
Ting
Lift telah sampai di lantai tempat Sean bekerja. Ellena sedang menunggu pintu lift itu terbuka. Perlahan pintu itu terbuka dan menampakkan sosok seorang pria yang berdiri di luar lift. Tatapan mata Ellena dan pria itu saling beradu.
Ellena melangkah perlahan keluar dari pintu lift. Dia masih melihat ke arah orang yang ada di depannya itu. Ada wajah yang sangat lelah tampak menghiasi wajah tampan rupawan yang selalu menghiasi hati Ellena.
“Ell ... aku lelah,” ucap Sean pelan lalu menjatuhkan kepalanya di pundak Ellena.
Sean ingin menyalurkan kelelahanya pada Ellena saat ini. Sejak bertemu dengan mamanya tadi, dia merasa bebannya sangat berat. Pekerjaan menumpuk yang biasa dia hadapi kali ini lebih berat.
Ellena yang tadinya ingin menemui Sean karena ingin protes, kini jadi melemah. Wajah lelah Sean membuat dia makin kasihan pada kekasihnya itu.
Ellena mengusap lembut rambut Sean. Dia mengerti kalau Sean saat ini pasti merasa sangat lelah dan butuh dukungan dan sedikit tempat bersandar untuk melepas penat. Ellena berusaha untuk menguatkan badannya menopang berat tubuh Sean yang semakin berat.
“Pak, sebaiknya istirahat dulu di ruangan. Atau mau langsung pulang?” tanya Mathias yang berdiri di belakang Sean.
Sean mengangkat kepalanya dari pundak Ellena, “Ikut aku bentar,” ucap Sean sambil menggandeng pergelangan tangan Ellena.
Sean kembali ke dalam ruang kerjanya. Ruangan yang sudah gelap itu dibiarkan oleh Sean tetap gelap. Dia kini hanya menyalakan lampu kerja saja yang hanya menerangi meja kerjanya. Dia membiarkan tempat yang lain hanya mendapatkan pantulan cahaya dari lampu itu saja.
“Duduk,” ucap Sean saat dia membawa Ellena masuk ke ruang kerjanya.
“Kamu masih mau kerja lagi?” tanya Ellena yang tidak mengerti dengan apa maksud Sean.
“Udah buruan sini,” panggil Sean yang sudah ada di depan sofa.
Ellena pun segera menghampiri Sean yang sudah duduk di sofa panjang terlebih dahulu. Ellena kemudian meletakkan tasnya di atas meja dan ikut duduk. Dia kini menatap wajah Sean dari temaramnya lampu.
“Ell ... aku minta waktu bentar ya, nanti aku anter pulang,” ucap Sean.
“Emang kita mau ngapain?” tanya Ellena dengan polosnya.
Sean tidak menjawab pertanyaan Ellena. Dia menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Ellena lalu segera merebahkan dirinya di pangkuan Ellena. Kini kepala Sean sudah ada di pangkuan Ellena dan badannya berbaring di atas sofa.
Ellena yang hanya pernah melihat adegan ini di serial drama Korea yang sering dia ikuti pun merasa canggung. Dia yang sama sekali belum pernah merasakan pacaran, kini semakin gugup saat melihat wajah Sean.
Hal berbeda di rasakan oleh Sean. Dia kini sedang asyik berbaring di pangkuan Ellena. Dia seolah tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh wanitanya itu. Kini Sean bahkan memejamkan matanya untuk mendapatkan rasa nyaman untuk menghilangkan rasa lelahnya.
“Ell, aku tidur bentar boleh?” tanya Sean.
__ADS_1
“Tidur?”
“Iya ... aku capek banget. Aku tidur bentar ya,” pinta Sean.
Ellena tidak menjawab. Dia hanya membelai lembut rambut Sean yang kini ada di pangkuannya itu. Dia ingin pemuda yang sangat tampan itu menikmati apa yang dia katakan nyaman itu. Ellena mengecup lembut kening Sean agar pemuda itu makin lelap tidurnya.
Waktu kian berlalu, Ellana yang kelelahan juga ikut tertidur. Dia tidur sambil duduk bersandar di sofa. Sean masih ada di pangkuannya. Tangan Ellena juga masih ada di atas dada Sean untuk membuat pria itu semakin nyaman.
Triing
Sebuah panggilan telepon terdengar di ruangan yang sedang hening itu. Dua manusia yang sedang tertidur itu kini pun terbangun karena kaget. Sean menggeliat terbangun lalu memiringkan badannya untuk meraih ponselnya yang menyala di atas meja. Sean melihat siapa yang menghubunginya saat ini.
“Hmmm,” sahut Sean malas.
“Bos, Pak Ivan menghubungi. Beliau meminta jadwal bertemu untuk besok,” ucap Mathias di seberang sana.
