
Diana dan sang ayah pamit pulang pada Paman Salim, Aditya, dan yang lain pagi itu. Mereka membawa dua buah koper dan satu ransel, menunggu jemputan mereka tiba. Kemarin ayah Diana pergi ke sini menumpang mobil travel.
“Jangan langsung berangkat. Mampir dulu mari, Pak,” kata Paman Salim kepada ayah Diana. “Kemarin kita tidak sempat ngobrol banyak karena urusan di kantor polisi.”
“Boleh, Pak, boleh,” jawab ayah Diana terlihat senang, “tapi dua jam lagi jemputan kami tiba.”
“Ya, itu masih lama. Kita ngobrol juga ndak bakal kerasa.”
Aditya tidak melihat itu ide yang bagus, tapi yah, apa salahnya menyambut Diana untuk kali terakhir sebelum penulis novel itu benar-benar pergi? Lagi pula, dia tak tahu apa jadinya Paman Salim jika tak ada bantuan dari Diana?
Diana terlihat bicara berdua saja di dapur dengan Paman Salim beberapa saat kemudian. Saat itu lelaki tua itu meminta si gadis menemaninya ke belakang untuk menyiapkan minuman dan oleh-oleh ubi bagi keluarga Diana di Surabaya.
Namun, Aditya tahu mereka bukan hanya mempersiapkan ubi di sana. Paman Salim terlihat serius mengajak Diana bicara.
Diana hanya terlihat menunduk dan sesekali tersenyum sambil entah berkata apa. Suara mereka tak terdengar dari ruang tamu.
Aditya membatin, “Paman sepertinya tak mau menyerah menjodohkanku dengan Diana.”
Ratna dan Frita terlihat mengobrol santai dengan ayah Diana, dan yang sangat amat antusias tentu saja Frita. Ketika Diana kembali ke ruang tamu, ia menyerbunya dengan entah berapa banyak pertanyaan tentang proses penulisan novelnya, ide-idenya, dan lain sebagainya.
Paman Salim kembali duduk di kursi ujung ruangan itu sambil berkata, “Sepertinya kapan-kapan saya dan Aditya juga ingin ke Surabaya. Melihat suasana di sana. Kata Diana banyak warung makan enak, ya?”
“Benar, Pak. Kalau nanti ke Surabaya, kabari kami saja. Akan kami antar ke tempat makan paling favorit,” kata ayah Diana.
“Yah, semoga kami sempat ke sana,” sahut Aditya agar terlihat sopan, padahal dia tak punya keinginan ke Surabaya lagi seperti bertahun-tahun lalu.
Mereka pun mengobrol banyak, ngalor-ngidul, dan yang jelas Ratna serta Frita, juga Yusi dan Deri, jarang mendapat kesempatan, karena mereka tak terlibat dalam topik obrolan tersebut. Kebanyakan tentang kuliner Surabaya dan perjalanan karier Diana saja.
Tak terasa dua jam berlalu, tapi mobil jemputan belum juga datang.
“Wah, sepertinya Bapak ditakdirkan untuk bisa lebih lama di sini,” celetuk Paman Salim sambil melirik Aditya penuh arti.
Aditya hanya bisa tertawa dalam hati ketika akhirnya ayah Diana menelepon pihak travel dan mengetahui kalau mobil itu terlambat karena bannya bocor.
__ADS_1
Ratna yang sudah berencana pulang hari itu juga, sebab perut Garin sudah baikan, memutuskan untuk mengantar Diana dan sang ayah hingga ke terminal, untuk naik ke mobil travel lainnya.
Maka begitulah mereka berpisah. Aditya mengantar Diana tanpa berkata, dan Diana pun juga tidak bicara apa-apa ketika Aditya mengantar mereka sampai ke teras rumah. Tak disangka, Diana mendadak memeluk Aditya dan berkata terima kasih sudah berbuat ‘seperti itu’ pada Dirga tempo hari.
“Maksudmu ‘seperti itu’ apa, Diana?” tanya Aditya terheran-heran.
“Menghajarnya. Aku sebenarnya senang melihatnya mendapat pelajaran begitu. Dia sudah terlalu kurang ajar, baik padaku maupun pada warga desa sini,” jawab Diana.
Frita sama sekali tak terlihat cemburu karena tahu peristiwa terkait Dirga dan siapa sosok Diana ini. Mereka malah berpelukan bertiga, membuat Ratna jengkel dalam hati dan memutar bola matanya ke atas tanda ucapan hati: Ya ampun, sudahlah kalian ini!
Setelah mereka berempat pergi, kini tinggal Frita, Yusi, dan Deri saja yang masih ada di rumah Paman Salim.
Paman Salim tak begitu berminat mengajak bicara Frita. Meski begitu, ia sudah tak sejengkel kemarin pada gadis kota tersebut. Paman Salim malah terlihat akrab dengan Deri yang menjaganya beberapa hari terakhir.
