Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 53


__ADS_3

Aditya masuk ke dalam ruangan latihan beladiri usai melaksanakan hukuman yang diberikan Heni. Sopir lain terdengar mulai mencemoohnya karena terlihat begitu kelelahan. Padahal Aditya hanya berpura-pura saja.


“Haduh, kalo sudah berumur emang susah ya,” sindir Wira.


“Duh pinggang kakek sakit nih,” ledek Jana. Sopir yang lain tertawa mendengarnya.


“Seperti biasa, setelah latihan kalian bisa beristirahat. Khusus untuk hari ini kami akan melakukan evaluasi perihal perkembangan kamampuan kalian setelah berlatih beberapa hari ini,” jelas Wakil kepala bagian keamanan.


“Dani sudah diperintahkan bu Heni untuk menjadi lawan tanding bagi kalian semua. Sekarang silahkan duduk sambil membuat lingkaran. Nanti yang di panggil namanya silahkan maju ke depan,” jelasnya lagi.


Semua sopir dan calon satpam duduk sambil membuat lingkaran. Pria yang bernama Dani maju ke tengah lingkaran. Dia adalah salah satu anggota bagian keamanan perusahaan Glow & Shine Co. bahkan melihat postur tubuhnya saja membuat Jana terlihat sedikit ragu untuk melawannya.


Beberapa nama mulai di panggil. Orang yang dipanggil diharuskan untuk menghadapi Dani dengan tangan kosong. Namun sejauh ini belum ada yang mampu memojokkan Dani. Semuanya bisa ditumbangkan dengan mudah ke lantai. Jika bukan dalam keadaan seperti ini sebenarnya Aditya cukup tertarik untuk menghadapinya.


“Jana!” panggil wakil kepala.


“Huuy, tunjukin kemampuanmu Jan!”


“Kami mengandalkanmu!” teriak sopir lain menyemangati Jana.


“Tenang saja,” jawab Jana sambil tertawa.


Aditya hanya tersenyum saja melihatnya. Jana terlihat menggerakan kedua bahunya dan bersiap. Jana mulai menyerang dengan beberapa pukulan. Namun semuanya bisa ditahan dengan mudah oleh Dani. Dengan cepat Dani mencoba menendang Jana, namun dengan lihai Jana melompat menghindarinya.


Dani terlihat cukup terkesan dengan kemampuan Jana. Dengan cepat dia memberikan beberapa pukulan beruntun. Jana tampak kesusahan menghindarinya bahkan beberapa pukulan berhasil mengenai tubuhnya. Dalam posisi yang tidak seimbang Dani memegang tangan Jana kemudian membanting tubuhnya ke matras.


“Yaah..”


“Dia kalah juga,” gumam beberapa sopir.


“Lumayan juga kemampuanmu. Sayangnya keseimbangan tubuhmu masih harus dilatih lagi,” jelas Dani.


“Jika bukan di perusahaan mungkin lu yang tadi terkapat di matras,” gertak Jana pelan, dia merasa malu karena bisa dikalahkan di depan sopir lainnya.


“Sayang sekali bro gertakan seperti itu tidak akan mempengaruhi nilaimu,” jawab Dani dengan santai.

__ADS_1


Aditya tertawa kecil melihat kelakuan Jana. Dia tidak menyangka jika di situasi seperti ini Jana masih menggunakan gertakan. Setelah Jana kemudian Wira yang di panggil. Dengan santainya dia maju ke depan sambil menatap tajam ke arah Dani. Aditya merasa kalau Wira benar-benar berhati-hati agar tidak bersikap sombong. Mungkin dia takut dipermalukan.


Mereka berdua mulai saling jual beli serangan. Beberapa kali Wira berhasil melayangkan pukulannya ke Dani namun Dani tampak tidak merasa sakit sama sekali. Pada akhirnya Wira juga selesai dengan satu bantingan hingga tergeletak di lantai.


“Kecepatan seranganmu memang bagus, hanya saja tenagamu masih lemah. Percuma jika kamu berhasil menyerang namun serangannya tidak terasa sama sekali,” jelas Dani.


“Begitu ya,” gumam Wira.


“Aditya Laksmana!” panggil wakil kepala.


“Lah jagoan kita ini akhirnya maju,” ledek Jana.


“Jangan macam-macam! dia itu begitu-begitu juga veteran OB tahu,” timpal Wira.


Beberapa sopir tampak tertawa terbahak bahak mendengarnya. Aditya cukup kesal mendengarnya. Sebenarnya dia sangat ingin menunjukan kemampuannya. Namun dia mencoba untuk menahan emosinya.


