
“Gampang itu mah, aku pasti akan terus berusaha agar dia mau menyukaiku. Yah meskipun dia memang menyukai orang lain, tapi sebelum ijab qobul mah masih ada kesempatan untuk berjuang,” jawab Sherly dengan tenang.
“Segampang itu?” tanya Aditya.
“Memangnya harus bagaimana lagi? Tapi itu tergantung tipe orangnya juga. Kalau aku sih pasti tidak akan menyerah semudah itu. Ya mungkin perasaan kesal atau pasrah juga akan aku alami tapi itu bukan menjadi alasan untuk tidak berusaha lagi selagi masih ada kesempatan.”
“Memangnya mungkin ya?”
“Ya mungkinlah, orang yang tadinya musuh juga bisa saling mencintai. Yang tadinya saling benci bisa jadi saling suka. Hati manusia itu bukan terbuat dari batu yang keras Dit, sekeras-kerasnya hati manusia tetap saja segumpal daging. Lagipula hasil itu akan sesuai dengan usaha yang sudah dilakukan,” jelas Sherly.
“Kalau memang aku tidak bisa menjadi orang yang dia sukai setidaknya aku bisa menjadi teman yang akan selalu ada saat dia butuhkan,” tambah Sherly dengan mantap, seolah dia berkata seperti itu untuk Aditya sendiri. Walau memang kenyatannya begitu. Sedikitpun dia tidak menunjukan suasana hatinya yang sedang sedih.
“Kamu memang wanita yang luar biasa Sher, sudah cantik, pinter juga. Beruntung sekali pria yang akan menikahimu nanti. Terimakasih ya,” kata Aditya. dia benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan Sherly, saat bersamanya dia merasa menjadi lebih tenang.
“Kok kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Jangan-jangan kamu sedang patah hati ya?”
“Nggak, aku hanya sedikit terganggu saja dengan permasalahan seperti itu.”
“Aditya, kamu memang pintar. Tapi sebagai seorang pria, bagiku kamu benar-benar bodoh. Tidak, mungkin aku yang jauh lebih bodoh karena menyukai pria sepertimu,” batin Sherly sambil menghela nafas.
Mereka berdua kembali ke perusahaan. Sepanjang perjalanan mereka terus berbincang tentang masa-masa SMA mereka dulu, kesedihan di hati Sherly terasa teralihkan dengan pembicaraan itu. Dia juga senang karena Aditya tidak murung seperti tadi.
Malam harinya di kediaman Pandu. Aditya sedang mengobrol hangat dengan Clarissa. Frita terlihat pergi menuju kolam renang. Aditya pergi mengikutinya.
“Kamu mau apa ke sini? Bukankah sudah aku bilang agar jangan menggangguku lagi?” tanya Frita dengan nada kesal.
“Aku hanya ingin bertanya satu hal kepadamu.”
“Apa?”
“Apa semua ini murni keinginanmu sendiri?”
__ADS_1
“Memangnya apa urusannya denganmu?”
“Tidak, setelah aku pikir-pikir kembali kamu tiba-tiba berubah seperti ini sejak kedatangan bu Gina kemari. Aku pikir itu ada sangkut pautnya. Jadi aku ingin mendengar jawabannya langsung darimu.”
“Diaz memang pria pilihan ibuku, tapi sejak pertama aku bertemu dengannya. Aku sudah merasakan kenyamanan dan cinta yang luar biasa,” kata Frita dengan sengaja memuji sosok Diaz. Aditya malah tertawa kecil mendengarnya.
“Kenapa kamu malah tertawa?”
“Maaf, aku cuma nggak nyangka saja jika kamu mau dengan pria yang dipikirannya hanya dolar dan dolar saja.”
Frita terlihat kesal sambil pergi kembali menuju kamarnya. Sedangkan Aditya hanya tersenyum sambil kembali ke ruang tamu. Di sana Pandu sudah menunggu dengan papan caturnya. Dia terlihat sedikit senang melihat sikap Aditya kembali seperti biasanya.
“Ayok main catur Dit,” ajak Pandu.
“Ih papa nggak bosen apa kalah melulu?” ledek Clarissa.
“Yey siapa yang kalah mulu, orang skor kita itu seri,” jawab Pandu sambil tertawa. Aditya kemudian duduk di hadapan Pandu. Sedangkan Clarissa pergi ke kamarnya.
“Besok apakah anda dan Clarissa akan ikut juga ke pesta bersama Frita?” tanya Aditya.