Jemputan untuk mereka bertiga datang besok paginya, jadi untuk semalam lagi tiga tamu itu menginap di desa tersebut. Karena Frita satu-satunya perempuan, ia diminta untuk menginap di kamar anak gadis Pak RT yang masih SMP.
“Terima kasih, Pak Bambang, sudah mau kami repoti,” kata Aditya setelah Frita masuk ke kamar bersama anak gadis Pak RT tersebut.
“Ah, kamu bisa saja. Sebagai sesama warga, kita harus saling bantu bukan?” jawab Pak Bambang.
Malam itu kembali Paman Salim membujuk Aditya untuk menyetujui usulan soal pergi ke Surabaya kalau sempat. Ternyata diam-diam saat Aditya tadi pergi ke WC saat perutnya sakit, Paman Salim juga menyempatkan ngobrol empat mata dengan ayahnya Diana di dapur.
Lelaki tua itu benar-benar pantang menyerah demi bisa mendapat menantu sesosok gadis yang benar-benar ia sukai.
Isi obrolan itu disampaikan langsung oleh Paman Salim padanya: “Ayah Diana juga setuju dengan ide ini.”
“Ide apa, Paman?”
“Menjodohkan kalian,” kata Paman Salim.
Sebelum Aditya menyanggah, Paman Salim melanjutkan, “Kamu jangan jengkel dulu sama pamanmu yang sudah tua ini. Kami tadi cuma bicara saja. Sekadar basa-basi. Kalau kalian ndak mau, ya gimana lagi?”
“Kalau saya jelas tidak bisa, Paman. Diana sudah seperti adik sendiri. Dia merawat Paman dan saya melihatnya sebagai adik yang belum pernah saya miliki,” sahut Aditya dengan tegas.
__ADS_1
“Yah, kita lihat saja nanti,” jawab Paman Salim sambil nyengir, membuat giginya yang tak lagi utuh terlihat.
Aditya ingin berkata yang sejujurnya pada Paman Salim bahwa Frita sudah menjadi belahan jiwanya. Ia sudah memutuskan akan bersama gadis itu dan bukan yang lain. Hanya saja, bagaimana bisa meyakinkan pamannya? Bahkan sang paman pun terlihat tak suka pada Frita.
Esoknya sebelum Frita dan dua anak buah Pandu Saputra balik ke Bandung, Aditya bilang pada Frita, “Kita bicarakan sekarang saja pada Paman.”
“Soal apa?”
“Perjodohan kita.”
Jawaban Aditya jelas membuat Frita berbunga-bunga. Sejak kemarin ia sungguh tak bisa membuat Paman Salim menyukainya. Frita tahu itu meski ia sudah berusaha. Ia tak kalah cekatan ketika menangani sesuatu seperti halnya Diana yang selama ini mendapat pujian abadi dari Paman Salim. Namun, kenapa selalu dipandang dengan tajam? Namun Frita pikir semua hanya soal waktu.
Ia bilang, “Kamu jangan khawatir, Mas. Nanti juga pasti Paman akan menyukaiku.” Hanya soal waktu saja.”
Aditya percaya kata-kata Frita. Gadis itu terlihat sangat percaya diri ketika mereka akhirnya menemui sang paman dan menyampaikan rencana pernikahan itu.
Paman Salim terdiam mendengar itu. Tak berkata-kata.
Lalu, setelah lima menit, beliau berujar, “Kalian yakin? Sejak kapan kalian saling kenal? Aku memang tak pernah menikah, tapi pernikahan itu sesuatu yang sakral dan serius.”
Aditya dan Frita saling menatap dan pemuda itu berkata, “Kami yakin, Paman. Dia sudah kukenal lumayan lama. Kami pernah saling berdebat seperti aku dan Paman. Dan pernah juga mungkin saling membenci. Hehehe. Tapi cinta enggak bisa bohong.”
Frita mencubit perut Aditya lalu tersenyum pada sang paman.
Paman Salim melihat keponakannya tampak bahagia. Ditambah lagi kemarin ayah Diana sempat bilang Diana mungkin sudah memiliki pacar yang dirahasiakannya, maka ia tak bisa berkata tidak. Aditya mungkin memang sudah ditakdirkan bersama si gadis dari kota ini.
“Baiklah, kuberikan restuku pada kalian,” kata Paman.
Frita dan Aditya terlihat senang. Yusi dan Deri juga ikut senang dan memberikan ucapan selamat. Mereka membuat rencana dadakan agar Aditya dan Paman Salim ikut ke Bandung.
“Bukankah Paman penasaran dengan siapa saja aku kerja? Nanti akan kukenalkan pada rekan-rekan lama di pasukan khusus,” kata Aditya.
Paman Salim tak bisa menolak. Mereka berangkat dengan menumpang helikopter seperti sebelumnya. Kendaraan itu besar dan luar biasa. Membuat warga desa berbaris ke luar rumah dan bertepuk tangan saat salah satu dari mereka mencoba kendaraan itu.
__ADS_1
“Begini ternyata rasanya menumpang helikopter,” batin Paman merasa menjadi pria paling bahagia di muka bumi.
Bersambung...