Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 69


__ADS_3

Bertemu Kembali Dengan Sang Penyelamat


Aditya berhenti berjalan ketika melihat penjahat itu menghunuskan pisaunnya di leher Frita. Namun perlahan dia mengambil pisau milik penjahat yang dia simpan di saku celananya. Ketika hendak melemparkan pisau itu ke arah tangan penjahat tiba-tiba saja Frita menendang kaki penjahat.


Karena kesakitan penjahat itu refleks melayangkan pisaunya ke wajah Frita namun entah karena keberuntungan atau refleks Frita yang bagus dia berhasil menghindari pisau penjahat. namun lengan penjahat itu dengan cepat berbalik menghantam leher Frita, hingga terkulai lemas di tanah.


“Pada akhirnya dia malah pingsan lagi seperti waktu itu,” ujar Aditya geleng-geleng kepala.


“Aakk...” penjahat menjerit ketika pisau Aditya menancap di tubuhnya, dia rubuh dengan bersimbah darah.


“Kamu ini memang keras kepala,” ujar Aditya sambil menghampiri Frita dan melepaskan tali di tubuhnya.


Frita berusaha keras membelalakkan kedua matanya karena ingin melihat sosok pria yang kembali menyelamatkannya. Dia kembali merasakan tubuhnya diangkat ke pangkuan penyelamatnya. Samar-samar dia melihat wajah orang itu, namun tidak jelas karena hanya bagian dagu, pipi, telinga dan pelipis kirinya saja yang bisa dia lihat.


Aditya sedikit kaget ketika tangan kiri Frita meraba leher dan wajah bagian kirinya sebelum akhirnya kembali terkulai lemas karena kehilangan kesadaran. Dia kemudian membawa Frita masuk ke dalam mobilnya dan pergi menuju klinik terdekat. Dia juga menghubungi Pandu agar segera menyusulnya sambil membawakan pakaian ganti untuknya.


Diperjalanan menuju klinik, Aditya bertemu dengan Pandu. Mereka berdua kemudian segera pergi menuju klinik bersama-sama. Pandu terlihat begitu cemas dengan kondisi putrinya. Namun setelah Aditya bilang bahwa Frita hanya pingsan saja dia terlihat sedikit lega.


“Bagaimana ceritanya Dit bisa sampai seperti ini?” tanya Pandu, Aditya kemudian menjelaskan semuanya kepada Pandu.


“Apakah bu Gina dan Clarissa juga tahu kejadian ini?” tanya Aditya setelah menjelaskan kejadiannya.


“Aku kali ini tidak memberitahu mereka. Aku beralasan membeli barang lain untuk pesta ulang tahun Frita. Nanti saja biar Frita yang menceritakannya langsung.”


“Saya setuju, jika mereka tahu masalah ini maka hanya akan menimbulkan kecemasan saja, lagipula Frita juga baik-baik saja.”


“Keadaanmu sendiri bagaimana Dit?”


“Aku juga baik-baik saja, hanya terkena beberapa pukulan saja.”


Aditya kemudian pamit ke toilet untuk berganti pakaian, bagaimanapun saat ini dia masih harus merahasiakan identitasnya dari Frita. Terlebih jika mata-mata musuh mengetahui bahwa orang yang selalu melindungi Frita adalah dirinya maka mereka pasti akan semakin berhati-hati saja.


“Menurutmu sebenarnya siapa dalang dibalik penculikan kali ini?” tanya Pandu setelah Aditya kembali.


“Menurutku masih sama dengan komplotan para penculik di Hotel Universal. tapi dalangnya sendiri belum ku ketahui, dia benar-benar rapi dalam setiap langkahnya.”

__ADS_1


“Selain itu aku curiga jika di perusahaan bapak ada mata-mata yang sengaja ditugaskan oleh mereka untuk mengamati gerak gerik Frita,” ujar Aditya lagi.


“Kalaupun iya, aku yakin akan sangat sulit mencari orangnya. Terlalu banyak orang yang harus kita periksa.”


“Anda memang benar, saya hanya bisa meminta bapak untuk lebih berhati-hati. Tolong bilang juga kepada Frita agar dia membatasi orang-orang yang mengetahui agendanya setiap hari.”


“Pasti akan aku bilang kepadanya.”


Tak lama kemudian Frita tersadar. Beberapa luka kecil di tubuhnya sudah diobati oleh dokter. Pandu langsung memeluknya, Frita kembali menangis. Dia benar-benar senang masih bisa bertemu dengan Pandu. Aditya hanya tersenyum melihat bosnya itu. Frita terlihat hendak menanyakan kepada dokter tentang siapa yang membawanya kesana.


