
Pagi harinya Aditya melakukan aktifitas seperti biasanya, mata kirinya juga sudah pulih kembali. Clarissa pergi duluan ke sekolah dengan teman-temannya. Aditya seperti biasanya menunggu Frita di dalam mobil.
“Pagi Mbak,” ucap Aditya sambil membuka pintu mobil, nmaun Frita malah memilih untuk duduk di kursi depan.
“Eh? Kok malah duduk di kursi depan?” tanya Aditya sambil masuk ke dalam mobil.
“Memangnya nggak boleh nih? Inikan mobilku.”
“Bukan begitu mbak, tapi tumben banget mau di depan.”
“Gimana ya, kalau di belakang rasanya kurang seru saja nggak bisa leluasa lihat pemandangan yang ada di depan kita,” jawab Frita sambil tersenyum.
Aditya kemudian mengemudikan mobilnya menuju ke kantor. Sepanjang jalan dia sesekali melirik ke arah Frita. Entah kenapa rasanya duduk berdekatan seperti itu membuatnya merasa sedikit berdebar.
“Ngomong-ngomong bagaimana caranya kamu bujuk pak Dika agar mau kembali bekerja sama dengan perusahaan?” tanya Frita.
“Maksudnya?”
“Kamu jangan pura-pura deh, ini nomor kamu kan?” kata Frita sambil menunjukan bukti screenshot panggilan di ponsel Dika.
“Oh, aku tidak menyangka loh kalau kamu bisa tahu aku ikut campur masalah itu. Kamu cocok jadi tokoh utama novel detektif.”
“Kamu ini, kayaknya justru kamu deh yang paling cocok buat jadi tokoh utamanya.”
“Gimana kalau kita berdua saja yang jadi tokoh utamanya biar adil.”
“Emm, boleh deh. Ih kamu belum jawab pertanyaanku loh.”
“Sebenarnya nggak penting juga kalau kamu tahu.”
“Ceritain nggak?!” tanya Frita sambil cemberut.
__ADS_1
“Iya, iya. Jadi gini nih pada zaman dahulu hi-“
“Masa pakai pada zaman dahulu segala Dit.”
“Haha, jadi malam harinya sebelum aku tidur tuh, eh nggak harusnya dari siang dulu. Siangnya tuh setelah membongkar kejahatan pak Yana aku sengaja mencari informasi tentang pak Dika. Eh ternyata di catatan ponselnya ada bukti chat dengan pak Daniel dan pak Jaya. Isinya konspirasi untuk melemahkan perusahaan.”
“Kamu kok tahu jejak chat mereka?”
“Aku sengaja menghack ponselnya karena penasaran, soalnya masa iya kan mereka tiba-tiba membatalkan kerjasama tanpa ada alasan yang jelas. Ternyata pak Daniel dan pak Jaya juga terlibat dalam masalah itu, mereka bahkan memerintahkan pak Dika agar membujuk beberapa klien perusahaan lainnnya. Nah aku sengaja manfaatin hal itu untuk menggertaknya,” jelas Aditya lalu berhenti sejenak.
“Malam harinya aku menelepon dia dan mengancamnya akan menyebarkan percakapan dia beserta beberapa bukti kejahatannya.”
“Kamu nggak mengancam dia bakal dilaporin ke polisi?”
“Nggak lah, aku yakin jika diancam begitu doang mah nggak bakalan berpengaruh soalnya kan di belakangnya ada Unesia Corp yang jelas perusahaan besar, pasti mereka dengan mudah bisa bebasin dia kembali. Karena itu aku mengancamnya akan menyebarkan bukti kejahatannya ke berbagai perusahaan di dunia, jadi bukan hanya dia yang akan rugi tapi perusahaan All Cosmeric juga akan merugi, jika bergitu Presdirnya pasti nggak akan diam saja.”
“Oh, aku paham sekarang. Dia takut karena jika tersebar maka kerugiannya akan lebih besar lagi ya?”
“Iya, bahkan aku meyakinkan kepada dia bahwa jika karirnya sudah tamat pasti sehebat apapun pak Jaya dan pak Daniel mereka nggak bakalan mau nerima orang yang bakalan menjatuhkan integritas dan kredibilitas perusahaannya, karena itulah dia berubah pikiran.”
“Btw soal permasalahan di perusahaan saat ini, apa kamu bisa membicarakannya kepadaku?
“Hemh, permasalahan di perusahaan sekarang semakin rumit Dit, bahkan aku dengar bagia personalia menerima banyak surat pengunduran diri dari berbagai bagian. Sekarang pekerjaan juga tidak lancar karena kekurangan banyak orang. Beberapa orang bahkan terpaksa merangkap jabatan untuk sementara,” jelas Frita
“Itu benar-benar mengkhawatirkan, jika tidak segera di tangani maka perusahaan akan kehilangan banyak orang yang sudah berpengalaman. Kualitas produk juga mungkin akan menurun, benar-benar pelik.”
“Itulah, William saat ini hanya memberi solusi untuk menerima kerja orang-orang yang belum berpengalaman terutama fresh graduate agar mereka tidak protes dengan kebijakan yang dia buat. Tapi dengan begitu malah kita terancam kehilangan para klien karena kualitas produk kita bisa saja menurun.”
“Lalu apa saja langkah yang sudah kamu lakukan saat ini? Mungkin aku bisa membantu.”
“Aku sudah bernegosiasi dengan William tapi gagal, aku juga mencoba menghubungi para pemegang saham namun mereka menolak permintaanku untuk merubah kebijakan. Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi sekarang. Harapan kita hanya menunggu kepulangan ayah dari luar negeri untuk bernegosiasi dengan para pemegang saham,” jawab Frita dengan putus asa, Aditya mulai merenung mencari cara untuk membantu perusahaan Glow & Shine Co yang berada di ujung tanduk.
__ADS_1
***
Jaja saat ini sedang marah-marah di ruangannya karena gengnya sudah kehilangan tiga wilayah yang sekarang menjadi milik geng Merak. Gerald, Edgard dan Gilang serta beberapa anak buahnya yang lain hanya tertunduk di ruangan itu. Tidak ada yang berani untuk memotong perkataan Jaja apalagi sampai membantahnya.
“Keparat! Jika dibiarkan saja kekuasaan kita saat ini akan semakin kecil saja!” gerutu Jaja sambil menendang kursi.
“Aditya, ya permasalahannya ada padanya. Dia bahkan sengaja mengalah agar geng Merak memenangkan taruhan. Brengsek!”
“Dia memang pasti akan menjadi penghalang besar bagi kita ke depannya jika terus dibiarkan saja, terlebih saat ini permasalahan besar kita yang lain masih belum beres,” sela Gerald.
“Lu sebaiknya jangan berbicara jika nggak punya solusi! Gue sudah tahu kalau memang dia nanti akan sangat merepotkan jika dibiarkan saja. Tapi kita juga belum bisa apa-apa terlebih gue yakin pak tua brengsek itu juga akan mendukungnya!”
“Saya juga mengerti, bahkan geng Gagak juga pasti akan ikut membelanya jika kita secara terang terangan memusuhinya. Itu malah akan menimbulkan perang antar geng. Dan kita akan diserang oleh dua geng besar sekaligus, benar-benar merugikan.”
“Jika punya solusi sebaiknya segera katakan!” bentak Jaja sambil menggebrak meja, semua orang yang ada di sana kaget dan semakin tertunduk. Hanya Gerald yang masih bisa tenang menghadapi emosi Ketuanya itu.
“Kita memang belum bisa melakukan apa-apa secara langsung saat ini. Tapi orang lain tentunya bisa melakukan hal itu untuk kita,” jawab Gerald sambil tersenyum. Jaja mengernyitkan keningnya, tapi dari wajahnya terlihat mulai sedikit tenang.
“Saya kebetulan punya koneksi di pasar gelap yang bisa melakukan hal itu untuk kita.”
“Siapa koneksi yang lu maksud?”
“Pembunuh bayaran, Ketua.”
“Pembunuh bayaran?”
“Ya, terlebih mereka bukan cuma pembunuh bayaran biasa. Mereka adalah team pembunuh yang paling terkenal di pasar gelap. Mereka berjuluk Dark Assasins.”
“Ho, jadi lu punya koneksi dengan mereka ya.”
“Ya.”
__ADS_1
“Aku suka usulanmu, Gerald. kalau begitu undang orangnya kemari, aku ingin membuat kesepakatan dengannya secara langsung,” perintah Jaja sambil tertawa puas. Dia sudah tidak sabar melihat mayat Aditya terbujur kaku di hadapannya. Gerald kemudian keluar dari ruangan.
BERSAMBUNG…