
Lagi-lagi Ellena menjadi pusat perhatian di kantin siang ini. Semua mata memandang ke arahnya seolah ingin tahu apa yang diberikan oleh Mathias kepadanya. Sebuah kotak besar yang membuat semua orang penasaran dan menebak apa mungkin Ellena adalah Cinderella yang selama ini dicari oleh mereka.
Kehadiran Mathias yang merupakan tangan kanan dari pimpinan tertinggi di perusahaan itu memang selalu membuat semua orang menjadi kepo pada sosok Ellena yang selama ini hanya mereka kenal karena prestasinya. Tapi sejak kehadiran Sean di kantor ini, Ellena menjadi lebih terkenal lagi.
“Maaf, ini buat saya?” tanya Ellena tidak percaya.
“Iya ... ini buat kamu. Undangan khusus dari Pak Sean. Beliau berharap kamu akan datang di pesta beliau besok malam,” ucap Mathias menjelaskan.
“Tapi saya bukan tim manajemen utama, Pak.”
“Ini undangan khusus. Ini juga ada pakaian yang khusus dipilih oleh Pak Sean untuk kamu,” ucap Mathias sambil mendorong pelan kotak yang tadi dia bawa ke arah Ellena.
“Tapi Pak ....”
“Ga ada tapi. Kamu datang aja. Nanti akan ada mobil yang jemput kamu. Jangan lupa datang bawa undangannya.”
Mathias segera berbalik untuk segera pergi dari kantin. Tugasnya untuk menyampaikan pesan dari atasannya sudah dia lakukan. Dia segera pergi tanpa memedulikan apa yang akan dialami Ellena setelah ini.
Ellena masih terpaku melihat benda berbentuk kotak berwarna coklat yang ada di depannya itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Sean kepadanya. Dia justru jadi curiga dengan apa yang akan dilakukan Sean kepadanya nanti.
“Eeh mau liat ah mau liat,” ucap Arina dengan bersemangat sambil meraih kotak yang ada di depannya itu.
“Eeh jangan!” ucap Ellena sambil memukul tangan Arina yang meraih kotak dari Sean.
“Kenapa? Pelit amat sih.”
“Bukan masalah pelit. Tapi ini mau aku balikin ke orangnya.”
“Kok mau dibalikin sih? Kan ini kehormatan buat kamu Ell. Inget ga apa yang dibilang Pak Sean, kalo prestasinya bagus, bisa naik lebih tinggi. Mungkin dia mau kasih kejutan itu ke kamu,” ucap Arina mencoba untuk mengingatkan Ellena.
“Tapi itu masih lama banget. Ini aja baru bulan pertama, ga mungkin banget.”
“Apa sih yang ga mungkin buat Ellena. Cinderella yang dipilih oleh sang pangeran.”
“Cinderella apaan sih. Ngaco deh!” jawab Ellena sedikit kesal yang lalu segera melanjutkan makan siangnya.
Selagi Ellena menikmati makan, Arina justru melihat ke sekeliling tempat dia dan Ellena duduk. Ada banyak pasang mata yang melihat ke arah tempat duduk yang mereka tempati. Sepertinya mereka semua penasaran kenapa Ellena bisa di undang oleh Sean. Bahkan itu adalah undangan khusus. Mereka semakin penasaran akan itu.
__ADS_1
Ellena tidak memedulikan tatapan tajam penuh pertanyaan dari semua orang. Dia ingin segera menghabiskan makan siangnya lalu dia akan kembali ke ruangannya.
Saat keluar dari kantin, Ellena tiba-tiba terhenti di depan pintu lift. Dia membiarkan lift itu terbuka dan ditahan dengan tangan oleh Arina agar pintunya tetap terbuka. Arina melihat sahabatnya itu berdiri terdiam dan terlihat sedang berpikir.
“Ell, masuk ga?” tanya Arina.
“Apa aku balikin sekarang ya,” gumam Ellena.
“Balikin apanya?”
“Baju ini lah. Kan kayanya ini bukan buat aku deh.”
“Ell, Pak Sean undang kamu jadi tamu kehormatan dia. Dia pimpinan tertinggi di tempat ini lho. Kamu mau buat dia malu?”
“Ya ga gitu juga sih, tapi aku yang makin malu nanti kalo ternyata aku dateng ke sana trus ga di peduliin sama siapa pun. Kan aku bukan manajemen utama kantor ini.”
