
Aditya menggendong Paman Salim masuk ke dalam rumahnya yang sederhana di tepi tanah lapang itu. Para warga mengikuti mereka. Malik mencoba meminta agar para tetangga tak mengganggu reuni keluarga tersebut.
“Yah, Anda sekalian tahu sejak kapan Aditya pergi. Jadi mohon pengertiannya. Pak Salim juga pasti butuh bicara berdua saja dengan keponakannya,” begitulah Komandan Malik bicara pada para warga.
“Benar apa kata Anda, Pak Tentara,” jawab salah seorang warga, yang kemudian mengajak tetangga-tetangganya pulang ke rumah masing-masing saja. “Masih banyak waktu buat kita untuk menyapa Aditya.”
Setelah seluruh warga pulang, Paman Salim yang dibaringkan di kursi ruang tamu akhirnya duduk dengan tegak. Ia bahkan mulai berdiri dan memasang tampang masam pada keponakannya itu.
“Jadi berapa tahun kamu minggat, Le!?” tanyanya sambil menunjuk-nunjuk wajah Aditya.
“Enam tahunan, Paman,” jawab Aditya menunduk.
“Kamu ndak tahu seberapa cemas pamanmu ini! Paman kira kamu sudah mati di kota! Kamu tahu Paman sesedih apa kalau ingat janji Paman pada bapakmu dulu?!” Si Paman terlihat murka, tapi sepertinya ia tak semarah yang dibayangkan Aditya sebelum ini.
“Maafkan Aditya, Paman.”
“Maaf, maaf! Kamu pikir gampang memberikan maaf ke keponakan macam kamu yang ndak tahu diri!” Paman Salim melangkah ke ruang tengah dan mengambil sapu, lalu memukul kaki Aditya seolah keponakannya itu bocah kecil yang baru kabur untuk bermain di tempat berbahaya bsaja.
Melihat itu, Komandan Malik dan si pengusaha pemilik helikopter mencoba untuk tidak tertawa.
Aditya juga sepertinya ingin tertawa melihat kelakuan pamannya, tapi belum juga sampai ia kembali mengucap kata maaf, terdengar ketukan di pintu depan.
“Pak Salim, ini saya bawakan rawon kesukaan Bapak.”
Terdengar suara seorang gadis. Serempak Aditya, Komandan Malik, Si Pengusaha, dan Paman Salim menoleh. Di pintu terlihat cewek yang berdiri kebingungan sambil menatap mata Aditya yang mencoba melindungi diri dari serangan sapu pamannya. Ia tak tahu kenapa yang ditatapnya seketika saat itu adalah mata Aditya.
Cewek itu terlihat cukup kaget, dan menoleh ke halaman rumah, lalu menyadari ada sebuah helikopter di situ.
“Ada apa ini?!” tanyanya dengan cemas.
“Mbak jangan khawatir. Kami cuma mengantar Aditya kemari. Dia keponakan Pak Salim yang lama nggak pulang,” kata Malik menjelaskan pada cewek manis tersebut.
Paman Salim bilang, “Nah, ini kenalin namanya Diana. Dia orang kota yang baik di sini. Sudah setahun lebih membantu pamanmu yang mulai sakit-sakitan!”
Aditya merasa sungkan dan tidak enak pada Diana. Orang kota yang baik? Ia tidak tahu siapa sebenarnya Diana, tapi mendengar gadis itu membantu pamannya, ia merasa harus berterima kasih.
__ADS_1
“Maaf, saya baru bisa pulang. Terima kasih sudah mengurus paman saya, Diana,” kata Aditya.
“Ya, pamanmu banyak cerita tentangmu. Sepertinya saya harus permisi dulu, Pak Salim. Tadi saya merebus air di rumah. Permisi semuanya!” kata cewek itu lalu pergi.
“Cantik ndak si Diana itu?” tanya Paman Salim tiba-tiba pada Aditya.
“Eh, apa, Paman? Ya, tentu cantik dia itu,” balas Aditya bingung.
“Diana itu penulis yang penelitian di sini. Datang dari Surabaya. Saya ndak tahu dia nulis buku soal apa,” kata Paman Salim pada Malik yang hanya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan tersebut.
“Oh, ya? Sebenarnya kalian ini siapanya Aditya, ya? Dan, kok bisa keponakan saya ini pulang naik helikopter segala?” tanya Paman Salim setelah akhirnya menyadari dia belum mengenal siapa Malik.
Komandan Malik melirik Aditya, lalu pemuda itu mengangguk. Ia segera menjawab, “Dia satpam teladan di sebuah bank di Bandung, Pak. Kebetulan dia baru menggagalkan aksi perampokan. Nah, pengusaha yang duduk di samping saya ini bosnya Aditya. Pak Bos berinisiatif mengantar satpamnya yang ingin pulang kampung karena sudah berjasa besar baginya.”
