Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 264


__ADS_3

Vanesa tiba-tiba berkata dengan kesal, “Kamu apa-apaan sih, Sayang!”


Reza tampak kaget dan menoleh ke pacarnya yang seksi itu, “Kenapa?”


“Itu kenapa kamu kasih pinjam mobil mahalmu! Biar pakai mobil mereka sendiri sajalah! Tadi si Clarissa bego itu sudah bikin kempes ban mobilmu,” sahut Vanessa tak terima.


Reza tersenyum dan akhirnya berteriak pada Aditya yang sibuk melihat-lihat mobil mana yang akan ia pakai untuk balapan.


“Woi, Bro! Kita balapan pakai mobil masing-masing saja. Oke?” kata Reza.


Para penonton bersorak setuju dan meledek Aditya dengan tawa mereka yang keras.


Aditya diam saja dan hanya mengangkat kedua tangan, tanda menyetujui usulan itu. Mobil yang tadi dibawa dari rumah Shelly D adalah Audi A7.


“Dit, kamu pasti kalah kalau begini,” gumam Shelly D yang duduk menjauh dari kerumunan. Di dekatnya ada Clarissa dan temannya yang masih menangis sesenggukan.


“Mana kuncinya?” tanya Aditya pada Shelly D. “Kupinjam sebentar untuk memberi mereka pelajaran. Oh, ya, kalian sebaiknya langsung pulang saja naik taksi. Pak, titip mereka ya.”


Aditya tak memberi jeda untuk Shelly D ataupun Clarissa protes, selain segera saja meminta sopir Shelly D mengajak mereka pergi dari situ naik taksi.


“Kenapa harus pergi? Kami mesti di sini, memastikan kamu baik-baik saja, Kak!” tukas Clarissa kesal.


“Sudahlah, aku ada rencana,” kata Aditya tenang. “Pak, tolong bawa mereka pergi sesegera mungkin.”


Sang sopir mengangguk tanpa bicara. Shelly D diam dan mengikuti saja ide Aditya barusan. Entah mau apa dia. Shelly D harap tak akan ada apa-apa.


Tentu saja mobil Shelly D itu sebuah mobil yang amat mungkin membuat Aditya kalah. Betapa tidak? Mobil pilihan Reza jauh di atas itu, yaitu Aston Martin. Sulit bagi Shelly D membayangkan Aditya kalah dan dibuat malu atas taruhan yang tak pantas itu. Siapa juga yang punya ide pertama agar Clarissa dan sang teman harus telanjang kalau mereka kalah?


Aditya jelas tahu dia pasti kalah, tapi dia mencoba tetap tenang. Dia mengikuti sang promotor acara balap liar itu, seorang pemuda kurus kering yang bertato banyak di nyaris semua permukaan kulitnya.


Reza memanggil promotor itu Bang Jan.

__ADS_1


“Bang Jan, tolong beri tahu dia rutenya,” kata Reza pada sang promotor.


Aditya menuju ke dekan Bang Jan, dan di sana terdapat meja duduk di teras sebuah bangunan yang tak terpakai. Di sanalah selama ini Bang Jan duduk sambil merokok dan mengamati keributan para penonton balap.


Bang Jan membuka laptop dan menunjukkan map pada Aditya, rute jalan raya yang harus mereka lalui. Jarak tempuh hanya beberapa kilo saja, berputar dua lap, tapi entah ada berapa banyak kelokan.


“Yang keluar dari jalur, dinyatakan kalah,” kata Bang Jan pendek selagi Aditya tak henti menghafal rute tersebut. Ia tahu kawasan ini. Ia jelas tahu juga bagaimana jika dia seharusnya memotong jalan.


Namun, Aditya sama sekali tak berencana memotong jalan. Ia juga tak berencana menyabotase mobil Reza. Ia dengan gagah berani maju ke arena balap dengan mobil yang jelas sudah kalah sejak awal.


Reza tak tahu Aditya sudah menyiapkan sesuatu.


