
“Sean.”
Terdengar panggilan seorang wanita di dekat meja Sean dan Ellena saat ini sedang makan siang. Dua insan yang sedang akan memulai kencan itu segera saja menoleh ke arah sumber suara. Di sana berdiri seorang wanita yang tampak melihat ke arah Sean dan Ellena secara bergantian.
Ellena melihat ke arah Sean, dia sedikit takut saat melihat tatapan wanita yang ada di depannya saat ini. Sean tersenyum pada Ellena berusaha untuk menenangkan hati wanita yang sedang bersamanya itu.
“Mama,” ucap Sean saat dia melihat wanita di sampingnya.
“Kamu kok di sini? Ini siapa?” tanya Karina.
“Saya pegawai di kantor Pak Sean, Bu,” jawab Ellena cepat sebelum Sean menjawab.
Sean segera menoleh cepat ke arah Ellena saat wanita yang dicintainya itu menjawab sesuatu yang tidak benar. Sean menatap tajam pada Ellena, dia ingin meminta penjelasan tentang jawaban yang diberikan wanita cantik itu tadi pada mamanya. Namun Ellena hanya memberikan kode dengan sedikit menggelengkan kepalanya, berharap Sean mau mengerti.
Karina masih menatap ke arah Sean dan Ellena secara bergantian. Dia seolah tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Ellena.
“Benar dia pegawai kamu, Sean?” tanya Karina.
Sean menoleh ke arah Ellena, “Iya Ma, dia pegawai Sean di kantor,” jawab Sean sambil melihat ke arah Ellena.
Sean tidak mungkin menyangkal apa yang dikatakan oleh Ellena saat ini. Dia tidak akan membuat Ellena malu di hadapan sang mamanya saat ini. Lebih baik mengikutinya saja dulu saat ini kondisi yang diciptakan Ellena.
“Ngapain kalian di sini?” tanya Karina lagi.
“Tadi kami pergi ketemu klien. Trus sekalian mampir makan. Sean laper, Ma. Mama sama siapa?” tanya Sean berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
“Sama temen-temen Mama. Ya udah, kamu nanti cepet balik ke kantor. Jangan suka keluar bareng sama pegawai sembarangan. Kamu nanti digosipin macem-macem.”
“Iya, Ma. Lagian gosip kok diurusin. Mama ati-ati di jalan ya,” ucap Sean sambil tersenyum pada mamanya.
Karina segera bergabung lagi dengan teman-temannya. Dia segera pergi dari restoran untuk melanjutkan kegiatannya lagi. Tapi sebagai seorang psikiater, Karina bisa membaca sikap yang ditunjukkan oleh Ellena dan Sean tadi. Dia yakin ada yang disembunyikan oleh dua orang itu saat ini.
Setelah sang mama pergi, Sean segera melihat ke arah Ellena. Dia seakan meminta penjelasan dari Ellena soal jawaban yang diberikan wanita cantik itu tadi pada mamanya.
__ADS_1
Ellena tidak berani menatap sorot mata Sean yang tertuju padanya. Dia sangat tahu kalau saat ini Sean pasti sedang menunggu penjelasan dari dia tentang jawaban spontannya tadi. Ellena hanya bisa menundukkan kepalanya saja sekarang.
“Apa maksudnya kamu pegawai aku?” tanya Sean dengan nada datar.
Ellena mengangkat wajahnya melihat Sean, “Ya kan aku emang pekerja di kantor kamu,” jawab Ellena dengan nada ragu.
“Ell ... kamu pacar aku. Mama anak aku. Apa kamu anggep aku liat kamu sebagai pegawai kantor aku sekarang?” tanya Sean.
Ellena menggeleng pelan, “Aku takut sama tatapan Mama kamu. Aku ga berani liat tadi. Aku takut kamu kena masalah.”
“Takut aku kena masalah? Kamu pikir dengan kamu bilang kaya gitu Mama aku bakalan percaya sama kamu? Ga sama sekali, kamu justru mungkin memberinya kesan yang buruk saat ini,” papar Sean tentang keadaan saat ini.
“Maksud kamu memberi kesan buruk tuh apa?” tanya Ellena tidak mengerti.
“Sayang, Mama aku itu psikolog. Dia pasti ngerti tentang gelagat kita tadi. Dia pasti tau kalo kita lagi boong sama dia,” ucap Sean menjelaskan tentang mamanya.
“Haah!! Mama kamu psikolog? Aduh mati aku. Pasti dia tau ya. Waah trus aku gimana dong? Apa kau kejer aja dan minta maaf?” tanya Ellena sedikit panik.
“Udah ga papa. Nanti biar aku yang bilang sama Mama. Itu urusan aku.”