“Jadwalkan aja. Atur yang baik.”
“Baik, Bos.”
Sean meletakkan lagi ponselnya. Dia segera berbaring terlentang lagi sambil merasakan nikmatnya belaian tangan Ellena di kepalanya. Sean menatap Ellena yang kini tersenyum kepadanya.
“Ga papa ... aku juga ketiduran kok. Kamu capek banget ya?” tanya Ellena balik.
“Iya ... tapi sekarang udah enakan. Udah sehat dan udah kembali lagi tenaga aku,” jawab Sean sambil bangun dari tidurnya dan duduk di samping kekasihnya.
“Baguslah. Kita pulang yuk. Pasti nanti aku di cariin sama orang rumah.”
“Iya ... kita pulang ya. Tapi kita mampir makan malam dulu bentar bisa kan?”
“Liat nanti ya. Aku periksa ponselku dulu, takutnya nanti Nathan nyariin.”
“Ok! Cek sambil jalan ya.”
Ellena dan Sean merapikan lagi penampilan mereka agar tidak begitu terlihat kalau baru saja bangun tidur. Ellena pergi ke kamar mandi untuk sedikit lebih detail merapikan lagi penampilannya.
“Eeh kok sampe lupa nanya soal nasi goreng. Aku tanyain dulu lah,” ucap Ellena sambil merapikan penampilannya.
Ellena keluar dari kamar mandi. Dia melihat Sean duduk di sofa yang tadi mereka gunakan untuk tidur sambil memainkan ponselnya. Ellena segera menghampiri pria itu dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Sean ... aku boleh tanya sesuatu ga?” tanya Ellena sambil melihat pemuda itu.
“Tanya aja. Emang kamu mau tanya apa?” jawab Sean sambil terus melihat ke ponselnya.
“Soal nasi goreng,” ucap Ellena yang berhasil menghentikan jari lincah Sean di atas ponselnya.
Sean menghentikan kegiatannya. Dia kemudian menoleh ke arah Ellena yang ada di sampingnya. Tampak Sean menghembuskan nafasnya dalam. Sepertinya Ellena sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Kenapa nasi gorengnya?” tanya Sean ingin tahu arah pertanyaan Ellena.
“Kenapa kamu ga bilang kalo nasi gorengnya di buang sama Luna? Kamu kenapa boong sama aku?”
“Ell ... aku ga bermaksud boong sama kamu. Aku jujur, aku emang salah boong sama kamu. Tapi itu semua aku lakuin demi kamu.”
“Maksudnya?”
“Kalo pagi tadi aku kabari kamu kalo nasi gorengnya itu di buang sama Luna padahal kamu pasti siapkan nasi goreng special buat aku, kira-kira kamu bakalan sedih ga? Bukan cuma sedih kayanya, tapi bisa aja kamu jadi bad mood, iya ga?” ucap Sean menjelaskan.
“Hmm iya sih. Tapi kan tetep aja kamu ga boleh boong sama aku,” ucap Ellena dengan nada manja.
“Iya ... aku janji akan selalu jujur sama kamu. Tapi alu bakal liat sikon dulu ya. Kalo belum tepat waktunya aku ngomong jujur, ya aku bakalan diem dulu. Ga papa ya?”
“Hmmm ... tapi tetep kudu cerita. Aku ga suka kamu boongin aku.”
“Ga akan sayang. Yuk kita jalan. Udah laper aku,” ajak Sean sambil mencubit lembut pipi Ellena.
“Eh bentar ... trus cerita soal siapa Luna kapan?”
“Hmm ... cari waktu kalo aku ga stres ya. Soalnya kalo ngebahas soal dia, aku sering emosi, ok?”
Ellena mengerti dan menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin memaksakan Sean untuk bercerita tentang hal yang tidak dia suka kalau Sean belum mau. Melihat Sean lelah dan stres seperti tadi saja, sudah membuat dia sangat khawatir. Ellena tidak ingin menambah beban pikiran Sean.
Pasangan itu segera keluar dari ruangan Sean. Sudah ada Mathias yang menunggu di depan pintu ruangan itu. Mathias juga sudah melihat keadaan di sekitar kantor yang menurutnya sudah sepi. Jadi pasangan itu bisa pulang bersama.
Ting
Ellena dan Sean keluar dari lift bersama. Di depan mereka berdua ada Mathias yang juga keluar dari lift yang sama. Ellena sengaja berjalan sedikit di belakang Sean agar tidak terlalu terlihat kalau mereka bertiga sedang bersama.
“Eh ... kok Ellena keluar dari lift atasan sih? Apa kabar itu bener ya? Eh ... apa Ellena beneran pelakor?” ucap seseorang yang tidak sengaja melihat Ellena dan Sean bersama.
__ADS_1
Bersambung....