Aditya kemudian maju menyerang Dani. Namun semua serangan asal-asalan Aditya bisa ditahan dengan mudah. Dani membalas melayangkan beberapa pukulan dan berhasil mengenai tubuh Aditya, namun dia tidak terlihat kesakitan sedikitpun. Dani merasa kaget melihatnya. Namun beberapa menit kemudian Aditya terkapar di matras setelah dibanting Dani.


“Awalnya aku pikir kemampuanmu begitu hebat. Tapi ternyata terlalu banyak kekurangan di setiap gerakanmu. Mungkin yang mengesankan hanyalah daya tahan tubuhmu saja,” jelas Dani.


“Terimakasih banyak,” jawab Aditya.


“Aku tidak pernah mempermasalahkan bakat, bagiku mau jadi seperti apapun seseorang jika dia bekerja keras pasti akan bisa mewujudkannya,” jawab Aditya.


“Wow dia mulai sok bijak rupanya,” sela Wira.


“Maklumlah Wir orang dia memang Cuma bisa membual doang,” timpal Jana.


Aditya paham jika Jana dan Wira sepertinya sudah tidak takut lagi hanya dengan tatapannya karena tadi dia sengaja tidak menunjukan kemampuannya. Mungkin karena mengira dirinya lebih lemah dari mereka berdua makanya kini mereka semakin berani meledeknya.


“Berisik!” bentak Heni yang baru datang di ambang pintu.


“Kayak anak kecil saja ya,” gerutu Heni, dia berjalan masuk bersama seorang wanita cantik. Aditya mengernyitkan dahinya menatap wanita itu.


“Siapa tuh cantik banget.” Bisik seorang sopir.

__ADS_1


“Duh mantep banget. Bisa nyaingin bu Frita ini mah.” Bisik yang lainnya.


“Aku pernah melihatnya waktu ada keperluan di bagian keuangan.”


“Pantesan aku baru melihatnya. Orang dari bagian keuangan ya,” gumam Jana.


Suasana di ruangan itu kembali gaduh karena membicarakan kecantikan wanita yang baru datang bersama Heni. Mereka terdiam setelah Heni berteriak kembali. kemudian dia mempersilahkan wanita itu untuk menjelaskan maksud kedatangannya.


“Perkenalkan, saya Sherly Embunsari dari bagian keuangan perusahaan. Kedatangan saya ke sini karena saya memerlukan dua orang dari kalian untuk ikut bersama saya,” kata Sherly sambil tersenyum.


“Ikut kemana ya Mbak?” tanya Wira.


“Lebih detailnya nanti saya jelaskan di perjalanan,” jawab Sherly.


“Boleh nanya nggak?” ucap Jana sambil mengacungkan tangannya.


“Silahkan.”


“Mbak sudah punya pacar belum?” tanya Jana.


“Huuu,” sontak sopir yang lain meneriakinya.


“Kita bisa membahas hal itu di perjalanan nanti,” jawab Sherly.


“Biar saya sedikit memberikan bocoran kepada kalian. Sebenarnya dua orang yang akan ikut bersama Mbak Sherly akan memikul tanggung jawab yang berat. Karena tugas mereka ini terkait dengan masalah keuangan perusahaan dan juga keamanan Mbak Sherly sendiri, salah sedikit maka perusahaan akan mengalami kerugian besar,” jelas Heni.


Keadaan di ruangan itu menjadi hening. Mereka memang belum tahu tugas apa yang akan mereka laksanakan, hanya saja mendengar sebesar itu resikonya kelihatannya itu memang tugas yang berat.


“Kalau begitu silahkan kalian semua berbaris! Mbak Sherly sendiri yang akan menentukan siapa orang yang akan menjadi pengawalnya selama tugas nanti,” perintah Heni. Semua orang di ruangan itu berbaris rapi. Sherly mulai berkeliling dan menatap semua orang di sana satu persatu.


“Siapa namamu?” tanya Sherly kepada Jana.


“Jana Mbak,” jawab Jana dengan senang.


“Dari penampilanmu memang cukup meyakinkan. Tapi rasa percaya dirimu itu bisa menjadi bom waktu, jika saja kamu bisa bersikap hati-hati dan berpikir panjang itu akan lebih baik,” ujar Sherly sambil melangkah ke yang lain. Jana terilhat kesal. Mata Sherly tiba-tiba menatap tajam ke barisan tengah.

__ADS_1


“Siapa namamu?”


BERSAMBUNG…


__ADS_2