
Mobil mereka berdua saling salip menyalip, Aditya cukup yakin dengan kemampuan menyetirnya. Dia pikir pemenang balapan akan di tentukan tergantung siapa yang menggunakan NOS secara efektip. Aditya mulai memperlambat laju mobilnya, Dia sudah memiliki rencana untuk memaksa Vivi menggunakan NOS di saat yang kurang tepat.
“Aku yakin si pria itu akan memenangkan pertandingan lagi,” ujar seorang penonton.
“Gua juga yakin, tadi saja pake mobil biasa dia bisa menang,” ucap yang lainnya.
“Menurutmu kakakmu itu bisa menang tidak?” tanya Arnold sedikit khawatir.
“Tenang saja, aku sangat yakin dengan kemampuannya,” jawab Clarissa.
“Lihat itu mereka sudah mulai kelihatan,” teriak seorang penonton sambil menunjuk ke arah yang jauh di sebuah belokan.
“Duh kok dia di belakang wanita itu,” gumam seorang pendukung Aditya.
Vivi tersenyum karena Aditya ada di belakangnya, dengan cepat dia mengaktifkan sistem NOS pada mobilnya. Aditya tersenyum puas. Rencananya berhasil. Mobil Vivi melesat lebih kencang. Ketika berada di trek lurus Aditya juga mengaktifkan NOS di mobil Arnold. Kecepatan mobilnya meningkat drastis.
Dengan cepat dia bisa mendahului mobil Vivi. Hal itu membuat semua penonton bersorak. Vivi juga kaget dia tidak menyangka jika mobil lawannya bisa dengan mudah menyalipnya. Dia lalu sadar, jika Aditya telah merencanakan itu semua. Dari awal Vivi memang sudah kesusahan untuk mengimbangi kemampuan menyetir Aditya.
Karena itu ketika di jalan yang agak berbelok tadi setelah berhasil menyalip Aditya, dengan segera dia mengaktifkan NOS di mobilnya untuk menjaga jarak. Dia tidak sadar bahwa penggunaan NOS di jalan berbelok sangat tidak efektip. Karena itu dengan mudah dia di salip oleh Aditya. karena Aditya menggunakan NOS miliknya dengan efektip di trek yang lurus.
“Cih, dia benar-benar suka memainkan pemikiran orang lain,” gumam Vivi. Tampaknya dia sudah punya rencana cadangan.
“Sedikit lagi kaak..” teriak Clarissa.
“Ayo..” teriak penonton lain.
“Buat wanita itu nangis-nangis di jalanan!” teriak Rissa lagi.
“Cih. Anak itu benar-benar menyebalkan,” gerutu Vivi.
Di gelapnya malam, tampak sesuatu berkilau tiba-tiba keluar di bemper depan mobil Vivi. Dengan cepat dia mengaktifkan sistem NOS kedua di mobilnya untuk memangkas jaraknya dengan Aditya. hal itu benar-benar diluar dugaan Aditya. dia tidak menyangka jika mobil Vivi dilengkapi dengan sistem Double NOS.
Tiba-tiba mobilnya terasa oleng ke sebelah kanan, hal itu dimanfaatkan Vivi untuk melaju melewatinya. Untuk menghindari kecelakaan dengan segera Aditya menginjak pedal rem. Mobilnya berhenti di tepi jalan. Sedangkan Vivi berhasil mencapai garis finish. Vivi keluar dari mobil sambil berteriak teriak dengan para penonton.
“Loh. Kok kakak bisa sampe kalah? Padahal jarak mereka tadi sudah begitu jauh,” ujar Clarissa dengan wajah heran.
“Aneh banget. Harusnya dia bisa menang,” gumam penonton lain.
__ADS_1
“Padahal benturan seperti itumah nggak bakalan cukup keras untuk membuat mobil oleng kayak tadi,” kata yang lainnya dengan penuh curiga.
“Jelas banget di balapan tadi saja, kakakmu bisa mempertahankan keseimbangan ketika berbenturan dengan mobil Vian. Harusnya kali ini dia bisa lebih mudah mengatasinya,” gumam Arnold.
Aditya kemudian mengemudikan mobilnya perlahan mendekati mereka. Beberapa penonton terdengar mengolok oloknya. Mereka menganggap bahwa kemenangan balapan sebelumnya hanyalah keberuntungan semata. Vivi dan teman temannya sambil tertawa mendekatnya.
“Gimana rasanya kalah? Pecundang!” ledek Vivi.
“Sebelum lu ngasih kunci mobilnya, minta maaf dulu sama Vivi!” ujar seorang pria.
“Terutama bocah cewe itu! Daritadi dia terus menghina Vivi!” bentak wanita di samping Vivi.
“Jujur gua kecewa sama lu. Semua kesepakatannya batal!” kata Aditya dengan tegas.
“Apa maksud lu hah?!” tanya pria di belakang Vivi.
“Lu coba lihat ban belakang mobil yang gua pake itu, kempes sekarang!”
“Apa hubungannya sama kemenangan gua?!”
“Eh lu jangan kira bisa nipu gua ya, gua yakin lu sengaja gunain pisau atau semacamnya di bemper lu untuk menusuk ban belakang mobil gua!” bentak Aditya. tampak emosinya sudah mulai meluap.