Aditya yang memahami situasinya segera mengajak mereka semua untuk pulang. Frita pulang bersama ayahnya diikuti oleh mobil Aditya di belakang. Sepanjang perjalanan, Frita kembali menceritakan bahwa dia bertemu kembali dengan orang yang menyelamatkannya dulu.


“Lalu, apa kamu sekarang tahu siapa orangnya?” tanya Pandu.


“Yang jelas dia bukan Arya, tapi jika saja aku bertemu dengannya lagi kemungkinan aku bisa mengetahui siapa sebenarnya dia.”


“Sudahlah, sekarang kamu santai saja. mamamu juga ada di rumah loh.”


“Ibu ada di rumah? Kok nggak ngasih kabar dulu?”


Aditya semakin bingung dengan perasaannya sendiri. Sebenarnya dia sangat ingin Frita mengetahui kebenarannya agar terhindar dari orang-orang seperti Arya. Tapi di lain sisi dia khawatir jika hal itu malah akan mengundang bahaya yang lebih besar lagi.


***


Arya yang menerima pesan SOS dari Jimmy segera mengumpulkan puluhan anggota polisi. Dia tidak kesusahan mengumpulkannya dalam sekejap karena memang polisi yang sekarang bersamanya saja ada sekitar dua puluhan. Mereka memang sedang menjalankan rencana Jimmy untuk membuat kejutan ulang tahun kepada Frita.


Dalam perjalanan dia terus berpikir kenapa tiba-tiba temannya harus dihadang oleh beberapa orang tidak dikenal. Instingnya langsung mengerucut kepada Frita yang sekarang sedang bersama Jimmy.


“Memangnya pak Jimmy kenapa pak?” tanya polisi yang bersamanya.


“Aku yakin dia sedang dihadang oleh komplotan penjahat yang beraksi di Hotel Universal,” jawab Arya.


“Bagaimana bisa?”


“Entahlah. Aku rasa mereka terpancing oleh sesuatu. Ingatkan kepada yang lain agar tidak membunyikan sirine mobil, kita akan menyergap para penjahat itu.”

__ADS_1


“Baik pak!”


Arya mengemudikan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Akhirnya dia berhasil sampai di lokasi yang dikirimkan Jimmy. Dari kejauhan terdengar suara Jimmy berteriak memanggil Frita, lalu ada sebuah mobil yang melaju meninggalkan tempat itu.


“Kalian cepat mengepung para penjahat dari sisi lain, kalian menyelinap ke tepi hutan agar mereka tidak menyadari keberadaan kita.”


“Baik pak!”


“Sisanya ikuti aku, kita akan menyergap mereka dari depan.”


“Jika penjahat melakukan perlawanan dengan senjata, kalian bisa menggunakan pistol kalian.”


Setelah semuanya siap di posisi, mereka serentak maju menyergap para penjahat. Jimmy masih bisa tersenyum walau tubuhnya sudah babak belur. Dia senang karena di saat yang genting Arya bisa datang tepat waktu.


Beberapa penjahat yang mencoba melawan segera diringkus oleh mereka. Ternyata penjahat yang masih hidup hanya tersisa delapan orang saja, sisanya sudah dihabisi oleh Aditya. Mereka diborgol dan digiring ke kantor polisi terdekat untuk diperiksa. Sedangkan anak buah Jimmy yang terluka segera dibawa ke rumah sakit. Dua diantaranya sudah sangat kritis.


“Ayo kita juga segera ke rumah sakit Jim, lukamu cukup parah,” ajak Arya.


“Frita Ar, Frita,” gumam Jimmy pelan.


“Kenapa dengan Frita?”


“Dia diculik oleh penjahat.”


“Begitu ya. Percayakan Frita kepadaku, aku akan pastikan dia selamat. Kamu hanya perlu diobati dan menunggu saja di rumah sakit,” hibur Arya.


Arya bersama dua puluh polisi kembali menyusuri jalanan untuk menyelamatkan Frita. Dilihat dari situasinya kelihatannya para penjahat itu memang sudah mengetahui kalau Jimmy akan melewati jalan itu bersama beberapa anak buahnya. Karena itulah mereka juga membawa orang lebih banyak untuk menghadang Jimmy.


“Aku yakin, bahkan para penjahat itu tahu tentang rencana kejutan Jimmy,” gumam Arya.


“Apa mungkin di kepolisian ada mata-mata mereka?” batin Arya.


Pikirannya terus membayangkan kemungkinan terburuk yang harus dihadapinya. Mobilnya berhenti di tempat dua mobil penjahat menepi. Arya keluar dari mobil bersama semua anak buahnya. Mereka terkejut melihat pemandangan mengerikan di hadapannya.


“Sebenarnya apa yang barusan terjadi di sini?” ujar Arya pelan.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2