Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 217


__ADS_3

Setelah orang-orang menyerbu rumah Paman Salim, Dirga dan dua temannya justru tak terlihat. Mereka sibuk mengusik Diana yang dengan terpaksa tidak jadi pulang ke apartemennya di Jakarta.


Diana tahu semua kesialan yang menimpa Paman Salim adalah ulah Dirga.


“Sebaiknya kalian berhenti melakukan ini. Kalian tahu apa akibatnya jika kelakuan kalian kubongkar?” kata Diana geram di ruang tamu kontrakannya.


“Bongkar saja kalau punya bukti. Yang jelas, gue bekerja dengan bersih. Gak ada bukti sama sekali!” kata Dirga dengan santai. Lagaknya seperti sudah siap menerjang Diana dengan segala kenafsuannya.


“Bajingan kamu! Jangan kamu pikir karena kamu anak Pak Lurah, kamu bisa saja berbuat seenaknya!” balas Diana yang mundur dan mundur menjauh dari kepungan Dirga, Bandi, dan Pirlo.


“Sudah dong, Diana. Gue capek begini terus! Mending kamu menyerah saja. Ayo, kita pacaran dan semua masalah Pak Salim bisa segera kubereskan,” kata Dirga yang kini mulai lancang menyentuh-nyentuh pundak Diana yang kebetulan saat itu sedang memakai kaus berlengan pendek.


“Pergi! Kalian semua pergi! Tunggu sampai Deri datang dan menghajar kalian bertiga!” bentak Diana.


Bandi dan Pirlo serempak tertawa.


Dirga berkata, “Deri itu goblok. Dia tadi lagi di warung dan sedang asyik makan. Dia tidak tahu kalau minumannya yang disiapkan pemilik warung di dapur sudah kami beri obat tidur! Hahaha!”


“Ya, dan sekarang body guard kalian itu lagi asyik ngorok di warung!” sahut Bandi dengan puas.


Diana tak berkutik dan akhirnya memilih lari keluar lewat pintu belakang. Dia pergi ke rumah Paman Salim yang kini dikepung oleh warga. Lelaki tua itu ditanya segala macam yang tentu saja beliau tak tahu kenapa bisa begitu.


“Saya ndak pernah jual ubi beracun! Saya selalu jual yang baru dibeli dari pasar!!”


“Kalau begitu, tidak mungkin Aris dan Pak Rahman keracunan!” kata salah seorang warga.


“Kok bisa? Pak Rahman ndak pernah beli ubi di saya, begitu pun istrinya!” ujar Paman Salim terheran-heran.


“Ya. Pak Rahman memang tidak beli. Tapi tadi beliau nekat mencoba buat buktikan kalau ubi itu tidak beracun. Eh, ternyata kena juga!”


Diana tidak bisa berbuat banyak, kecuali menenangkan warga yang mulai terbakar emosi. Untung saja ada ketua RT cukup baik hatinya, bernama Pak Bambang. Dialah yang akhirnya meminjamkan mobilnya untuk mengantar dua warganya tersebut ke rumah sakit.


Pak Bambang juga yang berupaya menenangkan warga.


Diana berkata pada Pak Bambang saat warga masih sibuk melempar perkataan satu sama lain dan menyerang Paman Salim dengan banyak pertanyaan.


“Pak RT, saya tahu Pak Salim orang yang jujur. Ubi itu pasti sudah diracuni entah oleh siapa. Kalau bisa, mari kita buktikan saja siapa yang sudah beli ubi Pak Salim hari ini. Mereka keracunan atau tidak?”


Solusi itu dirasa masuk akal juga bagi Pak RT. Maka, dia berkata, “Kalian tenang dulu, Bapak-bapak, Ibu-ibu! Tenang dulu! Jangan main tuduh begini! Sekarang saya tanya, siapa yang beli ubi Pak Salim hari ini?”


Beberapa warga mengacungkan tangan.


“Nah, sudah dimakan belum?” sambung Diana. “Kalau sudah, apa Bapak dan Ibu sekalian keracunan?”