“Saya ingin ikut ke pesta itu, setidaknya sebagai pengawal pribadi Frita. Mungkin itu adalah momen terakhir saya melakukan tugas untuk mengawal dia. Kesepakatan kita juga akan segera berakhir.”
“Maafkan aku Dit. Kelihatannya kesepakatan kita tidak akan terpenuhi semuanya.”
“Tidak masalah, saya juga waktu itu sebenarnya hanya bercanda saja. Terimakasih atas sikap baik anda sekeluarga selama ini.”
“Akulah yang seharusnya berterima kasih Dit. Sudah beberapa kali kamu berkorban untuk menyelamatkan Frita dari marabahaya bahkan kamu sampai tidak peduli dengan dirimu sendiri.”
“Itu tidak seberapa jika dibandingkan budi baik anda selama ini. Jika beberapa tahun yang lalu saya tidak bertemu dengan anda mungkin kehidupan saya akan jadi lebih buruk lagi.”
“Tidak, kamu memang pantas mendapatkan ucapan terimakasih dariku. Padahal dahulu dengan egois aku ingin kamu menjadi pengawal pribadi anakku sendiri dan memerintahkanmu untuk melindunginya dari bahaya padahal kamu tidak ingin terlibat lagi dengan masalah seperti itu. Sekarang setelah kamu berkorban banyak malah keluargaku sendiri yang menghianatinya. Aku benar-benar minta maaf.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, saya sendiri yang sudah menyetujuinya waktu itu. Karena itulah besok saya ingin menyelesaikan tugas terakhir saya sebagai pengawal Mbak Frita.”
“Maaf aku juga tidak bisa membantumu untuk besok. Aku sejak beberapa hari yang lalu sudah meminta Gina agar mengizinkanmu ikut bersama Frita untuk melindunginya, tapi dia menolaknya. Sekali lagi aku minta maaf.”
“Hemh, jika memang begitu saya juga tidak masalah,” jawab Aditya pelan.
Malam itu mereka bermain catur hingga larut malam sambil bercanda. hubungan mereka sudah bagaikan ayah dan anak saja. Aditya berhasil memenangkan semua pertandingan itu. Tengah malam mereka baru beranjak tidur. Entah kenapa malam itu Aditya tidak bisa terlelap. Pikirannya terus melayang memikirkan semua yang telah terjadi dan yang akan terjadi.
Frita di kamarnya juga sedang duduk di dekat jendela menatap gelapnya malam. Dia tidak merasakan kantuk sama sekali walaupun jam dinding sudah menunjukan waktu tengah malam. Matanya tapak nanar menahan air mata yang terus mendesak hendak keluar. Hatinya benar-benar kacau dia sendiri masih bimbang dengan pilihannya saat ini. Menjelang dini hari barulah Frita dan Aditya bisa terlelap.
Pagi harinya Aditya dikagetkan dengan suara ponselnya yang berdering. Nomor telepon rumah terpampang di layar ponselnya. Aditya segera menerima panggilan itu dengan waspada. Ternyata yang menelepon adalah Gina.
“Selamat pagi juga bu. Ada keperluan apa pagi-pagi begini?” tanya Aditya.
“Aku ingin mengundangmu untuk ikut ke acara pesta mewah yang diadakan di kapal pesiar itu,” jawab Gina.
“Kok tiba-tiba begitu bu?”
“Ya itung-itung upahmu menjaga Frita selama ini walaupun kamu tidak berguna sih, tapi itu sebagai ucapan terimakasih saja dariku, anggap saja ini tugas terakhirmu untuk mengawal Frita.”
“Terimakasih banyak bu, saya pasti akan datang.”
“Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu. Aku juga sebentar lagi akan ke sana untuk menjemput Frita. Tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Kamu tidak boleh datang bareng bersamaan dengan Frita, kamu sebaiknya datang ke sana menggunakan tumpangan lain saja agar ada jeda waktunya.”
“Baiklah,” jawab Aditya.
Setelah panggilan diakhiri Aditya termenung sejenak. Dia sadar ada yang tidak beres dengan undangan tiba-tiba ini. Tapi cuma ini kesempatan terakhirnya untuk bisa bersama Frita. Apapun resikonya dia tidak akan ragu sedikitpun.
__ADS_1
Ponsel Aditya kembali berbunyi, ternyata Gina sudah mengirimkan lokasi pestanya. Aditya kemudian segera mandi dan bersiap siap. Sebelum pergi ke lokasi dia ingin mengunjungi satu tempat terlebih dahulu. Dia yakin ini adalah momen yang tepat untuk membawanya.
BERSAMBUNG…