Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 57


__ADS_3

Aditya merasa curiga dengan gelagat Erik. Bukan pertama kalinya dia melihat seringai licik Erik seperti itu. Sherly yang sebenarnya kesal pun tampak berpura-pura tersenyum menerima sambutan Erik. Tentunya itu demi kelancaran tugas yang diberikan perusahaan kepadanya.


“Terima kasih Pak atas sambutannya. Saya yakin anda sendiri sudah tahu maksud kedatangan saya kemari,” jawab Sherly sambil tersenyum.


“Saya sebenarnya belum tahu apa-apa perihal kedatangan anda kemari, tapi sebelum itu izinkan saya mengetahui nama anda terlebih dahulu,” jawab Erik, matanya terus menatap Sherly. Dia tidak menyangka jika ada wanita yang kecantikannya menandingi Frita.


“Saya-“


“Ah mari masuk saja dahulu, kita ngobrolnya di dalam saja,” ajak Erik sambil memegang tangan Sherly.


Sontak secara spontan Sherly menepis tangan Erik. Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Di ruang tamu terlihat jelas kemewahan Villa milik keluarga Erik itu. semua barang-barang berkelas dan struktur bangunan yang indah membuat siapapun akan betah tinggal di sana.


“Saya Sherly Embunsari dari bagian keuangan Glow & Shine Co. ini Aditya dan Dani mereka teman saya,” kata Sherly, Erik hanya mengangguk paham.


“Jadi pak Erik ke-“


“Panggil saja Erik,” sela Erik sambil tersenyum.


“Iya pak, tapi saya nggak berani soalnya berasa kurang sopan. Jadi begini Pak, beberapa bulan yang lalu Unesia Corp yang diwakili oleh pak Presdir datang untuk membuat kontrak kerja sama dengan kami. Mereka ingin membeli beberapa produk kosmetik, namun untuk pembayarannya beliau meminta waktu selama satu bulan. Namun sampai hari ini pembayarannya masih belum dilaksanakan.”


“Begitu, berapa nominal yang harus kami bayar?”


“Semuanya tertera di sini,” jawab Sherly sambil memberikan berkas kontrak kerja sama.


Suhu di ruang tamu itu mendadak semakin dingin, kemungkinan seseorang telah mendinginkan suhu apa AC di ruangan itu. Aditya mulai waspada, dia terus memperhatikan gerak gerik Erik yang masih fokus membaca lembaran berkas.


“Saya paham, sebagai perwakilan dari Presdir Unesia Corp, aku benar-benar minta maaf karena keterlambatan pembayaran kami. Terlebih saat ini kami sedang sibuk dengan kontrak kerja sama lain,” jawab Erik. Sherly merasa lega karena Erik kelihatannya berniat membayar semua hutang Unesia Corp.


“Sebagai permintaan maaf saya, silahkan kalian semua nikmati dulu minuman dan makanannya.”


“Terima kasih banyak Pak. saya sebagai perwakilan Glow & Shine Co berharap kalau bisa bapak hari ini juga menuntaskan kontrak kerja sama kita itu.”


“Tentu saja Sher, saya pasti akan melunasinya hari ini. Silahkan nikmati dulu minumannya.”


Aditya semakin curiga, karena minuman yang ada di sana semuanya dingin seolah baru dikeluarkan dari kulkas. Namun dari warna dan baunya dia yakin tidak ada racun yang dicampurkan ke dalam makanan dan minuman itu.

__ADS_1


Sherly kemudian izin untuk pergi ke toilet, Erik menunjukan arah toilet. Aditya menawarkan dirinya untuk menemani Sherly namun Sherly malah tertawa. Erik tersenyum sinis kepada Aditya. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan melintas cepat di balik jendela.


“Kamu melihatnya Dit?” bisik Dani.


“Ya,” jawab Aditya.


“Tapi kelihatannya Erik tidak melihatnya. Aku khawatir ada orang yang berniat mencelakai Mbak Sherly dari luar, soalnya bayangan itu mengarah ke sisi toilet berada. Aku akan memeriksanya sebentar.”


“Hati-hati.”


Dani kemudian pergi keluar Villa untuk mengecek keadaan. Semua pria sangar yang tadi ada diluar tidak terlihat seorangpun. Dani dengan hati-hati memutari Villa dan melangkah ke arah bayangan tadi berlari. Mata Dani terbelalak ketika puluhan anjing liar dengan lidah menjulur dipenuhi air liur tiba-tiba keluar dari sebuah gubuk.


“Toloong!” teriak Dani.


Dani spontan berlari karena dikejar puluhan anjing yang melihatnya. Suara gonggongan anjing terdengar sampai ke dalam rumah. Aditya kaget ketika mendengar Dani meminta tolong. Secepat kilat dia berlari keluar rumah. Erik hanya menyeringai melihat Aditya keluar.