“Sayangnya kami belum makan, Nak,” kata seorang ibu paruh baya.

__ADS_1


“Ya, dan sekarang kami tidak bakal mau makan setelah dua warga keracunan!” kata pembeli lain.


Pak Bambang mencoba menenangkan warga yang kian meriuh, tapi sayangnya tak bisa. Tentu saja Dirga segera datang sebagai serigala berbulu domba. Ia mendadak saja menjelma malaikat penolong bagi Paman Salim.


“Hei, daripada kalian ribut begini, sebaiknya kita selesaikan secara kekeluargaan saja!” teriak Dirga di tengah kerumunan warga.


“Apa maksudmu?”


“Ya, Pak Salim hanya perlu membayar ganti rugi pada korban. Itu saja. Dan nanti kita pastikan dia tidak menjual barang beracun lagi!” sahut Dirga.


Warga sepertinya terlihat setuju saja atas usulan itu. Lagi pula, Pak Salim sudah tua dan mereka kasihan juga terus mendesaknya.


“Nah, urusan perdamaian antara Pak Salim dan dua korban biar saya dan Pak Lurah yang urus. Saya kenal betul Diana yang mengurus Pak Salim selama ini. Kalian jangan khawatir,” kata Dirga sambil melirik Diana penuh *****.


Diana ingin menyemburnya dengan sumpah serapah, tapi sepertinya itu tidak bisa ia lakukan sekarang. Sepertinya Dirga memiliki taktik tertentu dan ia masih perlu diam menunggu.


Pak Bambang mencoba menengahi, ikut menyelesaikan masalah ini begitu semua warga pulang. Tapi Dirga bilang, “Pak RT pulang saja. Biar kami yang selesaikan.”


Dirga menatap lelaki itu dengan tatapan yang sudah cukup dikenal. Suatu tatapan yang bermakna: Lebih baik kau menyingkir sebelum ketiban sial juga seperti Pak Salim ini.


Akhirnya, Pak RT yang bisa diandalkan pun tidak berkutik juga. Terpaksa mundur karena takut berurusan dengan Dirga yang semena-mena. Para warga sementara itu juga sedikit meragukan apa yang akan dilakukan Dirga itu benar ataukah tidak? Mereka pikir yang terpenting Aris dan Pak Rahman diobati.


Sekarang hanya ada Dirga, Bandi, Pirlo, Diana, dan Paman Salim di teras rumah itu.


“Ini rumahku! Kamu jangan macam-macam!” Tampaknya Paman Salim sudah tahu siapa dalang di balik semua ini.


Begitu di dalam, Dirga mengeluarkan surat perjanjian. Diana bertanya-tanya apa isi surat itu?


“Penyerahan sejumlah tanah milik Pak Salim jika tidak mampu membayar obat dan seluruh tagihan rumah sakit untuk Aris dan Pak Rahman,” kata Dirga.


“Bagaimana mungkin? Ini jelas mengada-ada!” sambar Diana, yang jengkel dengan kelicikan Dirga.


“Oh, ya. Bisa saja. Kalau tidak, akan ada lebih banyak kasus keracunan lagi di desa ini yang menyusahkan Pak Salim,” kata Dirga dengan tampang yang kini terlihat sangat serius.


“Apa maksudnya?” tanya Diana.


“Tunjukkan fotonya,” kata Dirga menoleh pada Bandi.


Bandi mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri, lalu menunjukkan foto sejumlah ubi yang dibuang di pinggir sawah. Ubi tersebut berwarna kehijauan, terlihat tak wajar dan jelas mengandung racun.


“Nah, kamu tahu maksudnya? Orang desa ini bodoh dan mudah dihasut. Pak Salim sudah dicap meracuni pembelinya. Mungkin tujuannya ingin menjual ubi segar, lalu dia beri obat kimia entah apa biar ubinya terlihat bagus. Dan ternyata itu malah beracun,” kata Dirga.


