
“Cepat siapkan mobil!” perintah Aditya sambil memeriksa keadaan orang yang tergeletak itu.
“Lukanya tidak fatal, tapi darahnya banyak keluar. Cepat bantu aku membawanya ke mobil.”
Mereka semua memboyong sopir itu ke dalam salah satu mobil milik orang dari bagian keamanan. Semua orang yang ada di sana terkejut melihat sopir tadi terluka seperti itu. Tiga orang dari bagian keamanan ikut di dalam mobil itu sementara delapan orang tetap tinggal di restoran termasuk Aditya, Dani dan Heni.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan orang itu?” tanya Heni.
“Kami tidak tahu, ketika sampai di sana dia sudah terluka seperti itu, padahal di toilet juga tidak ada orang lain selain dia,” jawab Dani.
“Apa kita perlu menelepon polisi?” tanya seorang wanita.
“Jangan, setidaknya untuk saat ini,” cegah Aditya.
“Apa yang kamu pikirkan Dit? Tanya Heni.
“Aku yakin, orang yang mencelakainya masih ada di dalam restoran ini,” jawab Aditya.
“Kalau begitu baguslah biar cepat di tangkap.”
“Masalahnya apa kalian tidak berpikir kenapa sampai jam segini Cuma sebelas orang saja yang datang kemari? Padahal dari jam janjiannya pun sudah lewat beberapa jam,” jelas Aditya.
“Memang benar, sengaret-ngaretnya orang Indonesia pasti tidak akan selama ini.”
“Terlebih aku yakin beberapa kendaraan yang ada di luar adalah milik rekan-rekan kita,” tambah Aditya.
“Jadi maksudmu mereka sudah datang kemari?” tanya Heni.
“Ya, lebih tepatnya sekarang mereka sedang tidak bisa kemana-mana karena ulah orang yang seseorang. Jika kita memanggil polisi maka mereka akan menjadi sandera atau kemungkinan terburuknya malah dihabisi.”
Semua orang di sana mulai merenung, ada beberapa wanita yang mulai ketakutan. Tiba-tiba telepon berdering, kasir yang ada di ruangan itu segera pergi dengan wajah yang pucat. Aditya menatapnya tajam.
“Kalau begitu aku akan pulang.”
“Aku juga pulang saja deh,” kata beberapa wanita sambil bersiap hendak pergi.
“Sebaiknya jangan,” cegah Heni.
“Loh kenapa bu?”
“Jika dilihat dari situasinya, aku yakin penjahat itu lebih dari satu orang bisa saja kalian malah diserang ketika pulang ke rumah, terlebih tujuan mereka sendiri belum jelas,” jawab Heni.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
__ADS_1
“Kita harus bagi menjadi tiga kelompok lalu berpencar mencari tempat rekan-rekan kita disekap. Setelah ditemukan jangan bertindak gegabah kita berkumpul kembali di sini untuk menyusun rencana,” kata Heni.
“Aku sebenarnya lebih senang para wanita untuk tinggal di sini ditemani beberapa pria, biar aku dan Dani yang mencari lokasi mereka,” kata Aditya menolak rencana Heni.
“Kamu jangan meremehkan para wanita Dit, kami juga peduli kepada rekan-rekan kami,” jawab Heni dengan nada kesal.
“Terserah kalau begitu, Dan kamu damping mereka biar aku sendirian saja. Kalian bagi jadi dua kelompok saja,” kata Aditya.
“Cih, kamu jangan sok jagoan Dit,” kata Heni.
“Bukan begitu, aku punya pertimbangan tersendiri,” jawab Aditya. Heni kemudian membagi mereka menjadi dua kelompok sementara Aditya akan pergi sendirian.
“Satu hal lagi, aku yakin gerak gerik kita diawasi, kalau bisa aku ingin kalian menghindari CCTV atau merusaknya,” tambah Aditya.
Aditya pergi terlebih dahulu ke lantai dua, sementara yang lainnya juga mulai berpencar. Dia sengaja pergi sendirian, setidaknya dia pikir hal itu bisa membuat para penjahat fokus untuk menangkapnya terlebih dahulu karena dia sendirian saja. Setelah beberapa menit mereka berpencar tiba-tiba saja listrik di restoran itu padam.
Dengan waspada Aditya berjalan perlahan, telinganya dia pasang tajam-tajam untuk mendengarkan keadaan di sekitarnya. Perlahan dia mendengar langkah kaki seseorang yang berjalan perlahan, bahkan jika bukan Aditya pasti tidak akan ada orang yang menyadarinya karena suara yang ditimbulkan sangatlah kecil.
Tangan Aditya mulai masuk ke dalam jaketnya. Seketika dia berbalik sambil menarik pelatuk pada pistol berperedam. Dua tembakan terdengar pelan karena sama-sama berasal dari pistol yang menggunakan peredam suara.
“Hebat juga lu bisa menghindari peluru gue,” ujar Aditya dengan sikap tenang.