“Ga ada tapi. Sekarang kita makan dulu. Perutku laper,” ucap Sean memotong ucapan Ellena.
Seorang pelayan datang dengan sebuah kereta dorong. Dia atas kereta dorong itu ada beberapa makanan yang di pesan oleh Sean. Ellena melihat ke arah kereta dorong itu untuk melihat makana apa saja yang dipesan Sean.
‘Eh busyet! Itu kenapa risotto cuma nasi doank ya. Kok ga kaya di tempat lain sih, ada lauknya dikit. Ih masa iya aku makan nasi doang,’ ucap Ellena dalam hati saat tahu penampilan makanan yang dia pesan.
“Risotto, Ell?” ucap Sean sambil tersenyum lebar.
“Heheehee ... nasi doang ya? Duh meresahkan ya,” ucap Ellena sambil sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Makan ini, aku pesankan yang lain buat nemenin risotto kamu. Makan yang banyak ya, kamu harus makan banyak biar kamu kuat kerja buat perusahaan aku,” ucap Sean.
“Siap, Bos. Kalo makanannya penuh gizi pasti bakalan kerja semangat nanti,” jawab Ellena sambil memamerkan barisan giginya yang rapi.
__ADS_1
Sean tertawa ringan saat dia mendengar jawaban Ellena. Mereka memiliki selera humor yang sama ternyata. Kini pasangan itu menikmati makanan yang sudah mereka pesan itu sampai tandas. Perut mereka berdua memang sudah sangat berontak meminta haknya.
Makanan yang ada di atas meja itu pun segera saja berpindah ke dalam perut mereka. Selagi mereka menunggu makanan itu tergiling dengan baik, mereka melanjutkan mengobrol santai. Ellena banyak menunjukkan video lucu Nathan di ponselnya yang membuat Sean senang.
“Sayang, aku beliin sesuatu buat Nathan boleh ya? Aku pengen beliin dia makanan dan juga pakaian. Boleh kan?” tanya Sean.
“Boleh ... kan kamu Papanya. Kirim aja ke rumah, nanti aku akan ceritakan pelan-pelan soal kamu ke Nathan,” jawan Ellena.
“Iya ... nanti aku kirim ke rumah kamu. Aku mau bahagiain anak aku. Keturunan aku yang ganteng banget itu.”
“Cuma mau bahagiain Nathan doang nih ceritanya?”
“Ga dong, Mamanya juga lah. Mamanya dipacarin dulu sebelum dinikahin, gitu kan?” ucap Sean sambil tersenyum.
Ellena hanya membalas dengan senyuman juga. Dia berharap pria yang ada di hadapannya ini benar-benar akan menepati janjinya untuk membahagiakan dirinya dan Nathan. Meskipun baru saja dekat dengan Sean, Ellena banyak berharap pada Sean. Sean adalah laki-laki pertama yang dekat secara personal dengannya.
Jam makan siang sudah hampir selesai. Arina sudah menghubungi Ellena untuk menanyakan di mana sahabatnya itu saat ini berada. Dia hanya menjawab kalau sedang ada urusan di luar kantor sebentar. Oleh sebab itu Ellena segera mengajak Sean untuk kembali ke kantor.
“Ell, kamu aku pindah bagian aja ya? Jangan kerja di bawah Devan,” ucap Sean dengan sedikit nada cemburu.
“Eeh ... kok gitu sih. Aku udah cocok sama tim itu. Nanti kalo aku jadi ketua tim, aku bisa kerja dengan baik sama mereka,” jawab Ellena.
“Tapi aku cemburu kalo kamu ada di sana. Apa lagi masih jadi bawahan Devan. Aku ga suka banget,” protes Sean.
“Ya ampun Pak Sean yang terhormat. Kan Bapak yang bilang kalo kerja tuh harus profesional. Jadi kamu harus terapin itu juga donk. Kita harus profesional selama di kantor. Ga usah ungkap hubungan kita dulu pokoknya,” ucap Ellena memberi peringatan.
“Kok malah ga boleh sih. Kamu kalo dijauhi sama temen kamu ya biarin aja. Emang mereka ga pantes temenan ama kamu. Jadi ngapain kamu takut ga punya temen.”
“Sean ... kan tadi udah aku bilang alesannya. Aku harap kamu ngerti ya. Lagian ngapain sih kamu cemburu sama aku. Kalo pun ada saingan, mereka semua ga akan sebanding sama kamu. Beda sama aku, aku bisa minder kalo liat saingan aku.”
“Saingan kamu? Siapa?”
“Luna. Kamu belum cerita soal Luna ke aku," ucap Ellena meminta penjelasan.
__ADS_1
Bersambung....