Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 37


__ADS_3

Mata Ellena terpaku pada sosok yang ada di depannya itu. Dia bahkan hampir tidak bisa berkedip saat ini. Ponsel yang sejak tadi menjadi perhatiannya pun kini seolah berubah. Dia masih menatap lurus ke sosok yang ada di depannya itu.


Bukan hanya Ellena, tapi orang yang ada di depan Ellena juga sedang melihat ke arah Ellena. Dia berdiri dengan sangat angkuh dan membusungkan dadanya seolah memamerkan pesona dan kekuasaannya. Tatapannya tajam ke arah Ellena seperti siap untuk membunuh Ellena.


“Masuk,” ucap seseorang yang tiba-tiba menarik pergelangan tangan Ellena.


Perhatian Ellena beralih dari sosok yang ada di depannya itu ke orang yang menariknya. Dia kini mengikuti ke mana tangannya di tarik. Ellena masuk ke dalam lift lagi tanpa bicara sedikit pun pada orang yang dia temui di depan lift tadi.


“Ngapain kamu sama Bu Luna di situ?” tanya Mathias.


“Saya ga sengaja bertemu. Apa Bu Luna akan bertemu Pak Sean?” tanya Ellena sambil melihat ke arah Mathias yang tadi menariknya ke dalam lift.


“Kamu ke lantai berapa?” tanya Mathias mengalihkan perhatian.


“Lantai 8, saya mau minta berkas,” ucap Ellena sambil melihat ke deretan angka yang ada di dinding lift.


Mathias menoleh sebentar ke arah Ellena yang ada di sampingnya. Kemudian dia segera menekan angka 8 pada dinding lift tersebut.


Lift naik kembali untuk mengantarkan dua orang yang ada di dalamnya menuju ke lantai 8. Ellena melirik ke arah Mathias, dia masih menunggu jawaban tentang Luna tadi. Apakah Luna akan bertemu Sean saat ini.


“Pak Sean di mana?” tanya Luna memberanikan diri.


“Ada di kantor,” jawab Mathias datar.


“Tadi makanannya beneran di makan?”


“Iya.”


“Trus sekarang sekarang Pak Sean lagi ngapain?”


Kembali tidak ada jawaban dari Mathias. Pemuda yang ada di sampingnya ini kembali hanya menatapnya saja. Ellena menaikkan kedua pundaknya dan melempar senyum pada Mathias.

__ADS_1


‘Dia ini orang apa robot ya? Jawabannya singkat banget dan kaya lebih banyak diemnya. Aku kan pacar Sean, masa iya dia ga mau kasih tau Sean di mana? Haduuh ... dia lebih dingin dari Sean ternyata,’ gerutu Ellena di dalam hatinya.


Sementara itu, Luna yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu lift masih berdiri diam di depan pintu lift itu. Dia melihat kesal pada pintu lift itu yang menyembunyikan Ellena dari dia.


“Ternyata Sean sudah benar-benar kelewatan. Dia bahkan sudah menyuruh asistennya itu melindungi wanita busuk itu! Ga akan aku biarkan. Sean itu milikku, Sean akan selamanya jadi milikku!!” gumam Luna sambil mengepalkan tangannya menahan emosi pada Ellena.


Ellena sudah tiba di landai 8. Mathias segera menekan tombol buka pintu agar Ellena bisa keluar lebih dulu. Setelah berpamitan sejenak, akhirnya Ellena pun segera melangkah keluar dari lift dan meninggalkan Mathias di dalam lift.


“Bos Sean ada di lantai ini juga. Kita liat aja, apa takdir akan mempertemukan kalian di tempat ini,” ucap Mathias saat dia melihat Ellena sudah semakin menjauh.


Ellena berjalan ke arah ruang kesekretariatan. Dia mengetuk pintu dan segera masuk ke dalam. Ellena menundukkan kepala sebentar ke orang yang ada di dalam lalu menempelkan kartu pekerjanya di mesin deteksi pengunjung di ruangan itu.


“Ada apa?” tanya seorang wanita yang menyambut kedatangan Ellena.


“Di suruh Bu Silvia minta dokumen soal pegawai baru bagian pemasaran,” jawab Ellena.


