Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 44


__ADS_3

Beberapa pembalap tampak mulai mencoba melewati Aditya, namun tidak ada celah yang dibuat oleh Aditya. dia terus mempertahankan posisinya di urutan ketiga. Beberapa pembalap mulai mengaktifkan sistem NOS di mobilnya untuk melewati Aditya. namun setelah NOS nya habis Aditya kembali bisa melewatinya dengan mudah.


Pembalap lain di kualifikasi itu mulai sadar kalau kemampuan menyetir Aditya tidak bisa diremehkan seperti penampilannya. Aditya akhirnya berhasil lolos ke balapan final karena mendapatkan posisi ketiga di kualifikasinya.


“Hore! Selamat Kak, berhasil masuk ke balapan final!” teriak Clarissa.


“Sudah kubilang nggak usah teriak-teriak kaya begitu Ris.”


“Eh maaf aku lupa lagi.”


“Kalian masih di tempat yang tadi kan?”


“Tentu saja kak. Dari tadi kami nggak ke mana-mana, cuma nyari minuman sama makanan ringan doang.”


“Oke. Terus waspada ya, ingat jangan mancing keributan. Kalau ribut, aku batalin deh ikut balapannya.”


“Iya Kak tenang saja, nggak usah mengancam begitu juga.”


Sebelum balapan final dimulai tampak ada petugas khusus yang memeriksa semua mobil peserta karena dikhawatirkan ada yang akan berbuat curang. Beberapa pembalap terdengar mulai dipanggil untuk mengatur posisi balapan final. Ketika mendengar panitia menyebut Mentarinya Bandung, Aditya sedikit penasaran dan melihat ke arah jalan.


Aditya sangat terkejut karena orang yang berjuluk Mentarinya Bandung adalah Ratna Riani, wanita yang tadi bercekcok dengan Clarissa di restoran. Ratna tampak melambai lambaikan tangannya ke arah penonton sambil mengemudikan mobilnya ke posisi yang sudah disediakan. Setelah Ratna nomor 63 juga dipanggil untuk segera mengisi posisi. Aditya mengemudikan mobilnya ke posisi. Mereka berdua ternyata berdampingan.


“Kak, kalahkan wanita itu! Buat dia nangis nangis!” kata Clarissa dengan kesal.


“Kelihatannya mengalahkan wanita itu akan sulit sekali Ris,” jawab Aditya.


“Kenapa?”


“Kamu dengar sendiri kan wanita itu dipanggil Mentarinya Bandung?”


“Lalu apa hubungannya Kak?”


“Aku dengar selama ini Mentarinya Bandung tidak pernah kalah dalam balapan seperti ini. Karena itu dia begitu terkenal di kalangan geng dan pembalap liar. Mungkin hanya warga biasa seperti kita saja yang belum mendengar julukannya.”


“Jangan pesimis gitu dong kak. Aku yakin kakak bisa menang, nggak peduli lawannya Mentarinya Bandung kek, Senjanya Bandung kek atau apanya Bandung lainnya.”


“Ya semoga saja,” jawab Aditya dengan semangat.

__ADS_1


Mobil Aditya berada tepat di samping kiri mobil Ratna. Tampak Ratna hanya berdiri di samping mobilnya sambil tersenyum menatap Aditya. kelihatannya dia tidak heran jika Aditya berhasil melalui babak kualifikasi. Aditya keluar dari mobilnya.


“Aku tidak menyangka jika kamu malah mempertahankan posisi ketiga daripada harus mengejar posisi pertama di kualifikasi,” ucap Ratna.


“Aku sebenarnya ingin mendapat posisi pertama tapi itu begitu sulit,” jawab Aditya.


“Kamu mungkin bisa menipu mata orang lain, tapi mataku bisa melihatnya jika kamu sengaja untuk bertahan di posisi ketiga.”


“Terserah kamu saja. yang jelas aku hanya dipaksa mengikuti balapan ini.”


“Oh, oleh adikmu yang nakal itu ya? Sayang sekali, tapi aku tidak akan segan untuk membuatnya menangis dan meminta maaf kepadaku.”


“Bilang padanya kak kalau dia pasti akan kalah!” teriak Clarissa karena kesal mendengar kata-kata Ratna. Namun Aditya tidak mempedulikannya.


“Kalau kamu memang sekejam itu tampaknya aku juga harus berusaha untuk memenangkan balapan ini.”


“Bilang padanya kalau dia yang akan nangis sambil minta maaf kepadaku!” teriak Clarissa lagi, namun Aditya tidak menanggapinya.


“Baguslah.”


Setelah semua pembalap berada di posisi, penyelenggara mempersilahkan para pembalap masuk ke mobilnya. Wanita seksi pembawa bendera juga sudah berdiri di posisi terdepan sambil berlenggak lenggok. Suara mobil menderu terdengar jelas oleh semua orang yang ada di sekitar jalanan balap. Ketika bendera dikibarkan oleh si wanita, semua mobil melaju dalam kecepatan tinggi. Trek balap kali ini lebih panjang dari saat kualifikasi.