“Lah jangan balik tanya gua dong. Gua juga heran kok bisa-bisanya mobil balap dipasangin pisau. Emangnya lu udah segitu pesimisnya ya kalo balapan?!” ledek Aditya.
“Keparat!” teriak pria di samping Vivi sambil menyerang.
Dengan cepat Aditya menghindar. Namun dua pria lain datang hendak menyerangnya, tapi dengan mudah Aditya kembali menghindar. Mereka bertiga terus menerus menerjang tapi Aditya hanya menghindar saja. beberapa orang kembali bersorak ketika melihat perkelahian mereka.
Clarissa kemudian mengendap-endap mendekati mobil Vivi. Dia ingin memastikan kebenaran yang dikatakan oleh Aditya. Vivi dan seorang wanita lainnya maju ikut menyerang Aditya. karena lawannya berlima, kini Aditya terpaksa harus menggunakan tangan dan kakinya untuk menangkis dan menyerang balik.
“Hajar saja! nggak tahu malu, sudah jelas kalah malah nyari alesan!” teriak beberapa penonton.
“Jangan takut! Orang curang emang harus diberi pelajaran!” kata orang yang mendukung Aditya.
“Berisik juga!” ujar Vivi sambil menghunuskan pisau.
“Kita habisi saja dia di sini,” kata pria di dekat Vivi. Tampak mereka berlima menghunuskan pisau.
__ADS_1
“Haduh. Kenapa setiap penjahat harus bawa pisau sih. chef saja nggak suka tuh bawa pisau kemana mana,” ledek Aditya.
“Dasar penjahat kw sembilan puluh!,” ledek Aditya lagi.
Mendengar hinaan Aditya mereka menyerang serentak. Dengan mudah Aditya menghindari serangannya. Seorang pria maju dengan pisaunya, Aditya menangkap tangan pria itu dan mematahkannya hingga menjerit. Pria lain maju namun tenggorokannya di tendang oleh Aditya hingga tersungkur.
Wanita yang maju langsung terkena pukulan Aditya hingga tumbang ke jalan. Pria lain mengayunkan pisaunya ke perut Aditya namun dengan gampang dihindari olehnya sambil menghantam leher pria itu dengan tangannya.hingga terbaring di jalan. Vivi melayangkan pisaunya ke leher Aditya, dengan cepat Aditya menghantam lengan Vivi hingga pisaunya terlempar dan ditangkap oleh Aditya.
Aditya tersenyum menghina Vivi. Dengan marah Vivi menyerang menggunakan tangan kosong, namun dengan cepat pukulan Aditya berhasil mengenai beberapa bagian tubuh Vivi hingga tergeletak di tanah sambil menatap Aditya yang sedang berdiri.
“Aku sebenarnya tidak suka menyakiti seorang wanita,” ujar Aditya sambil melayangkan pisaunya.
“Hemp,” Vivi menutup matanya.
“Aku menemukan pisaunya!” teriak Clarissa dengan gembira.
“Eh beneran ada pisau di bemper depannya,” ujar penonton lain.
Vivi membuka matanya, tampak pisau itu hanya menancap di jalan, tepat di samping lehernya. Dia tidak menyangka jika Aditya mengampuninya. Aditya hanya tersenyum melihat Vivi yang keheranan karena pisau itu mampu menancap di jalanan beraspal.
Clarissa memberitahukan bahwa dia menemukan pisau itu kepada Aditya. saat dia melihat Vivi dan teman temannya terkapar di jalan, tampak muncul rasa heran di benaknya. Apa Aditya yang melakukan itu semua? Dia tidak menyangka hal itu akan terjadi. Padahal dia hanya sebentar mengalihkan pandangannya dari Aditya.
Aditya hanya tersenyum melihat Clarissa keheranan. Kelihatannya mereka memang harus segera pergi dari tempat itu. Dia khawatir akan terlibat masalah yang lebih besar. Terlebih jika ada seseorang yang mengenalinya di tempat seperti itu maka identitasnya bisa terbongkar di hadapan Clarissa.
“Ayo kita pulang saja Ris. Biarkan aku yang membawa mobil Arnold. Kamu sama Arnold bawa mobil yang itu,” ajak Aditya sambil melangkah pergi.
“Tunggu!” ucap Vivi sambil bangkit.
“Maaf aku tidak akan mengganti kerugian yang kalian alami,” jawab Aditya.
“Bukan itu. Aku hanya ingin tahu siapa namamu?”
Aditya berpikir bagaimana dia harus menjawabnya. Dia khawatir jika diantara orang yang berkumpul di sana ada yang pernah mendengar namanya. Jika dia memberitahukan nama aslinya kemungkinan mereka akan mencari alamat rumahnya dan membalas dendam. Hal itu malah akan membahayakan keluarga Pandu. Muncul ide jahil di kepalanya.
“Aku Wira,” jawab Aditya sambil pergi meninggalkan Vivi yang tengah menatapnya.
“Aku akan mengingat nama itu. Maafkan aku sudah berbuat curang kepadamu,” kata Vivi. Aditya tidak menjawabnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG…