Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 278


__ADS_3

Sherly Embunsari menghilang juga sejak kejadian di pesta Ovie itu. Ia tak terlihat di rumahnya atau pergi bekerja ke tempat biasa. Seorang lelaki terlihat cemas, karena tak lagi ada kabar dari perempuan itu.


“Ke mana sih kamu?!” gerutu lelaki itu.


Dia sendiri tidak bisa meninggalkan tugasnya di kepolisian begitu saja. Dia harus menuntaskan beberapa hal di kantor hari itu sebelum mengambil cuti.


Seorang rekan menyapanya, “Mau ke mana, Jimmy? Kok buru-buru?”


“Ada keperluan,” jawabnya pendek.


Jimmy tentu tidak berani menjelaskan panjang lebar bahkan pada rekannya sendiri soal Sherly. Itu bisa mencoreng nama baiknya, juga membuatnya malu. Paling tidak, ia tak akan menutupi rencana pernikahan dia dan Sherly.


***


“Aku tak tahu bagaimana kita harus memulai ini, tapi mereka sama sekali tak bisa dipisahkan. Dan jujur saja, aku juga sudah menyerah,” kata Jimmy waktu itu.


“Aku pun juga sudah tak memiliki harapan mendapatkan hati lelaki itu,” tukas sang gadis yang sebenarnya tak kalah cantik dari Frita.


Jimmy menangis hebat malam itu, karena cintanya pada Frita mungkin tak bakal bisa tercapai. Dan ia justru berlari pada perempuan ini. Maka, mereka mabuk malam itu, minum sepuasnya, bertukar pikiran sebebasnya, bahkan bicara dari hati ke hati. Lalu, seperti keajaiban dilemparkan oleh Tuhan langsung ke kepala mereka, keduanya segera menjadi jatuh cinta.


Mungkin memang separuh cinta Jimmy waktu itu masih tersisa untuk Frita, dan ia masih tak mampu menerima Aditya-lah yang harus berada di sisi perempuan itu, tetapi ia memasrahkan diri saat ini. Hal yang sama dirasakan Sherly; ia mengira cintanya masih tersisa setengah untuk Aditya.


Lalu keduanya entah bagaimana sama-sama berbisik, “Mungkin sebaiknya kita hidup bersama, sebagai sepasang kekasih yang telah sembuh dari patah hati.”


Itulah awal mula bagaimana persetubuhan itu berlangsung. Jimmy memasukkan diri pada Sherly, dan Sherly membiarkannya. Menikmatinya dan memikirkan betapa ini yang terbaik untuk mereka. Saling menyembuhkan satu sama lain. Ia pikir ia bisa jadi istri yang baik untuk Jimmy kelak.


Perbuatan mereka dilakukan diam-diam, tiap akhir pekan, selama tiga minggu. Tak ada yang tahu kedekatan mereka semakin intim. Suatu kali Sherly tak sengaja bertemu Aditya yang sedang kacau, di tengah kerumunan sebuah diskotik. Tubuhnya terluka. Ia segera menolong lelaki itu.


Sherly saat itu berpikir, “Apakah mungkin aku masih ada kesempatan?”


Atau, ia berpikir sesuatu yang lain? Ah, ia lupa. Ia terlalu dimabuk khayal. Ia tidur dengan Aditya atas kesengajaannya. Ia menaruh sesuatu di minuman lelaki itu, dan kini bayi Jimmy dalam kandungan malah menjadi senjata mematikan bagi Aditya.


Sherly merasa berdosa. Ia tak henti berkata, “Baiknya aku mati saja!”


Ia memang mencoba bunuh diri saat itu, tapi ia teringat Jimmy. Dan ia tak berani menghabisi dirinya sendiri.


Jadi, ia kabur.


***


“Kamu ke mana sih?” tanya Jimmy yang akhirnya bisa menghubungi Sherly.


Wanita itu menjelaskan sebuah alamat. Jimmy segera meluncur ke sana. Butuh tiga jam perjalanan dengan mobil. Selama tiga jam itu sang polisi tak henti bertanya-tanya apa yang membuat Sherly mendadak berubah?


Jimmy marah ketika Sherly menjelaskan situasinya.

__ADS_1


“Jadi, kamu bilang anak ini punya Aditya? Dan kamu membuat pernikahan mereka hancur?” kata Jimmy dengan geram.


“Maafkan aku, Mas! Aku enggak bermaksud begitu. Aku hanya ingin membuat dia menyesal saja!” jawab Sherly terisak-isak.


“Tapi kenapa? Bukankah kita sepakat hidup bersama? Dan kamu malah tidur dengan Aditya!” Jimmy sungguh tak mengerti keinginan Sherly.


“Maafkan aku! Aku khilaf! Ini bukan salah Aditya. Ini salahku, Mas!”


Mereka bicara panjang hari itu. Sherly menyesali seluruh perbuatannya. Jimmy pun juga menemukan sesuatu yang lain.


“Ini jelas bukan kamu, Sherly. Ada seseorang yang mendesakmu, bukan?” tanya Jimmy.


Sherly hanya menunduk pelan.


“Ayo, katakan, siapa yang memaksamu merusak pernikahan mereka?” desak Jimmy tak menyerah.