“Ayolah, cepat, kita mulai sekarang!” kata Aditya sambil terus mengamati jam pada ponsel pintarnya.


“Oke, siapa takut!” sahut Reza.


Tak lama, mereka pun sudah beradu di jalanan. Aspal menebarkan debu di sekitar garis start. Orang-orang sudah melihat persaingan tak seimbang antara dua mobil itu. Di depan, Reza memimpin, begitu lincah, melewati tiga kali tikungan berbentuk huruf S, tanpa sedikit pun mengurangi jaraknya dengan Aditya, kecuali terus menjauh.


***


Sejak start, Aditya sudah menghubungi Jimmy Wijaya.


“Kenapa kalian lama sekali?” tanya Aditya di telepon.


“Siapa ini?” balas Jimmy agak kesal.


“Aku Aditya. Tadi Shelly D telepon kalian. Dia bersamaku. Sekarang sedang ada balap liar di tepi kota, dekat perumahan terbengkalai. Polisi di mana?” kata Aditya tanpa basa-basi.


Jimmy segera paham. “Oh, ternyata kamu. Ada apa lagi, Dit? Masalah apa lagi ini?”


“Adik Frita butuh bantuan. Orang-orang ini bermaksud melecehkannya. Sekarang kalian harus menggerebek markas balap itu,” sahut Aditya sambil terus fokus ke jalan raya.

__ADS_1


Malam hari membuat beberapa belokan tampak tak jelas. Aditya bukan takut dia kalah. Ia justru takut menabrak sesuatu atau seseorang hingga membuat orang lain yang tak bersalah jadi terluka.


Jimmy menjawab, “Aku dan beberapa petugas sedang perjalanan. Tadi ada sedikit kesibukan. Mungkin satu menit lagi sampai.”


“Bagus.”


Aditya terlihat puas. Ia segera keluar dari jalur yang ditunjukkan Bang Jan. Ia tidak peduli sekalipun mobil Shelly D tadi sudah dipasangi GPS untuk mencari tahu jika ada kecurangan. Aditya malah dengan santai berhenti di halaman sebuah toko, dan mencopot alat itu.


“Nah, sekarang saatnya pualng dan tidur dengan nyenyak,” pikirnya dengan senang.


Aditya yang kini bertekad menjauhi masalah, mungkin saja sudah membuat Reza dan Vanessa kesal bukan main. Tapi, polisi sedang menuju tempat balap mereka. Suatu lokasi yang tadi sekilas dia dengar sudah berlangsung selama beberapa bulan tanpa ada yang berani melapor.


***


Polisi tiba di markas balap itu tak lama setelah Aditya dan Reza tancap gas. Vanessa terlihat sangat panik, karena dia sendiri tahu tempat ini adalah tempat berkumpul para pengedar narkoba kelas teri dan para pelaku bisnis prostitusi online.


Polisi benar-benar membuat mereka kalang kabut. Banyak yang tertangkap. Jimmy tak sudi meloloskan Vanessa yang terlihat arogan, mengatakan ia bisa membeli selmua petugas dengan uang.


“Sayang sekali kami enggak bisa dibeli, Nona,” kata Jimmy tegas.


Vanessa tetap melawan dengan kata-kata kasar.


Jimmy bilang, “Sebaiknya kamu jelaskan nanti di kantor polisi.”


“Dasar kampungan!” jerit Vanessa jengkel.


Reza yang belum tahu situasi di titik start, merasa heran melihat kerumunan yang lebih padat di depannya sana. Ia bahkan mengira sudah akan menyalip Aditya untuk lap kedua.


Namun, terpaksa Reza berhenti. Dia dihadang lusinan polisi. Tak mungkin kabur dan ia tak ingin kabur. Lagi pula ia bisa bebas dengan sedikit upaya oleh keluarganya nanti. Ia malah memendam sakit hati, merasa bahwa Aditya layak membayar semua ini. Ia yakin Aditya-lah yang melaporkan balap liarnya ke polisi.


“Gue gak bisa biarin orang ganggu bisnis sampingan gue,” batinnya penuh dendam.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2