Pengusaha pemilik helikopter itu cuma bisa tersenyum nyengir saja, antara bingung dan malu, tapi memaklumi situasinya.
Paman Salim hanya mengangguk pelan saja. Tak menyangka Aditya bisa menjadi penyelamat bagi orang-orang.
“Oh, begitu. Kok ada tentara juga yang mengantar,” gumamnya pelan.
“Ya, saya cuma mengawal saja,” balas Malik pendek sambil tersenyum.
Paman Salim pun meminta para tamunya itu untuk duduk menunggu. Ia ingin dua pengantar Aditya dijamu sebaik mungkin di sini, walau keadaannya sangatlah sederhana.
Dia bilang pada Aditya, “Nanti kita perlu bicara lagi.”
“Ya, Paman,” jawab Aditya singkat.
***
Atas bantuan Diana, para tamu Paman Salim dijamu makanan rumahan yang lezat, yakni rawon. Diana adalah gadis yang pintar memasak. Selama setahun terakhir ini dia sengaja membantu Paman Salim yang sudah tua dan tinggal sebatang kara. Sejujurnya, dia kesal juga pada keponakannya yang minggat itu.
Ketika Malik, Si Pengusaha, pilot helikopter, dan Paman Salim asyik mengobrol di meja makan sambil menikmati rawon buatan Diana, di dapur Aditya menahan Diana untuk mengucapkan terima kasih secara pribadi atas apa pun yang sudah diperbuatnya demi sang paman.
“Aku nggak tahu bagaimana bisa membalas kebaikanmu,” katanya.
__ADS_1
“Aku nggak berbuat banyak kok. Yang penting sekarang kamu sudah pulang. Pak Salim selalu menyebut-nyebut namamu tiap kami ngobrol,” kata Diana.
“Ya, aku keponakan yang payah. Setelah ini aku bakalan tetap di sini dan menjaga pamanku.”
Mereka kembali bergabung di meja makan bersama yang lain setelahnya. Sore hari baru Komandan Malik dan Si Pengusaha pamit pulang.
Komandan Malik bilang, “Baik-baik di sini, Dit. Lain waktu mungkin aku bakalan kemari. Mungkin tidak. Ah, gak perlu dipikirkan. Pamanmu sangat butuh dirimu.”
“Terima kasih, Pak.”
Helikopter kembali terbang, meninggalkan desa itu hingga membuat para warga di sekitar kembali berkumpul.
Kali ini Aditya pasrah diserbu pertanyaan apakah dia sudah menikah di Bandung sana? Apakah di bank tempat Aditya ada lowongan pekerjaan buat anak-anak desa sini yang masih menganggur? Banyak juga pertanyaan yang kesulitan dia jawab. Namun Aditya senang melihat sambutan hangat padanya.
Dan, terutama dia senang pamannya masih bisa memaafkannya. Ia tahu sang paman belum juga menegaskan sesuatu di antara mereka. Tapi sudah pasti lelaki tua itu tidak akan bisa semarah itu padanya sampai kapan pun.
Diana undur diri segera setelah meja makan dibereskan.
Aditya bertanya, “Kamu tinggal di mana, Diana?”
“Dia menyewa rumah punya Haji Sanawi. Dekat empang lawas itu, lho,” jawab Paman Salim menyela Diana yang baru akan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Aditya.
“Ya, betul. Aku menyewa tempat itu setahun terakhir.”
“Yang berhantu itu katanya,” tukas Paman Salim. “Tapi Diana ndak pernah lihat hantu-hantu begitu. Ya, kan?”
“Benar, Pak Salim.” Diana tersenyum melihat lelaki tua itu terlihat jauh lebih cerah dan semangat. Ia tahu betapa bahagianya beliau karena keponakannya telah pulang.
“Nah, sekarang sebaiknya kalian tidur lebih cepat. Besok kamu bisa mengantar Aditya keliling desa sini untuk melihat keadaannya, Diana?”
“Tentu saja bisa, Pak.”
“Jangan repot-repot,” kata Aditya.
“Enggak kok. Sudah, Pak. Dit, saya pulang dulu,” kata gadis itu.
__ADS_1
Paman Salim entah mengapa tersenyum-senyum menatap wajah Aditya. Ia seperti tahu apa maksud sang paman. Entah apa yang bakal terjadi besok. Semoga saja Paman Salim tidak membuatnya malu di depan cewek yang belum juga sehari dikenalnya itu.
Bersambung...