“Ovie mengancamku. Ia bilang akan membuat hidupku tak tenang selamanya kalau aku tak merusak pernikahan mereka!” jawab Sherly dengan putus asa.


“Ovie? Siapa dia?”


“Sepupu Frita. Anak Meilisa yang dipenjara karena bersama suaminya, Christian Santoso, berencana membunuh keluarga Frita.”


Jimmy segera mengerti. Ia memikirkan banyak hal di kepalanya, tapi ia juga agak sulit menerima kenyataan bahwa Sherly sempat menggertak hati Aditya saat itu tentang bayi di perutnya.


Namun, tak ada waktu untuk mendendam atau marah pada Aditya. Ia jelas sangat peduli pada Frita, sekalipun tak ada kesempatan memilikinya. Ia tahu apa yang mungkin terlibat di sini.


“Kamu yakin?” tanya Jimmy.


“Yakin, Bro. Itu orang yang berada di balik bebasnya Rama Subandi dan seluruh sobatnya!” jawab seseorang yang entah siapa. Mungkin ia informan dari jalanan yang dipercaya Jimmy.


“Baiklah.”


Malam itu juga Jimmy pamit ke Sherly untuk ke tempat Frita. Untuk menjelaskan semua ini hanyalah rekayasa. Sherly pasrah saja. Sebelumnya Jimmy meminta seorang tetangga di dekat sana untuk memastikan Sherly baik-baik saja.


“Aku pergi untuk beberapa hari. Semoga semuanya tidak terlambat,” kata Jimmy.


Sherly semakin mengutuki diri. Ia juga berdoa semoga Frita dan Aditya baik-baik saja.


***


Namun, Frita tidak baik-baik saja.


Rombongan Rama dan Hendy kembali datang, bermaksud mengajukan lamarannya untuk kedua kalinya.


“Mereka belum bercerai, Nak Rama!” jawab Pandu dengan tegas. “Lagi pula kalian datang dengan cara yang sangat aneh dan tidak sopan! Biar mereka selesaikan apa yang jadi masalah rumah tangga mereka. Kalian jangan ikut campur!”

__ADS_1


Pandu kali ini benar-benar marah.


Rama yang mendesak untuk melamarkan Hendy demi Frita, sangat tidak etis. Frita bahkan baru beberapa hari yang lalu menutup diri dari Aditya karena shock. Ini seolah menunjukkan Rama-lah yang ada di balik kehancuran pernikahan mereka.


“Bukankah Frita sudah muak pada suaminya? Kami tahu itu. Aditya bikin keributan karena kesal belangnya ketahuan. Tapi dia dikeroyok orang. Videonya sampai viral di mana-mana,” jawab Rama dengan tenang.


“Saya tidak yakin Aditya berbuat setolol itu,” tukas Pandu dengan kesal.


“Jadi, mau kalian bagaimana?” tanya Rama sambil melirik pada Reza yang saat itu berdiri di pojok ruangan.


Pandu hanya sendirian di ruangan itu. Frita sengaja bersembunyi dalam kamar. Dia tahu ada sesuatu yang tak beres di sini.


“Seharusnya saya yang tanya begitu. Kalian mau apa?!” sahut Pandu kesal. Jujur saja, saat ini ia sendiri mulai cemas.


“Ya, kami mau keluarga kita bersatu, Pak Pandu. Bukankah itu sesuatu yang baik untuk bisnis?” tanya Rama.


Reza mendadak berjalan memasuki ruang tengah. Pandu mencoba mencegahnya, tapi sesegera mungkin Herman Kusuma dan beberapa anak buahnya menahannya.


“Tunggu! Kalian masuk ke rumah orang tanpa izin! Ini pelanggaran! Saya laporkan pada polisi!” teriak Pandu.


“Ssst... tenang saja, Pak. Kami enggak berbuat apa-apa, kok!” kata Rama.


Tak lama kemudian, terdengar suara Frita menjerit-jerit. Reza dan Herman berhasil menemukannya di tempat persembunyian.


“Mau apa kalian?! Aku enggak sudi menikah dengan siapa pun! Termasuk dengan keluarga kalian!” umpat Frita.


Hendy yang sejak tadi diam tak berkata, berbisik kepada Rama yang masih duduk dengan santai di sampingnya, “Memangnya semua ini perlu?”


“Kamu diam saja, Bodoh,” bisik Rama padanya, sambil tatapan matanya tak henti menyorot mata Pandu yang terlihat ketakutan.


“Kami bisa mengatur pernikahan ini. Kami hanya butuh restu dari Anda, Pak. Jika Anda enggan, yah, terpaksa akan ada cara lain,” kata Rama.


Frita meronta-ronta dalam cengkeraman Reza dan Herman. Rama menyuruh kedua saudara dan sahabatnya itu untuk melepas wanita itu.


“Sudah, Bro. Kita pulang.”


“Brengsek kalian! Jangan kembali lagi!” teriak Frita lalu meludah ke lantai.


Frita benar-benar shock. Ia tak tahu harus bagaimana dengan Aditya. Di sisi lain, ia malah dipaksa menikah dengan seseorang yang terkait dengan keluarga Setiawan Budi.


“Apa yang mesti kita lakukan, Pa?” tanya Frita.


Pandu ingin menjawab, “Aditya bisa membantu kita.”


Namun ia tak berani membuat anaknya marah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2