“Hahaha lu sukses bikin gue kaget, beruntungnya peluru lu meleset dasar amatiran,” jawab seorang pria dengan suara yang disamarkan.
“Gue bukannya meleset tapi awalnya gue mengira lu orang yang hebat dan berbahaya tapi ternyata cuma amatiran saja,” jawab pria itu.
Aditya hanya tersenyum, dia memang sengaja melakukan semua itu agar si penjahat beranggapan bahwa dia amatir. Aditya segera melompat ke balik tiang bangunan karena dia sadar penjahat itu sudah menodongkan senjatanya lagi, tembakan si penjahat tidak mengenai sasaran. Aditya balas menembak tapi penjahat itu dengan lihat bersembunyi di balik dinding ruangan.
“Gue nggak nyangka jika lu juga bawa pistol, apa emang lu biasanya seperti itu?” tanya si penjahat.
“Penjahat kok kepo amat,” ledek Aditya.
“Hahaha baru seumur hidup ini gue ketemu target pembunuhan yang masih bisa bercanda walau nyawanya sudah diujung tanduk.”
“Ho, jadi target kalian sejak awal memang gue ya. Karena itu kalian berusaha mengurangi orang yang terlibat dengan membuat salah satu rekan kami terluka parah di toilet agar beberapa orang pergi ke rumah sakit,” kata Aditya.
“Hahaha, lu ternyata peka juga.”
“Gue awalnya masih bingung dengan tujuan kalian, tapi sekarang gue bisa lega jika memang gue yang jadi target kalian. Kalau begitu mari kita serius, mas karyawan baru yang nggak jadi buang air di toilet,” kata Aditya sambil tertawa kecil. Kata-katanya jelas membuat penjahat itu terkejut.
***
Di markas besar geng Serigala, Jaja sedang uring-uringan karena akhir-akhir ini semua rencana besarnya menjadi berantakan. Kemarahannya selama beberapa hari ini membuat semua anak buahnya ketakutan. Hanya Gerald, Edgard dan Gilang saja yang masih berani menemaninya.
__ADS_1
“Sial! Jika saja pengawalan barang waktu itu sukses kita pasti sudah dapat untung besar!” gerutu Jaja.
“Maaf Ketua, kami juga salah karena tidak langsung ikut mengawal barang itu,” kata Gilang.
“Kalian ngapain minta maaf! ini bukan salah kalian! Ini salah mereka yang tidak becus dan tidak berguna!” bentak Jaja.
“Bagaimana hasil penyelidikan polisi Ed? Apa mereka mulai berencana untuk menyelidiki kita?” tanya Jaja.
“Tenang saja Ketua, kami sudah beralasan jika mereka bukanlah anggota geng Serigala, mereka hanya orang yang mengaku-ngaku saja. Polisi juga terlihat percaya karena memang tidak ada bukti kuat yang mengarah kepada kita secara langsung,” jawab Edgard.
“Gerald, menurut lu apakah mereka akan buka mulut dengan kejadian ini?”
“Menurutku mereka akan tetap diam sejauh ini, tapi seiring berjalannya waktu terutama ketika mereka terus menerima tekanan mental dan perubahan situasi yang positif selama di penjara tidak menutup kemungkinan mereka pada akhirnya akan bicara.”
“Lang!”
“Siap Ketua.”
“Habisi mereka sebelum mengatakan semuanya!”
“Baik!” jawab Gilang sambil pergi dari ruangan itu.
“Cih, bagaimana bisa intel bayaran dan polisi mencium bau barang itu, padahal rencanaku sudah sangat matang,” gerutu Jaja.
“Kami juga tidak paham situasinya, terlebih ketika ada beberapa orang yang hendak menyusul rombongan yang membawa barang itu mereka sudah keduluan oleh polisi, tak berselang lama rombongan satunya lagi juga dicegat oleh polisi.”
“Jadi berapa orang yang berhasil kabur?”
“Mereka adalah orang-orang yang mengawal barang bahan baku asli, itu juga berkat salah satu anggota kita yang bernama Tri, dia merasa curiga dengan jalan yang terlalu sepi hingga memutuskan untuk berhenti dan menyuruh temannya memeriksanya dulu ke depan. Ternyata di depan memang sudah ada barikade polisi.”
“Menarik juga anak itu, jadi rombongan pertama itu selamat?”
“Ya, hanya rombongan kedua saja yang tertangkap. Saya juga melihat potensi luar biasa pada Tri, insting dan kemampuan berkelahinya diatas anggota rendahan lainnya.”
“Eh iya saya lupa, ada kabar gembira dari Dark Assassins,” kata Gerald.
“Apa?”
“Mereka bilang sudah berhasil menemukan Aditya, mereka juga akan beraksi malam ini.”
“Hahaha, bagus.. aku sudah tidak sabar menunggu kabar bahagia selanjutnya,” kata Jaja sambil tertawa senang.
BERSAMBUNG…
__ADS_1