“Ada apa Dan?” teriak Aditya, dia semakin kaget ketika melihat Dani sedang bergumul dengan puluhan anjing liar.


“Tolong Dit!”


“Mama, haaa,” Dani berteriak ketika ada beberapa anjing liar yang mencakar kakinya hingga mengeluarkan darah. Dia berusaha untuk menghindari semua gigitan anjing itu.


“Gunakan ikat pinggangmu!” perintah Aditya sambil melepaskan ikat pinggangnya sendiri.


Aditya kemudian menghalau beberapa anjing liar yang melesat ke arahnya menggunakan ikat pinggang. Sekali hantam anjing liar langsung terpental dan berdarah. Dani mengikuti cara Aditya, namun karena banyaknya anjing liar membuatnya kesusahan. Aditya segera membantunya.


Hantaman ikat pinggang dan tendangan kaki Aditya sudah membuat sepertiga anjing liar itu terkapar. Anjing yang masih bergerak terlihat ragu-ragu untuk menyerang Aditya. Namun kini Aditya yang melesat menghantam semua anjing itu hingga tidak ada seekorpun yang selamat.


“Gila,” gumam Dani. Dia tidak menyangka jika Aditya bisa melumpuhkan semua anjing liar itu tanpa sedikitpun luka di tubuhnya.


“Bagaimana bisa, aura dan sorot matanya benar-benar berbeda dengan saat latih tanding,” batin Dani. Dia seolah melihat Aditya menjadi orang yang sangat berbeda jauh dari yang selama ini dia tahu.


“Kamu tidak apa-apa Dan?” tanya Aditya.


“Aku hanya kena cakaran saja.” jawab Dani sambil meringis menahan sakit. Dari beberapa bekas cakaran anjing liar itu terlihat ada darah keluar, pakaiannya juga terlihat sobek.

__ADS_1


Belum lepas rasa takut Dani, tiba-tiba beberapa pria sangar lengkap dengan tongkat kayu datang dari depan dan belakang mereka berdua. Jika dihitung semuanya berjumlah sepuluh orang. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang pernah dilihat Aditya. Kelihatannya mereka semua adalah anak buah Erik yang baru.


“Cih, kelihatannya kita masuk ke tempat pembuangan sampah,” sindir Aditya.


“Sial, harusnya mereka dulu yang nongol sebelum anjing liar tadi,” gerutu Dani.


“Lah emang apa bedanya?” ledek Aditya. Dani hanya tersenyum mendengarnya. Mereka saling membelakangi untuk saling melindungi.


“Kamu sanggup menghadapi lima orang?” tanya Aditya.


“Entahlah, aku ragu bisa menghadapi mereka. Mungkin jika cuma tangan kosong aku masih bisa mengimbangi mereka” jawab Dani.


“Begitu ya. Kelihatannya memang akan memakan waktu,” ujar Aditya.


“Sherly. Aku harap kamu akan baik-baik saja, setidaknya aku harap kamu bisa bertahan sampai aku membereskan mereka,” gumam Aditya pelan.


“Habisi!” perintah orang dengan tattoo di lehernya. Kelihatannya dia adalah bosnya.


Semua pria itu maju sambil mengayunkan tongkat kayu masing-masing. Aditya dan Dani berusaha menahan mereka hanya dengan modal ikat pinggang. Walaupun terluka, namun kemampuan orang kepercayaan Heni itu memang di atas rata-rata. Dani masih mampu mengimbangi lima orang yang menyerangnya.


Aditya dengan mudah menghindari serangan lima orang di depannya. Namun tiba-tiba dari belakangnya seorang lawan Dani menghantam bahu Aditya menggunakan tongkat kayunya. Aditya terdiam sejenak. Giginya berbunyi karena marah. Dia menoleh ke belakang dan menghantam leher pria itu hingga menggelepar di tanah.


Sherly yang baru keluar dari toilet tampak panik karena mendengar gonggongan anjing yang begitu banyak di luar, terdengar juga suara Dani yang meminta tolong. Erik tiba-tiba datang menghampirinya.


“Di luar ada apa Pak?” tanya Sherly dengan cemas.


“Tidak apa-apa, itu cuma suara anjing saja,” jawab Erik sambil melangkah mendekati Sherly.


“Terus tadi yang meminta tolong siapa?”


“Oh itu mungkin suara rumput yang bergoyang,” jawab Erik. Dengan cepat tangannya membekap mulut dan hidung Sherly menggunakan sapu tangan.


“Hmmh!” Sherly melakukan perlawanan, dia mencoba melepaskan tangan Erik namun tenaganya kalah kuat. Tubuhnya semakin lemas, tatapannya semakin gelap. Tubuhnya serasa diangkat oleh seseorang.


“Sayang sekali ya, aku lupa memberitahumu jika kecantikanmu itu bisa membahayakan dirimu sendiri,” ujar Erik sambil membawa Sherly di pangkuannya menuju kamar.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2