“Udahlah, Ell. Santai aja sih. Anggep aja ini keberuntungan kamu karena kamu berprestasi. Lagian nanti kan pasti ada Pak Devan. Bisa lah dia nanti jadi temen kamu di sana. Udah ayo buruan,” ucap Arina sambil menarik tangan Ellena masuk ke dalam lift.
Ellena akhirnya pasrah. Dia tidak bisa berkata apa pun lagi saat ini. Ellena akan memikirkannya sampai besok. Dia akan meminta pertimbangan dari ibunya dulu.
Saat Ellena dan Arina sampai di ruang kerja mereka, tampak di depan mereka ada beberapa oramg berkerumun. Dari style orang yang berkerumun itu, sepertinya ada orang penting yang datang. Bahkan di sana ada Silvia dan Devan yang merupakan atasan Ellena.
“Ellena ... kenapa kamu baru dateng? Kamu pekerja yang diunggulkan di sini kan? Kamu orang yang dipromosikan,” panggil Sean saat Ellena akan duduk.
Ellena menoleh ke arah Sean, “Jam istirahat belum selesai, Pak,” Ellena melihat ke arah jam di dinding ruangan, “Masih ada 10 menit lagi sebelum jam kantor dimulai.”
Sean melihat juga ke arah jam dinding, “Bener juga,” Sean maju mendekati Ellena lalu melihat kotak coklat yang ada di meja kerja Ellena, “Pakai itu. Dan jangan sampai kamu ga dateng,” bisik Sean pelan.
“Tapi Pak ... saya--.”
“Datang atau jangan datang lagi ke perusahaan ini,” ucap Sean memotong ucapan Ellena.
“Haah ... jangan datang lagi ke kantor? Saya dipecat?”
“Itu pilihan kamu. Ayo kita kembali,” ucap Sean sambil berlalu pergi dari ruangan itu.
Ellena terdiam melihat tingkah pemuda yang selalu saja mengganggunya itu. Dia tidak berharap kalau dia akan bertemu lagi. Dulu Sean terlihat sangat dingin dan tidak banyak bicara saat mereka akan menghabiskan malam bersama.
__ADS_1
Tapi ternyata sekarang, Sean berubah menjadi orang lain. Orang yang lebih menyebalkan dari yang dia pikirkan. Bagaimana mungkin ada seorang atasan yang mengincar dia di kantor. Dia seolah mendapat CCTV pribadi saat ini.
***
“Ell, ini baju apa? Tadi di temuin Nathan trus di buat mainan. Ini baju siapa?” tanya Siska saat Ellena pulang dari kantor.
“Eeh ... kok bisa di ambil Nathan ya. Masukin lagi Bu, mau Ellena balikin aja bajunya.”
“Emang itu baju siapa?” tanya Siska sambil melipat gaun berwarna hitam itu.
“Sebenernya itu baju dari pria malam itu, Bu,” jawab Ellena sambil menghempaskan badannya di sofa.
“Pria malam itu siapa? Eh bentar, jalan bilang itu Papa Nathan?” tanya Siska sedikit berbisik di kalian akhir.
“Iya, Bu. Malam ini dia ngadain pesta. Buat klien dan undangan manajemen utama aja. Ga tau kenapa dia malah undang Ellena trus kasih baju itu juga. Dia maksa Ellena harus dateng.”
“Trus kamu dateng ga?”
“Ga lah, Bu. Males banget.”
“Emang acaranya kapan? Kalo dia maksa, ada konsekwensi ga sama kerjaan kamu?”
Acaranya malam ini. Dan kalau Ellena ga dateng katanya Ellena bakal dipecat.”
“Di pecat!! Ell, trus gimana kalo kamu ga dateng?”
“Kantor punya peraturan, Bu. Ellena bakalan minta keadilan kalau sampai Ellena dipecat karena masalah ini.”
“Ya ... semoga bisa. Soalnya biasanya hukum itu ga akan nyentuh orang besar.”
Ting tong ting tong
Ada suara bel di depan rumah Ellena. Wanita yang sedang duduk santai bersama ibunya itu akhirnya beranjak ke depan untuk melihat siapa tamu yang datang.
“Iya, bentar,” teriak Ellena untuk memberi tahu si tamu kalau dia akan membukakan pintu.
Pintu depan rumah Ellena terbuka. Sesosok pemuda tampan dengan setelan rapi dan mahal berdiri di depan pintu. Ellena kaget dan terpaku melihat siapa yang datang ke rumahnya.
__ADS_1
Bersambung....