Seorang pria betopi hitam yang bertemu dengan Aditya di bengkel tampak tersenyum melihat balapan yang sedang berlangsung. Di dekatnya tampak ada beberapa pria sangar, beberapa mobil mewah juga terparkir di sana. Mr. Bark bersama teman-temannya dan juga Mr. K sedang duduk di kursi yang tidak jauh darinya.


“Bos, kenapa anda malah memilih untuk bertaruh kepada pembalap nomor 63 sebagai pemenang balapan?”


“Iya bos. Bahkan tadi beberapa bandar menertawakan anda.”


“Aku hanya mengikuti Feelingku seperti biasanya,” kata pria itu menjawab pertanyaan anak buahnya.


“Apa bos yakin dia akan memenangkan pertandingan? Bukankah Mentarinya Bandung lebih meyakinkan?”


“Aku sangat yakin dengan Feelingku terutama setelah melihatnya balapan dikualifikasi tadi.”


“Memangnya apa yang spesial dari dia Bos?”


“Setiap langkah yang dia buat selalu didasari oleh rencana yang matang. Setiap detik yang dia lalui dalam balapan tampak tidak ada yang sia-sia.”

__ADS_1


“Begitu ya. Selain itu kenapa Bos juga malah bertaruh beberapa pembalap yang bukan unggulan dalam sepuluh besar?”


“Selain Mentarinya Bandung dan anak muda mengejutkan itu, aku rasa Mr. K sudah merencakan sesuatu terhadap pembalap unggulan lainnya. Itu bisa terlihat jelas di wajahnya, wajah bandar judi, dan wajah pembalapnya sendiri.”


“Bos memang luar biasa, tidak salah anda dijuluki Dewa Judinya Bandung.”


Pria bertopi hitam itu hanya tersenyum menanggapi pujian anak buahnya. Dengan tatapan tajam dia melihat balapan yang sedang berlangsung. Perhatiannya tertuju kepada mobil Aditya dan mobil Ratna yang terpaut jarak yang cukup jauh. Dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh Aditya dalam posisi tidak menguntungkan seperti itu.


Mr. K dan Mr Bark beserta beberapa bandar judi lainnya tampak sedang tertawa senang sambil menikmati hidangan yang ada di mejanya. Mereka bahagia karena balapan kali ini kelihatannya akan menguntungkan sekali. Dari pendaftaran pembalap dan penonton saja mereka sudah untung banyak. Belum lagi jika nanti para pejudi yang ikut bertaruh dalam balapan kali ini mengalami kekalahan.


“Kelihatannya malam ini keuntungan yang akan kita dapatkan adalah yang terbesar semenjak kita bekerja sama Mr. K,” ucap Mr. Bark sambil meminum wine yang ada di gelasnya.


“Aku sangat yakin akan hal itu Mr. Bark. Hahaha,” jawab Mr. K.


“Kelihatannya Dewa Judinya Bandung juga sedang banyak pikiran malam ini,” ujar bandar judi lainnya.


“Ya. Bahkan dia berani bertaruh pembalap amatiran nomor 63 akan memenangkan balapan ini, benar-benar payah.”


“Aku setuju, mungkin malam ini adalah malam paling sial dalam hidupnya. Karena semua taruhannya salah,” ujar Mr. Bark.


“tapi aku cukup kagum dengannya karena hampir semua pembalap titipan yang akan kita menangkan berada dalam list taruhannya. Walaupuun urutannya menjadi salah karena memasukan nomor 63 itu,” kata Mr. K.


“Ya kamu benar. Jika saja dia tidak bertaruh untuk nomor 63 itu maka malam ini dia akan untung banyak.”


“Mungkin jika di Bandung ada sepuluh orang yang seperti dia. Tentunya sudah tidak akan ada bandar judi lagi karena semuanya bangkrut,” seloroh Mr. Bark.


Semua orang yang ada di sana tertawa senang. Mereka benar-benar gembira. Tampak seorang pria datang menghampiri Mr. K. di tangannya tampak sebuah list dari pembalap yang ikut di babak final.


“Lapor Bos, semua pembalap unggulan yang bukan titipan sudah siap di singkirkan. Saya sudah menandainya di dalam list itu,” lapor pria itu.


“Bagus. Nanti kalian hanya perlu menunggu komando dariku,” jawab Mr. K.


“Baik Bos.”


“Kalian bersiap saja dari sekarang.”


Pria itu pergi setelah menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan perintah Mr. K. tampak Mr. K dan bandar judi lainnya sekarang mulai fokus memperhatikan balapan dengan tatapan tajam seolah mereka tidak ingin melewatkan momen sekecil apapun dalam balapan itu.

__ADS_1


“Tuan-tuan sekalian, mari kita mulai menikmati balapannya,” ucap Mr. K sambil tersenyum.


BERSAMBUNG…


__ADS_2