berlalu.


Dua jam kemudian, Pandu, Gina, dan Frita tiba. Mereka menunggu di meeting room lain di lantai 25 juga, tapi dengan sembunyi-sembunyi. Aditya mengantarkan sajian itu tepat di depan hidung Christian Santoso dan tahu hanya dari tampangnya saja jika orang itu bukanlah orang baik.


“Oh, jadi ini Paman tiri Frita yang licik itu? Mungkin aku belum tahu pasti apakah dia terlibat atau tidak. Tapi, lihatlah dua pemuda di sampingnya! Gagas dan Lucky tak ubahnya dua anjing pengawal yang patuh pada perintah majikannya!” batin Aditya kesal sambil tak henti memandangi Christian.

__ADS_1


Aditya berharap mereka segera terkena efek dari obat yang dia taburkan.


Benar saja. Obrolan singkat tentang bisnis terpaksa ditunda karena salah satu jenis makanan hangat yang disajikan harus segera disantap sebelum cepat menjadi dingin.


Gagas bilang pada salah seorang klien dari Indonezies Co, “Ini akan segera menjadi dingin dan tidak enak. Alangkah lebih baik kita nikmati dulu ini.”


Mereka bersantap sambil mengobrol santai, topik sehari-hari saja. Tak lama, Gagas mendadak buang angin. Kentutnya terdengar begitu keras sampai membuat Aditya yang berdiri di pojok ruangan itu harus berusaha keras menahan tawa.


“Gagas!” bentak Christian jengkel melihat ketidaksopanan keponakannya.


Tidak ia sangka, dirinya sendiri juga terkentut-kentut, malah lebih keras bunyinya, membuat para tamu alias calon klien potensial mereka merasa jijik. Bau kentut kedua orang itu sungguh busuk.


Lucky yang tak ikut menyantap sajian bertabur obat pencahar itu hanya menenggak sedikit minuman memabukkan dari Aditya. Ia tidak bisa berkutik ketika Christian serta Gagas berlarian ke toilet di luar meeting room tersebut, sementara para klien mereka tak sudi lagi berdiam di situ.


“Tunggu, kalian ke mana?!” teriak Lucky mencoba menghentikan para klien dari Indonezies Co.


“Kami tidak bisa diperlakukan seperti itu. Maaf, kami bisa memulai kerjasama ini dengan perusahaan lain saja. Terima kasih atas makan malam yang kurang beradab!” kata perwakilan mereka.


Lucky hanya menunduk tak berdaya. Pengaruh obat memabukkan itu membuatnya menangis tersedu-sedu, lalu ganti tertawa. Dan tawa itu seketika sirna begitu dari arah pintu masuk ruangan itu, ia melihat sosok Frita masuk bersama kedua orang tuanya.


“Aku ... aku ... Tolong, semua ini bukan salahku!” teriak Lucky sambil menutupi mata dengan kedua tangannya.


“Rencanamu bagus, Aditya,” kata Pandu.


“Ya, sekarang kita tunggu Christian dan Gagas masuk. Mereka jelas masih sibuk dengan perut mereka yang mulas!” jawab Aditya sambil mencengkeram kerah baju si Lucky agar tak kabur ke mana-mana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2