“Oh bentar ya. Saya cari dulu. Kamu Ellena yang lagi promosi itu ya? Cinderella kantor.”


“Tapi dateng ke pesta khusus atasan itu luar biasa lho, Ell. Tapi kamu pantes sih ... cantik gini kok,” ucap si petugas sambil melihat Ellena sesaat.


“Eh Ell ... data kamu masih dipisahkan dulu katanya. Soalnya baru beres seleksi kedua. Kamu bisa tunggu aja di perpus sebelah kalo kamu mau. Ato balik ke ruangan kamu juga ga papa,” ucap Petugas itu tiba-tiba.


“Lama ga nyarinya?”


“Ga juga sih.”


“Ya udah saya tunggu di sebelah aja ya,” ucap Ellena sambil tersenyum.


Ellena memutuskan untuk menunggu di perpustakaan kantor yang ada di sebelah ruang kesekretariatan. Dia ingin melihat dan membaca buku tentang biografi orang sukses di perusahaan ini. Siapa tahu dia bisa mencontoh langkah mereka itu.


Ellena kini sudah ada di dalam perpustakaan. Tempat itu terasa sangat sepi karena jarang sekali ada orang yang akan masuk ke sana. Ruangan yang sangat tenang dengan pencahayaan sempurna dan pendingin ruangan yang membawa aroma segar di ruangan tersebut. Ellena segera berjalan menuju ke rak yang menyimpan banyak buku milik perusahaan.

__ADS_1


Ellena menyapu barisan rapi buku yang ada di sana dengan matanya. Ellena terlalu asyik membaca satu persatu judul buku yang tersusun rapi di rak. Tangannya sibuk membelai cover buku yang terpajang rapi di depannya agar dia bisa lebih teliti mencari buku yang dia inginkan.


“Eeh!!” pekik Ellena kaget saat dia merasa ada tangan yang melingkar di pinggangnya.


Ellena yang kaget segera saja mengibaskan tangan yang melingkar di pinggangnya itu dan menggerakkan tubuhnya menjauh dari orang yang ada di sampingnya. Dia segera melihat ke arah orang yang ada di sampingnya itu untuk memastikan siapa yang sudah berani kurang ajar kepadanya.


“Sean?? Ngapain kamu di sini?” tanya Ellena kaget melihat Sean ada di depannya.


“Aku yang harusnya nanya. Ngapain kamu di sini. Aku di ruangan itu dari tadi kok,” ucap Sean sambil menunjuk ke sebuah ruangan tertutup yang dia tempati tadi.


Ellena menoleh ke arah yang di tunjukkan oleh jari Sean. Di ujung lorong tempat mereka berdiri saat ini memang ada sebuah ruangan tertutup yang memiliki kunci akses di depan pintunya. Sepertinya itu hanya untuk kalangan terbatas yang bisa masuk ke sana.


“Itu ruangan apa?” tanya Ellena.


“Itu cuma ruang baca dan sedikit ruang santai untuk para petinggi,” jawab Sean.


“Kaya yang ada di ruangan kamu itu?” tanya Ellena kini menoleh ke arah Sean.


“Hmmm ga juga sih. Kalo di ruangan aku kan emang ruang istirahat. Jadi ada tempat tidur dan lemari baju ganti. Kalo di sini cuma ada sofa santai sama audio yang bantu sedikit relaksasi aja. Biar ga tegang.”


“Waah ... bisa lama donk makenya di situ. Bisa melenakan bahkan ketiduran nanti malahan. Mereka ga kerja ntar.”


“Ga bisa lah. Kalau lebih dari 30 menit pemakaian, ya besok pagi bakal kena surat peringatan di meja mereka. Mereka di kasih fasilitas ini buat bantu kerja mereka, bukan buat melenakan.”


“Bagus lah kalo kaya gitu. Pasti kan para petinggi kaya kamu juga kerjanya lebih berat buat perusahaan ini.”


“Iya ... tapi sebenernya ada fungsi tambahan sih di ruangan itu.”


“Fungsi tambahan? Apa itu?”


“Pacaran sama kamu,” ucap Sean yang segera menarik tangan Ellena untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan yang dipakai Sean tadi

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2