Diana tak berkata apa-apa, masih mencoba merangkai arah perkataan Dirga.


“Lalu,” kata Dirga melanjutkan, “karena ubi tersebut gagal diberi obat, dia segera membuangnya ke sawah. Kalau tidak diambil sampai besok pagi, sawah beserta padinya akan mengandung racun. Itu sawah milik para warga. Bisa dibayangkan betapa marah mereka kalau itu terjadi.”

__ADS_1


Diana pun membanting asbak yang ada di depannya, hingga mengenai kaki Bandi, yang mengaduh kesakitan. “Sekarang kalian singkirkan ubi itu dari sawah! Ayo, cepat! Kalian mana bisa menuduh Pak Salim begitu?”


“Masa? Coba saja periksa lemari perkakasnya,” kata Dirga dengan ekspresi yang lagi-lagi terlihat tenang.


Diana tak sabar dan berlari ke dapur. Memeriksa lemari perkakas Paman Salim. Di situ terdapat sejumlah botol obat kimia yang entah untuk apa saja. Ia jelas tahu tak ada botol-botol itu selama ini. Dirga dan dua temannyalah yang menaruhnya di sana ketika warga ribut di depan.


“Bisa-bisanya kalian begini. Saya salah apa?” Paman Salim hanya bisa menunduk pasrah.


“Bajingan kamu, Dirga,” geram Diana.


“Yah, kalau perjanjian ini tidak harus terjadi, gue masih bisa meminta sesuatu yang lain,” kata Dirga menatap Diana penuh arti.


Diana tak bisa berpikir lagi. Ia bisa saja mencari ubi-ubi di sawah itu, tapi di desa ini, sawah begitu luas. Apakah cukup waktu untuk mencari tahu petak mana saja yang sudah diracuni oleh Dirga dan teman-temannya ini demi mendapatkan dirinya?


Ah, ya, Diana yakin itulah tujuan utama Dirga. Sebab, dia segera mendengar Dirga berkata, “Kamu harus menikah denganku. Setelah perjanjian lain kamu tanda tangani denganku, Pak Salim bebas.”


“Apa-apaan ini?!” bentak Diana tak tahan lagi.


Paman Salim segera menahan Diana yang marah tak keruan ingin menggampar si Dirga.


Paman Salim berkata bersedia menandatangani semua itu, asal ubi-ubi yang tidak pernah beliau buang di sawah itu disingkirkan supaya sawahnya tidak keracunan.


Deri datang pada saat itu. Ia mengamuk, tapi sia-sia saja. Meski ia dengar kesaksian Diana, ia toh juga tak tahu di mana ubi-ubi berancun itu dibuang.


“Tolong, biarkan saya berpikir dulu, Dirga. Saya harus bicara dengan Aditya dulu,” kata Paman Salim.


“Tidak bisa. Pak Salim harus tanda tangan sekarang juga,” sahut Dirga tak sabaran.


Diana dengan sigap segera merebut kertas itu, merobek-robeknya secepat yang dia bisa dan membuangnya ke lantai.


“Nah, bisa apa kalian sekarang! Ayo, Bang Deri, cepat telepon Aditya!” kata Diana.


“Brengsek kamu, ya,” gerutu Dirga. Kini ia merasa benar-benar konyol. Harusnya ia membawa salinan kertas perjanjian untuk Paman Salim, tapi tadi mereka terlalu buru- buru.


Dirga, Bandi, dan Pirlo pun pergi setelah mengancam akan kembali lagi membawa kertas berisi perjanjian yang sama.


“Apa yang mesti kita lakukan?” tanya Diana pada Deri.


Deri terlihat gelisah karena Aditya tidak juga mengangkat telepon. Malah, tak lama setelah itu nomornya tak bisa dihubungi.


“Biar kucari ubi-ubi itu. Aku akan minta bantuan warga,” kata Deri.


Ia berangkat malam itu juga, menjemput sebagian warga yang sudah ia kenal demi menolong Paman Salim.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2